Ulama Aceh dan Dewan Profesor USK tuntut status 'bencana nasional' dan 'bantuan asing', Presiden Prabowo menolak

Aceh Tamiang, banjir sumatra

Sumber gambar, Yasuyoshi CHIBA / AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Tumpukan pohon tumbang yang tersapu banjir masih terlihat di Pesantren Darul Mukhlisin dan sebuah masjid di Aceh Tamiang, Aceh, Minggu (14/12).
Waktu membaca: 28 menit

Ulama Aceh dan Dewan Profesor Universitas Syiah Kuala meminta pemerintah pusat agar menetapkan bencana di Sumatra sebagai bencana nasional. Namun Presiden Prabowo mengklaim penanganan banjir dan longsor di Sumatra sudah "terkendali".

Seruan ulama Aceh, yang terhimpun dalam Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU), itu dihasilkan dalam muzakarah di Banda Aceh, Minggu (14/12).

Mereka menggelar pertemuan tersebut di masjid yang dihormati oleh masyarakat Aceh, yaitu Masjid Baiturrahman.

Salah-satu rekomendasinya, MPU meminta Presiden Prabowo Subianto menetapkan banjir dan longsor Sumatra sebagai "bencana nasional".

Para ulama Aceh beralasan, status bencana nasional itu dibutuhkan segera, karena pemerintah daerah tidak mampu menanganinya.

Seruan serupa juga disuarakan Dewan Profesor Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Mereka menuntut Jakarta agar segera menetapkan "status darurat bencana nasional yang komprehensif".

Untuk itulah, kata Ketua Dewan Profesor Universitas Syiah Kuala, Izarul Machdar, mereka meminta pemerintah pusat "mempercepat pembukaan jalur akses transportasi utama untuk masuknya bantuan kemanusiaan internasional".

Tuntutan serupa juga sudah disuarakan berbagai kalangan, namun sejauh ini pemerintah pusat berkukuh menolaknya.

aceh tamiang, banjir sumatra

Sumber gambar, Yasuyoshi CHIBA / AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Sejumlah perempuan berjalan di atas batang kayu untuk menghindari lumpur di sudut Aceh Tamiang, Aceh, Minggu (14/12). Dan dinding di sisi kiri mereka tertulis kata "tolong".

Dalam sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (15/12), Presiden Prabowo menegaskan pemerintah Indonesia "mampu mengatasi" bencana di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat.

Menurutnya, sejumlah kepala negara telah menelponnya untuk menyatakan keinginan merela memberikan bantuan untuk Sumatra.

"Saya bilang terima kasih concern Anda, kami mampu. Indonesia mampu mengatasi ini," kata Prabowo.

"Ada yang teriak-teriak ingin ini dinyatakan Bencana Nasional. Kita sudah kerahkan, ini tiga provinsi dari 38 provinsi. Jadi situasi terkendali, saya monitor terus," tambahnya.

"Dan kita sudah merencanakan segera kita akan bentuk, apakah kita namakan Badan atau Satgas Rehabilitasi Konstruksi, kita ingin membangun huntara [hunian sementara] dan hunian tetap," sambung dia.

aceh tamiang, banjir sumatra

Sumber gambar, Yasuyoshi CHIBA / AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Truk-truk tangki minyak sawit tergeletak dalam kondisi rusak akibat banjir di bengkel perbaikan kendaraan di Aceh Tamiang, Aceh, Senin (15/12).

Sampai Rabu (17/12) pagi, jumlah korban meninggal dunia di Sumbar, Sumut, dan Aceh sudah mencapai 1.053 orang. Adapun yang dinyatakan hilang 200.

Dalam situs resminya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan, korban meninggal di Aceh 449 orang,

Di Sumatra Barat sebanyak 693 jiwa, serta 360 di Sumatra Utara.

Sejauh ini dilaporkan 146.758 rumah rusak di 52 kabupaten terdampak.

Proses pencarian dan evakuasi korban hilang masih terus dilakukan, bersamaan dengan pemulihan akses jalan yang sebelumnya terputus.

Sementara, Aceh dan Sumatra Utara telah memperpanjang status darurat bencana.

BNPB memperkirakan diperlukan anggaran sebesar Rp 51,82 triliun untuk biaya pemulihan di 52 kabupaten di tiga provinsi terdampak.

aceh tamiang, banjir sumatra

Sumber gambar, Yasuyoshi CHIBA / AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Padli, 39 tahun, membersihkan rumah dari genangan lumpur setelah banjir menerjang Aceh Tamiang, Aceh, Minggu (14/12).

Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues masih terisolasi

Dampak banjir dan longsor masih dirasakan oleh masyarakat di Dataran Tinggi Gayo, yang meliputi Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues.

Masyarakat di tiga kabupaten itu masih terisolasi dari daerah luar. Penyebabnya: jalan nasional terputus.

Akses jalan nasional yang putus akibat banjir dan longsor adalah Jalan Takengon – Bireuen; Jalan Takengon – Aceh Utara (Jalan KKA); Jalan Takengon – Isaq (menuju Gayo Lues); serta alternatif lingkar Danau Laut Tawar, yakni Jalan Bintang – Gayo Lues, Jalan Takengon – Geumpang (Pidie), dan Jalan Takengon – Nagan Raya.

aceh tamiang, banjir sumatra

Sumber gambar, Aditya Aji / AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Nurlela Agusfitri, 40 tahun, kehilangan perkebunan kelapa sawit, beberapa sapi, dan sebuah kios kecil di rumahnya akibat banjir. Dia berdiri di tumpukan batang pohon yang terbawa banjir di Pengidam, Aceh Tamiang, Aceh, Senin (15/12).

Bener Meriah tak jauh beda dengan Aceh Tengah, masyarakatnya mengandalkan Jalan KKA dan Takengon - Bireuen untuk kebutuhan pangan dan lain-lain. Jalur menuju dan keluar Bener Meriah, rusak total akibat bencana yang terjadi pada 26 – 28 November 2025.

Selama ini, baik masyarakat Aceh Tengah dan Bener Meriah, masih bergantung dengan Jalan Takengon – Aceh Utara (Jalan KKA), sebagai jalur transaksi BBM dan sembako.

Akibatnya, ratusan ribu orang di Dataran Tinggi Gayo, Aceh, harus menghadapi kelangkaan bahan bakar minyak, gas elpiji, dan beras selama 12 hari.

banjir sumatra, aceh tamiang

Sumber gambar, Aditya Aji / AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Sejumlah perempuan berjalan di ruas jalan yang telah dibersihkan dari batang-batang yang pohon akibat banjir dan longsor di Aceh Tamiang, Aceh, Rabu (10/12).

Potret kehidupan masyarakat Gayo pascabencana

Indrayati berusaha bertahan hidup dengan berjualan kerupuk dan saus Padang setelah banjir dan longsor melanda Gayo.

Sebelum bencana tersebut, dia menjual sate Padang dengan beragam rempah di ruas Jalan Sengeda, Takengon. Namun sejumlah kebutuhan itu tidak dapat diperoleh di pasar mengingat pasokan bahan pangan terhenti akibat kondisi jalan rusak berat. Adapun harga seekor ayam mahal, tak terbeli.

