Satu pekan yang mencekam di Aceh Tamiang, gelap gulita, penjarahan, dan bau bangkai menyengat – 'Seperti kota zombie'

Sejumlah warga melintas di dekat mobil warga yang terbawa arus banjir di kawasan Desa Bukit Tempurung, Kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Rabu (3/12/2025).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

Keterangan gambar, Sejumlah warga melintas di dekat mobil warga yang terbawa arus banjir di kawasan Desa Bukit Tempurung, Kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Rabu (03/12).
    • Penulis, Quin Pasaribu
    • Peranan, Wartawan BBC News Indonesia
  • Waktu membaca: 15 menit

Kabupaten Aceh Tamiang adalah salah satu wilayah yang mengalami dampak paling parah setelah dihantam banjir bandang dan longsor pada Rabu (26/11) lalu.

Selama setidaknya sembilan hari tak ada bantuan yang datang.

Sampai saat ini bahkan tak ada air bersih, listrik, apalagi jaringan komunikasi. Semuanya terputus.

Seorang warga yang tinggal di Kampung Dalam, Kecamatan Karang Baru, Arif, bahkan menyebut wilayah itu seperti "kota zombie" saking porak-porandanya seisi kota dan aroma bangkai yang menyengat.

Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, baru bisa menerobos wilayah tersebut pada Kamis (04/12) dini hari untuk menyalurkan bantuan. Dia memboyong 30 ton sembako yang berisi air minum, beras, mi instan, biskuit, telur, dan sejumlah obat-obatan.

Sementara pemerintah pusat menjanjikan akan mempercepat penanganan bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga.

Detik-detik banjir tenggelamkan seisi kota

"Sejak hari Minggu di Aceh Tamiang itu sudah hujan deras… terus sampai hari Senin, Selasa," ujar Arif menceritakan detik-detik sebelum banjir besar menerjang seisi kota.

"Hari Rabu, saya mengantar istri ke kantor untuk kerja, ternyata kantor sudah banjir, selutut," katanya terkejut.

Arif tinggal bersama istri dan dua anaknya yang masih kecil di Kampung Dalam, Kecamatan Karang Baru.

Kampung itu termasuk salah satu daerah yang paling aman dari banjir lantaran berada di dataran tinggi.

Pada 25 November siang, beberapa koleganya dan teman istrinya yang menetap di tengah kota lantas memohon untuk menumpang sementara ke kediamannya sampai banjir surut.

Arif, tentu saja, membuka lebar pintu rumahnya.

Namun dini hari keesokan harinya, pintu rumah Arif tiba-tiba digedor tetangga.

"'Bang, bangun… air sudah sampai halaman'. Saya kaget, tidak menyangka air sampai ke rumah kami."

Kondisi permukiman pascabanjir bandang terlihat dari Helikopter Caracal Skadron Udara 8 Lanud Atang Sendjaja di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Rabu (3/12/2025).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Erlangga Bregas Prakos

Keterangan gambar, Kondisi permukiman pascabanjir bandang terlihat dari Helikopter Caracal Skadron Udara 8 Lanud Atang Sendjaja di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Rabu (03/12).
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Detik itu juga, tanpa pikir panjang, mereka yang berjumlah 15 orang melarikan diri ke salah satu masjid di Kampung Dalam yang memiliki bangunan dua lantai.

Dan, cuma selang tiga jam kemudian, banjir setinggi pinggang orang dewasa menggenangi seluruh kota.

"Arusnya deras," cetusnya.

Di dalam masjid, kata Arif, kira-kira ada 500 orang: mulai dari anak-anak, orang dewasa, lansia, dan seorang perempuan yang sedang mengandung dan akhirnya melahirkan di dalam masjid.

Arif semula berpikir dengan mengungsi ke masjid bakal mendapatkan bantuan. Sebab di sanalah orang-orang berkumpul.

Baca juga:

Tapi, tiga hari mengungsi di masjid, tak ada bantuan apapun yang datang.

