Longsor di Cilacap, total 18 orang ditemukan meninggal dunia, lima orang masih dicari – 'Saya terseret sampai 15 meter, saya tidak bisa bergerak'

Sejumlah pria mengangkat jenazah dalam kantong berwarna jingga.

Sumber gambar, Badan SAR Nasional

Keterangan gambar, Tim SAR gabungan terus berburu dengan waktu untuk menemukan korban yang masih hilang.
Waktu membaca: 11 menit

Tim SAR gabungan kembali menemukan dua orang dalam kondisi tak bernyawa dalam operasi pencarian korban longsor di Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Selasa (18/11).

Berdasarkan data sementara hingga hari keenam operasi pencarian, Selasa (18/11), total korban terdampak longsor berjumlah 46 orang. Mereka terdiri atas 23 orang selamat, 18 meninggal dunia, dan lima orang lainnya masih dalam pencarian.

Kepala Kantor SAR Cilacap, Muhammad Abdullah, mengatakan operasi pencarian korban bencana tanah longsor dimulai pukul 05.30 WIB dan dihentikan pada 16.15 WIB karena hujan deras.

"Hari ini kami berhasil menemukan dan mengevakuasi dua korban, semuanya berada di Worksite B-2," kata Abdullah selaku Koordinator Misi SAR seperti dilaporkan Antara.

Ia mengatakan korban pertama atas nama Arumi Purnamasari (4) ditemukan pada pukul 15.03 WIB, kemudian ibunya Lili Safitri (39) pada pukul 16.12 WIB.

Keduanya ditemukan berdekatan pada kedalaman empat meter di lokasi yang sebelumnya juga ditemukan sepeda motor milik keluarga tersebut.

Sehari sebelumnya, tim menemukan tiga korban meninggal. Ketiga jenazah korban ditemukan di Worksite A-2 yang masuk wilayah Dusun Cibuyut, Desa Cibeunying.

"Artinya Worksite A-2 sudah kami declare (nyatakan) selesai, maka tim SAR yang berada di Worksite A-2 kami pindahkan untuk penguatan pada Worksite B-1 dan Worksite B-2," kata Abdullah.

Unit anjing pelacak (k-9) diterjunkan membantu proses pencarian korban longsor di Desa Cibeunying, Majenang, Cilacap, Jawa Tengah, Minggu (16/11/2025).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Idhad Zakaria

Keterangan gambar, Unit anjing pelacak (k-9) diterjunkan membantu proses pencarian korban longsor di Desa Cibeunying, Majenang, Cilacap, Jawa Tengah, Minggu (16/11).

Bencana tanah longsor terjadi pada Kamis (13/11), sekitar pukul 19.00 WIB, serta menimbun sejumlah rumah warga di Dusun Tarukahan dan Dusun Cibuyut, Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Cilacap.

Longsor tersebut merusak 12 rumah serta mengancam 16 rumah lainnya di area seluas sekitar 6,5 hektare.

Material longsor menimbun permukiman dan menyebabkan penurunan tanah sedalam dua meter serta retakan sepanjang 25 meter.

Percepat pencarian korban, BNPB modifikasi cuaca

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan upaya modifikasi cuaca untuk mempercepat pencarian para korban hilang yang masih tertimbun material longsor.

Modifikasi cuaca itu dilakukan lantaran proses pencarian menghadapi kendala hujan dalam beberapa hari terakhir.

Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB, Mayjen TNI Budi Irawan mengatakan modifikasi cuaca mulai dilakukan pada Minggu (16/11) dengan melibatkan ahli dari BMKG di dalam pesawat pemantau.

Tim SAR gabungan melakukan pencarian korban longsor menggunakan ekskavator pada hari keempat operasi pencarian di Desa Cibeunying, Majenang, CIlacap, Minggu (16/11/2025).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Idhad Zakaria

Keterangan gambar, Tim SAR gabungan melakukan pencarian korban longsor menggunakan ekskavator pada hari keempat operasi pencarian di Desa Cibeunying, Majenang, CIlacap, Minggu (16/11).