"Sekarang kami jual kerupuk dengan bumbu Padang saja," sebut Indrayati kepada wartawan Iwan Bahagia di Takengon, Aceh Tengah, yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Indrayati mengaku harus segera bangkit, meski masih terseok-seok.

banjir sumatra, aceh

Sumber gambar, CHAIDEER MAHYUDDIN / AFP/Chaideer MAHYUDDIN / AFP via Getty Images)

Keterangan gambar, Warga menaiki tangga darurat menuju jembatan yang baru dibangun di atas Sungai Peusangan, Bireuen, Aceh, Selasa (09/12).

Setelah dua pekan berlalu sejak bencana melanda, perempuan berusia 62 tahun itu baru mendapatkan dua kantong beras dari pemerintah.

Tapi tidak semua bisa segera bangkit seperti Indrayati.

Tugini, yang juga warga Takengon Timur, tidak lagi bekerja sebagai pencuci piring di warung sebelah rumahnya. Warung itu masih tutup karena kekurangan bahan olahan pascabencana.

Padahal, perempuan berusia 73 tahun itu harus menghidupi dua cucu yatimnya.

Di sebelah rumah Tugini, ada Hidayatullah M (50) yang sebelumnya menjual buah di sekitar Kota Takengon. Namun pascabencana, buah-buahan tidak bisa lagi masuk karena seluruh jalan nasional terputus akibat bencana.

Baik Tugini dan Hidayatullah M mendapatkan paket sembako dari relawan Sahabat Safar, yang mengumpulkan donasi dari luar daerah, membelanjakannya di Takengon, lalu dibagikan kepada warga yang terancam kelaparan.

banjir sumatra, aceh tengah

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

Keterangan gambar, Pengendara melintasi badan jalan lintas tengah Nagan Raya-Aceh Tengah yang amblas pasca bencana hidrometeorologi di Desa Aruk Gading, Kecamatan Celala, Aceh Tengah, Aceh, Jumat (12/12).

Gayo Lues tanpa bantuan dari jalur darat

Sementara itu, Bupati Gayo Lues, Suhaidi, bahwa nyaris tidak ada bantuan yang disalutkan melalui jalur darat selama dua pekan.

Ia menyebut, potensi perbaikan jalan nasional Gayo Lues – Aceh akan bisa dilakui 20 hari ke depan.

Pemkab Gayo Lues, menurut Suhaidi, masih berupaya menembus kawasan terisolasi dengan melibatkan personel TNI/ Polri

"Kalau bantuan beras sudah lebih 100 ton kita salurkan. Drop hanya bisa lewat udara. Gayo Lues lumpuh total untuk jalur darat," sebut Suhaidi.

Terkait komunikasi, Pemkab Gayo Lues menggunakan Starlink karena jaringan seluler tidak berfungsi pascabencana.

"Jaringan seluler putus total, tidak berfungsi sampai sekarang. Sementara listrik dari 11 kecamatan, tujuh kecamatan masih padam total sejak hari pertama bencana," ungkap Suhaidi.

'Kami minta pemerintah bertindak cepat, kami sangat-sangat butuh logistik'

Sementara itu, salah-seorang korban bencana banjir dan longsor di Aceh Tengah meminta Presiden Prabowo melakukan tindakan "secepatnya" untuk memberikan bantuan logistik.

Dia mengaku saat ini masyarakat di Aceh Tengah "sangat-sangat membutuhkannya".

Seorang warga Aceh Tengah yang bernama Raodah menyampaikan keluhannya itu, Jumat (12/12) saat Prabowo berdialog dengan warga di Takengon, Aceh Tengah.

Dua pekan setelah bencana, wilayah Aceh Tengah merupakan salah-satu kawasan yang terisolasi. Sejumlah jembatan yang menghubungkan wilayah itu rusak akibat banjir.

banjir sumatra, aceh tengah

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

Keterangan gambar, Warga korban terdampak banjir dan longsor memperlihatkan bantuan beras di Desa Kayu Kul, Kecamatan Pegasing, Aceh Tengah, Aceh, Jumat (12/12).

Keluhan warga Aceh Tengah ini muncul di tengah desakan agar pemerintah menetapkan kebijakan bencana nasional.

Ada keluhan yang menganggap tindakan pemerintah lambat dalam menangani bencana di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat.

Menurut Raodah, masyarakat Aceh Tengah saat ini "sangat kekurangan air bersih, listrik, dan sinyal ponsel".

"Kami di sini sangat membutuhkan logistik, pak [Prabowo], sangat-sangat membutuhkan," kata Raodah, seperti dilaporkan wartawan Iwan Bahagia yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Jumat (12/12).

"Saya mewakili saudara-saudara saya di Aceh Tengah, ya, Pak. Mohon secepatnya dilakukan, ya, Pak," tambahnya.

banjir sumatra, sumbar

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra

Keterangan gambar, Warga melihat kondisi jalur sungai baru di Batang Kuranji, kawasan Gunung Nago, Padang, Sumatera Barat, Sabtu (13/12).

Di hadapan Presiden, Raodah juga meminta agar Prabowo membantu rumah warga yang rusak akibat bencana.

Prabowo kemudian langsung menanggapi tuntutan Raodah. Dia berjanji bahwa pemerintah akan membantu pengungsi korban banjir dan longsor.

Namun menurutnya bantuan itu tidak dapat dilakukan dengan cepat.

"Tadi saya sudah sampaikan bahwa pasti pemerintah akan turun dan bantu. Tentunya ini adalah musibah, kami tidak punya tongkat Nabi Musa yang bisa dilakukan dengan segera, tetapi kita bekerja dengan sebaik-baiknya," kata Prabowo di hadapan para pengungsi.

banjir sumatra, sumbar

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan

Keterangan gambar, Penyintas banjir mengambil air untuk keperluan mandi, cuci, dan kakus (MCK) dari lubang yang digali di samping alur air Sungai Lareh yang keruh akibat banjir di Koto Tangah, Padang, Sumatera Barat, Jumat (12/12).

Dia juga mengatakan bahwa pemerintah akan mengganti rumah warga yang rusak akibat banjir dan longsor.

"Sudah kita rencanakan, sudah kita siapkan anggarannya, kita tinggal menunggu waktu," kata Prabowo.

Prabowo menekankan bahwa upaya itu membutuhkan waktu.

"Jadi kami mohon kesabaran, saya tidak bisa mengerjakan semua begitu cepat. Kita sudah bekerja dengan sebaik-baiknya. Saya minta ketabahan dan kesabaran semua. Pasti kita akan bantu. Tenang saja," ujar dia.

Prabowo minta maaf di depan pengungsi di Aceh Tamiang

Usai bertemu perwakilan korban banjir dan longsor di Takengon, Aceh Tengah, Presiden Prabowo berkunjung ke Aceh Tamiang, Jumat (12/12).

Di hadapan perwakilan pengungsi di Aceh Tamiang, Presiden meminta maaf kepada pengungsi korban banjir dan longsor.

Prabowo meminta maaf apabila kebutuhan masyarakat di lokasi bencana "belum terpenuhi".