Yang ada, banjir sudah merangsek masuk ke lantai bawah masjid.

"Mungkin sekitar satu meter lagi, banjir sudah masuk ke lantai 2. Bisa dibayangkan, kalau di jalanan berarti banjir setinggi tiga meter," ucapnya dengan nada putus asa.

"Apalagi di kampung bawah, di pesisir, sampai enam meter."

Dari balkon masjid, Arif melihat dengan kedua matanya, banjir menenggelamkan seisi kota, rumah-rumah dari kayu dan seng hanyut terseret banjir.

Sementara itu, anaknya sudah merengek kelaparan.

"Anak-anak saya sudah kehausan, kelaparan, karena di masjid tidak ada sumber air bersih. Jadi kami berebut air minum dan makan," ujarnya.

Nekat menerobos banjir demi air minum

Sabtu (29/11) pagi, Arif nekat menerobos banjir setinggi 1,5 meter. Sambil berenang, dia dan beberapa kawannya kembali ke rumahnya.

"Saya ingat di rumah ada tong [toren] air yang bisa untuk minum anak-anak," ungkapnya.

"Jadi saya isi air ke botol, saya kembali ke masjid."

Siangnya, banjir mulai surut kira-kira sepinggang orang dewasa. Dari situlah, Arif dan teman-temannya memberanikan diri pulang ke rumah.

"Karena saya tahu ada stok air di rumah. Saya ajak teman-teman yang lain, 15 orang itu dari masjid untuk ke rumah saja, tidur di atas rumah."

"Dua malam kami tidur di loteng, karena mau evakuasi kemana pun, enggak bisa. Rumah sakit banjir, chaos semua," katanya.

Situasi banjir di Aceh Tamiang pada hari kedua, Kamis (27/11). Arif, keluarganya, dan belasan koleganya mengungsi ke masjid. Dari lantai dua masjid, warga menyaksikan banjir menenggelamkan rumah-rumah dan kendaraan.

Sumber gambar, ISTIMEWA

Keterangan gambar, Situasi banjir di Aceh Tamiang pada hari kedua, Kamis (27/11). Arif, keluarganya, dan belasan koleganya mengungsi ke masjid. Dari lantai dua masjid, warga menyaksikan banjir menenggelamkan rumah-rumah dan kendaraan.

Untuk makan, Arif mengais-ngais apapun yang berserak di dalam rumahnya. Ada beras yang terendam banjir, mereka bersihkan sebisanya. Ada mi instan, dimasak secukupnya.

Untungnya, kompor di rumahnya masih berfungsi.

"Itulah kita bertahan hidup pakai itu semua selama dua hari, Sabtu-Minggu," ucapnya lemas.

Di antara keputusasaan

Arif bersama istri dan dua anaknya telah berhasil melewati dua babak paling genting sepanjang hidup mereka.

Namun di babak ketiga, keluarga kecil ini berada di antara keputusasaan.

"Anak-anak saya mulai menunjukkan fisik yang lemah, batuk, badan gatal-gatal," ujarnya. Anak sulungnya baru berusia 6 tahun dan si bungsu 2 tahun.

Rumah Arif di Kampung Dalam, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, penuh lumpur. Selama dua hari mereka tinggal di atap.

Sumber gambar, ISTIMEWA

Keterangan gambar, Rumah Arif di Kampung Dalam, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, penuh lumpur. Selama dua hari mereka tinggal di atap.

Pria paruh baya ini membatin bahwa mereka tidak akan bisa bertahan lebih lama di sini. Sebab, situasinya semakin tidak menentu.

Sejak peristiwa banjir, tidak ada sama sekali personel pemda yang berupaya datang menyelamatkan warga. Entah itu polisi, damkar, SAR, atau BPBD.

Hingga pada Minggu (30/11), dia menyaksikan sejumlah toko swalayan dan toko grosir dijarah warga. Puluhan orang memaksa masuk untuk mengambil persediaan makanan.

"Penjarahan di mana-mana," ujarnya.

