Ribuan orang mengungsi akibat banjir dan longsor di Sumatra Utara, akibat perusakan hutan atau cuaca ekstrem?

Sumber gambar, BASARNAS
Setidaknya 28.427 orang di Sumatra Utara mengungsi akibat banjir bandang dan longsor yang terjadi sejak akhir 24 November lalu, menurut data Polda Sumatera Utara pada Sabtu (29/11) pukul 09.00 WIB. Berdasarkan kesaksian warga, peristiwa alam dengan skala seperti ini tak pernah terjadi dalam puluhan tahun terakhir.
Korban meninggal yang telah dikonfirmasi berjumlah 116 orang dan 42 orang hilang, tersebar di Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, dan Kota Sibolga.
Namun data yang dihimpun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Basarnas ini masih bisa bertambah karena evakuasi korban masih terus dilakukan.
Menurut BNPB, banjir dan longsor ini dipicu Siklon Tropis KOTO di Laut Sulu dan Bibit Siklon 95B di Selat Malaka. Dua siklon itu mereka sebut menyebabkan hujan lebat dan angin kencang di kawasan Sumut.
Namun kelompok advokasi lingkungan Walhi meyakini banjir dan longsor ini tak bisa dilepaskan dari "kerusakan hutan" akibat penebangan kayu yang masif dan pertambangan emas yang dioperasikan PT Agincourt Resources.

Sumber gambar, BNPB
BBC News Indonesia secara khusus telah meminta perusahaan yang memegang konsesi tambang emas Martabe itu untuk menanggapi tudingan Walhi. Namun mereka tak memberi jawaban.
Di tengah peristiwa banjir dan longsor ini, sekitar 50 orang dilaporkan terjebak di hutan yang berada di Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah. Seorang kerabat dari orang-orang yang mengungsi ke hutan itu menuturkan kisah mereka kepada BBC News Indonesia.
Sejak Selasa (25/11), jaringan telekomunikasi putus di empat wilayah yang terdampak bencana ini.
Dalam video terakhir yang dikirim pengungsi dari hutan di Hutanabolon, mereka berseru "Pak Bupati tolong kami di sini. Kiri-kanan sudah longsor. Tidak ada lagi jalan keluar, Pak Bupati."
Kabar terbaru menyebutkan rombongan itu dalam keadaan selamat.

Sumber gambar, BNPB
'Keajaiban Tuhan'
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Rose Zebua mengucapkan syukur berkali-kali setelah dirinya mendapat kabar dari kerabatnya di Hutanabolon, Tapanuli Tengah, pada Jumat (28/11) malam.
"Mungkin itulah keajaiban Tuhan," ujarnya, dari perantauannya di Jakarta.
Rose terakhir kali berkontak dengan ibu dan saudara-saudaranya saat mereka menyelamatkan diri ke hutan, pada Selasa (25/11). Sejak saat itu dia tidak lagi bisa mengontak mereka.
Namun, kabar gembira dia dapatkan dari sanak saudaranya tiga hari kemudian.
Baca juga:
Menurut Rose, ada warga Hutanabolon yang berupaya menemukan ibu dan adik-adik Rose di dalam hutan.
"Dikasih makanan, didatangi mereka ke sana. Tapi hanya beberapa warga laki-laki yang bisa mendatangi karena arusnya [sungai] itu," kata Rose.
Namun, mereka belum bisa mengevakuasi keluarga Rose.
"Mau dievakuasi pun tadi, enggak bisa mereka. Karena deras sekali airnya. Diantar makanan aja," kata Rose.
Dari penuturan para warga, menurut Rose, ibu dan adik-adiknya makan biji durian dan rumput untuk bertahan hidup.
"[Mereka] makan makanan apa yang ada, entah rumput dimakan," sebutnya.