"Pemerintah akan turun akan membantu semuanya, saya minta maaf kalau masih ada yang belum, kita sedang bekerja keras, mungkin listrik yang belum ya, listrik," ujar Prabowo, Jumat.

banjir sumatra, aceh tengah

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

Keterangan gambar, Pengendara melintasi badan jalan lintas tengah Nagan Raya-Aceh Tengah yang tertimbun longsor pasca bencana hidrometeorologi di Desa Aruk Gading, Kecamatan Celala, Aceh Tengah, Aceh, Jumat (12/12).

Di hadapan pengungsi, Prabowo lantas bertanya kepada Bupati Aceh Tamiang Armia Fahmi terkait kesiapannya, seperti dilaporkan Kompas.com.

Armia menjawab bahwa listrik di Kabupaten Aceh Tamiang sudah menyala secara bertahap.

"Sudah mulai, Pak," ungkap Armia Fahmi.

Prabowo mengaku kondisi di lapangan kadang-kadang menyulitkan proses penanganan.

Namun dia berjanji bahwa pemerintah akan terus berusaha.

"Kita berusaha kita tahu di lapangan sangat sulit, keadaannya sulit jadi kita atasi bersama, saya kira itu saja, ya. Mudah-mudahan kalian cepat pulih, cepat kembali, cepat normal," ujar Prabowo.

Bantuan Rp60 juta per rumah rusak berat akibat banjir Sumatra

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto disebut telah menyetujui alokasi anggaran sebesar Rp60 juta untuk setiap rumah warga yang masuk kategori rusak berat.

Merujuk data BNPB, jumlah rumah masuk kategori rusak berat di Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh akibat banjir-longsor mencapai 37.546 unit.

"Rusak berat ini termasuk yang hilang kena sapu banjir," kata Kepala BNPB yang merupakan perwira TNI aktif, Letjen Suharyanto dalam rapat bersama Prabowo di Aceh, Ahad kemarin.

Nominal Rp60 juta yang disebut dalam rapat yang dipimpin Prabowo di Posko Terpadu Lanud Sultan Iskandar Muda, Aceh, sesuai dengan regulasi yang telah diatur sebelum bencana ini terjadi.

Banjir sumatra

Sumber gambar, AFP via Getty Images/Chaideer Mahyuddin

Keterangan gambar, Personel Brimob mengerahkan gajah untuk membersihkan permukiman warga Meureudu, Pidie Jaya, Aceh, yang digulung banjir, Senin (08/12).

Regulasi itu adalah Keputusan Kepala BNPB Nomor 296A Tahun 2023 tentang stimulan rumah rusak terdampak bencana.

Berdasarkan aturan itu, bantuan terhadap warga yang rumahnya rusak berat akibat bencana bisa diambil dari APBN, APBD, maupun sumber pendanaan lain yang sah sesuai peraturan perundang-undangan.

Bantuan untuk rumah rusak berat, merujuk aturan itu, memang diatur sebesar Rp60 juta.

Adapun pemilik rumah rusak dengan kategori sedang dan ringan, masing-masing akan mendapat bantuan sebesar Rp30 dan Rp15 juta.

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Suharyanto bilang, bantuan itu tidak diberikan kepada korban bencana dalam bentuk uang, melainkan dalam wujud perbaikan rumah.

Merujuk regulasi yang diteken Suhartanto pada November 2023, bantuan perbaikan rumah rusak berat akan disalurkan dengan bentuk "rumah tipe 36 dengan standar minimal rumah layak huni/aman bencana/ rumah tahan gempa".

Para penerima bantuan rumah rusak berat ini, kata Suharyanto, adalah korban bencana yang tidak akan mengikuti program relokasi.

"Mungkin punya keluarga di kampung, punya anak yang punya gaji mau nambah, bisa. Tetapi, kami tidak memberikannya dalam bentuk uang karena khawatir kalau bentuk uang jadi yang lain," kata Suharyanto dalam rapat tersebut.

Rapat itu juga sepakat tentang bantuan berupa hunian sementara untuk korban banjir-longsor. Alokasi pembangunan hunian sementara itu akan mencapai Rp30 juta per rumah.

Hunian sementara itu akan berbentuk rumah berukuran 36 meter persegi, dengan fasilitas kamar dan kamar mandi.

Banjir sumatra

Sumber gambar, AFP via Getty Images/Amanda Jufrian

Keterangan gambar, Warga Aceh Tamiang, Aceh dipotret, Jumat (05/12), didepan rumahnya yang penuh lumpur akibat banjir.

Untuk membangun hunian sementara ini, Prabowo berkata akan mempertimbangkan pencabutan sementara hak guna usaha yang diberi pemerintah kepada berbagai perusahaan di wilayah terdampak, seperti korporasi kelapa sawit.

Pernyataan itu disebut Prabowo menyusul laporan Suharyanto bahwa BNPB mengalami kesulitan mendapat lahan untuk proyek hunian sementara.

Saya kira ini harusnya adalah nanti koordinasi pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, pemerintah pusat semua K/L dan terutama ATR, Kehutanan, ATR BPN dicek semua," kata Prabowo.

"Kalau perlu HGU-HGU bisa dicabut sementara, dikurangi. Ini kepentingan rakyat, lebih penting. Lahan harus ada," tuturnya.

banjir sumatra

Sumber gambar, AFP via Getty Images/Chaideer Mahyuddin

Keterangan gambar, Sebuah rumah di Meureudu, Pidie Jaya, dikelilingi gelondongan kayu usai banjir dan longsor sejak akhir November lalu.

Dari seluruh daerah di Sumatra, sebanyak 3,2 juta jiwa terdampak bencana tersebut. Adapun jumlah pengungsi mencapai 746.200 orang.

BNPB juga mendata rumah warga yang mengalami kerusakan dan kerusakan pada fasilitas umum.

Rincian kerusakannya: 405 jembatan, 199 fasilitas kesehatan, 697 fasilitas pendidikan, 420 rumah ibadah, 234 gedung/kantor, dan sekitar 1.300 fasilitas umum.

Sementara di sektor permukiman, BNPB melaporkan sekitar 105.900 rumah rusak, yang mayoritas berada di Aceh.

Secara keseluruhan, BNPB mencatat bencana ini telah berdampak pada 3,2 juta jiwa di 51 kabupaten di wilayah Sumatra-Aceh.

Presiden Prabowo Subianto (tengah) berdialog dengan warga di posko pengungsian banjir di Kasai, Padang Pariaman, Sumatera Barat, Senin (1/12/2025). Kunjungan presiden memastikan kondisi warga terdampak bencana di pengungsian serta mendistribusikan bantuan dan berjanji akan mengusut tuntas penyebab banjir bandang dan longsor yang melanda Sumatera Barat dan sekitarnya.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra

Keterangan gambar, Presiden Prabowo Subianto (tengah) berdialog dengan warga di posko pengungsian banjir di Kasai, Padang Pariaman, Sumatera Barat, Senin (01/12).

Hingga saat ini, pemerintah masih belum menetapkan status bencana nasional.

Presiden Prabowo Subianto mengklaim pemerintah telah menunjukkan reaksi cepat dan menurunkan seluruh kekuatan negara untuk menangani serta membantu masyarakat yang terdampak bencana di Sumatra.

"Kita berkumpul di saat sebagian saudara-saudara kita di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sedang mengalami musibah. Tapi rakyat melihat reaksi pemerintah cepat. Kita sudah buktikan alat-alat negara segera hadir," kata Prabowo di Jakarta, Jumat (05/12).