"Padahal sehari sebelumnya, kami masih berusaha membeli makanan, kami bawa duit untuk beli sembako yang dipaketkan harganya Rp80.000."

"Tapi besoknya, orang sudah tidak mau beli lagi, mereka pada ngambil saja karena mungkin terlalu mahal bagi masyarakat. Beras saja yang 10 kilogram harganya Rp250.000," kata Arif.

Seisi kota nyaris seperti kota mati. Tidak ada listrik, air bersih, apalagi jaringan telekomunikasi. Mereka seperti terperangkap.

Seluruh jalan rusak dan dipenuhi lumpur setebal 50 sentimeter.

Di beberapa sudut jalan, sisa-sisa banjir masih menggenang. Sejumlah kendaraan roda empat teronggok dengan kondisi terbalik atau tercebur ke parit.

Rumah-rumah warga, banyak yang tak lagi utuh bentuknya: ada yang ambruk, atapnya bolong, tembok miring, pagar rumah jebol, jendela hingga pintu copot.

Di sisi jalan, ranting-ranting pohon berserak bersama barang-barang milik warga yang hancur diterjang banjir.

Yang tak kalah mengerikan, kata Arif, aroma bangkai tercium di sepanjang jalan.

Sejumlah warga melintas di dekat puing-puing yang terbawa arus banjir di kawasan Desa Bukit Tempurung, Kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Rabu (3/12/2025).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

Keterangan gambar, Sejumlah warga melintas di dekat puing-puing yang terbawa arus banjir di kawasan Desa Bukit Tempurung, Kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Rabu (3/12/2025).

Arif menyaksikan sendiri, beberapa hewan ternak milik warga seperti sapi dan kambing mati dan dibiarkan terkapar.

"Bau bangkai tercium sekali, mungkin juga di balik reruntuhan, ada mayat [manusia] cuma tak nampak, tapi baunya ada," ujarnya.

"Orang-orang pun sudah tidak peduli lagi sama mayat, karena orang-orang pada berburu makanan dan air semua. Saya lihat wajah-wajah orang penuh lumpur, pada bingung semua kita di jalanan."

"Seperti kota mati, kalau orang bilang kayak kota zombie," ucapnya.

Jika malam datang, seisi kota gelap gulita. Tak ada orang yang berani berkeliaran di jalan. Namun, saat matahari nampak, warga berhamburan di jalan.

"Tetapi enggak tahu mau ngapain, berharap aja ada makanan," kata Arif.

Ada secercah harapan

Entah bagaimana, kata Arif, suami seorang temannya sampai ke Aceh Tamiang pada Minggu (30/11) sore dengan niat untuk menjemput.

"Pertanyaan saya, kok bisa bapak ini datang ke Aceh Tamiang padahal jalan terputus," katanya membatin.

"Jadi bapak ini bercerita kalau dia jalan kaki dari perbatasan Aceh-Sumut selama tiga hari. Kemudian naik [perahu] ke Kuala Simpang, lalu jalan kaki ke rumah saya."

Sejumlah warga melintas di dekat mobil warga yang terbawa arus banjir di kawasan Desa Bukit Tempurung, Kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Rabu (3/12/2025).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

Keterangan gambar, Sejumlah warga melintas di dekat mobil warga yang terbawa arus banjir di kawasan Desa Bukit Tempurung, Kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Rabu (03/12).

Cerita bapak itu, bagi Arif bagai secercah harapan untuk keluar dari keputusasaan. Ia pun berniat memboyong anaknya ke Medan, tempat tinggal mertua sang istri, bagaimanapun caranya.

Maka, esoknya, dia bersama 15 orang rekannya memutuskan mencari informasi ke pasar Kuala Simpang yang kala itu sedang kacau-kacaunya.

Mereka berjalan kaki sejauh dua kilometer.

Sesampainya di kota Kuala Simpang, dia dapat informasi bahwa ada jalur laut yang bisa ditempuh dengan kapal nelayan ke Kecamatan Pangkalan Susu, di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara.

