Kesaksian masyarakat di daerah terisolir di Aceh Tengah – 'Stok sembako hanya dua sampai tiga hari lagi'

Seorang warga korban banjir berada di samping rumahnya yang hancur setelah diterjang banjir bandang di Desa Sungai Liput, Kecamatan Kejuruan, Aceh Tamiang, Aceh, Selasa (02/12).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

Keterangan gambar, Seorang warga korban banjir berada di samping rumahnya yang hancur setelah diterjang banjir bandang di Desa Sungai Liput, Kecamatan Kejuruan, Aceh Tamiang, Aceh, Selasa (02/12).
Waktu membaca: 9 menit

Enam hari sejak banjir melanda sejumlah wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada 26 November 2025, Kabupaten Aceh Tengah masih terisolir dari daerah-daerah sekitarnya.

Terputusnya akses-akses jalan ke wilayah yang membentang di tengah provinsi Aceh itu membuat stok bahan pokok kian menipis.

Di tengah kepelikan ini, beberapa penjarahan terjadi di Aceh Tengah. Keributan juga sempat terjadi antarwarga yang tengah antre membeli beras di pasar di Kota Takengon.

Wartawan Iwan Bahagia yang melaporkan untuk BBC News Indonesia mengatakan, empat gelombang bantuan sudah disalurkan bagi korban bencana di Aceh Tengah, melalui Bandara Rembele yang berlokasi di kabupaten tetangga, Bener Meriah.

Salah satunya berupa 13 ton beras yang disalurkan Menteri Koordinator Bidang Infratruktur dan Pembagunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, pada Senin (1/12).

Iwan, salah seorang warga Aceh Tengah, khawatir situasi akan memburuk "jika 2-3 hari tidak ada kepastian dari pemerintah soal ketersediaan pangan."

"Stok sembako terbatas, hanya bertahan 2-3 hari lagi," ujar Iwan.

Berikut kesaksian warga Aceh Tengah, enam hari usai bencana banjir dan longsor.

Sejumlah warga korban banjir mengevakuasikan diri ke tempat keluarganya melintasi jalan lintas Nasional Medan-Banda Aceh yang terendam banjir di Desa Sungai Liput, Kecamatan Kejuruan, Aceh Tamiang, Aceh, Selasa (02/12).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

Keterangan gambar, Sejumlah warga korban banjir mengevakuasikan diri ke tempat keluarganya melintasi jalan lintas Nasional Medan-Banda Aceh yang terendam banjir di Desa Sungai Liput, Kecamatan Kejuruan, Aceh Tamiang, Aceh, Selasa (02/12).

Terisolir akibat jalan dan internet terputus

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Sejak banjir terjadi 26 November, Aceh Tengah dan kabupaten tetangganya, Bener Meriah, terisolasi.

Wartawan Iwan Bahagia yang melaporkan dari Takengon, Aceh Tengah, mengatakan kedua kabupaten itu baru terhubung pada Selasa (02/12)—kendati belum dapat dilewati sepenuhnya.

Satu-satunya akses menuju kedua daerah tersebut adalah melalui Bandara Rembele yang berlokasi di Bener Meriah.

Hingga Selasa (02/12), sebanyak lima jalan nasional di Aceh Tengah dilaporkan terputus akibat banjir dan tanah longsor.

Ada pula enam ruas jalan provinsi dan 59 ruas jalan kabupaten yang putus.

Sebanyak 22 orang dilaporkan tewas akibat gelombang bencana itu dan 23 lainnya masih hilang.

Banjir dan tanah longsor merusak 2.218 rumah dan memaksa 37.129 warga mengungsi.

Laporan Iwan bahagia ini diamini salah seorang warga Aceh Tengah yang bernama Iwan.

Iwan menyebut transportasi "terputus total". Adapun jaringan seluler dan internet di kabupatennya timbul-tenggelam.

Sejumlah mahasiswa dan warga bersiap menaiki pesawat Cassa U-6211 sebelum berangkat meninggalkan Bandara Rembele, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, Selasa (2/12/2025).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Ampelsa

Keterangan gambar, Sejumlah mahasiswa dan warga bersiap menaiki pesawat Cassa U-6211 sebelum berangkat meninggalkan Bandara Rembele, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, Selasa (02/12).