Prabowo berkata, pemerintah mengerahkan 50 helikopter berbagai tipe, lalu pesawat angkut berat Hercules C-130J, hingga Airbus A400 untuk membantu para korban.

Petugas menurunkan bantuan logistik bencana dari Pesawat Airbus A 400 TNI Angkatan Udara saat tiba di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Kamis (4/12/2025).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Ampelsa

Keterangan gambar, Petugas menurunkan bantuan logistik bencana dari Pesawat Airbus A 400 TNI Angkatan Udara saat tiba di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Kamis (04/12.

Tujuannya adalah untuk mempercepat penyaluran bantuan logistik, evakuasi korban, dan distribusi BBM ke wilayah-wilayah yang terputus aksesnya akibat kerusakan infrastruktur.

"Ini membuktikan bahwa alat-alat negara hadir cepat. Negara kita kuat, negara kita utuh, dan kita mampu mengatasi cobaan-cobaan besar," kata Prabowo.

Prabowo mengaku kemampuan Indonesia merespons cepat bencana di Sumatra merupakan hasil perencanaan jangka panjang, termasuk keputusan pembelian alutsista yang sebelumnya sempat dikritik sebagian pihak.

Alasan pemerintah tidak tetapkan status bencana nasional

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Pratikno dalam konferensi pers di Posko Terpadu TNI, mengungkapkan alasan mengapa tidak menetapkan status banjir di Sumatra sebagai bencana nasional.

Menurutnya, sejauh ini penanganan yang diberikan sudah bertaraf nasional.

"Penanganannya sudah nasional," ujar Pratikno, Rabu (03/12).

Ia melanjutkan, Presiden Prabowo Subianto sudah memerintahkan seluruh kementerian/lembaga, termasuk TNI/Polri dan BNPB untuk mengerahkan sumber daya semaksimal mungkin dalam menangani bencana di Sumatra.

"Jadi sekali lagi, penanganannya benar-benar penanganan full kekuatan secara nasional," sambungnya.

Banjir bandang di Nagari Paninggahan, Kabupaten Solok, Sumatra Barat, Minggu (30/11).

Sumber gambar, ANTARA FOTO

Keterangan gambar, Warga berjalan di depan masjid yang runtuh setelah banjir bandang di Nagari Paninggahan, Kabupaten Solok, Sumatra Barat, Minggu (30/11).

Dia juga bilang Presiden Prabowo telah menginstruksikan situasi bencana sebagai prioritas nasional. Dana dan logistik tersedia secara penuh, sambungnya, menggunakan Dana Siap Pakai (DSP).

Prabowo menginstruksikan agar seluruh lembaga ekstra responsif dan fokus dalam penyelamatan korban, distribusi bantuan, dan pemulihan berbagai fasilitas serta layanan vital.

Di sisi lain, Pratino menyebut, pemerintah akan terus waspada dan siap siaga mengingat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali memperingatkan potensi hujan lebat, bahkan sangat lebat, hingga akhir 2025.

Termasuk di wilayah banjir bandang saat ini, serta Jawa, Kalimantan, Maluku, dan Papua.

"Dan kami telah mewaspadai dan mempersiapkan sedini mungkin untuk mengurangi risiko semaksimal mungkin," klaim Pratikno.

Baca juga:

Terpisah, Menteri Sosial Saifullah Yusuf juga menyampaikan bahwa pihaknya akan memberikan santunan kematian senilai Rp15 juta, dan santunan bagi korban luka sebesar Rp5 juta bagi korban banjir Sumatra.

Dia berkata, santunan yang merupakan tali kasih dari pemerintah ini diberikan setelah urusan asesmen selesai.

"Ini adalah bentuk tali asih untuk meringankan beban dan menguatkan kebersamaan kita di tengah-tengah bencana," kata Saifullah Yusuf.

Banjir Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, Sabtu (29/11).

Sumber gambar, ANTARA FOTO

Keterangan gambar, Warga berjalan melintasi sungai menggunakan jembatan darurat di Desa Aek Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, Sabtu (29/11). Tampak di sekeliling mereka kayu-kayu gelondongan pascabanjir bandang.

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menilai kegagalan lingkungan, seperti memaraknya industri ekstraktif, membuat dampak hujan ekstrem menjadi lebih parah.

Sementara peneliti Limnologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Fakhrudin, menyebut pembangunan yang masif turut memperparah efek hujan ekstrem, karena membuat sungai mendangkal dan berubah bentuk.

Aceh: 'Sudah seperti tsunami, airnya deras'

Di Kabupaten Pidie Jaya, seorang warga Arini Amalia berkata: "Airnya deras, arusnya cepat… sudah seperti tsunami. Kalau tsunami airnya hitam, [banjir] ini airnya kuning keruh," ujarnya dengan suara bergetar.

Perempuan 28 tahun ini tinggal berdua bersama neneknya yang sudah menginjak kepala delapan di daerah Meureudu, ibu kota Kabupaten Pidie Jaya.

Banjir yang datang secara tiba-tiba itu diawali dari hujan lebat tanpa henti yang berlangsung sejak Rabu (26/11) tengah malam.

Dalam hitungan menit, katanya, sungai di kota itu meluap, menjalar hingga ke jembatan penghubung lintas Sumatra.

"Pokoknya air sungai meluap itu cepat sekali... arusnya cepat kali, dalam hitungan detik sampai ke jalan-jalan, masuk ke rumah."

Banjir Meureudu, Pidie Jaya, 28 November 2025.

Sumber gambar, AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Jalur utama yang menghubungkan Aceh dan Sumatra Utara di Meureudu, Pidie Jaya terputus, pada 28 November 2025.

Amalia yang masih terjaga, membangunkan neneknya yang sepuh.

Menuntunnya bangkit dari tempat tidur dan mengambil beberapa helai pakaian dari lemari untuk dibawa pergi.

"Saya cuma bisa bawa diri sendiri untuk menyelamatkan diri," ucapnya.

"Barang-barang semua saya tinggalin di rumah. Hanya bawa kunci doang. Habis itu saya lari sama nenek saya ke tempat saudara yang rumahnya lebih tinggi."

Begitu sampai di rumah kerabatnya, Amalia balik lagi ke rumah untuk membawa tambahan baju. Tapi begitu tiba, langkah kakinya terhenti.

Permukiman sekitar rumahnya sudah dikepung banjir setinggi pinggang orang dewasa. Ia tak berani menerobos derasnya air.

"Di depan rumah, samping, depan, semua sudah penuh [banjir]. Enggak bisa saya jalan lagi ke rumah," imbuhnya.

"Itu padahal masih hitungan menit," sambung Amalia.

"Saya sudah bisa membayangkan semua barang di dalam rumah terendam. Televisi, kulkas, kasur sudah terapung semua."

banjir sumatera, aceh, sumatera utara, sumatera barat, banjir, longsor

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Ampelsa

Keterangan gambar, Sejumlah kendaraan terjebak lumpur pascabanjir bandang di Desa Manyang Cut, Kecamatan Mereudu, Kabupaten Pidie, Aceh, Kamis (27/11).

Esoknya, atau Kamis (27/11), hujan deras masih terus mengguyur Aceh.