"Kami berharap bisa berhasil ya, karena ini tergantung dengan angin," katanya, seperti dilaporkan Antara, Minggu (16/11).

Ia mengatakan ahli BMKG memiliki tugas mengidentifikasi kandungan air pada awan sebelum dilakukan penyemaian.

Ia meyakini dan percaya hujan tidak akan turun jika anginnya bisa sesuai dengan prediksi BMKG.

"Kalau turun paling rintik. Tapi kalau angin di luar prediksi, ya hujan akan turun juga," jelasnya.

Tim SAR gabungan mengevakuasi korban longsor yang ditemukan di Desa Cibeunying, Majenang, Cilacap, Jawa Tengah, Sabtu (15/11).

Sumber gambar, ANTARA FOTO

Keterangan gambar, Tim SAR gabungan mengevakuasi korban longsor yang ditemukan di Desa Cibeunying, Majenang, Cilacap, Jawa Tengah, Sabtu (15/11).

Sebelumnya, Kepala SAR Cilacap, M. Abdullah, mengatakan upaya pencarian disokong pengerahan alat berat dan anjing pelacak lantaran area pencarian dipenuhi material longsor.

Kendati demikian, dalam proses evakuasi korban, pihaknya mengalami kendala seperti tanah yang labil serta ketebalan tanah longsor.

Imbasnya, akses mendatangkan alat berat terhalang.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, mengatakan pihaknya akan mengalokasikan anggaran Rp400 miliar untuk merelokasi warga terdampak longsor di Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap. Mereka akan ditempatkan di hunian sementara (huntara) sebelum dibangunkan rumah.

Tim SAR gabungan mengevakuasi korban longsor yang ditemukan di Desa Cibeunying, Majenang, Cilacap, Jawa Tengah, Sabtu (15/11).

Sumber gambar, ANTARA FOTO

Keterangan gambar, Tim SAR gabungan mengevakuasi korban longsor yang ditemukan di Desa Cibeunying, Majenang, Cilacap, Jawa Tengah, Sabtu (15/11).

"Dana Rp400 miliar sudah kami siapkan. Sebanyak 16 rumah yang mengalami kerusakan berat akan segera di-recovery," ujar Luthfi seperti dilaporkan wartawan Liliek Dharmawan untuk BBC News Indonesia, pada Minggu (16/11).

Ia menambahkan Pemkab Cilacap sudah menyediakan lahan seluas 3,5 hektare di wilayah Kecamatan Majenang sebagai lokasi pembangunan hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap) yang akan ditangani BNPB.

"Lahan seluas 3,5 hektare sudah disiapkan untuk relokasi agar warga benar-benar aman. Kondisi lokasi lama masih berisiko," ujarnya.

'Ada retakan tanah berbentuk tapal kuda'

Warga melihat lokasi terdampak tanah longsor hingga menimbun rumah warga di Desa Cibeunying, Majenang, Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (14/11/2025).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Idhad Zakaria/agr

Keterangan gambar, Warga melihat lokasi terdampak tanah longsor hingga menimbun rumah warga di Desa Cibeunying, Majenang, Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (14/11/2025).

Sementara Guru Besar Teknik Geologi dan Lingkungan UGM Prof.Dwikorita Karnawati, melaporkan adanya retakan tanah berbentuk tapal kuda di bagian atas tebing yang sebelumnya sudah longsor.

Pola retakan yang mengarah langsung ke jalur longsoran tersebut menjadi indikator awal adanya pergerakan tanah yang berpotensi memicu longsor susulan.

"Retakan tapal kuda adalah batas antara lereng yang stabil dan bagian yang mulai bergeser. Jika hujan turun dan air masuk ke retakan itu, pergerakan tanah bisa semakin cepat," ujar Dwikorita melalui pernyataan tertulis kepada wartawan Liliek dharmawan yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Sabtu (15/11).

