Penyintas banjir di Aceh Tengah dan Pidie Jaya rayakan Idulfitri dalam keprihatinan – 'Tolong jaga alam, jangan asal babat'

aceh, pidie jaya, banjir, idul fitri

Sumber gambar, Firdaus Yusuf

Keterangan gambar, Lindawati, 37 tahun, warga Desa Mancang, Kecamatan Meurah Dua, berpose di depan rumahnya di desa setempat yang telah lenyap disapu banjir bandang.
Waktu membaca: 8 menit

Dua keluarga penyintas banjir-longsor di Aceh Tengah dan Pidie Jaya berusaha memaknai Idulfitri dengan cara masing-masing. Ada yang mengaku makin menyadari pentingnya menjaga hutan, dan ada satu keluarga yang terus mengingatkan tanggung jawab negara dalam menangani bencana.

Ramdanu Martis, 60 tahun, ingat betul peristiwa banjir dan longsor yang menimbun rumah serta beberapa jenis usaha penginapan (homestay) yang dia bangun sejak 2019 di pinggiran Danau Lut Tawar, Aceh Tengah.

Martis adalah seorang pengusaha wisata yang memiliki usaha beberapa jenis jasa.

Dengan mata kepala sendiri, warga Kampung Dusun Pasir, Kampung Mendale, Kecamatan Kebayakan itu melihat langsung bagaimana material tanah dan kayu serta bebatuan meluluhlantakkan semuanya.

Bercampur dengan air, material dari gunung itu langsung mengarah ke badan jalan Takengon-Gayo Lues.

Bongkahan batu dan arus air menimpa rumah dan beberapa bangunan usaha Martis.

Tak hanya itu, empat unit mobil, satu unit mesin ukir, satu kapal speed boat dan satu unit beko, tertimbun longsor, tak bisa lagi digunakan.

"Saya sendiri saksi hidup pada saat itu, datang air bersama material dari gunung, kami mengevakuasi diri ke arah timur, kawasan Bintang," kata Martis kepada wartawan Iwan Bahagia yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Jumat (20/03).

"Sebenarnya hari Rabu itu enggak kena [banjir dan longsor], tapi pas malam Kamis, longsor kedua, itu rumah adat Gayo juga tertimbun," tambahnya.

Aceh Tengah, banjir sumatra, aceh, Idul Fitri

Sumber gambar, Iwan Bahagia

Keterangan gambar, Semenjak bencana menghancurkan rumahnya, Martis (foto atas) dan keluarga harus menumpang di rumah saudara-saudaranya.

Saat ditemui, Martis baru saja menyelesaikan salat Idulfitri di komplek Universitas Muhammadiyah Mahakarya Aceh (Ummah), Mampak, Kecamatan Kebayakan, Aceh Tengah.

Bapak tiga anak ini mengaku mengalami kerugian ekonomi yang disebutnya "tak terkira".

Namun di momen Idulfitri inilah Martis lalu memaknainya secara berbeda. Martis merasa perlu lebih mendekatkan diri pada Tuhan.

Dukungan keluarga besarnya juga membuatnya untuk bertahan lebih kuat.

aceh tengah, aceh, banjir sumatra, idul fitri

Sumber gambar, Iwan Bahagia

Keterangan gambar, Bercampur dengan air, material dari gunung itu langsung mengarah ke badan jalan Takengon-Gayo Lues dan menghancurkan rumah dan tempat usaha penginapan milik Martis.

Semenjak bencana yang menghancurkan rumahnya sekian bulan lalu, Martis dan keluarga harus menumpang di rumah saudara-saudaranya.

"Pertama saya ke rumah saudara saya yang di Mendale, lalu ke Lut Kala, kemudian di Ujung Temetas, baru ke Blang Kolak II," kenang Martis.

Baca juga:

Dia lalu menyontohkan uluran tangan saudara-saudaranya.