Dengan modal nekat, dia memberanikan pulang ke rumah, sekadar mengecek kondisi rumah.

Namun, yang tampak justru semakin memilukan. Banjir menenggelamkan rumahnya.

"Sudah tenggelam."

"Kamis jam 5 subuh, hujan berhenti. Sekarang sudah nampak sinar matahari. Banjir sudah surut, tapi tinggal lumpur satu meter di dalam rumah," keluhnya.

Sepanjang hidupnya, Amalia mengaku tak pernah mengalami banjir sehebat ini di wilayahnya. Kalaupun hujan deras, banjir biasanya tak pernah melewati dengkul kaki.

"Tidak pernah. Kalau kata nenek saya, pokoknya ini terparah, dalam sejarah hidupnya inilah yang paling parah," katanya berulang kali seakan meyakinkan dirinya dan saya bahwa bencana kali ini tak pernah terbayangkan sebelumnya.

"Makanya saya sedikit trauma, karena bagaimana ya… kayak tsunami. Kalau tsunami airnya hitam, [banjir] ini airnya kuning keruh."

Bencana banjir yang melanda 16 kabupaten/kota di Aceh selain berdampak pada ratusan ribu warga juga merusak sejumlah badan jalan dan jembatan sehingga memutuskan akses transpotasi darat.

Sumber gambar, ANTARA FOTO

Keterangan gambar, Foto udara jalan nasional Medan-Banda Aceh yang terendam banjir di Desa Peuribu, Arongan Lambalek, Aceh Barat, Aceh, Kamis (27/11).

Yang bikin Amalia makin khawatir, barang-barang di toko yang menjual kebutuhan pokok makin menipis. Warung makan bahkan menjual nasi dan lauk seharga Rp20.000, padahal biasanya hanya Rp8.000.

"Saya kebetulan di tempat saudara, stok masih banyak. Jadi kami makan nasi sedikit dan telur empat butir dibagi tujuh orang."

Karenanya dia berharap pemerintah segera mengirim bantuan makanan.

"Yang pertama dibutuhkan makanan, listrik juga karena sebagian kerabat tidak bisa menghubungi kami. Ada yang ingin tanya kabar orang tuanya bagaimana di sini."

Baca juga:

Di Kabupaten Aceh Tengah, wartawan Iwan Bahagia yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, menyebutkan ratusan warga Kampung Merah Mersah, Kecamatan Lut Tawar, berkontak dengan dunia luar melalui sambungan internet Starlink yang ditenagai genset di kantor kepala desa.

"Itu pun tidak tahu sampai berapa lama karena tidak ada persediaan solar lagi," kata Iwan.

Menurut Iwan, listrik dan jaringan telpon seluler di kawasan itu padam.

Akses ke ratusan kampung di Aceh Tengah juga belum dapat diakses karena jalan serta jembatan putus.

Jalan nasional yang menghubungkan Takengon-Bireuen, Takengon-Gayo Lues, Takengon-Nagan Raya, Takengon Pamer (Pameu), Takengon-Aceh Utara via Jalan KKA juga terputus.

Jembatan Pelang, yang menghubungkan Kecamatan Silihnara dengan Rusip Antara (Lintas Pamar), Kabupaten Aceh Tengah, putus.

Sumber gambar, Iwan Bahagia

Keterangan gambar, Jembatan Pelang, yang menghubungkan Kecamatan Silihnara dengan Rusip Antara (Lintas Pamar), Kabupaten Aceh Tengah, putus.

Jembatan Pelang, yang menghubungkan antara Kecamatan Silihnara dengan Rusip Antara (Lintas Pamar), Kabupaten Aceh Tengah, putus akibat banjir bandang melanda kawasan tersebut.

Jalur udara menjadi alternatif utama dengan pemanfaatan Bandara Perintis Gayo Lues dan Bandara Rembele Bener Meriah.

Untuk menjaga kelancaran komunikasi darurat, perangkat Starlink telah dipasang di Gayo Lues, Aceh Tengah, dan Bener Meriah, serta dalam proses mobilisasi ke beberapa wilayah lainnya.

Situasi banjir di Aceh Barat akibat luapan Kruen Woyla pada Kamis (27/11).

Sumber gambar, BPBD Aceh Barat

Keterangan gambar, Situasi banjir di Aceh Barat akibat luapan Kruen Woyla pada Kamis (27/11).

Salah seorang warga Banda Aceh, Azharul Husna, mengatakan bahwa listrik di daerahnya padam sejak dua hari lalu. Sinyal telekomunikasi pun hilang-timbul.

"Saya dan keluarga semalam mengungsi tanpa listrik dan jaringan [internet]," kata Husna kepada BBC News Indonesia, seraya menambahkan bahwa banjir berasal dari luapan Krueng Aceh.

"Kreung Aceh dalam kondisi siaga, meski tidak separah Aceh Timur dan Aceh Utara, Lhokseumawe," lanjut Husna, sembari menyebut bahwa ia tak bisa menghubungi keluarga dan kenalannya di Aceh Timur.

Banjir Kecamatan Mereudu, Kabupaten Pidie, Aceh, Kamis (27/11).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Ampelsa

Keterangan gambar, Sejumlah kendaraan terjebak lumpur pascabanjir bandang di Desa Manyang Cut, Kecamatan Mereudu, Kabupaten Pidie, Aceh, Kamis (27/11).

Dikutip dari Kompas.com, Bupati Aceh Tengah menyebut daerahnya terdampak cukup parah.

Sejumlah jalan terputus akibat terendam banjir dan lonsor, antara lain, akses menuju Aceh Utara melalui Gunung Salak dan Gayo Luwes menuju Takengon-Blangkejeren.

Sumut: Penyaluran bantuan

Penyaluran logistik telah dilakukan terutama di Tapanuli Tengah dan Mandailing Natal, termasuk bantuan beras, makanan siap saji, tenda, terpal, serta family kit.

Pemerintah pusat juga mengerahkan personel BNPB, TNI/Polri, serta dukungan lintas kementerian/lembaga. Bantuan Presiden berupa alat komunikasi, genset, LCR, kompresor, tenda, dan kebutuhan konsumsi telah disalurkan.

Dukungan alutsista meliputi pesawat Caravan, helikopter Airbus EC 155 untuk distribusi logistik-peralatan dan alat berat untuk mempercepat pembukaan akses desa terdampak.

Bencana ini turut mengganggu sistem jaringan telekomunikasi sehingga memicu keterlambatan pendataan, distribusi hingga perkembangan informasi di lapangan.

BNPB menempatkan alat penyedia jaringan internet Starlink yang sementara ditempatkan di lokasi pengungsian maupun di posko penanganan darurat.

Banjir bandang di Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Jumat (28/11).

Sumber gambar, ANTARA FOTO

Keterangan gambar, Warga melintas di area rumah yang rusak akibat banjir bandang di Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, Jumat (28/11).
Banjir bandang di Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Jumat (28/11).

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Warga melintas di area rumah yang rusak akibat banjir bandang di Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, Jumat (28/11).

Yopi Aghaji, warga Kecamatan Sihitang, Kota Padang Sidempuan, Tapanuli Selatan, mengatakan bahan pokok dan pangan sudah banyak habis dan langka.