Baca juga:

Dia menjelaskan, kondisi tersebut sangat berbahaya mengingat proses evakuasi korban masih berlangsung di area bawah tebing. Stabilitas lereng bisa berubah dalam waktu singkat, terutama ketika hujan mulai mengguyur wilayah tersebut.

Operasi pencarian korban longsor di Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, menemukan delapan korban dalam kondisi tewas pada Sabtu (15/11).

Sumber gambar, Kantor SAR Cilacap

Keterangan gambar, Operasi pencarian korban longsor di Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, menemukan delapan korban dalam kondisi tewas pada Sabtu (15/11).

Dwikorita meminta petugas, relawan, dan masyarakat segera meningkatkan kewaspadaan. Aktivitas di sekitar lokasi longsor, kata dia, harus dihentikan begitu hujan turun, bahkan jika hanya rintik, karena air yang meresap ke celah retakan dapat mempercepat pergerakan tanah.

Warga juga diminta menjaga jarak aman dengan berada di area datar setidaknya dua kali tinggi tebing dari titik retakan.

Dwikorita menegaskan bahwa retakan tapal kuda merupakan tanda paling awal sebelum longsor terjadi. Pemantauan visual terhadap kondisi lereng harus dilakukan terus-menerus selama proses pencarian berlangsung untuk mencegah jatuhnya korban tambahan.

Dia mengingatkan bahwa longsor berbeda dengan gempa atau tsunami, karena biasanya memberikan tanda-tanda awal. Retakan melengkung yang muncul di atas lereng harus segera diinspeksi oleh masyarakat maupun aparat ketika wilayah diguyur hujan deras.

Pola retakan yang mengarah langsung ke jalur longsoran tersebut menjadi indikator awal adanya pergerakan tanah yang berpotensi memicu longsor susulan.

Sumber gambar, Kantor SAR Cilacap

Keterangan gambar, Pola retakan yang mengarah langsung ke jalur longsoran tersebut menjadi indikator awal adanya pergerakan tanah yang berpotensi memicu longsor susulan.

Dalam kondisi cerah, Dwikorita menyarankan agar retakan segera ditutup menggunakan material kedap air atau tanah lempung agar air hujan tidak merembes masuk ke dalam lereng. Peningkatan tekanan air tanah, jelasnya, menjadi pemicu utama bergesernya massa tanah yang kemudian menyebabkan longsor.

"Selain retakan tapal kuda, sejumlah gejala lain juga perlu diwaspadai, seperti batang pohon atau bangunan yang tiba-tiba miring, munculnya rembesan atau mata air baru, permukaan lereng yang menggembung, hingga retakan pada lantai ataupun dinding bangunan. Bahkan pintu atau jendela yang tiba-tiba sulit dibuka dapat menandakan adanya pergeseran pondasi," jelasnya.

'Saya sempat terseret sampai 15 meter'

Duduk di atas kursi roda di RSUD Majenang, Daryana menatap hampa. Ia baru saja kehilangan istrinya, Yuni dan anak perempuannya, Maya, akibat longsor yang terjadi pada Kamis malam.

Jasad putrinya, ditemukan tim SAR pada malam pertama pencarian, sedangkan tubuh sang istri ditemukan pada Jumat (14/11) siang.

"Saya kehilangan anak dan istri. Peristiwanya begitu cepat," ujarnya saat ditemui wartawan Liliek Dharmawan yang melaporkan untuk BBC News Indonesia di rumah sakit.

Pada Kamis malam sekitar pukul 20.00 WIB, dia bercerita, baru saja selesai menghadiri acara tahlilan yang sudah menjadi rutinitas warga dusun.

Ketika sedang jalan pulang, dia mendengar suara gemuruh yang begitu kencang.

