Iran dan AS sepakat gencatan senjata bersyarat selama dua minggu, kedua negara klaim kemenangan

Sumber gambar, Fatemeh Bahrami/Anadolu via Getty Images
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan bahwa "kita memiliki peluang nyata untuk perdamaian" setelah gencatan senjata bersyarat selama dua minggu disepakati dengan Iran.
Adapun Presiden AS Donald Trump mengatakan AS akan bekerja sama secara erat dengan Iran dan akan "menggali serta mengeluarkan" material nuklir yang terkubur, seraya menambahkan bahwa tidak akan ada pengayaan uranium.
Walaupun demikian, baik AS atau Iran sama‑sama mengklaim kemenangan.
Iran mengatakan akan membuka kembali Selat Hormuz dan bahwa "kemenangannya di medan pertempuran juga akan dikonsolidasikan" dalam perundingan mendatang di Pakistan.
Sebaliknya, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan bahwa ini merupakan "kemenangan militer AS", serta mengklaim bahwa militer Iran telah dibuat tidak lagi efektif untuk tahun‑tahun mendatang.
Sementara itu, Israel mengatakan pihaknya tengah melancarkan "serangan terbesar" sejak dimulainya operasi daratnya di Lebanon.
Sebelumnya, Israel menyatakan bahwa jeda dua minggu tersebut "tidak mencakup Lebanon", meskipun Perdana Menteri Pakistan mengatakan sebaliknya.

Sumber gambar, ATTA KENARE / AFP via Getty Images
Negara-negara Barat serukan "semua pihak" patuhi gencatan senjata — termasuk di Lebanon
Sekelompok negara Barat menyerukan "perdamaian yang cepat dan berkelanjutan" di Iran, serta meminta "semua pihak" mematuhi gencatan senjata selama dua minggu—termasuk di Lebanon.
Pernyataan tersebut ditandatangani oleh para pemimpin UK, Prancis, Italia, Jerman, Kanada, Denmark, Belanda, Spanyol, Komisi Eropa, dan Dewan Eropa.
Mereka "menyambut" gencatan senjata dua minggu tersebut, serta berterima kasih kepada Pakistan dan para mediator atas peran mereka dalam "memfasilitasi kesepakatan penting ini."
Baca juga:

Sumber gambar, Houssam Shbaro/Anadolu via Getty Images
"Tujuannya sekarang haruslah untuk merundingkan akhir perang yang cepat dan berkelanjutan dalam beberapa hari ke depan. Hal ini hanya dapat dicapai melalui cara‑cara diplomatik. Kami sangat mendorong kemajuan cepat menuju penyelesaian negosiasi yang substantif," demikian bunyi pernyataan tersebut, seraya menambahkan bahwa hal ini "sangat penting untuk melindungi penduduk sipil Iran."
"Kami menyerukan kepada semua pihak untuk melaksanakan gencatan senjata, termasuk di Lebanon."
Apa isi pernyataan Menhan AS Pete Hegseth?
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan bahwa gencatan senjata sementara dua pekan memberikan peluang bagi "perdamaian yang nyata dan kesepakatan yang nyata."
Dia kemudian menambahkan bahwa departemennya telah melakukan bagiannya "untuk saat ini," namun tetap siap memastikan bahwa Iran mematuhi setiap ketentuan yang masuk akal dalam perjanjian tersebut.
Hegseth selanjutnya menyebut hari ini sebagai "hari besar bagi perdamaian dunia", dan mengklaim bahwa Iran "memohon gencatan senjata ini", seraya menambahkan bahwa "mereka sudah tidak tahan lagi".