"Kalaupun ada stok, harganya mahal sekali. Harga cabai dari Rp50.000/kg naik jadi Rp100.000/kg. Bahan pangan yang sudah habis mencakup ikan laut, minyak goreng, dan sayur," paparnya.

BBM juga makin langka. Menurut Yopi, banyak warga yang antre membeli BBM tapi akhirnya tidak kebagian karena bensin habis di SPBU, pada Kamis (27/11) malam.

"Kondisi saat ini di kota, aktivitas warga masih belum normal. Masih ada pemadaman listrik bergilir. Sekolah juga diliburkan sampai akhir pekan ini," tuturnya kepada BBC News Indonesia.

banjir, sumut, sumbar, aceh, deli serdang

Sumber gambar, Kiki Cahyadi/Anadolu via Getty Images

Keterangan gambar, Seorang warga berjalan sambil membawa barang ke lokasi aman setelah hujan deras menggenangi permukiman di Kecamatan Medankrio, Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara, 27 November 2025.

Juru Bicara Polda Sumatra Utara, Komisaris Besar Ferry Walintukan, menyebut gelombang bencana banjir, tanah longsor, dan puting beliung terjadi di 12 kabupaten dan kota.

Ada pula Tapanuli Selatan yang mencatat 13 titik mengalami longsor dan 31 wilayah terendam banjir.

"Kami terus mempercepat pencarian warga yang belum ditemukan. Tim bergerak siang dan malam karena pada beberapa titik kondisi medan cukup berat akibat akses jalan terputus," pungkas Ferry.

Sumbar:

Salah seorang warga Lubuk Minturun bernama Meri Osman mengatakan, banjir datang sekitar pukul 04.00 WIB.

Ia yang tengah tertidur, kala itu sontak terbangun setelah mendengar dentuman.

"Saya lihat ke luar, ada air," kata Meri, seraya menyabut air mengalir kencang.

Ia pun mengungsikan istri dan anaknya ke atas lemari, tapi air yang kian deras perlahan menggerus rumahnya.

Meri lantas berusaha mencari tempat perlindungan lain, dengan menyeberangi arus air yang deras, tapi sempat terbawa arus, sebelum akhirnya bisa menyelamatkan diri.

"Saya sempat terbawa arus, tapi berpengangan pada tali jemuran," ujarnya kepada wartawan Halbert Chaniago yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Banjir bandang di Padang, Sumatra Barat, Jumat (28/11)

Sumber gambar, ANTARA FOTO

Keterangan gambar, Foto udara sejumlah rumah bendungan diterjang banjir bandang di kawasan Gunung Nago, Padang, Sumatra Barat, Jumat (28/11).

Sementara itu, di Kota Padang puluhan orang menjejali lorong-lorong Rumah Sakit Bhayangkara Polda Sumbar yang terletak di Jalan Jati, Kecamatan Padang Timur.

Dari wajah-wajah mereka terasa kesedihan, dan juga harapan.

Siang itu, mereka berkumpul di depan rumah sakit untuk mencari kerabat yang hilang akibat banjir dahsyat yang terjadi beberapa hari lalu.

Di tengah penantian, sayup-sayup suara sirine mobil ambulans terdengar. Semakin lama, suara itu makin jelas. Sebanyak tujuh kendaraan beriringan memasuki halaman rumah sakit.

Afridayeni (46 tahun) langsung bangkit berdiri untuk melihat apa yang dibawanya. Suaminya, Jolfariandi (48 tahun) menyusul. Ia ingin memastikan siapa yang di dalam mobil itu, sembari berharap ada sang putri di dalamnya.

Sopir ambulans bergegas keluar dan membuka pintu belakang. Nampak satu kantong jenazah berwarna kuning, yang seketika membuat tangis Afriyeni pecah.

Di kepalanya, jasad di dalamnya adalah anaknya yang diduga menjadi korban banjir bandang di perbatasan Tanah Datar-Padang Panjang, Kamis (27/11).

Karena tak sanggup menahan pilu, Afriyeni memeluk putri sulungnya, Wulan Sundari dan menangis sejadi-jadinya.

Si sulung Wulan, mencoba menenangkan ibunya.

"Belum tahu juga kalau itu Alufah," ujar Wulan sembari membelai punggung sang ibu.

Banjir Padang Panjang, Sumatra Barat

Sumber gambar, Anadolu via Getty Images

Keterangan gambar, Banjir menyebabkan jalur darat di Padang Panjang, Sumatra Barat, terputus, pada Kamis (27/11).

Beberapa mobil ambulans lanjut mengantre untuk menurunkan jenazah yang diboyong dari Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman.

"Ini semuanya korban yang dari Silaing yang kemungkinan hanyut sampai ke Kayu Tanam," ucap Datuak salah seorang sopir ambulans.

Tak cuma Afriyeni yang gelisah menanti kabar, puluhan warga lainnya yang berada di rumah sakit juga punya perasaan yang sama: menunggu kepastian. Pasalnya hingga saat ini jumlah korban belum dapat dipastikan.

Foto udara sejumlah rumah diterjang banjir bandang di kawasan Gunung Nago, Padang, Sumatera Barat, Jumat (28/11/2025).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/sgd

Keterangan gambar, Foto udara sejumlah rumah diterjang banjir bandang di kawasan Gunung Nago, Padang, Sumatra Barat, Jumat (28/11/2025).

Wulan Sundari kemudian bercerita mengapa keluarganya meyakini sang adik menjadi korban bencana banjir.

"Adik saya itu pergi bersama temannya ke Bukittinggi kemarin. Saya mengetahuinya dari story di Instagramnya pada hari sebelumnya," kisahnya kepada wartawan Halbert Chaniago.

Tahu bahwa adiknya di sana, dia memarahi Alufah dan mendesaknya untuk segera pulang karena hujan yang tak kunjung reda.

"Terakhir saya kontak dengan adik saya sekitar pukul 10.00 WIB dan dia mengatakan sedang dalam perjalanan menuju Kota Padang bersama tiga temannya menggunakan mobil Brio berwarna merah."

Beberapa saat setelahnya, nomor telepon sang adik tak bisa dihubungi. Keluarga pun mencoba mencari tahu keberadaan Alufah.

Sampai akhirnya keluarga dari teman adiknya yang pergi bersama mengatakan, kawan sang adik meninggal dalam bencana banjir.

Tangis ibu, ayah, dan kakak Alufah korban banjir di Sumbar pecah. Mereka saling berpelukan, saling menguatkan.

Sumber gambar, Halbert Chaniago

Keterangan gambar, Tangis ibu, ayah, dan kakak Alufah korban banjir di Sumbar pecah. Mereka saling berpelukan, saling menguatkan.

Mendengar kabar itu, Wulan bersama anggota keluarganya langsung menuju Kota Padang untuk memastikan apakah adiknya bernasib sama.

"Kami sampai di sini sekitar pukul 00.00 WIB dini hari dan kami sudah menanyakan ke bagian informasi soal identitas adik saya yang mungkin juga jadi korban dalam bencana kemarin," katanya.

Sore itu sudah pukul 16.58 WIB, tapi Wulan dan keluarga masih belum mendapatkan kepastian soal nasib adiknya.

"Kami masih berharap dia selamat," cetusnya. "Tapi kalau memang sudah tidak ada, kami ikhlas. Tapi kami harap dia ditemukan."