"Saya berlari ke rumah dan berteriak kepada istri dan anak untuk keluar rumah," katanya mengingat detik-detik peristiwa tersebut.

Satu jenazah korban longsor di Cilacap ditemukan oleh tim SAR gabungan.

Sumber gambar, Kantor SAR Cilacap

Keterangan gambar, Satu jenazah korban longsor di Cilacap ditemukan oleh tim SAR gabungan.

Di tengah teriakan itu, Daryana tiba-tiba terbawa oleh aliran lumpur yang merendamnya dari perut hingga kaki.

Dia hanya bisa pasrah. Berserah pada yang memiliki semesta.

"Saya sempat terseret sampai 15 meter. Saya tidak bisa bergerak, hanya mengikuti lumpur yang bergerak. Saya tidak sempat menyelamatkan anak dan istri karena tidak mungkin," ungkapnya.

Daryana mengetahui dirinya selamat setelah tersadar di rumah sakit. Ia mengalami luka pada bagian bahu dan tubuhnya terasa lemas sehingga harus dibantu dengan kursi roda.

'Terdengar suara teriak, 'Bapak, Bapak!'

Imam Faedi, korban longsor lainnya, juga berhasil menyelamatkan diri usai rumahnya tertimbun longsor.

Katanya, malam itu sekitar pukul 20.00 WIB, dia sedang duduk bersama tiga warga lainnya di depan rumah sembari menikmati kopi panas.

"Waktu itu hujan gerimis," imbuhnya.

"Tiba-tiba ada suara gemuruh seperti pesawat. Saya berdiri, lihat ke depan, ada gumpalan kukus. Lalu terlihat kayu seperti berterbangan dan di belakangnya tanah," sambung Imam.

Imam berkali-kali menyebut apa yang dikatakannya betul-betul terjadi karena menyaksikan dengan kedua matanya.

Dia kemudian berkata: "Yang terakhir itu kayak ular lagi berenang di kali, goyang, set, jes. Tanah sudah labil dan berhenti di sini. Tiga teman saya langsung lari membantu menyelamatkan korban."

Situasi pencarian dan evakuasi korban lonsor di Majenang, Cilacap.

Sumber gambar, Liliek Dharmawan

Keterangan gambar, Situasi pencarian dan evakuasi korban lonsor di Majenang, Cilacap.

Imam yang teringat akan dua anaknya berada di dalam rumah, segera berlari pulang. Begitu sampai, rumahnya sudah terdorong material tanah, kayu, dan batu.

"Anak di kamar sendiri, posisinya tidur. Anak saya teriak, 'Bapak, Bapak!' Lalu saya tendang pintu, dan gendong [anak paling kecil] keluar."

Namun, ia sempat panik lantaran tidak menemukan anak sulungnya yang biasa tidur di kamar tengah. Kondisi makin mencekam gara-gara listrik padam.

"Gelap gulita, enggak ada penerangan. Saya cari anak saya yang tertua, terus kedengaran suara teriak, 'Bapak, Bapak!' dari arah berlawanan. Syukur, dua-duanya selamat," katanya penuh lega.

Anak bungsu Imam, yang masih kelas 4 SD ditemukan dalam keadaan terguncang. Sedangkan si sulung, yang berusia 19 tahun berhasil menyelamatkan diri.

Tim SAR bersama warga berupa mencari warga yang tertimbun reruntuhan rumah dan tanah longsor.

Sumber gambar, Liliek Dharmawan

Keterangan gambar, Tim SAR bersama warga berupa mencari warga yang tertimbun reruntuhan rumah dan tanah longsor.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Imam berkata, kondisi gelap dan tanah yang masih labil membuat proses pertolongan sulit. Warga, sambungnya, berlarian berusaha menyelamatkan diri masing-masing.

Begitu tanah mulai berhenti bergerak, barulah teriakan minta tolong terdengar berkali-kali dari berbagai arah.

