Kisah hidup dan mati dari desa di Pidie Jaya, Aceh, yang terkubur lumpur

Banjir sumatra, aceh, pidie jaya

Sumber gambar, Rino Abonita

Keterangan gambar, Desa Blang Cut, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, terendam lumpur usai banjir surut.
Waktu membaca: 7 menit

Seorang warga berkisah bagaimana dia menghabiskan malam dramatis: menyelamatkan ibunya dari banjir, bekerja sama dengan warga mengevakuasi anak-anak, dan melihat sejumlah warga meninggal terhempas arus banjir.

Lebih kurang terdapat lima cabang aliran sungai baru yang memotong jalanan di Desa Blang Cut, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya.

Lumpur yang dibawa banjir juga membenamkan puluhan rumah warga di desa tersebut. Desa itu kini menjadi desa mati yang tidak layak huni.

Agar Desa Blang Cut dapat dihuni kembali, menurut warga bernama Ari Fanda (30), cabang-cabang aliran sungai baru itu harus ditutup kembali.

Dia berkata, dengan cara itu itulah pengerukan lumpur yang membenam rumah-rumah dapat dilakukan.

Ari Fanda adalah penyintas banjir. Pada 26 November malam, Ari menggendong ibunya, berjibaku melawan arus air yang meluap dari Sungai Meureudu.

Banjir sumatra, aceh, pidie jaya

Sumber gambar, Rino Abonita

Keterangan gambar, Sebuah rumah di Pidie Jaya terendam lumpur usai banjir surut.

"Air saat itu dalamnya sampai leher. Saya berjalan sambil menggendong ibu sejauh sekitar 50 meter, menuju rumah salah seorang warga lainnya yang rumahnya merupakan rumah panggung," kata Ari kepada Rino Abonita, wartawan yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Selasa (03/12).

Pada malam itu, Ari yang mulai dilanda gelisah memutuskan untuk mengecek debit air di sungai. Dia melihat tinggi permukaan sungai tidak lazim—mulai naik secara perlahan.

"Saya bilang ke ketua pemuda kami: sepertinya air bertambah terus. Saya harus pulang untuk membawa ibu saya ke tempat aman," tutur Ari.

Sesampai di rumah, air sudah mencapai pinggangnya. Ari berkata kepada ibunya bahwa mereka harus pergi ke tempat yang jauh lebih aman untuk menyelamatkan diri.

Dini hari itu, kata Ari, air dalam sekejap mata air merangsek masuk ke dalam rumahnya yang lantainya ditinggikan, sebagai mitigasi menghadapi potensi banjir seperti malam itu.

Banjir sumatra, aceh, pidie jaya

Sumber gambar, Rino Abonita

Keterangan gambar, Potret permukiman di Pidie Jaya usai diterjang banjir.

Namun mitigasi itu ternyata sia-sia. Ari lantas bergegas memikul ibunya yang berusia 65 tahun, Syariani. Keduanya mengarungi banjir, melewati pintu belakang rumah, saat ketinggian air sudah mencapai lehernya.

"Saya sempat menelepon seseorang, agar dihubungkan dengan pihak SAR, tapi mereka bilang tidak bisa datang saat itu," kata Ari.

"Karena itu saya akhirnya memutuskan menggendong ibu. Waktu itu jam 2 pagi," tuturnya.

Ari mengevakuasi ibunya ke rumah tetangga yang bertingkat dua, tak terlalu jauh dari rumahnya.

Ari dan ibunya, bersama beberapa warga desa lainnya, bertahan di rumah tersebut.

Banjir sumatra, aceh, pidie jaya

Sumber gambar, Rino Abonita

Keterangan gambar, Permukiman di Desa Blang Cut, Pidie Jaya, berantakan diterjang banjir dan lumpur.

Pagi harinya, Desa Blang Cut sudah tidak berbentuknya. Air terlihat di mana-mana, sementara orang-orang berteriak, saling bersahut-sahutan meminta pertolongan.

Ari dan beberapa orang tetangganya berusaha menolong dua anak yang bertahan di sebuah tiang beton di tengah derasnya aliran air.