Harapan itu rupanya pupus setelah tim identifikasi memberikan kabar yang mengejutkan usai proses identifikasi yang berlangsung selama tiga jam.

Alufah atau Rahayu Putri Anjani adalah satu dari tujuh jenazah yang dibawa oleh mobil ambulans tersebut.

Warga melihat mobil yang tertimbun lumpur akibat banjir bandang di Lubuk Minturun, Padang, Sumatera Barat, Kamis (27/11/2025).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/foc.

Keterangan gambar, Warga melihat mobil yang tertimbun lumpur akibat banjir bandang di Lubuk Minturun, Padang, Sumatra Barat, Kamis (27/11/2025).

Sontak tangis Wulan dan ibunya berderai.

Keduanya saling berpelukan, saling menguatkan satu sama lain. Sementara bapak, hanya terdiam menahan air mata.

"Kami akan memakamkannya di kampung halaman di daerah Surian, Solok," kata Wulan, pelan.

Kepala Kantor SAR Padang, Abdul Malik, menuturkan hingga saat ini pihaknya tidak bisa memastikan jumlah korban yang terdampak banjir juga longsor di daerahnya.

Dia bilang, pencarian terus dilakukan di sekitaran jalan Padang Panjang dan sungai. Sebab ada kemungkinan korban terbawa arus. Selain juga mengecek di antara tumpukan kayu dan bebatuan besar.

Abdul Malik berpesan jika ada masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarganya bisa langsung melapor ke Basarnas di lokasi pencarian. Termasuk mengunjungi kantor pusat di Padang dan posko kebencanaan.

Bagaimana sains menjelaskan fenomena ini?

Badan Meteorolog Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan hujan deras yang menyebabkan banjir besar dan longsor di banyak tempat itu disebabkan siklon Senyar.

Peneliti dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, mengamini pernyataan tersebut.

Pertanyaannya, bagaimana siklon Senyar bisa terbentuk?

Sejauh mana dampak siklon tersebut terhadap hujan ekstrem yang memicu banjir dan tanah longsor di banyak daerah di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat?

Jalur siklon senyar

Seberapa besar pengaruh Siklon Senyar?

Erma Yulihastin mengatakan, Siklon Senyar merupakan faktor alam yang sangat berpengaruh dalam menyebabkan hujan ekstrem di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat —yang belakangan memicu beragam bencana.

Menurut Erma, siklon tersebut memicu pembentukan Meso-scale Convective Complex atau kumpulan klaster awan hujan masif yang mengakibatkan hujan berkelanjutan serta angin kencang.

Hal itu pun tergambar dari catatan curah hujan harian yang tinggi di pesisir barat Sumatra pada 23-24 November lalu.

Pada 23 November, curah hujan di pesisir barat Sumatra mencapai 160 mm/hari, sementara pada 24 November mencapai 226mm/hari.

Angka ini jauh lebih tinggi dari rata-rata hujan bulanan di Indonesia yang berkisar 150mm, terang Erma.

Curah hujan akibat Siklon Senyar

Dalam penjelasan kepada BBC News Indonesia, periode 23-24 November ini bahkan belum dilabelkan sebagai Siklon tropis Senyar —masih disebut 04B.

"Kalau dalam satu hari di atas 100mm, itu sudah ekstrem. Apalagi kalau sudah 200mm," ujar Erma.

Curah hujan lebih tinggi terjadi pada 26 November, saat Erma dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) resmi melabeli fenomena alam itu sebagai siklon Senyar.

Datacurah hujan harian BMKG pada 24-25 November yang menunjukkan intensitas tinggi di pesisir barat Sumatra.

Sumber gambar, BMKG

Pada 26 November, curah hujan harian di pesisir barat Sumatra disebut Erma mencapai 200mm, sementara di Aceh dapat mencapai 300mm/hari.

Khusus wilayah Tapanuli Tengah dan Sibolga—dua kota Sumatra Utara yang berada di pesisir barat pulau—curah hujan dalam empat hari bahkan dapat mencapai 800mm.

Tingginya curah hujan di pesisir barat Sumatra itu disebabkan "angin baratan" yang berembus dari Sumadera Hindia menuju Sumatra turut membawa awan hujan.

Namun, saat memasuki Sumatra, awan-awan tersebut tertahan oleh Bukit Barisan yang memanjang di sisi barat pulau, dari Aceh hingga Lampung.

"Terkena efek Bukit Barisan, jadi terblok. Hujan lah di situ, hingga sampai 226mm/hari," terang Erma.

Bagaimana Siklon Senyar terbentuk?

Erma menyebut Siklon Senyar terbentuk dari pertemuan antara angin monsun Asia yang masuk dari utara melalui Laut China Selatan dan angin barat yang berembus dari Samudera Hindia.

Kedua angin itu bertemu di perairan Selat Malaka yang panas, sehingga menghasilkan pusaran atau vortex.

"Permukaan laut yang panas itu menjadi 'bahan bakar'," kata Erma, seraya menambahkan bahwa suhu panas yang dapat memicu vortex setidaknya harus di atas 27,7 derajat celcius.

"Itu nge-lead pembetukan badai, [dan] itu memang harus dari laut."

Normalnya, terang Erma, vortex tidak muncul di Selat Malaka yang dekat dengan garis khatulistiwa lantaran gaya coriolis yang lemah.

Gaya coriolis adalah efek pembelokan angin yang bergerak karena bumi berputar.

Pada sisi utara bumi, angin berbelok ke kanan sementara di belahan selatan angin berbelok ke kiri.

Secara sederhana, gaya ini seperti menuangkan air ke ember yang berputar perlahan. Air tidak akan akan jatuh lurus ke tengah, tapi membentuk pusaran.

Alhasil, benih siklon biasanya hanya akan muncul di atas atau di bawah garis khatulistiwa.

Siklon Senyar

Sumber gambar, BMKG

Keterangan gambar, BMKG memaparkan perkembangan Siklon Senyar pada Selasa (25/11).

Lantas, kenapa benih siklon itu kali ini bisa muncul di Selat Malaka yang dekat garis khatulistiwa?

Erma menyebut perubahan iklim yang membuat permukaan laut lebih panas sebagai salah satu penyebabnya.

"Sudah pasti. Kejadian di Selat Malaka itu didukung oleh laut yang memanas, suhu yang meningkat. Tiga faktor itu bertemu, jadi vortex yang memutar," ujar Erma.

Apakah ada kasus siklon tropis di khatulistiwa sebelumnya?

Kasus siklon tropis dekat garis khatulistiwa pertama tercatat pada 27 November 2001 .

Siklon yang dinamakan Vamei ini pada posisi 1,5 derajat lintang utara, tak jauh dari ujung Semenanjung Malaysia.

Hujan deras disertai angin kencang sekitar 75km/jam kala itu membuat Singapura dilanda banjir. Dampaknya terasa hingga Johor di Malaysia.

Ilustrasi siklon tropis Vamei yang terjadi di dekat Singapura pada 2001.

Sumber gambar, CRISP/NUS

Keterangan gambar, Vamei merupakan siklon tropis pertama yang dicatat para peneliti.

Dalam pemaparan yang dirilis sejumlah peneliti dari Department of Meteorology, Naval Postgraduate School, Monterey, Amerika Serikat setahun setelahnya, siklon tropis semacam Vamei disebut akan berulang setiap 100-400 tahun.