Sumber gambar, Reuters
Dia mengatakan bahwa ini merupakan "kemenangan militer kapital V", serta mengklaim bahwa militer Iran telah dibuat tidak lagi efektif untuk tahun‑tahun mendatang.
Hegseth mengatakan bahwa AS telah mencapai tujuan militernya, yakni menghancurkan angkatan laut dan angkatan udara Iran, serta mengklaim bahwa AS kini "menguasai langit mereka".
Trump: AS akan bekerjasama dengan Iran
Dalam perkembangan terbaru, Presiden AS Donald Trump mengunggah pernyataan di Truth Social.
Dia mengatakan bahwa AS akan bekerja sama dengan Iran, "yang telah kami pastikan telah mengalami sesuatu yang akan menjadi pergantian rezim yang sangat produktif!"
Trump menyatakan bahwa Iran tidak akan memperkaya uranium, dan bahwa AS akan bekerja sama dengan Teheran untuk "menggali dan mengeluarkan seluruh 'debu' nuklir yang terkubur dalam‑dalam [oleh pembom B‑2]."
"Semua itu kini, dan selama ini, berada di bawah pengawasan satelit yang sangat ketat," tambahnya.
Ia juga mengatakan: "Tidak ada satu pun yang disentuh sejak tanggal serangan. Kami sedang, dan akan terus, membahas keringanan tarif dan sanksi dengan Iran. Banyak dari 15 poin tersebut sudah disepakati."
Kapal-kapal dilaporkan mulai melintas Selat Hormuz
Perusahaan pelacak pergerakan kapal-kapal, MarineTraffic, melaporkan pada Kamis (08/04) pagi waktu setempat bahwa ada "tanda-tanda awal aktivitas kapal-kapal" di Selat Hormuz, setelah jalur tersebut sebelumnya secara efektif diblokade oleh Iran.
Organisasi tersebut menyebutkan bahwa dua kapal diduga telah melintasi selat itu — satu dimiliki oleh Yunani dan satu lagi terdaftar di Liberia.
BBC belum memverifikasi laporan-laporan tersebut.

Kapal-kapal lain sebelumnya dilaporkan diserang di lokasi-lokasi yang dekat dengan selat tersebut, serta di wilayah lain di kawasan Teluk.
Lintasan melalui selat tersebut telah menjadi titik sengketa dalam beberapa pekan terakhir.
Walaupun rencana jangka panjang bagi jalur ini masih belum jelas, gencatan senjata sementara yang diumumkan mengharuskan Iran untuk membukanya kembali.
Sejumlah negara sebelumnya telah mencapai kesepakatan dengan Iran agar kapal‑kapal mereka tetap dapat menggunakan jalur pelayaran global tersebut— termasuk Pakistan, India, dan Filipina.
Sementara itu, kapal‑kapal lain sebelumnya dilaporkan diserang di lokasi‑lokasi yang berdekatan dengan selat tersebut, serta di wilayah lain di kawasan Teluk.
Lebanon minta bantuan dunia agar Israel hentikan serangan
Perdana Menteri (PM) Lebanon, Nawaf Salam, memohon kepada "semua sahabat Lebanon" agar menghentikan aksi militer Israel di negaranya.
"Dengan segala cara yang tersedia," ujarnya, menyusul gelombang besar serangan udara Israel ke wilayah negara itu.

Sumber gambar, EPA
Menulis di X, Nawaf Salam berujar: "Israel terus memperluas agresinya yang menargetkan kawasan permukiman padat penduduk, yang merenggut nyawa warga sipil tak bersenjata di berbagai wilayah Lebanon, khususnya di ibu kota Beirut."
Seruan tersebut disampaikan setelah pernyataan dari Pasukan Pertahanan Israel (IDF) yang mengatakan bahwa pada Rabu (08/04) ini mereka telah melancarkan "serangan terbesar" di seluruh Lebanon sejak dimulainya operasi mereka melawan Hizbullah.
Salam mengatakan bahwa tindakan IDF menunjukkan "pengabaian total" terhadap hukum internasional, seraya menambahkan:
"Dan semua sahabat Lebanon, kami panggil guna membantu kami menghentikan agresi ini dengan segala cara yang tersedia."
Pada Rabu (08/04) pagi waktu setempat, militer Israel melancarkan serangkaian serangan udara di Lebanon selatan—sebuah indikasi bahwa, bagi Israel, kesepakatan gencatan senjata AS–Iran tidak berlaku untuk Lebanon.
Iran dan AS sepakat gencatan senjata bersyarat selama dua minggu
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengumumkan bahwa Iran akan menyetujui gencatan senjata "jika serangan terhadap Iran dihentikan".
Dia menambahkan, "selama periode dua minggu, jalur pelayaran aman melalui Selat Hormuz akan dimungkinkan".
Menurut Araghchi, hal tersebut akan dilakukan "melalui koordinasi dengan Angkatan Bersenjata Iran serta dengan mempertimbangkan keterbatasan teknis yang ada".
Pernyataan Araghchi mengemuka sesaat setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengatakan bahwa Amerika Serikat dan Iran akan menempuh gencatan senjata selama dua minggu dengan syarat Iran membuka lalu lintas maritim di Selat Hormuz.
"Saya setuju untuk menangguhkan pemboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu," ujar Trump di Truth Social.
"Ini akan menjadi GENCATAN SENJATA dua arah!"
Trump menambahkan bahwa ia menyetujui gencatan senjata sementara tersebut "dengan ketentuan Republik Islam Iran menyetujui PEMBUKAAN Selat Hormuz secara MENYELURUH, SEGERA, dan AMAN".
Trump mengatakan alasan dirinya menyetujui gencatan senjata sementara itu adalah karena "kami telah mencapai dan melampaui seluruh tujuan militer".
Dia juga menyebut pengumuman tersebut disampaikan karena "kami sudah sangat jauh dalam mencapai kesepakatan definitif mengenai PERDAMAIAN jangka panjang dengan Iran, serta PERDAMAIAN di Timur Tengah".