Yudha Arifa, warga Banda Aceh yang memiliki keluarga serta saudara di Aceh Tengah dan Bener Meriah menambahkan, ia kesulitan menghubungi mereka.

Kedua orang tua dan dua saudara Yudha bermukim di kaki Gunung Burni Telong yang menjulang di perbatasan Bener Meriah dan Aceh Tengah.

Saudara ibu dan neneknya menetap tak jauh dari Danau Takengon yang terdampak longsor parah.

Ia juga memiliki saudara di Lampahan, Bener Meriah.

Bagaimana kondisi mereka?
Yudha mengaku, komunikasi terakhir terjadi pada 30 November 2025, lewat saudaranya yang bermukim di Lampahan.

Saat itu, ia menerima kabar bahwa kedua orang tua dan dua saudaranya di kaki Gunung Burni Telong dalam kondisi selamat, namun kondisi nenek dan saudara ibunya di Takengon belum dipastikan.

Warga menggunakan kabel baja yang untuk menyeberangi Sungai Juli pascaputusnya Jembatan Juli di jalan lintas Bireuen - Takengon, Aceh, Selasa (2/12/2025).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Irwansyah Putra

Keterangan gambar, Warga menggunakan kabel baja yang untuk menyeberangi Sungai Juli pascaputusnya Jembatan Juli di jalan lintas Bireuen - Takengon, Aceh, Selasa (02/12).

"Belum tahu [kondisi nenek]. Gelisah juga, karena di sana rumah habis," ujar Yudha kepada BBC News Indonesia, Selasa (02/12).

Yudha mengisahkan situasi itu dengan suara bergetar.

Ia mengaku kebingungan lantaran tidak bisa mengecek langsung kondisi sanak saudara akibat akses jalan terputus.

Informasi yang berseliweran di media sosial pun malah membuat Yudha kian panik.

"Beras enggak ada, sembako [sembilan bahan pokok] kosong. Saya khawatir keluarga di sana," kata Yudha.

Berita terkait:

Kesulitan akses di Aceh Tengah pun diakui Triadi RIzky Rifananda, warga Banda Aceh yang tengah bertugas di Aceh Tengah saat bencana terjadi.

Sesaat setelah banjir terjadi, ia bersama sejumlah rekan lain langsung berupaya meninggalkan Aceh Tengah, tapi teradang setidaknya 20 titik longsor.

Salah satu titik terparah ada di Buntul, di mana salah satu titik digambarkannya "desa di atas gunung turun ke bawah. Udah hilang banyak."

Saat di Buntul, ia juga mengaku sempat diminta warga untuk berhati-hati.

Andaikata menemukan jenazah, ia mengaku warga meninggalkan pesan "biarin aja."

"Melakukan itu [evakuasi], nanti kami yang tanggung jawab," ujar Triadi mengulang pesan warga kepadanya dan rombongan.

Seorang warga korban banjir mengendong anaknya untuk dievakuasi ke tempat keluarganya melintasi jalan lintas Nasional Medan-Banda Aceh yang terendam banjir di Desa Sungai Liput, Kecamatan Kejuruan, Aceh Tamiang, Aceh, Selasa (2/12/2025).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

Keterangan gambar, Seorang warga korban banjir mengendong anaknya untuk dievakuasi ke tempat keluarganya melintasi jalan lintas Nasional Medan-Banda Aceh yang terendam banjir di Desa Sungai Liput, Kecamatan Kejuruan, Aceh Tamiang, Aceh, Selasa (02/12).

Triadi dan rombongan meneruskan perjalanan.

Terkadang, Triadi dan rombongan berjalan kaki menembus lumpur dan banjir. Saat jalanan bisa dilewati kendaraan, ia dan rombongan menyewa ojek.

"Harus turun ke sungai, memanjat kebun kopi, dan lumpur selutut," lanjutnya.

Total, Triadi mengaku berjalan kaki selama enam jam—diselingi ojek dan kendaraan lain—sampai akhirnya mampu kembali ke Banda Aceh.

Jembatan dan jalan banyak terputus di Aceh akibat banjir 26 November lalu.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

Keterangan gambar, Foto udara Jembatan Beutong Ateuh Banggalang yang putus diterjang banjir bandang di Nagan Raya, Aceh, Minggu (30/11).