Mereka lantas bertanya soal ongkos dan segala macam.

"Ternyata satu orang itu dikenakan biaya Rp150.000, padahal kami sama sekali enggak ada uang, mau tarik [uang] di ATM, tidak bisa. Jadi kami memberanikan diri meminjam ke salah satu warga," ceritanya.

"Kebetulan saya kenal beliau punya usaha apotek, kami pinjam duit sebesar Rp3 juta untuk kami berangkat 15 orang ke Medan."

Dari kota Kuala Simpang, mereka naik truk melewati perkebunan sawit sampai ke Salahaji di Kabupaten Langkat sejauh 18 kilometer.

Setibanya di sana, yang sudah dekat dengan tepi laut, mereka pun naik kapal nelayan ke Pelabuhan Pangkalan Susu selama dua jam.

"Dari situlah sudah ada jaringan [internet], kami mengisi baterai handphone, kami kabari keluarga," katanya sedikit lega.

"Ada satu teman kami yang kakinya tiba-tiba lumpuh sesaat, kayak syok. Jadi kami gendong, dan ternyata dilihat sama babinsa dan polisi. Kami bilang, kami korban banjir."

"Langsung kami disambut, diberi makan, minum, didatangkan perawat. Baru setelah itu kami diarahkan ke kantor koramil dan dijemput keluarga di sana [ke Medan]," ucapnya penuh haru.

Melintasi jalur darat yang serba tak pasti

Kalau Arif bersama kawan-kawannya mengarungi laut, Dedy Tanjung berkendara dari Medan menyusuri jalan darat ke Aceh Tamiang demi menjemput keponakannya yang berusia tujuh tahun.

Ia bersama seorang kerabatnya menunggangi si kuda besi sejauh 129 kilometer.

"Sebetulnya kami juga waswas, tapi kami jemput ke sana, karena kondisinya sudah porak-poranda," kata Dedy kepada BBC News Indonesia, Kamis (04/12).

Seorang warga melintas di dekat truk tangki yang terbawa arus banjir di Desa Bukit Rata, Kejuruan muda, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Rabu (3/12/2025).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

Keterangan gambar, Seorang warga melintas di dekat truk tangki yang terbawa arus banjir di Desa Bukit Rata, Kejuruan muda, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Rabu (03/12).

Dari ujung telepon, dia menceritakan perjalanannya yang serba tidak pasti.

"Saya berangkat hari Selasa jam sembilan malam," kata Dedy.

"Kami berdua pakai motor, boncengan sambil bawa senter, karena enggak ada penerangan," ucapnya.

Untuk sampai ke Aceh Tamiang, mereka harus melewati Binjai, Stabat, Tanjung Pura, Pangkalan Brandan, Balaban, Sungailiput, baru ke Kabupaten Aceh Tamiang.

Sepanjang perjalanan, ia bercerita beberapa daerah masih dikepung banjir.

Kalau sudah begitu, dia terpaksa turun dari motor dan mendorongnya, ketimbang memaksa menerabas.

Untungnya, beberapa ruas jalan Medan-Aceh Tamiang yang sebelumnya tertutup material longsor sudah bisa dilintasi, meskipun hanya satu jalur.

"Di Tanjung Pura banyak rumah tenggelam. Sepanjang jalan kami lihat rumah-rumah hanyut," ujar Dedy.

Mendekati Aceh Tamiang, kondisinya gelap gulita. Ia pun berkendara pelan dan berhati-hati. Sebab jalan dipenuhi lumpur dan air sisa-sisa banjir.

Total, mereka menghabiskan empat jam di jalan. Padahal normalnya, kata dia, paling cuma tiga jam.

Tiba di sana, sudah pukul 01.00 WIB dini hari.

"Terus ada orang yang mengejar kami, ternyata wakil bupati Aceh Tamiang. Dia heran, kok ada orang bawa senter, sementara sudah lima hari enggak ada daya listrik," ceritanya.