Dia juga bercerita, seorang lansia, Mbah Rislam, berhasil dievakuasi meskipun sempat tertimbun longsor. Namun sang cucu, Julia, tak selamat dari bencana tersebut.

"Cucunya ada dua, Julia dan Maya, keduanya meninggal," ucap Imam.

Imam mengatakan wilayah tempat tinggalnya berada di bawah kawasan perbukitan yang ditanami pohon kelapa, pisang, dan bambu.

Ia menduga, longsor kali ini berasal dari ketinggian dan bergerak cepat menuju permukiman warga.

"Tanah yang di atas itu sudah turun kurang lebih dua meter. Jarak kiriman tanah itu dari sana sekitar dua kilometer. Tadinya diprediksi longsor turun ke arah lain, ke daerah Cikuyut. Warga di sana bahkan sudah diminta ngungsi," terangnya.

Proses pencarian dan evakuasi warga korban longsor di Cilacap.

Sumber gambar, Liliek Dharmawan

Keterangan gambar, Proses pencarian dan evakuasi warga korban longsor di Cilacap.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap, Taryo, mengatakan masih ada 20 warga yang dilaporkan tertimbun longsoran.

"Kami akan mengerahkan alat berat untuk mempercepat evakuasi. Hari ini ada tiga alat berat yang bekerja," katanya.

Sedangkan Kepala Bidang Kedaruratan dan Logsitik BPBD Cilacap, Budi Setyawan, menyebut longsor dipicu hujan dengan intensitas tinggi sejak Kamis sore dan kondisi kontur tanah yang labil.

"Material tanah tebing kemudian ambruk dan menimbun permukiman warga sekitar pukul 20.00 WIB," tambahnya.

Penjelasan serupa juga disampaikan dalam keterangan resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang menyampaikan peristiwa longsor yang terjadi pada Kamis (13/11/2025) pukul 20.00 WIB, bermula dari hujan deras di wilayah tersebut dalam waktu cukup lama.

Tingginya curah hujan menyebabkan tanah longsor dan menimpa rumah warga. Tiga desa terdampak adalah Dusun Cibeunying, Cibaduyut, dan Tarukahan.

Ditambahkan BNPB, bencana dipicu cuaca dan kondisi topografi perbukitan yang kritis serta tanah labil itu.

Untuk proses pencarian orang yang dinyatakan hilang, BNPB mengerahkan 200 personel

Longsor yang terjadi pada Kamis (13/11) malam mengubur sejumlah rumah warga.

Sumber gambar, Liliek Dharmawan

Keterangan gambar, Longsor yang terjadi pada Kamis (13/11) malam mengubur sejumlah rumah warga.

Ke depannya, BNPB juga akan mengambil langkah relokasi kepada warga yang tinggal di wilayah kritis agar lebih aman dan tidak kembali terancam.

Menurut Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, masih ada 28 warga yang saat ini tinggal di kawasan rawan bencana tanah longsor.

Upaya relokasi akan dilakukan setelah upaya penanganan darurat selesai sepenuhnya. Mengenai lokasi relokasi, Pemerintah Kabupaten Cilacap telah memiliki lahan khusus yang tentunya lebih aman.

Sementara, Kepala BNPB mengimbau kepada masyarakat di sekitar lokasi agar mengosongkan area dari segala jenis aktivitas untuk sementara waktu demi keamanan dan keselamatan bersama.

"Ada 28 rumah yang harus direlokasi. Itu pun pemerintah daerah telah menyiapkan lokasi relokasinya. Sehingga setelah proses tanggap darurat ini selesai, relokasinya sudah kita siapkan," jelas Suharyanto.

"Kita ungsikan dulu yang berada di titik-titik rawan supaya meninggalkan rumah jangan sampai ada longsor susulan yang mengakibatkan korban tambahan," tambahnya.

Longsor di Cilacap

Sebelumnya, tim SAR dan masyarakat setempat masih terus berupaya menemukan korban yang diduga tertimbun material longsor.