Ari berkata, dia bersusah payah berenang mencapai dua anak itu. Dia lantas berteriak agar tetangganya melempar tali untuk mengikat dua anak tersebut.

Seorang warga ikut terjun ke air bersama Ari. Secepat mungkin, kata Ari, mereka mengikat dua anak itu, lalu menarik mereka secara perlahan dari tengah arus air yang deras.

Tali tambang yang digunakan untuk menyelamatkan dua anak itu disebut Ari sempat putus. Warga yang menyaksikan upaya penyelamatan dramatis tersebut seketika panik.

Banjir sumatra, aceh, pidie jaya

Sumber gambar, Rino Abonita

Keterangan gambar, Sebuah rumah di Desa Blang Cut, Pidie Jaya.

"Namun orang yang berusaha menyelamatkan dua anak tadi akhirnya berhasil meraih tali itu," kata Ari.

Dua anak tersebut kemudian juga dievakuasi ke rumah bertingkat, yang menjadi lokasi pengungsian sementara.

Jelang tengah hari, Ari menyebut sepasang suami-istri terlihat berusaha menyelamatkan diri dari terjangan air dengan cara bertahan pada sebuah kulkas yang terseret arus.

Ari berkata, beberapa tetangganya hanya berhasil menyelamatkan sang istri. Sementara sang suaminya, menurut Ari, terbawa arus ke arah desa tetangga, yakni Desa Buangan.

Sore harinya, Ari dan warga lainnya bersepakat untuk mencari bantuan ke desa lain.

Langkah itu mereka ambil, kata Ari, karena mereka mulai merasa lapar. Mereka juga penasaran dengan kondisi di desa-desa lain.

"Saat itu yang berangkat saya, Apri dan Fadlon. Saya bilang 'bagaimana pun caranya kita harus cari makanan'," ujar Ari.

Banjir sumatra, aceh, pidie jaya

Sumber gambar, Rino Abonita

Keterangan gambar, Sebuah desa di Pidie Jaya dipotret saat masih tergenang banjir, awal pekan ini.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Pada 27 November itu, luapan Desa Blang Cut yang dialiri oleh derasnya air berasal dari luapan Sungai Meureudu tidak menunjukan tanda-tanda mereda. Air terus bergerak dengan kecepatan tinggi membawa berbagai material.

Ari berkata, dia dan sejumlah rekannya memutuskan untuk berenang mengarungi titik yang tidak terlalu deras.

Ibunya dan beberapa warga berpesan kepada rombongan kecil ini agar mereka pulang sebelum magrib. Alasannya, kata Ari, banjir membuat segalanya terlihat penuh risiko .

"Ketinggian air saat itu masih belum berubah. Air belum turun. Namun, kami mau tidak mau harus mencoba," ucapnya.

Saat berusaha berenang mengarungi banjir, Ari dan dua warga yang ikut bersamanya sempat terjebak arus. Mereka harus berbalik arah, mencari titik yang jauh lebih aman.

Ari dan rombongan kecilnya sampai ke sebuah pesantren di Desa Dayah Kruet, setelah berenang sekitar 150 meter. Di sana mereka disambut keluarga penghuni pesantren yang telah kosong ditinggal para santrinya.

"Kami membersihkan diri sebentar dan sempat diberi makan oleh mereka," kata Ari.

Sekitar jam 10 malam, Ari berkata dia mendengar sayup-sayup suara orang meminta tolong. Dia mengklaim melihat seorang perempuan "sedang bertarung antara hidup dan mati".

Perempuan tersebut, kata Ari, bertahan dengan memeluk sebuah batang kelapa. Ia berusaha meminta tolong dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki.

Banjir sumatra, aceh, pidie jaya

Sumber gambar, Rino Abonita

"Kalau ada orang di situ, tolong saya, kata dia. Saya sudah tidak sanggup lagi. Tenaga saya sudah habis," kata Ari.

Namun Ari dan rekan-rekannya memutuskan untuk berjibaku menyelamatkan perempuan dia perkirakan seusia ibunya. Perempuan tua itu, kata Ari, hanyut terbawa arus air dari Desa Meunasah Raya, Kecamatan Meurah Dua.