BBM langka, harga melonjak

Tak cuma bahan makanan, bahan bakar minyak pun menipis di Aceh Tengah akibat akses yang masih belum pulih.

Wartawan Iwan Bahagia yang melaporkan dari Aceh Tengah menyebut kondisi BBM semakin langka, dengan antrean panjang hingga berkilometer.

Hal ini diamini salah seorang anggota polisi yang bertugas di Takengon, Aceh Tengah, yang meminta diidentifikasi sebagai Saka.

Triadi Rizky Rifananda, warga Banda Aceh yang dapat meninggalkan Aceh Tengah setelah berjalan selama sekitar enam jam.

Sumber gambar, Triadi Rizky Rifananda

Keterangan gambar, Triadi Rizky Rifananda, warga Banda Aceh yang dapat meninggalkan Aceh Tengah setelah berjalan selama sekitar enam jam.

Dari tiga stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kota Takengon, ia menyebut hanya satu stasiun yang masih memiliki stok bahan bakar.

Itu pun, terang Saka, diwarnai antrean panjang hingga sekitar lima kilometer.

"Tadi juga sempat ada yang mengamuk karena antrean," ujar Saka kepada BBC News Indonesia.

Masalah kian pelik karena harga BBM yang dijual eceran di kedai-kedai yang berlokasi di pinggir jalan melonjak berkali-kali lipat.

"Kedai-kedai kecil bisa Rp45.000-Rp50.000. Kalau di SPBU Pertamina harga normal," ujar Saka.

Relawan membantu mengangkat bantuan untuk korban bencana di Banda Aceh pada 1 Desember 2025.

Sumber gambar, AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Relawan membantu mengangkat bantuan untuk korban bencana di Banda Aceh pada 1 Desember 2025.

Stok bahan makanan menipis

Terputusnya jalur darat dan menipisnya stok BBM di Aceh Tengah membuat distribusi bahan pangan terhalang.

Alhasil, stok bahan makanan semakin menipis.

Wartawan Iwan Bahagia melaporkan sempat terjadi keributan antarwarga di salah satu warung bahan pokok pada Selasa (2/12) siang, ketika mereka berebut stok beras.

Akibat stok beras yang menipis, setiap orang hanya diperkenankan membeli dua gelas beras.

Warga Aceh Tengah bernama Iwan menambahkan, stok bahan makanan memang kian menipis memasuki hari keenam pasca bencana.

Iwan mengaku, ia hanya memiliki sisa beras sebanyak lima kilogram untuk mencukupi istri dan ketiga anaknya.

"Sembako sudah sulit di pasaran, [mengandalkan] stok masing-masing di rumah saja," ujar Iwan.

Banjir di Pidie, Aceh, pada 30 November 2025.

Sumber gambar, AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Seorang perempuan berjalan menyusuri sisa jalanan yang penuh lumpur sisa banjir di Pidie, Aceh, pada 30 November 2025.

Baca juga:

Iwan pun meminta pemerintah untuk segera menuntaskan beragam masalah kelangkaan ini.

"Yang dikhawatirkan, jika 2-3 hari tidak ada kepastian dari pemerintah soal ketersedian pangan, keadaan semakin parah," ujar Iwan.

"Warga sudah dihantui bencana kelaparan."

Mengingat belum ada kepastian ketersediaan bahan pangan, Iwan mengaku telah menghemat konsumsi keluarganya.

Dari semula makan sebanyak tiga kali sehari, ia dan keempat anggota keluarga kini hanya makan dua kali sehari.

"Biasa [porsi] agak banyak, sekarang mulai dibatasi [porsi]," kata Iwan, seraya menyebut bahwa perubahan kebiasaan ini sudah dilakukannya beberapa hari terakhir.

"Dengan harapan bisa bertahan dengan stok yang ada ini lebih lama. Penghematan harus dilakukan.

Beragam kondisi ini kemudian memantik kemarahan warga Aceh Tengah.

Sekelompok warga mendatangi kantor Bupati Aceh Tengah pada Selasa (02/12) siang, mendesak sang kepala daerah untuk segera menuntaskan beragam masalah tersebut.

garis

Cerita warga berjalan kaki menandu ibu hamil tua

Banjir dan longsor di Kabupaten Aceh Tengah membuat sebagian warganya kesulitan untuk mengakses ke fasilitas kesehatan.

