Pengakuan perempuan minoritas Alawi di Suriah yang diculik dan diperkosa – Mengapa dikaitkan dengan ideologi dan kejatuhan rezim Bashar al-Assad?

- Penulis, BBC News Arabic
- Waktu membaca: 8 menit
Peringatan: Artikel ini memuat kesaksian soal kekerasan seksual yang dapat mengganggu kenyamanan Anda.
Ramia sedang siap-siap berpiknik bersama keluarganya di desanya di Provinsi Latakia, Suriah bagian barat, ketika sebuah mobil berwarna putih mendekat, ungkapnya.
Sebanyak tiga pria bersenjata keluar dari kendaraan itu, mengaku sebagai aparat keamanan pemerintah. Mereka lalu menyeretnya masuk ke dalam mobil, tutur remaja perempuan tersebut—yang namanya disamarkan demi keselamatannya—kepada BBC World Service.
Para pria itu memukulinya, ujarnya. Mereka memukul lebih keras ketika ia mulai menangis dan berteriak.
"Salah satu dari mereka bertanya apakah saya Sunni atau Alawi. Ketika saya bilang Alawi, mereka mulai menghina mazhab itu," tambahnya.
Ramia adalah satu dari puluhan perempuan yang dilaporkan diculik sejak kejatuhan rezim Bashar al-Assad pada Desember 2024.
Syrian Feminist Lobby (SFL), kelompok advokasi hak-hak perempuan, menyatakan telah menerima laporan penculikan terhadap lebih dari 80 perempuan—dari keluarga, media, dan berbagai sumber lain. Dari jumlah itu, 26 kasus dipastikan sebagai penculikan.
Hampir semua perempuan yang dilaporkan hilang berasal dari komunitas Alawi, sebuah aliran Syiah yang mencakup sekitar 10% populasi Suriah dan merupakan komunitas asal mantan Presiden Bashar al-Assad.

Sumber gambar, Kenana Hendawi/Anadolu via Getty Image
Kekerasan sektarian
Dua perempuan Alawi dan keluarga dari tiga perempuan lainnya bertutur kepada BBC mengenai penculikan dan kekerasan yang mereka alami. Semua nama mereka telah diubah demi menjaga privasi dan keselamatan.
Mereka semua mengatakan bahwa Dinas Keamanan Umum pemerintahan sementara—yang bertanggung jawab atas kepolisian—gagal melakukan investigasi secara menyeluruh. Salah satu dari mereka bahkan mengatakan bahwa para petugas mengejeknya ketika ia melaporkan apa yang dialaminya.
Pada November 2025, juru bicara Kementerian Dalam Negeri Suriah mengatakan bahwa pihaknya telah menyelidiki 42 dugaan penculikan dan menemukan bahwa semua kasus kecuali satu adalah laporan "palsu".
Ketika dihubungi BBC, kementerian itu tidak memberikan komentar lebih lanjut.
Namun, sebuah sumber keamanan mengatakan kepada BBC bahwa penculikan memang terjadi, termasuk beberapa kasus yang melibatkan anggota dinas keamanan. Menurutnya, mereka telah diberhentikan.
Kasus penculikan dan orang hilang yang dicatat oleh SFL terjadi dalam rentang Februari 2025 hingga awal Desember 2025.
Kasus kasus itu mencakup periode sebelum dan setelah insiden pada Maret 2025, ketika lebih dari 1.400 orang—kebanyakan warga sipil Alawi—tewas dalam kekerasan sektarian di wilayah pesisir barat.