"Kayaknya ada empat jam lamanya ibu tersebut bertahan pada batang kelapa," kata Ari.

Ari, rekan-rekannya, dan warga yang berhasil menyelamatkan diri malam itu beristirahat di pesantren.

Keesokan paginya, mereka menyantap roti yang merupakan barang dagangan milik penghuni pesantren tersebut.

Banjir sumatra, aceh, pidie jaya

Sumber gambar, Rino Abonita

Selagi mereka makan, Ari bilang mereka melihat empat orang yang berusaha mengarungi banjir di dekat pesantren. Salah seorang di antaranya, kata dia, dalam kondisi hampir tidak mengenakan pakaian sama sekali.

"Keluarga ini juga berasal dari Meunasah Raya. Sebelumnya mereka sempat menyelamatkan diri di atas pohon mangga selama satu malam," ujarnya.

"Awalnya mereka berlima. Ada seorang anak lagi, tapi tidak berani turun. Saat ini dia sudah selamat," ucapnya.

Keluarga tersebut diarahkan menuju ke sebuah gubuk sebelum akhirnya diselamatkan oleh Ari dan rekan-rekannya.

Pagi itu juga, mereka bertemu keluarga lain yang berusaha berenang mengarungi arus air.

Banjir sumatra, aceh, pidie jaya

Sumber gambar, Rino Abonita

Menurut Ari, empat orang itu juga berasal dari desa yang sama dengannya, yakni Desa Blang Cut.

Keluarga tersebut terdiri dari seorang perempuan tua, menantu dan dua cucunya yang terlihat bertahan dengan sebuah tong plastik.

Namun perempuan tua itu, kata Ari, sebenarnya sudah tidak bernyawa lagi. Menantu perempuannya menggotong jenazahnya sembari mengarungi derasnya banjir.

"Sebelumnya mereka sempat bersama-sama selamat mengarungi banjir sebelum ibu mertuanya terbentur kayu," kata Ari.

Jenazah perempuan tersebut sempat disemayamkan selama satu malam. Keesokan harinya, Ari dan warga lain turun mengarungi banjir untuk meminta bantuan warga dari desa lain agar jenazah tersebut bisa segera dievakuasi ke tempat yang jauh lebih layak.

Dibantu sekitar 20-an orang, mereka saling membahu menarik jenazah yang ditempatkan ke atas papan kayu sejauh sekitar satu kilometer.

Ari berkata, jenazah itu dikubur seadanya di sebuah desa tetangga saat air mulai surut.

Ari akhirnya memutuskan untuk kembali ke Desa Blang Cut karena kondisi air tampak membaik. Namun, desanya saat ini dipenuhi oleh cabang-cabang sungai dengan aliran yang cenderung deras.

Sungai yang sebelumnya mengalir tenang di belakang rumah penduduk kini meluap, membentuk jalur baru akibat banjir.

Cabang-cabang sungai ini memotong jalan desa menuju ke kawasan yang sebelumnya merupakan areal persawahan.

Sebaliknya, aliran sungai-sungai lama yang sebelumnya mengalir di desa tersebut kini mengering ditutupi berbagai material, seperti dahan dan gelondongan kayu.

Sementara itu, lumpur kini mulai mengeras dengan ketinggian mencapai atap rumah. Kompleks pemakaman desa sendiri kini tenggelam dan tak tampak ujung nisannya.

"Kalau cabang-cabang air sungai baru itu tidak dinormalisasi atau ditimbun, desa kami menjadi desa yang tidak dapat dihuni lagi," ujarnya.

"Setelah sungai normal, baru lumpur di rumah kami bisa dikeruk atau dibersihkan. Mau tidak mau terpaksa pindah," ujar warga Blang Cut lainnya, Tengku Mustaqim.

Desa Blang Cut kini masih lumpuh. Ari mengaku belum mendapat bantuan apapun dari pemerintah. Ia berharap bantuan darurat dapat disalurkan.

"Kita amat butuh bantuan, seperti untuk makan dan air," ujar Ari.

Liputan ini disusun oleh wartawan di Aceh, Rino Abonita.