Operasi pencarian dilakukan menggunakan alat berat, peralatan ekstrikasi, serta peralatan manual untuk menjangkau area yang sulit.

"Upaya pencarian akan terus dilanjutkan hingga seluruh korban ditemukan," kata Kepala Seksi Operasi dan Siaga Kantor SAR Cilacap, Priyo Prayudha Utama.

Priyo juga menjelaskan longsor diduga dipicu hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Cilacap dalam waktu yang cukup lama. Tingginya curah hujan menyebabkan tanah longsor dan menimpa rumah warga.

Tiga desa yang dilaporkan terdampak, di antaranya Dusun Cibeunying, Cibaduyut, dan Tarukahan.

Tangkapan layar video kiriman warga terkait dengan kondisi lokasi bencana tanah longsor di Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (14/11/2025) pagi.

Sumber gambar, Antara Foto/Sumarwoto

Keterangan gambar, Tangkapan layar video kiriman warga terkait dengan kondisi lokasi bencana tanah longsor di Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (14/11) pagi.

Data sementara, total 46 jiwa terdampak dalam peristiwa ini. Dari jumlah itu, 23 orang berhasil selamat dan tiga lainnya meninggal dunia.

Dua korban meninggal diidentifikasi bernama Julia (20 tahun) dan Maya (15 tahun). Keduanya merupakan warga Dusun Tarukahan.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Cilacap, Budi Setyawan, menyebut di Dusun Tarukahan terdapat tujuh korban yang hilang. Mereka adalah Yuni, Nina, Fani, Fatin, Lilis, Danu, dan seorang balita bernama Lilis.

Di Dusun Cibuyut terdapat 14 korban, terdiri dari beberapa keluarga yang masih dalam pencarian. Merka adalah Rastum, Rahma, Aca, Cahyanto, Kasri, Zahra, Nilna, Asmanto, Isna beserta anaknya, serta keluarga Dani (istri dan dua anak).

Berdasarkan laporan sementara, terdapat 12 rumah yang rusak dan 16 rumah lain yang kini terancam longsor.

Tim SAR Gabungan Bersama masyarakat setempat masih terus berupaya maksimal untuk menemukan korban yang diduga tertimbun material longsor.

Sumber gambar, Humas Basarnas Cilacap

Keterangan gambar, Potret tim SAR yang berusaha mengevakuasi korban longsor, Kamis (13/11).
Tim SAR Gabungan berupaya menemukan korban yang diduga tertimbun dalam puing-puing bangunan rumah akibat terkena longsor.

Sumber gambar, Humas Basarnas Cilacap

Keterangan gambar, Tim SAR menemukan korban yangtertimbun dalam puing-puing bangunan rumah.

Camat Majenang, Aji Pramono, menceritakan longsor terjadi sekitar pukul 20.00 WIB. Hujan lebat, sambungnya, berlangsung sejak akhir pekan lalu.

"Kalau kemarin hujannya normal. Ini (longsor) mungkin dampak dari hujan lebat yang terjadi selama beberapa hari sebelumnya, terakumulasi, sehingga tanah tidak mampu menahan beban," kata Aji seperti dilansir Antara.

Terpisah, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan memberangkatkan tim reaksi cepat ke lokasi terdampak.

BNPB mengimbau warga maupun tim SAR yang sedang bertugas di lokasi untuk selalu waspada akan risiko longsor susulan.

Berdasarkan prakiraan cuaca, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang berpotensi terjadi hampir merata di wilayah Kecamatan Majenang, Cilacap pada hari Jumat hingga Minggu, 16 November 2025.

Proses pencarian dan pertolongan korban longsor di Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap

Sumber gambar, Kantor SAR Cilacap

Keterangan gambar, Proses pencarian dan pertolongan korban longsor di Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap.

Artikel ini akan terus diperbarui.