Sumber gambar, Reuters
Trump mengatakan Iran telah mengirimkan 10 butir syarat gencatan senjata kepada Amerika Serikat dan Israel.
Trump menyebut 10 butir itu sebagai "dasar yang dapat dijalankan untuk bernegosiasi".
"Hampir seluruh butir perselisihan di masa lalu telah disepakati antara Amerika Serikat dan Iran, namun periode dua minggu ini akan memungkinkan kesepakatan tersebut difinalisasi dan disahkan," kata Trump.
Baca juga:
Ia menambahkan bahwa "merupakan suatu kehormatan melihat masalah jangka panjang ini mendekati penyelesaian".
Setelah Trump merilis pernyataan ini, pemerintah Israel mengatakan "mendukung keputusan Presiden Trump untuk menangguhkan serangan terhadap Iran selama dua pekan dengan syarat Iran segera membuka selat [Hormuz] dan menghentikan semua serangan terhadap AS, Israel dan semua negara di kawasan."
Sebelumnya, pada Selasa (07/04), Trump mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan Iran jika negara itu tidak membuka Selat Hormuz bagi semua kapal.
Seperti ancaman sebelumnya, Trump berkata dirinya akan membuat Iran seperti "neraka".
Saat itu, Trump memberi tenggat pada Selasa (07/04) waktu Washington DC atau Rabu (08/04) pukul 07.00 WIB.

Sumber gambar, Nurphoto via Getty Images

Sumber gambar, AFP via Getty Images
Israel tetap membombardir Lebanon
Namun, pemerintah Israel menambahkan, "gencatan senjata selama dua pekan tidak mencakup Lebanon".
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan telah menghentikan serangan terhadap Iran, tapi akan tetap melanjutkan operasi di Lebanon.
Dalam sebuah pernyataan, IDF mengatakan bahwa mereka "telah menyelesaikan satu gelombang serangan di Iran" dan kini telah menghentikan tembakan "sesuai dengan arahan" dari pimpinan politik.
IDF menambahkan bahwa pihaknya "sangat siap untuk merespons secara defensif terhadap setiap pelanggaran" terhadap Israel.
Namun, terhadap Hizbullah di Lebanon, "IDF terus melakukan operasi darat yang ditargetkan," demikian pernyataan tersebut.