Sejumlah kendaraan antre melintasi Jalan Lintas Nasional Medan-Banda Aceh yang rusak akibat banjir di Desa Tualang Baro, Kecamatan Manyak Payed, Aceh Tamiang, Aceh, Kamis (4/12/2025).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

Keterangan gambar, Sejumlah kendaraan antre melintasi Jalan Lintas Nasional Medan-Banda Aceh yang rusak akibat banjir di Desa Tualang Baro, Kecamatan Manyak Payed, Aceh Tamiang, Aceh, Kamis (04/12).

"Kami ceritakan mau ke Desa Babo, di Kecamatan Bandar Pusaka. Dijawab wakil bupati, 'Loh air [banjir] dari sanalah asalnya, bahaya kali sudah tengah malam.'"

"Akhirnya kami disuruh istirahat di posko polres, besok pagi baru lanjut cari keponakan tadi," ujar Dedy.

Desa tempat keponakannya tinggal berada di hulu, dekat dengan sungai. Kontur wilayahnya berbukit-bukit.

Saat banjir menerjang desa tersebut, katanya, banyak rumah-rumah warga yang terbuat dari kayu terseret derasnya air.

"Malah ada mobil tangki sampai naik ke atas mobil tangki juga. Berarti kan [banjir] cukup besar," ujarnya.

"Dan, waktu kami melintas itu memang bau… bau bangkai. Menyengat betul."

Sejumlah kendaraan antre melintasi Jalan Lintas Nasional Medan-Banda Aceh yang rusak akibat banjir di Desa Tualang Baro, Kecamatan Manyak Payed, Aceh Tamiang, Aceh, Kamis (4/12/2025).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

Keterangan gambar, Sejumlah kendaraan antre melintasi Jalan Lintas Nasional Medan-Banda Aceh yang rusak akibat banjir di Desa Tualang Baro, Kecamatan Manyak Payed, Aceh Tamiang, Aceh, Kamis (04/12).

"Mencekam sekali di sana, seperti dihantam tsunami. Kota dipenuhi lumpur, sampah, kayu. Masyarakat juga enggak banyak kelihatan di jalan, enggak tahu kemana mereka," klaimnya.

Beruntungnya, keponakannya itu sudah mengungsi ke posko pengungsian. Di sanalah mereka jumpa dalam kondisi memilukan.

Si bocah bercerita bagaimana dia dan penduduk desa bertahan hidup dari makan dan minum seadanya.

"Kami bawa pulang lah, bonceng bertiga di motor."

"Makanya begitu jumpa rasanya macam ada mukjizat dari Allah. Dia bisa selamat gitu. Karena masyarakat di kampung itu juga banyak yang hilang."

garis

'Hancur lebur, rata dengan tanah' – Kesaksian wartawan dari Aceh Tamiang

"Hancur lebur..." Itulah kondisi Kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, seperti yang disaksikan wartawan Kompas TV, Budi Satria.

Budi Satria dan dua rekannya berhasil menembus keterisolasian Kota Kuala Simpang pada Selasa (02/12) lalu.

"Enggak menyangka kerusakan yang disebabkan banjir sangat berdampak ke kehidupan masyarakat," kata Budi Satria saat dihubungi BBC News Indonesia, Kamis (04/12) malam.

"Sejumlah perkampungan bahkan rata dengan tanah. Hanya menyisakan puing-puing beton dan lumpur," ungkapnya.

Aceh Tamiang, Kuala Simpang, aceh, banjir sumatra

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

Keterangan gambar, Sebuah mobil tersangkut di pagar Desa Kampung Bundar, Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Rabu (03/12).

Bersama dua rekannya, Emirsyah Purba (reporter) dan Dedi Ginting (campers), Budi sempat berjibaku untuk dapat 'menembus' Kabupaten Aceh Tamiang. Mereka menggunakan jalur dari Sumatra Utara.

"Kami terpaksa menumpang truk tronton besar untuk melintas titik banjir setinggi satu meter," ungkapnya menjawab pertanyaan wartawan BBC News Indonesia, Quin Pasaribu.