Pada Selasa (25/11), Rose terakhir kali menelpon ibu, dua adik kandung, satu keponakan yang berusia tiga bulan, dan kerabatnya yang lain. Mereka berada di hutan, lari dari Gereja BNKP Hutanabolon, pengungsian yang mereka tempat sejak 22 November lalu.
"Mereka bilang hanya itu jalan yang bisa mereka ambil karena menyebrang sudah enggak bisa," kata Rose.
"Jadi mereka harus naik ke bukit untuk menyelamatkan diri, makanya mereka bisa sampai di gunung itu," tuturnya.
Malam sebelum keluarga Rose lari ke hutan di perbukitan Hutabolon, mereka baru saja mendapat bantuan dari Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah. Seremoni penyerahan bantuan itu diunggah oleh otoritas pemda itu ke akun media sosial mereka.
Dalam unggahan itu tampak ibu kandung Rose tengah menerima beras, minyak goreng, dan makanan instan. Wajah ibunya tampak datar dengan mata yang menatap tajam ke arah kamera.
Belum sempat ibu Rose dan keluarganya memakai bantuan itu, mereka terpaksa harus mengungsi keluar dari Gereja BNKP Hutanabolon.
Dalam sambungan telepon yang berlansung singkat itu, keluarga Rose bilang mereka tak membawa apapun saat lari dari terjangan longsor dan banjir.
"Hanya baju di badan, tidak ada makanan, tidak ada persiapan apa-apa," ujar Rose.

Dalam video yang dikirim kerabatnya dari hutan, keluarga Rose tampak basah kuyup akibat hujan deras. Sebagian dari mereka mengenakan jas hujan. Yang lain berteduh di bawah terpal dan payung yang muat dua orang dewasa.
"Di tengah hutan kami," ujar kerabat Rose di video itu. "Kami minta tolong," kata kerabatnya yang lain.
Sambungan telepon itu adalah komunikasi terakhir Rose dengan keluarganya. Jaringan komunikasi di kawasan yang dilanda banjir itu telah terputus, setidaknya hingga berita ini ditulis.
Rose merasa putus asa. Dia tak tahu apakah keluarganya masih hidup.
Rose telah menghubungi pusat kontak BNPB di nomor 117, tapi di telepon itu dia mendapat jawaban "evakuasi sedang dilakukan, tapi terhambat karena jalur transportasi terputus."
'Tak pernah terjadi seperti ini'
Kisah pencarian serupa dituturkan Tanti, yang berdomisili di Jakarta. Dia kehilangan kontak dengan ibu, dua saudara kandung, dan keluarga besarnya yang lain di Kota Sibolga sejak Selasa (25/11).
Banjir bandang di Sibolga, salah satunya, berasal dari luapan besar Bendungan Pembangkit Listrik Tenaga Air Sipansihaporas—yang berada di wilayah Tapanuli Tengah, tapi berjarak sekitar 11 kilometer dari pusat kota Sibolga.
Saat banjir terjadi, Selasa pagi kemarin, ibu Tanti yang berumur 67 tahun mengungsi ke rumah putranya. Karena berada tak jauh dari pesisir pantai, ibunya yakin banjir tak akan tinggi di permukiman itu.
Namun dalam komunikasi terakhir Tanti dan ibunya, sekitar pukul 11 pagi, terdengar suara dari ujung telepon, "Ayo-ayo, cepat."

Sumber gambar, BNPB
Kurang dari tiga jam, kata Tanti, pagi itu ibunya harus mengungsi untuk kedua kalinya. Namun Tanti tak tau ke mana dan bagaimana kondisi keluarga mereka saat ini.
"Jaringan telepon putus," ujar Tanti.
Bagi Tanti, banjir bandang dan longsor awal pekan ini mengagetkan. Dia yakin keluarganya di Sibolga pun merasakan hal yang sama.
Alasannya, kata Tanti, Sibolga tak pernah dilanda bencana seperti ini—setidaknya sejak dia lahir sekitar empat dekade silam.
"Sibolga itu daerah tepi pantai. Sering hujan deras, tapi karena tepi laut jadi airnya gampang turun ke laut," kata Tanti
"Kejadian minggu ini tak terduga: ada banjir bandang dari arah gunung," tuturnya.
Apa penyebab bencana ini?
Deforestasi di sekeliling wilayah terdampak banjir bandang ini sangat tinggi, menurut Rianda Purba, Direktur Eksekutif Walhi Sumatra Utara.
Rianda mendasarkan pendapatnya pada sejumlah video yang memperlihatkan batang-batang pohon hanyut bersama terjangan banjir bandang.
"Di Kecamatan Batang Toru, yang meluap itu Sungai Batang Toru. Di hulunya ada tiga sumber aliran air yang tutupan hutannya sebagian sudah hilang," kata Rianda.
Walhi menuding PT Agincourt Resources bertanggung jawab atas deforestasi di Batang Toru. Perusahaan ini memegang konsesi berdurasi 30 tahun tambang Martabe seluas 130.253 hektare yang diterbitkan pemerintah pada 1997.

