Tim SAR: 27 orang masih dalam pencarian akibat longsor di Banjarnegara, dua meninggal

Tim SAR gabungan mengevakuasi korban meninggal dunia akibat tanah longsor di Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara.

Sumber gambar, Badan SAR Nasional

Keterangan gambar, Tim SAR gabungan mengevakuasi korban meninggal akibat tanah longsor di Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.
Waktu membaca: 5 menit

Sebanyak 27 orang diduga masih tertimbun longsor dan dua orang meninggal akibat tanah longsor di Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, menurut Tim SAR gabungan.

Peristiwa ini menambah daftar bencana longsor yang menelan banyak korban jiwa dalam beberapa hari belakangan, setelah peristiwa serupa di Cilacap dan Nduga, Papua.

Badan SAR Nasional (Basarnas) melaporkan tanah longsor di Dusun Situkung, Banjarnegara, Jawa Tengah ini terjadi pada Minggu (16/11) sekira pukul 14.30 WIB. Tanah bergerak setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut sekitar tiga jam.

Selain korban yang masih dalam pencarian dan meninggal, sebanyak 823 warga dari empat RT ikut terdampak. Mereka saat ini telah diungsikan.

"Data terakhir yang kami peroleh, masih ada 27 warga yang belum diketahui keberadaannya dan menjadi fokus untuk kami lakukan pencarian esok hari," kata Budiono, kepala kantor pencarian dan pertolongan Semarang.

"Sedangkan hari ini (Senin, 17/11) tim mengevakuasi 41 warga yang berhasil menyelamatkan diri ke hutan sekitar lokasi longsoran, dan juga satu orang atas nama Darti dalam keadaan meninggal dunia."

Melalui keterangan tertulis, Budiono berkata, pencarian akan dilanjutkan esok hari mengingat cuaca mendung dan juga tanah yang masih belum stabil di lokasi.

"Dikhawatirkan ada longsor susulan, di lokasi juga hujan turun dengan intensitas rendah" tambah Budiono.

Rencananya, besok Selasa (18/11), tim akan dibagi menjadi tiga area pencarian: Sektor A wilayah RT. 3, Sektor B dan C di wilayah RT. 2.

"Semoga besok cuaca cerah dan pencarian dimudahkan," kata Budiono.

Situasi tanah longsor di Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara.

Sumber gambar, Badan SAR Nasional

Keterangan gambar, Gambaran longsor yang terjadi di Dusun Situkung, Banjarnegara. BPBD menyebut "dampak bencana tanah longsor tersebut tergolong besar dan luas"
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Menurut Budiono, korban dua korban meninggal yang ditemukan telah dievakuasi. Korban pertama ditemukan pada Minggu sore setelah kejadian. "Ditemukan luka-luka, namun setelah dirawat, tadi pagi (Senin, 17/11) meninggal dunia," katanya.

"Sedangkan korban kedua berhasil ditemukan pada hari ini, sekitar pukul 07.58 WIB."

Tim gabungan yang terdiri dari Badan SAR, BPBD Banjarnegara, TNI, Polri, relawan, dan masyarakat setempat berfous pada evakuasi warga yang berada di perbukitan.

Pasalnya, warga disebut sempat menyelamatkan diri dengan berlari ke daerah perbukitan yang tidak terdampak longsor, tak lama usai kejadian.

Sampai siang tadi, material longsor juga masih menutup sebagian akses jalan desa sehingga menghambat mobilisasi alat berat untuk evakuasi.

"Kondisi medan cukup menyulitkan karena material longsor tebal dan cuaca masih tidak stabil," pungkas Budiono.

Baca juga:

Dalam keterangan lain, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah Bergas Catursasi Penanggungan menambahkan, tanah yang longsor merupakan tebing hutan pinus seluas sekitar 100x100 meter.

Selain dua korban meninggal, adapula sembilan warga lain yang mengalami luka-luka, terang Bergas.

Menurut data Situation Report (Sitrep) BPBD Jateng pukul 12.00 WIB, dampak bencana tanah longsor tersebut tergolong besar dan luas.

Sebanyak 35 rumah dilaporkan tertimbun longsor, sedangkan 35 rumah lain terancam karena retak dan berada di zona bahaya, serta 195 rumah terdampak.