Pasukan yang loyal kepada pemerintahan interim yang dipimpin kelompok Islam Sunni dituduh melakukan gelombang pembunuhan balasan setelah mengalami penyergapan oleh pendukung Assad yang memakan korban.
Banyak anggota elite rezim Assad berasal dari komunitas Alawi, namun anggota lainnya dari mazhab tersebut juga menghadapi penindasan karena menentang mantan presiden itu.
'Percobaan bunuh diri'
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Ramia berbicara pelan ketika menggambarkan bagaimana ia dipaksa mengenakan penutup tubuh lengkap dan niqab—kain cadar yang hanya menyisakan bagian mata.
Ia mengatakan dirinya dikurung di sebuah ruangan bawah tanah berisi ranjang dan lemari. Perlengkapan mandi dan satu kondom diletakkan di atas ranjang.
Selama dua hari ditahan, dia mencoba melarikan diri sekali. Dia juga berupaya mengakhiri hidupnya dua kali, ungkapnya.
Penculiknya tidak fasih berbahasa Arab dan memiliki "ciri ciri Asia", kata Ramia. Dia menambahkan, lelaki itu melepas niqabnya dan memotretnya.
Seorang perempuan yang tinggal di bangunan yang sama, mengaku sebagai istri penculik tersebut. Dia menjelaskan bahwa foto tersebut dipakai "untuk menentukan harga penjualan" Ramia.
Ramia mengatakan perempuan itu memberitahunya bahwa "banyak" yang telah diculik sebelum dirinya. Sebagian ada yang diperkosa lalu dilepaskan, sementara yang lain "dijual".
BBC tidak dapat memverifikasi adanya transaksi uang dalam kasus penculikan perempuan-perempuan tersebut. Namun para aktivis melaporkan bahwa beberapa korban mengaku diancam akan dijual atau dipaksa menikah.
'Diperkosa berulang kali'
Nesma, seorang ibu berusia 30 an tahun, mengatakan kepada BBC bahwa ia diculik dari desanya di Provinsi Latakia dan dibawa pergi menggunakan sebuah van bertirai.
Suaranya bergetar ketika ia menggambarkan bagaimana dirinya ditahan selama tujuh hari di sebuah ruangan berjendela tinggi yang terlihat seperti bangunan industri.
Dia mengaku diinterogasi tiga pria mengenai warga desanya serta kemungkinan keterkaitan mereka dengan rezim Assad.
Ia mengatakan penculiknya mengenakan masker dan berbicara dalam dialek Arab Suriah. Mereka, tuturnya, mengatakan bahwa "perempuan Alawi diciptakan untuk menjadi sabaya"—istilah Arab kuno yang berarti "tawanan perempuan". Istilah itu juga digunakan sebagian kalangan di Arab untuk merujuk pada perempuan yang diperlakukan sebagai budak seksual.
Para penculiknya memperkosanya berulang kali, kata Nesma. "Yang bisa saya pikirkan hanya kematian—bahwa saya akan mati dan meninggalkan anak saya," ujarnya.
Leen, seorang remaja lainnya, mengalami pemukulan, diancam dengan senjata api, dan kekerasan seksual setiap hari, menurut ibunya, Hasna, kepada BBC.

Sumber gambar, Abdulvacit Haci Isteyfi/Anadolu via Getty Images
Penculik Leen selalu menutupi wajahnya, berbicara dengan bahasa Arab yang buruk, dan membanggakan diri sebagai bagian dari aksi pembunuhan terhadap warga Alawi dalam kekerasan pada Maret 2025, kata Hasna.
"Ia biasa menyebut anak anak perempuan kami sabaya, karena 'mereka [orang Alawi] tidak percaya kepada Tuhan'," ujar Hasna. Sebagian kalangan Sunni menganggap komunitas Alawi sebagai kaum sesat.
BBC juga berbicara dengan Ali, yang mengatakan istrinya, Noor, diculik dan ditahan selama beberapa minggu.
Ada pula seorang ibu bernama Somaya, yang mengatakan bahwa putrinya yang masih remaja mengalami kekerasan seksual "selama 10 hari berturut turut".
'Ancaman melalui telepon'
Nesma mengatakan kepada BBC bahwa para petugas keamanan memperlakukannya "dengan mengejek dan tidak hormat" ketika ia melaporkan bahwa dirinya telah diculik.
"Mereka berkata kepada saya, 'sebaiknya kamu bilang saja kamu sedang piknik'," ujarnya.
Ramia mengatakan para petugas keamanan awalnya tampak menindaklanjuti kasusnya, namun berhenti mengangkat telepon setelah mereka mengetahui siapa penculiknya.
Keluarganya kemudian menerima ancaman melalui telepon bahwa mereka "akan membayar harga jika kami berbicara", katanya. Mereka akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Suriah.
Ali mengatakan kepada BBC: "Mereka menangkap penculiknya, tetapi kami tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya." Ia khawatir penculik itu akan dibebaskan dan "akan mengejar kami".
Ibu Leen mengatakan putrinya telah diwawancarai "dengan perhatian dan simpati" beberapa kali oleh petugas keamanan, tetapi tidak ada hasil penyelidikan yang dibagikan, bahkan setelah berbulan bulan.
Somaya mengatakan ia telah melaporkan apa yang terjadi, namun tidak pernah menerima kabar.
Pada November 2025, Kementerian Dalam Negeri Suriah—yang membawahi Dinas Keamanan Umum—menggelar konferensi pers mengenai temuan mereka terhadap 42 laporan penculikan.
Juru bicara Nour al Din al Baba mengatakan hanya satu kasus yang merupakan "penculikan sebenarnya".
Ia menyebut kasus-kasus lainnya dikategorikan sebagai "kabur dengan sukarela", "tinggal bersama kerabat atau teman", "melarikan diri dari kekerasan dalam rumah tangga", "klaim palsu di media sosial", atau "terlibat prostitusi dan pemerasan".
Sementara empat kasus merupakan "tindak kriminal dengan tersangka yang telah ditangkap".
Kementerian menangani laporan laporan tersebut dengan "keseriusan dan tanggung jawab setinggi tingginya", tegasnya.
Pada akhir November 2025, BBC menghubungi kementerian tersebut untuk meminta tanggapan atas temuan yang telah dihimpun. Namun kementerian menyatakan tidak memiliki komentar tambahan.