Dia bercerita, mobil SUV yang digunakan dan mobil SNG Kompas TV tidak bisa melintasi banjir yang cukup tinggi.

Sehingga, lanjutnya, mobil sempat tertahan di Semadam tak jauh dari perbatasan Sumut-Aceh.

Aceh Tamiang, Kuala Simpang, aceh, banjir sumatra

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

Keterangan gambar, Foto udara sejumlah tenda pengungsian warga di atas jembatan Kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Rabu (03/12).

"Tim terpaksa berberapa kali bertukar tumpangan karena kendaraan yang ditumpangi terjebak macet," jelasnya.

Bahkan, "beberapa kali kami terpaksa berjalan kaki karena memang jalur menuju Aceh Tamiang masih penuh dengan kendaraan yang terjebak kemacetan sejak banjir melanda."

Berikut petikan wawancaranya:

Begitu Anda tiba di lokasi, apa yang Anda lihat dari kota atau permukiman warga?

Maaf, kata pertama yang terlintas di benak saya: Hancur lebur.

Enggak menyangka kerusakan yang disebabkan banjir sangat berdampak ke kehidupan masyarakat.

Aceh Tamiang, Kuala Simpang, aceh, banjir sumatra

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

Keterangan gambar, Sejumlah bangunan rusak pascabanjir bandang di Aceh Tamiang, Aceh, Kamis (04/12)

Sejumlah perkampungan bahkan rata dengan tanah. Hanya menyisakan puing-puing beton dan lumpur

Apakah betul bahwa aroma mayat sangat terasa? Mayat berserakan?

Memang sempat tercium aroma kurang sedap saat berada di sejumlah titik terparah yang dilanda banjir bandang di kota Kuala Simpang.

Namun belum diketahui sumber aroma kurang sedap tersebut. Bisa saja berasal dari bangkai hewan yang memang banyak mati.

Bagaimana Anda melihat kondisi warga? Apakah mereka betul-betul tidak punya persediaan pangan?

Korban banjir memang sangat kekurangan makanan dan air bersih.

Besarnya banjir menyebabkan seluruh segi perekonomian lumpuh total. Listrik, saluran seluler dan air bersih benar benar lumpuh total.

Aceh Tamiang, Kuala Simpang, aceh, banjir sumatra

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

Keterangan gambar, Foto udara sejumlah kendaraan antre melintasi Jalan Lintas Nasional Medan-Banda Aceh yang rusak akibat banjir di Desa Tualang Baro, Kecamatan Manyak Payed, Aceh Tamiang, Aceh, Kamis (04/12).

Banjir juga meluluhlantakkan RSUD Aceh Tamiang. Seluruh perlengkapan medis rusak.

Apakah hingga saat ini sudah ada bantuan dari pemerintah yang masuk?

Sudah berangsur angsur bantuan mulai didistribusikan, meski sejumlah pengungsi mengaku pembagian bantuan tidak merata

Bagaimana dengan bantuan dari pihak lain, apakah sudah ada yang tembus?

Dengan terbukanya akses jalan mulai Rabu, 3 Desember 2025, di mana ketinggian air yang sebelumnya memutus jalan lintas Sumatera mulai surut, bantuan dari berbagai pihak mulai berdatangan.

Aceh Tamiang, Kuala Simpang, aceh, banjir sumatra

Sumber gambar, Dokumentasi Kompas TV

Keterangan gambar, Budi Satria dan tim Kompas TV berhasil menembus keterisolasian Kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Selasa (02/12) lalu.

Apa yang dilakukan warga untuk bertahan hidup selama sepekan ini?

Warga bertahan dengan makanan dan lokasi pengungsian seadanya. Bahkan ada pengungsi mengaku terpaksa menggunakan air banjir untuk bertahan hidup.

Apa kata-kata atau ucapan warga yang terdengar di telinga anda di tengah situasi ini?