PT Agincourt Resources adalah anak usaha PT Danusa Tambang Nusantara, yang mayoritas sahamnya dipegang oleh PT United Tractors Tbk.
"Dalam beberapa tahun terakhir mereka memperluas areal kerjanya," kata Rianda.
"Selain merusak habitat orang hutan, jelas aktivitas mereka mengurangi tutupan hutan yang ada di hulu Batang Toru.
"Kami duga keras ini penyebab utama dari banjir saat ini," ujar Rianda.

Sumber gambar, Bloomberg via Getty Images
Apa tanggapan PT Agincourt Resources?
BBC News Indonesia meminta Senior Manager Corporate Communications PT Agincourt Resources (AR), Katarina Siburian Hardono, menanggapi tuduhan ini. Namun dia tidak memberi jawaban.
Namun pada Kamis (27/11) malam, BBC News Indonesia menerima rilis tertulis dari PT AR yang disebut sebagai "meluruskan informasi" yang menyebut mereka bertanggung jawab atas deforestasi di Batang Toru, seperti dituduhkan Walhi.
"Seiring beredarnya informasi mengenai penyebab bencana, kami perlu meluruskan informasi bahwa lokasi banjir bandang di Desa Garoga berada pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Garoga/Aek Ngadol, yang berbeda dan tidak terhubung dengan DAS Aek Pahu, tempat PTAR beroperasi," demikian keterangan tertulis PT AR.
"Pemantauan kami juga tidak menemukan material kayu di DAS Aek Pahu yang dapat dikaitkan dengan temuan di wilayah banjir," tambah mereka.
PTAR mengklaim pihaknya mendukung penuh kajian komprehensif yang dilakukan pemerintah atas seluruh faktor penyebab bencana ini.
"Dan siap bekerja sama secara transparan," tegas mereka.
Dalam keterangan tertulisnya, Rabu (26/11), Katarina hanya bilang bahwa perusahaannya turut membantu evakuasi dan pengungsian warga yang terdampak banjir dan longsor.
"Sejak awal kejadian, kami telah mengerahkan emergency response team, lengkap dengan perahu karet dan peralatan medis untuk mendukung proses evakuasi dan penyaluran bantuan," ujarnya.
"Untuk memastikan layanan darurat bagi masyarakat, kami juga telah mendirikan posko penanggulangan bencana dan bantuan kesehatan di Desa Batu Hula dan Sopo Daganak, Kecamatan Batang Toru.
"Posko itu menyediakan dukungan medis cepat, koordinasi bantuan, serta kebutuhan darurat lainnya, termasuk penyaluran bahan pangan, makanan siap saji, air mineral, dan obat-obatan," kata Katarina.
Pemicu bencana versi BNPB
Penyebab bencana di empat wilayah Sumut ini adalah Siklon Tropis KOTO yang berkembang di Laut Sulu dan Bibit Siklon 95B yang terpantau di Selat Malaka, menurut Abdul Muhari Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi BNPB.
"Kedua sistem cuaca ini memengaruhi peningkatan curah hujan dan angin kencang di Sumatera bagian utara," kata Abdul.
Di Sumut, kata Abdul, hujan akan turun secara berkelanjutan. Akibatnya, risiko banjir dan longsor susulan masih tinggi.
Hingga saat ini tak ada aliran listrik dan jaringan telekomunikasi di Sibolga, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Tapanuli Utara.
Abdul berkata, Sibolga Tapteng terisolir karena dampak banjir dan longsor. Tim evakuasi yang dikerahkan melalui jalur laut pun, kata Abdul, terhadang cuaca ekstrem dan gelombang tinggi.
Per tengah pekan ini, menurut Abdul, bibit Siklon 95B masih berpotensi memicu hujan sedang hingga lebat di Aceh, Sumut, Sumatera Barat, dan Riau.
Khusus di Aceh dan Sumut, kata Abdul, hujan akan disertai angin kencang.