Sumber gambar, Reuters
Pada Rabu (08/04) pagi, militer Israel telah melancarkan serangkaian serangan udara di Lebanon selatan—sebuah indikasi bahwa, bagi Israel, kesepakatan gencatan senjata AS–Iran tidak berlaku untuk Lebanon.
Serangan udara itu menghantam wilayah Tyre dan Nabatieh di bagian selatan negara itu, setelah perjanjian tersebut diumumkan.
Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu, membantah bahwa kesepakatan itu juga mencakup konflik dengan kelompok bersenjata Lebanon yang didukung Iran, Hizbullah.
Serangan udara dilaporkan masih terjadi di sejumlah negara Teluk
Sementara Washington dan Teheran telah menyepakati gencatan senjata sementara selama dua minggu, sejumlah negara di kawasan masih melaporkan adanya serangan yang dilancarkan dari Iran.
Serangan-serangan tersebut belum tentu diperintahkan langsung oleh pimpinan negara, karena Iran telah memberi kewenangan kepada para komandan regional untuk memerintahkan serangan, dan perintah gencatan senjata mungkin memerlukan waktu untuk tersampaikan sepenuhnya.
Berikut informasi yang kami terima hingga Rabu (08/04) pagi:
Kuwait
Militer Kuwait mengatakan bahwa mereka telah menangani "gelombang intensif serangan bermusuhan dari Iran" sejak pukul 08.00 waktu setempat.
Sebanyak 28 drone berhasil dicegat, menurut pernyataan tersebut, namun serangan itu telah menyebabkan "kerusakan materi yang parah" pada infrastruktur minyak, pembangkit listrik, dan fasilitas desalinasi air.
Uni Emirat Arab (UEA)
Sejak gencatan senjata mulai berlaku, Kementerian Pertahanan UEA mengatakan telah "secara aktif menghadapi" serangan rudal dan drone.
Dalam pembaruan informasinya, kementerian menyebutkan bahwa serangan‑serangan tersebut berasal dari Iran, dan mengimbau masyarakat untuk mematuhi protokol keselamatan.
Bahrain
Dua orang di Bahrain mengalami "luka ringan" setelah serangan drone Iran, kata Kementerian Dalam Negeri Bahrain.
Kementerian tersebut menambahkan bahwa "sejumlah rumah" mengalami kerusakan di wilayah Sitra akibat serpihan drone yang jatuh.
Pemerintah belum mengonfirmasi apakah drone tersebut diluncurkan sebelum gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran diumumkan
Apa isi 10 butir syarat gencatan senjata yang diajukan Iran?
Lembaga penyiaran milik pemerintah Iran merilis rincian 10 butir syarat gencatan senjata yang diajukan Teheran:
- Penghentian total perang di Irak, Lebanon, dan Yaman
- Penghentian perang terhadap Iran secara menyeluruh dan permanen tanpa batas waktu
- Pengakhiran seluruh konflik di kawasan secara menyeluruh
- Pembukaan kembali Selat Hormuz
- Pembentukan protokol dan persyaratan untuk menjamin kebebasan serta keamanan navigasi di Selat Hormuz
- Pembayaran penuh kompensasi biaya rekonstruksi kepada Iran
- Komitmen penuh untuk mencabut sanksi terhadap Iran
- Pembebasan dana dan aset Iran yang dibekukan dan ditahan oleh Amerika Serikat
- Komitmen penuh Iran untuk tidak mengupayakan kepemilikan senjata nuklir
- Gencatan senjata segera berlaku di seluruh lini begitu seluruh persyaratan di atas disetujui

Sumber gambar, IRINN
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC) menyatakan bahwa perundingan akan digelar di Islamabad, ibu kota Pakistan, dalam jangka waktu maksimal 15 hari untuk "memfinalisasi" rincian kesepakatan.
Dalam pernyataan tersebut disebutkan bahwa perundingan dilakukan agar "kemenangan Iran di medan perang juga dapat dikonsolidasikan dalam perundingan politik".
Pernyataan SNSC itu melampaui 10 butir syarat gencatan senjata yang sebelumnya diumumkan televisi pemerintah Iran.
Dalam pernyataan tersebut juga diklaim bahwa AS telah menyetujui sejumlah poin berikut:
- Menjamin tidak akan mengulangi agresi terhadap Iran
- Melanjutkan kendali Iran atas Selat Hormuz
- Menerima pengayaan [uranium]
- Mencabut seluruh sanksi primer dan sekunder terhadap Iran
- Mengakhiri seluruh resolusi Dewan Keamanan PBB dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA)
- Membayar kompensasi kepada Iran
- Menarik pasukan tempur Amerika Serikat dari kawasan
- Menghentikan perang di seluruh lini, termasuk terhadap "perlawanan Islam di Lebanon"
Bagaimana peran Pakistan di balik gencatan senjata?
Terlepas dari substansi gencatan senjata, Pakistan disebut telah berperan sebagai mediator dalam pertikaian antara Amerika Serikat–Israel dengan Iran.
Trump menyebut Perdana Menteri (PM) Pakistan Shehbaz Sharif sebagai salah satu tokoh yang diajak berkomunikasi dan yang berkontribusi pada tercapainya kesepakatan gencatan senjata bersyarat tersebut.
Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Marsekal Asim Munir, juga disebut dalam unggahan Trump di Truth Social.
"Mereka meminta agar saya menahan kekuatan destruktif yang rencananya akan dikirim ke Iran malam ini," tulis Trump.
Beberapa jam sebelum gencatan senjata diumumkan, muncul sejumlah secercah harapan dari Pakistan.