Bantuan segera didistribusikan, aliran listrik dihidupkan sehingga warga dapat memulai kembali kehidupannya

garis

Distribusi bantuan ke Aceh Tamiang

Kabupaten Aceh Tamiang berada di bagian timur Provinsi Aceh dan berfungsi sebagai gerbang utama menuju provinsi tersebut dari Sumatra Utara.

Pascabanjir, kabupaten ini disebut terisolir lantaran jalur penghubung dari Provinsi Aceh, yakni jembatannya, terputus.

Sehingga satu-satunya akses transportasi menuju ke sana lewat Medan, Sumatra Utara. Itu pun beberapa ruas tertimbun material longsor.

Petugas medis memeriksa kesehatan korban banjir di tempat pengungsian sementara Desa Bukit Tempurung, Kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Rabu (3/12/2025).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

Keterangan gambar, Petugas medis memeriksa kesehatan korban banjir di tempat pengungsian sementara Desa Bukit Tempurung, Kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Rabu (03/12).

Pada Kamis (04/12), Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyebut jalur darat untuk bantuan logistik ke Aceh Tamiang sudah bisa ditembus dari Langkat, Sumut.

Adapun jalur darat lainnya yang mulai pulih antara lain akses dari Pidie Jaya ke Aceh Barat dan Aceh Tengah. Kemudian akses dari Banda Aceh, Aceh Barat, Nagan Raya, Gayo Luwes juga sudah bisa dilalui.

Dengan terbukanya jalur darat ini, BNPB mengatakan truk-truk BBM Pertamina mulai masuk ke Aceh Tamiang.

Sedangkan perbaikan jembatan, terus dilakukan.

Untuk penerangan PLN diklaim sudah memasok genset ke Aceh Tamiang. BNPB menyebut listrik mulai menyala namun terbatas.

"Genset juga akan dioptimalkan agar operasional RSUD yang hari ini sudah mulai dibersihkan bisa dapat beroperasi," kata Abdul Muhari, Juru Bicara BNPB.

Warga korban banjir menyuapi anaknya saat berada di tenda pengungsian sementara di atas jembatan Kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Rabu (3/12/2025).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

Keterangan gambar, Warga korban banjir menyuapi anaknya saat berada di tenda pengungsian sementara di atas jembatan Kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Rabu (03/12).

Terpisah, Gubernur Aceh Muzakir Manaf tiba di Aceh Tamiang pada Kamis (04/12) dini hari. Ia datang bersama rombongan dengan kondisi gelap gulita dan kondisi listrik yang belum pulih.

Di sana, dia menyalurkan 30 ton sembako yang disumbangkan warga Medan, Sumatra Utara. Paket bantuan itu berisi air minum, beras, mi instan, biskuit, telur, dan sejumlah obat-obatan.

Ia menjanjikan, distribusi bantuan masih akan berdatangan pada hari-hari berikutnya.

Muzakir Manaf menyampaikan rasa duka dan empati kepada para korban.

"Kita sedih dan pilu melihat kondisi ini. Kita harap rakyat Aceh tabah menghadapi cobaan banjir dan longsor," kata Mualem.

"Besok juga ada truk berikutnya. Kami juga buka posko di Medan untuk teman-teman yang ingin menyumbang ke Aceh."

Berapa korban di Aceh Tamiang?

Data BNPB mencatat korban meninggal di Aceh Tamiang sebanyak 42 orang, per Kamis (04/11). Meskipun warga setempat meyakini angkanya melampaui itu. Sebab banyak dinyatakan hilang.

Adapun data BPBD Aceh Tamiang menyatakan dari keseluruhan jumlah total korban bencana banjir bandang 225.847 jiwa.

Dari 56.384 kepala keluarga yang mengungsi 215.652 jiwa, selebihnya bertahan dirumah masing-masing atau mengungsikan diri ke rumah keluarganya.

Kendati demikian, secara keseluruhan korban meninggal di Provinsi Aceh mencapai 471 jiwa, orang hilang 354, dan terluka 1.900 orang.