Foto-foto sebelum dan sesudah banjir melanda Aceh, Sumbar, dan Sumut

Warga mengarungi banjir setinggi leher orang dewasa di Kuala Simpang, Aceh Tamiang, Aceh, 30 November 2025.

Sumber gambar, IWAN GUNADI BATUBARA / AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Warga mengarungi banjir setinggi leher orang dewasa di Kuala Simpang, Aceh Tamiang, Aceh, 30 November 2025.
    • Penulis, Aghnia Adzkia
    • Peranan, Tim Jurnalisme Visual BBC Asia
  • Waktu membaca: 4 menit

Jumlah korban meninggal dunia setelah banjir dan longsor melanda sejumlah daerah di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat terus bertambah.

Pada Jumat (05/12) siang, setidaknya 846 orang meninggal, orang hilang sebanyak 547 jiwa, dan korban luka mencapai 2.700 jiwa.

Foto sebelum dan sesudah kejadian banjir di bawah ini menunjukkan skala kerusakan dan parahnya bencana di tiga provinsi tersebut.

Salah satu area terdampak dengan jumlah korban jiwa paling banyak yakni Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Per Senin (01/12), sebanyak 118 orang meninggal dunia, sementara 72 orang lainnya hilang, dan 6.300 orang mengungsi.

Foto udara di sekitar Masjid Suhada di Nagari Salareh Aia Timur, Palembayan, Kabupaten Agam berikut ini menunjukkan rumah-rumah dan jalanan hancur tersapu air.

Area ini sebelumnya terisolir dan susah dijangkau oleh relawan. Pada 1 Desember 2025, para relawan sudah bisa mengevakuasi korban.

Foto udara di sekitar Masjid Suhada berwarna biru di bawah ini menunjukkan rumah-rumah dan jalanan hancur tersapu air.

Sungai Batang Anai yang membentang di Kota Padang Panjang dan Kota Padang meluap akibat hujan deras, seperti terlihat pada foto satelit di bawah ini.

Sebanyak 20 ribu orang dari dua kota tersebut harus mengungsi. Sementara itu, setidaknya 33 orang meninggal dan 32 lainnya masih hilang, per Senin (01/12).

Jembatan Kembar dan sebuah gapura di Padang Panjang tampak hancur lebur serta terendam lumpur. Akses jalan ke ibu kota Sumatra Barat pun terputus.

Jembatan Kembar dan sebuah gapura selamat jalan yang menghubungkan kota dengan berpenduduk 63 ribu orang ini tampak hancur lebur serta terendam lumpur.

Di Sumatra Utara, area terdampak paling parah yakni Kabupaten Tapanuli Tengah, dengan jumlah orang meninggal setidaknya 86 dan orang hilang sebanyak 104, per Senin (01/12). Sementara itu, sebanyak 2.100 orang kehilangan rumah dan harus mengungsi.

Citra satelit di bawah memperlihatkan banjir di jalan lintas kabupaten, Jalan Sibolga-Barus, dan area di sekitarnya di Kecamatan Tapian Nauli, Kabupaten Tapanuli Tengah.

Kota Sibolga menjadi kota dengan jumlah korban jiwa tertinggi ketiga di provinsi Sumatra Utara, sebanyak 50 orang meregang nyawa, per Senin (01/12). Selain itu, delapan orang masih hilang dan 4.500 orang mengungsi.

Foto udara di bawah ini menunjukkan kawasan banjir dan longsor di sekitar Jalan Murai, Kecamatan Sibolga Selatan.

Foto udara menunjukkan kawasan yang longsor di sekitar Jalan Murai, Sibolga Selatan.

Di Aceh, pengungsi membeludak hinggak lebih dari 470 ribu atau 80 persen dari total pengungsi banjir Sumatra. Sebanyak 156 orang meninggal per Senin lalu.

Gubernur Aceh Muzakir Manaf menyebutnya sebagai "tsunami kedua".

Dua kabupaten dengan jumlah pengungsi terbanyak yakni Aceh Utara dan Aceh Timur, ada 212 ribu orang.

Di kabupaten yang sama, 34 orang meninggal dan 52 orang masih dinyatakan hilang.

Foto di bawah menunjukkan banjir di pesisir pantai yang merendam empat kecamatan di Aceh Utara yakni Seunuddon, Baktiya Barat, Baktiya, Tanah Jambo Aye, dan dua kecamatan di Aceh Timur yaitu Madat dan Simpang Ulim.

Di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, sebanyak 24 ribu orang mengungsi, 17 orang meninggal dan 18 hilang, per Senin (01/12).

Citra satelit di bawah menunjukkan dua kecamatan di kabupaten tersebut, Meureudu and Meurah Dua, terendam banjir.

Selain itu, jembatan di jalan lintas provinsi di Kecamatan Meureudu yang menghubungkan Aceh dan Sumatra Utara terputus. Akibatnya, akses jalan darat pun tak dapat dilalui.

Jembatan di jalan lintas provinsi di Kecamatan Meureudu yang menghubungkan Aceh dan Sumatra Utara terputus. Akibatnya, akses jalan darat pun tak dapat dilalui.

Mengapa banjir terjadi?

Salah satu pemicu banjir yakni hujan ekstrem yang terus-menerus terjadi sejak 23 hingga 25 November 2025. Hujan ini dipengaruhi oleh siklon langka, Siklon Senyar, yang terjadi di sekitar Selat Malaka, menurut peneliti dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, kepada BBC News Indonesia.

Gambar di bawah menunjukkan curah hujan di atas intensitas 100 mm per hari terjadi di sebagian wilayah Sumatra Barat pada 23 November 2025.

Keesokan harinya, hujan lebat masih melanda sebagian wilayah tersebut dan kabupaten lain di Sumatra Utara di antaranya Sibolga, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan.

Pada 25 November 2025, hanya dalam sehari, hujan ekstrem - lebih dari tiga kali kekuatan hujan di Sumatera Utara dan Sumatera Barat - terjadi di Aceh. Hampir seluruh Aceh mengalami hujan deras, mulai dari Kabupaten Gayo, Kabupaten Pidie Jaya, Kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Aceh Barat, dan lainnya.

Peta curah hujan di tiga provinsi pada 23 November hingga 25 November 2025.

Selain pengaruh iklim, menurut Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), bencana ini diperparah dengan berkurangnya tutupan hutan yang dialihfungsikan menjadi kebun industri ekstraktif seperti sawit dan serat kayu.

Data dari Nusantara Atlas menunjukkan, deforestasi terjadi di tiga provinsi tersebut. Pada 2024, jumlah kebun kelapa sawit yakni 1,5 juta hektare atau 57 kali luas Kota Medan, sementara kebun serat kayu yakni seluas lima kali Kota Medan atau 150 ribu hektare.

Selama dua dekade, angka ini meningkat 1,4 kali lipat untuk kelapa sawit dan hampir dua kali lipat untuk hutan serat kayu.

Lebih jauh, deforestasi akibat pembukaan lahan menjadi tambang juga dituding memperparah banjir yang terjadi di tiga provinsi tersebut.

Menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), terdapat 100 ribu tambang mineral dan batubara yang dimiliki oleh 54 perusahaan di Aceh.

Sebanyak 142 ribu hektare izin usaha tambang dipegang oleh 164 perusahaan, koperasi, dan perseorangan di Sumatra Utara. Sementara itu, di Sumatra Barat tercatat 18.163 hektare tambang yang dimiliki lebih dari 200 perusahaan, koperasi, dan lainnya.

Grafik oleh: Arvin Supriyadi