Sumber gambar, OMAR HAJ KADOUR/AFP via Getty Images
Seorang sumber keamanan dari wilayah pesisir, yang berbicara kepada BBC dengan syarat identitasnya tidak diungkap, mengatakan: "Ada tindakan tidak disiplin oleh sejumlah oknum yang melakukan penculikan untuk tujuan pemerasan, atau karena kecerobohan, atau motif pribadi yang diwarisi dari masa rezim sebelumnya."
Ia mengatakan pelakunya mencakup sejumlah anggota Dinas Keamanan Umum.
"Beberapa petugas melakukan penculikan sebagai bentuk balas dendam," katanya.
"Beberapa kasus telah terungkap, dan para petugas yang terlibat langsung diberhentikan."
Sebanyak empat perempuan dan keluarga yang berbicara kepada BBC mengatakan mereka tidak mengetahui siapa penculiknya.
Salah satu keluarga mengetahui identitas pelaku dan mengatakan bahwa penculik tersebut bukan dari dinas keamanan.
Dua perempuan mengatakan mereka dibebaskan setelah tekanan publik, sementara yang lainnya tidak mengetahui alasan pembebasan mereka.
'Iklim impunitas'
Pada Juli lalu, Amnesty International menyatakan telah menerima laporan kredibel mengenai penculikan terhadap sedikitnya 36 perempuan dan anak perempuan Alawi yang berusia antara tiga hingga 40 tahun. Lembaga tersebut mengklaim telah mendokumentasikan delapan kasus secara rinci.
Dalam "hampir semua" kasus yang didokumentasikan, keluarga "tidak menerima kabar yang berarti maupun kejelasan mengenai kemajuan penyelidikan," kata Wakil Direktur Regional Amnesty International, Kristine Beckerle, kepada BBC.
Yamen Hussein, aktivis hak asasi manusia Suriah dan penulis yang berbasis di Jerman, mengatakan kesaksian para penyintas menunjukkan bahwa penculikan tersebut memiliki landasan ideologis, yaitu "menundukkan pihak yang kalah" dan bertujuan "menyebarkan ketakutan di kalangan perempuan Alawi".
Namun, ia menambahkan bahwa "iklim impunitas secara umum" juga mendorong kelompok tanpa motif ideologis untuk melakukan penculikan.
Menurut Syrian Feminist Lobby, sejumlah perempuan Druze dan Sunni juga dilaporkan diculik, namun kemudian dibebaskan. Kelompok itu menyebut 16 perempuan—semuanya berasal dari komunitas Alawi—masih hilang.
Bagi keluarga keluarga yang berbicara kepada BBC, rasa takut masih menghantui—baik ketakutan akan pembalasan karena bersuara maupun stigma sosial yang terkait dengan kekerasan seksual.
Leen hidup dalam kecemasan terus menerus, takut setiap kali mendengar ketukan di pintu, kata ibunya.
Pernikahan Nesma kandas.
"Saya menjerit saat tidur," ujar Ramia. Ia mengatakan tengah menjalani terapi, tetapi masih kesulitan tidur dan "tidak bisa menemukan ketenangan".
Ali mengatakan kepada BBC bahwa ia dan Noor terlalu takut untuk mencari keadilan.
Somaya mengatakan putrinya sudah kembali ke sekolah, namun "tak ada seorang pun di sekitar saya yang tahu apa yang terjadi".
"Kami tidak boleh menyangkal apa yang menimpa kami, tetapi kami juga tidak boleh menempatkan diri dalam bahaya," ujarnya.

- Artikel ini adalah bagian dari Global Women di BBC World Service, yang membagikan kisah penting dan belum pernah dibagikan di seluruh dunia.






