Sumber gambar, Reuters
Berbicara secara anonim, seorang sumber Pakistan mengatakan kepada BBC bahwa perundingan terus berlangsung "dengan cepat", dan Pakistan bertindak sebagai mediator antara Iran dan AS.
Para perunding dari pihak Pakistan terdiri dari "lingkaran yang sangat kecil", dan suasana saat itu digambarkan sebagai "muram dan serius, tetapi tetap ada harapan bahwa penghentian permusuhan akan menjadi hasil akhirnya. Masih ada beberapa jam tersisa."
Sumber tersebut mengatakan bahwa dia tidak termasuk dalam lingkaran kecil itu.
Selama beberapa pekan terakhir, Pakistan telah bertindak sebagai mediator antara Iran dan AS, menyampaikan pesan antara kedua pihak.
Pakistan memiliki hubungan historis dengan Iran, berbagi perbatasan, dan secara rutin menyebut hubungan mereka sebagai hubungan "persaudaraan".
Adapun hubungan dengan AS, Presiden Trump menyebut Kepala Angkatan Bersenjata Pakistan, Marsekal Asim Munir, sebagai marsekal "favoritnya" dan mengatakan bahwa dia mengenal Iran "lebih baik daripada kebanyakan orang."

Sumber gambar, SAJJAD QAYYUM/AFP via Getty Images
Kesepakatan tersebut masih jauh dari kata pasti. Berbicara di hadapan parlemen pada Selasa (07/04) malam, Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar mengatakan:
"Hingga kemarin kami sangat optimistis bahwa segalanya bergerak ke arah yang positif," sebelum Israel melancarkan serangan ke Iran pada Senin dan Iran menyerang Arab Saudi.
Dia mengatakan bahwa Pakistan "masih berupaya mengelola situasi semaksimal mungkin."
Marsekal Munir bahkan menyampaikan kritik yang lebih terbuka. Berbicara kepada para pejabat militer pada Selasa, dia mengatakan bahwa serangan terhadap Arab Saudi "merusak upaya‑upaya tulus untuk menyelesaikan konflik melalui cara-cara damai".
Ini merupakan salah satu bahasa paling keras yang digunakan Pakistan terhadap Iran sejak konflik tersebut dimulai.
Sejumlah analis menyebut bahwa hal ini dapat menambah tekanan terhadap Iran.
Pakistan memiliki pakta pertahanan dengan Arab Saudi, yang hingga kini belum diaktifkan, meskipun terjadi serangan berulang terhadap Arab Saudi.
Setelah lewat tengah malam di Pakistan, Perdana Menteri negara itu mengunggah pernyataan di X bahwa "upaya diplomatik… sedang berkembang secara stabil, kuat, dan penuh daya, dengan potensi menghasilkan hasil substantif dalam waktu dekat."