Dua orang warga di Kampung Kenawat yang tengah hamil tua, misalnya, harus dibantu oleh warga lainnya untuk menuju rumah sakit terdekat.

Letak desa itu di pinggir Danau Lut Air Tawar. Mereka tinggal di lokasi pengungsian.

Dalam hampir bersamaan keduanya mengalami kontraksi, tetapi akses jalan menuju rumah sakit terhalang banjir dan longsoran.

Warga setempat kemudian berinisiatif membuat tandu.

Mereka kemudian menandu dua perempuan itu dengan berjalan kaki sejauh 10km untuk menuju rumah sakit terdekat.

Sekitar 50-an warga secara bergantian menandu dua perempuan itu.

Foto udara dampak kerusakan pascabanjir bandang di Desa Rigeb, Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo lues, Aceh, Selasa (02/12).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Taufik Hidayat

Keterangan gambar, Foto udara dampak kerusakan pascabanjir bandang di Desa Rigeb, Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo lues, Aceh, Selasa (02/12).

Mereka menerobos persawahan guna menuju kampung sebelah, Kampung Pedemun.

Jaraknya sekitar tiga kilometer dari kampung Kenawat.

"Kami membuat tandu dari bambu dengan kain sarung. Kami bergantian menandu mereka berdua. Yang satu namanya Bengi, satu lagi saya lupa," kata Ijal, salah seorang warga yang ikut serta dalam perjalanan itu, Selasa (02/12).

Ijal mengaku hanya mengantar hingga Kampung Pedemun.

Selanjutnya warga menaiki perahu sampan menuju boom, kawasan Takengon Timur.

Mereka lantas menyeberangi danau dengan menggunakan sampan milik nelayan setempat.

"Baru kemudian mereka diantar ke rumah sakit dengan meminjam mobil warga setempat," ungkap Ijal kepada wartawan Iwan Bahagia yang melaporkan untuk BBC News Indonesia..

garis

Penjarahan minimarket

Di tengah beragam keterbatasan ini, penjarahan terhadap beberapa minimarket sempat terjadi di Aceh Tengah, salah satunya pada 1 November 2025, tatkala sebuah minimarket di Kampung Kutenireje, Kecamatan Lut Tawar, dijarah sekelompok orang.

Ada pula upaya penjarahan minimarket lain yang terletak tak jauh dari RSUD Datu Beru, Takengon, pada malam harinya.

Sejumlah polisi mengangkut bantuan untuk korban bencana di Aceh pada 2 Desember 2025.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Auliya Rahman

Keterangan gambar, Sejumlah polisi mengangkut bantuan untuk korban bencana di Aceh pada 2 Desember 2025.

Akibat stok bahan makanan yang menipis, harga bahan pangan yang tersisa di pasaran kini melambung tinggi

Saka, salah seorang polisi yang berdinas di Aceh Tengah, menyebut harga sekarung beras berukuran 10kg kini dapat mencapai Rp500.000.

Meski tak ingin rangkaian penjarahan itu terjadi, Saka mengaku dapat memahami keresahan masyarakat Aceh Tengah.

"BBM, beras, mi instan, dan bahan pokok sudah semakin sulit," kata Saka kepada wartawan Arie Firdaus yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Selasa (02/12).

Ia pun mengaku kini dalam dilema.

Ketika rumahnya turut terendam banjir hingga sekitar satu meter dan jaringan komunikasi terputus sehingga ia tak bisa menghubungi keluarga yang bermukim di Banda Aceh, ia tetap bertugas.

"Posisi dipaksa dinas, [tapi] keluarga di rumah tak ter-backup," ujarnya.

Perbincangan dengan BBC News Indonesia soal situasi di Aceh Tengah bahkan terpaksa terpotong karena ia diinstruksikan mengamankan kantor bupati yang didemo warga Aceh Tengah siang itu.

"Sudah dulu, ada peristiwa," pungkasnya seraya menutup telepon.

Wartawan Iwan Bahagia di Aceh Tengah ikut berkontribusi dalam liputan ini.