Namun, penelitian itu kini mental setelah siklon Senyar terbentuk di Selat Malaka —tak jauh dari khatulistiwa.

Kenapa return period siklon tropis itu muncul lebih cepat dari perkiraan?

Erma mengatakan, "Kami belum tahu. Kami justru ingin mencari tahu mekanismenya."

Bagaimana perkiraaan Siklon Senyar ke depannya?

Kepada BBC News Indonesia, Erma menjabarkan gejala Siklon Senyar mulai terbentuk sekitar 18 November lalu di Selat Malaka, perairan antara Indonesia dan Malaysia.

Erma memaparkan perkembangannya dalam beragam istilah sains.

Pada 18 Novembe, gejala yang terbentuk masih berupa vortex dengan radius putar berkisar 10km/jam.

Periode itu berlangsung sampai 20 November, terang Erma.

Pada 21-22 November, vortex terpantau mulai membesar dan mengencang, dengan kecepatan radius putaran mencapai 35km/jam.

Fase ini diistilahkan sebagai 95B, atau dalam bahasa awam dapat disebut bibit siklon tropis.

Sepanjangan pembentukan ini, Erma menyebut pusaran bibit siklon sebenarnya masih "di tengah-tengah Selat Malaka", tapi sempat bergeser ke Malaysia dan memicu hujan lebat serta angin kencang yang menyebabkan banjir di sejumlah wilayah di negara tersebut.

Setelah sempat "menyerempet" Malaysia, bibit siklon itu lalu kembali ke Selat Malaka dan terus menguat, dengan kecepatan radius putaran mendekati 50km/jam.

Bibit siklon ini pun "naik kelas" menjadi 04B pada 23 November, dengan kecepatan mencapai 85km/jam.

Terminologi 04B secara sederhana sudah dapat dikategorikan sebagai sebuah siklon —kendati lemah.

Seiring waktu, siklon terus menguat di Selat Malaka hingga akhirnya secara resmi disebut siklon Senyar oleh BMKG pada 26 November.

Apesnya, terang Erma, saat makin menguat, siklon Senyar justru bergerak ke arah pesisir timur Sumatra, dengan pusatnya di langit Langsa, Aceh.

Setelah sempat menyebabkan hujan deras disertai angin kencang yang menyebabkan beragam bencana seperti banjir dan tanah longsor di tiga provinsi di Sumatra, siklon itu kemudian kembali ke Selat Malaka pada 27 November.

Berdasarkan pantauan satelit, siklon Senyar sempat kembali "menghampiri" Malaysia pada Kamis (27/11) siang, tapi dalam kondisi yang disebut Erma "sudah pecah, sudah memudar."

Kendati begitu, Erma menyebut siklon ini belum sepenuhnya hilang.

"Dari pantauan kami, ada redevelompment, dia kembali ke tengah [Selat Malaka]," ujar Erma.

"Terbentuk lagi di laut, tapi lautnya melipir ke wilayah kita [pesisir timur Sumatra]."

Pertanyaannya, ancaman apa yang dapat terjadi setelah redevelopment siklon itu?

Pergerakan siklon Senyar pada 26 November, saat berada di pesisir timur Sumatra.

Sumber gambar, Windy.com

Erma memperingatkan potensi hujan deras disertai angin kencang kembali terjadi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada Jumat, 28 November.

"Berpotensi terkena hantaman lagi," terang Erma.

Lalu, sampai kapan siklon ini akan terus bolak-balik menghampiri wilayah Indonesia?

Erma memprediksi siklon akan pecah sebagai squall line atau awan badai memanjang pada 29 November di wilayah Malaysia-Singapura, lalu perlahan menjauh menuju Laut China Selatan.

"Jadi, 27-28 [November] kita harus lacak terus badainya. Jangan sampai lengah, dikira mereda, tapi ternyata bisa redevelop," ujarnya.

"Pada 29 [November], belum tentu juga dia mereda. Kalau sudah di Laut China Selatan, bisa bisa lebih besar karena gain energi makin besar karena lautnya makin luas."

Apakah Siklon Senyar faktor tunggal penyebab masifnya dampak bencana?

Kendati Siklon Senyar sebagai faktor penting penyebab munculnya rangkaian bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, sejumlah faktor lain disebut turut memperparah dampak bagi masyarakat.

Apa saja faktor yang memperparah dampak siklon?

Bagaimana komentar pakar lingkungan?

Peneliti Limnologi BRIN, Fakhrudin, menyebut pembangunan dan penebangan hutan yang masif turut memperparah efek hujan ekstrem dan angin kencang.

Menurut Fakhrudin, penggundulan hutan membuat erosi tanah meningkat.

Tanah yang terbawa air kemudian akan meningkatkan sedimentrasi, membuat sungai menjadi keruh dan dangkal.

Akibatnya, saat hujan deras turun, sungai tak lagi mampu menampung air sehingga potensi banjir meningkat.

"Itu sudah mengubah sifat-sifat permukaan tanah. Dulu [sungai] ada legok, sekarang jadi lurus," kata Fakhrudin.

Perubahan bentuk itu, terang Fakhrudin, membuat aliran air menjadi lebih cepat.

Alhasil, saat hujan deras, sungai tak mampu menyalurkan air dengan baik sehingga meluap ke permukiman.

Belum lagi persoalan permukaan tanah yang banyak ditutupi material yang tidak menyerap air, seperti aspal.

Perubahan bentuk sungai dinilai turut memperparah dampak bencana saat hujan deras turun.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Perubahan bentuk sungai dinilai turut memperparah dampak bencana saat hujan deras turun.

Fakhrudi menyebut air akan mengalir ke sungai lebih cepat.

Saat dikombinasikan dengan pendangkalan, kemampuan sungai untuk menyalurkan air yang melemah, dan hujan deras, maka Fakhrudin menyebut banjir adalah keniscayaan.

"Dengan curah [hujan] yang sama pun juga akan banjir," pungkasnya.

Bagaimana komentar pegiat lingkungan?

Manajer Advokasi dan Kampanye WALHI Sumatra Utara, Jaka Damanik, menyoroti aktivitas industri ekstraktif sebagai penyebab masifnya dampak hujan deras kali ini.

Jaka menyebut ekosistem Batang Toru yang merupakan bagian hutan tropis yang membentang dari Tapanuli Utara hingga Tapanuli Selatan kini banyak dikuasai perusahaan tambang, perkebunan, dan energi.

Ketiga wilayah ini terdampak parah saat hujan deras dan angin kencang akibat siklon Senyar tiba.

"Pemerintah harus mengevaluasi izin-izin perusahaan yang beroperasi di ekosistem Batang Toru. Harus dievaluasi, minimal jangan diperluas," kata Jaka.

Berdasarkan catatan WALHI Sumatra Utara, luasan ekosistem Batang Toru berkisar 250.000 hektare, tapi dalam lima tahun terakhir "mengalami deforestasi mencapai 30 persen."

"Sekarang logikanya kan logika ekonomi… Kami berharap kebijakan yang pro lingkungan dapat diterapkan dengan baik oleh pemerintah," pungkas Jaka.

--

Laporan ini akan diperbarui secara berkala.