Sumber gambar, Atta Kenare / Getty Images
Dia juga meminta Presiden Trump untuk memperpanjang tenggat waktu selama dua minggu dan agar Iran membuka Selat Hormuz untuk periode yang sama.
Duta Besar Iran untuk Pakistan, Reza Amiri Moghadam, mengunggah pernyataan di X sekitar pukul 03.00 waktu setempat bahwa telah terjadi "satu langkah maju dari tahap yang kritis dan sensitif".
Sesaat sebelum pukul 05.00, Perdana Menteri Pakistan mengumumkan bahwa gencatan senjata telah disepakati dan mengundang kedua pihak untuk bertemu di Islamabad pada Jumat, 10 April, guna "melanjutkan perundingan menuju kesepakatan yang final".
"Kami masih sangat berhati-hati," ujar sumber Pakistan kepada BBC, seraya mengatakan bahwa situasi masih memiliki "kerapuhan yang berkelanjutan".
Masih belum ada kepercayaan antara kedua pihak, kata sumber tersebut.
Harga minyak turun
Harga minyak terus merosot selang satu jam setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan gencatan senjata bersyarat selama dua minggu.
Harga minyak mentah Brent, yang menjadi acuan global, turun sekitar 13,6% menjadi US$94,50 per barel. Sementara itu, minyak yang diperdagangkan di Amerika Serikat anjlok sekitar 14,3% menjadi US$96,80 dolar per barel.
Kedua patokan harga minyak tersebut, sebagaimana dilaporkan wartawan BBC, Osmond Chia, sebelumnya diperdagangkan jauh di atas US$100 per barel pada Selasa (07/04).

Sumber gambar, Anadolu via Getty Images
Gencatan senjata bersyarat itu kemungkinan menjadi kejutan bagi para pelaku pasar, sehingga memicu penurunan tajam harga minyak, kata Ichiro Kutani dari Institute of Energy Economics di Jepang.
Namun, ia menilai harga minyak kecil kemungkinan kembali ke level sebelum perang, yakni sekitar US$70 per barel, mengingat besarnya kerusakan yang terjadi di kawasan tersebut.
Pasar saham Asia juga menguat pada perdagangan awal. Indeks Nikkei 225 Jepang naik 4%, sementara indeks ASX 200 Australia menguat hampir 3%.
Ye Lin, dari lembaga riset Rystad Energy, mengatakan bahwa perlu waktu sampai khalayak umum merasakan penurunan harga di pompa bensin.
Menurut Ye, tidak semua negara menyesuaikan harga bahan bakar setiap hari.
Karena itu, seberapa cepat harga minyak turun akan sangat bergantung pada seberapa besar pasokan minyak dari kawasan Teluk yang kembali dilepas ke pasar seiring dimulainya kembali aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.
'Dua pekan ke depan sangat sulit'
Khashayar Joneidi
Koresponden BBC Persia di Washington DC
Ada defisit kepercayaan antara Amerika Serikat dan Iran menjelang dimulainya putaran perundingan baru selama dua pekan.
Iran dan AS telah dua kali bernegosiasi dalam setahun terakhir. Pada kedua kesempatan tersebut, perang pecah di tengah proses perundingan.
Terlepas dari bagaimana Iran menggambarkan diri mereka sebagai pihak yang menang melalui media pemerintah, posisi Iran sejatinya sangat lemah.
Kekuatan militernya mengalami kerusakan parah, perekonomiannya berada dalam kondisi terpuruk, dan pemerintah Iran masih menghadapi persoalan besar dengan kelompok oposisi serta masyarakat.
Dalam beberapa hari terakhir, pemerintah Iran mulai mengeksekusi sejumlah orang yang ditangkap selama aksi protes pada Januari lalu.
Pemerintah Iran kini harus memperketat cengkeramannya atas kekuasaan di dalam negeri. Situasinya buruk, namun pada saat yang sama tuntutan-tuntutan yang diajukan Teheran juga sulit dipenuhi oleh AS.
AS menyatakan telah menerima gencatan senjata dengan syarat lalu lintas maritim di Selat Hormuz berjalan lancar.
Sementara itu, Iran menegaskan keinginannya untuk tetap mengendalikan lalu lintas maritim di Selat Hormuz, dengan alasan faktor geografis. Hal tersebut disebut sebagai prioritas utama Teheran.
Perundingan terkait program nuklir Iran diperkirakan akan berlangsung sulit. Media pemerintah Iran mengklaim bahwa AS telah menyetujui pengayaan uranium di Iran.
Namun, AS menyatakan sebaliknya, yakni menginginkan agar tidak ada pengayaan uranium yang dilakukan di Iran.
Dua pekan ke depan diperkirakan akan menjadi periode yang sangat sulit.

