Saat ini lebih dari 800 warga terdampak sudah mengungsi di dusun tetangga. Mereka ditempatkan di tenda darurat yang berlokasi di Kantor Kecamatan Pandanarum, GOR Desa Beji, dan Gedung Haji Desa Pringamba.

"Tidak semuanya kena longsor, hanya sekitar 35 rumah yang terdampak langsung, tapi rumah di kanan-kirinya juga berpotensi terkena," kata Bergas.

Dua korban meninggal merupakan perempuan yakni Darti (29 tahun) dan Luwik (40).

'Dulu pernah kejadian serupa, tapi tidak separah ini'

Salah seorang warga bernama Tusri mengisahkan suasana saat bencana longsor terjadi.

Ia dan warga lain berhamburan menuju kandang sapi dan kamping yang berlokasi sekitar 300 meter dari lokasi awal kejadian, begitu material longsor mulai bergerak.

"Dulu pernah ada kejadian serupa pada 2017, tapi tidak separah ini. Waktu itu kami diarahkan juga untuk mengungsi ke kandang sapi, karena lokasi itu katanya aman," ungkap Tusri, dikutip dari Kompas.com.

Ia mengaku situasi saat menuju lokasi aman itu tidak mudah, lantaran suara retakan tanah terus terdengar. Beberapa warga yang panik bahkan menangis sembari mencari anggota keluarganya.

Proses evakuasi korban meninggal dunia akibat tanah longsor di Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara.

Sumber gambar, Badan SAR Nasional

Keterangan gambar, Proses evakuasi korban meninggal dunia akibat tanah longsor di Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara.

"Ada juga ibu-ibu yang manggil-manggil anaknya karena belum ketemu kemarin malam," ujarnya.

Tusri mengungsi di sebuah kandang sapi bersama belasan orang lain.

Ia juga menyebut banyak warga yang bertahan di kandang-kandang ternak lain yang ada di titik tersebut.

"Total ada 51 orang yang bertahan. Kami ke situ karena memang sebelumnya sudah diberitahu, kalau ada apa-apa, larinya ke kandang itu," terang Tusri, seraya menambahkan ia dan pengungsi lain mendapatkan bantuan logistik selama di sana.

"Katanya lebih aman, jauh dari tebing longsoran, karena jaraknya sekira 300 meter dari rumah dan titik longsor."

Mungkin Anda tertarik:

Kini, Tusri dan warga lain telah dievakuasi ke Kantor Kecamatan Pandanarum.

Mereka dievakuasi pada Senin siang, setelah berjalan kaki sekitar dua jam melewati tanah licin dan penuh retakan.

"Rumah saya sudah retak, jalan juga pada retak, rumah-rumah sudah pada miring," kata Tusri, seraya menambahkan bahwa ia tak sempat membawa pakaian dan perlengkapan penting lain.

Ia pun berharap penanganan longsor dapat segera tuntas. Ia mengaku tak keberatan jika kediamannya dipindah agar tak lagi mengalami bencana serupa.

"Kalaupun rumah kami dipindahkan, tidak apa-apa. Yang penting aman karena lokasi di situ sudah rawan," pungkasnya.

Tiga buah ekskavator tengah bekerja di tanah longsor untuk mencari korban.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Idhad Zakaria

Keterangan gambar, Tim SAR gabungan melakukan pencarian korban longsor menggunakan ekskavator pada hari keempat operasi pencarian di Desa Cibeunying, Majenang, CIlacap, Minggu (16/11).

Bencana tanah longsor di Banjarnegara bukan pertama kali terjadi.

Pada di penghujung 2014, longsor menewaskan 12 orang di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karang Kobar, Banjarnegara.

Bencana serupa terulang dua tahun kemudian, di mana sembilan rumah tertimbun yang membuat 218 warga mengungsi.

Longsor terjadi pada di Desa Clapar, Kecamatan Madukara, Banjarnegara pada 24 Maret 2016, setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut.

Adapula rangkaian kejadian tanah longsor pada 2017.

BPBD Jawa Tengah tahun itu bahkan menyatakan tanah longsor sebagai bencana yang paling banyak terjadi di Banjarnegara, mencapai 33 kejadian—dari total 40 bencana.