"Bahkan mereka bahu-membahu membantu mengeluarkan tanah-tanah yang menimbun bangunan rumah saya. Saudara, keponakan saya membantu, dan lain-lain. Walaupun belum selesai," ungkapnya.

"Tetapi itulah keindahan dalam bersaudara, tolong menolong," imbuhnya dengan nada bergetar.

Pada momen lebaran kali ini, Martis seperti berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap menjalin silaturahmi dengan keluarga besarnya.

Aceh tengah, aceh, banjir sumatra, idul fitri

Sumber gambar, ANTARA FOTO

Keterangan gambar, Warga membawa pasir dari sisa bencana banjir bandang untuk meratakan lapangan untuk digunakan salat Idul Fitri di Desa Agusen, Blangkejeren, Gayo Lues, Aceh, Jumat (20/03).

Soal respons dan bantuan dari pemerintah, dia sudah tidak berharap banyak.

Sebab, meskipun petaka merusak rumah dan bangunan usahanya, bantuan yang dia terima tidak seperti yang dia bayangkan.

"Maaf, [bantuan] dari pemerintah tidak sampai 10 kilogram beras," katanya, lirih.

Sebaliknya, dia justru menerima bantuan dari para relawan.

"Alhamdulillah tidak miskin saya, bantuan terus berdatangan. Tidak saya duga," lanjut dia.

Baca juga:

Diakuinya lebaran kali ini berbeda dengan lebaran-lebaran sebelumnya. Tidak ada wisatawan lagi yang menginap di homestay miliknya yang hancur.

Namun Martis merasa bersyukur bahwa lebaran kali ini, walau dipenuhi keprihatinan, justru membuat hubungan keluarga besarnya makin dekat dan akrab.

"Alhamdulillah didikan ayah dan ibu saya luar biasa, membuat kekompakan kami bertambah," ungkapnya.

aceh tengah, banjir, idul fitri

Sumber gambar, Iwan Bahagia

Keterangan gambar, Martis mengaku mengalami kerugian ekonomi yang disebutnya "tak terkira". Namun saat Idul Fitri dia merasa Tuhan adalah tempat meminta pertolongan ketika bencana menghancurkan impian-impian dunianya. (Foto atas: Suasana salat Idul Fitri di komplek Universitas Muhammadiyah Mahakarya Aceh (Ummah), Mampak, Kecamatan Kebayakan, Aceh Tengah).

Di sisi lain, Martis mengaku banjir dan longsor telah membuatnya lebih menyadari betapa pentingnya untuk memahami isu lingkungan.

Setidaknya dia sekarang harus berpikir keras bagaimana mencegah agar bencana itu tak terulang.

"Nanti kita siapkan lanskap untuk membuat aliran air sungai dari gunung, ini menambah ilmu kita," ujarnya.

Dia lalu mengimbau agar warga di Aceh Tengah lebih peduli terhadap isu lingkungan, termasuk tidak merusak hutan.

"Siapa kita, siapa aku, kita harus pikirkan. Ceramah Idul Fitri itu tadi menyebut, alam adalah tempat kita berpijak. Jadi tolonglah jaga alam, jangan asal babat. Karena alam yang menghidupi kita," tandas Martis.

Penantian panjang Lindawati mendapatkan hunian sementara

Banjir bandang pada akhir November 2025 lalu, yang ikut membawa kayu-kayu gelondongan, menghantam dan menyapu rumah berkonstruksi semi permanen yang ditempati Lindawati (37 tahun), suaminya, Yusrizal (44 tahun) dan tiga anak mereka.

Lindawati dan keluarganya tinggal di sudut Desa Mancang, Kecamatan Meurah Dua, Pidie Jaya, Aceh.

Mereka meringkuk di atas loteng pada hari pertama banjir bandang menerjang pada Selasa, 25 November 2025 sekitar pukul 01.30 dini hari.

Lalu keesokan harinya, Rabu, 26 November 2025 malam, rumah mereka hanyut setelah dihantam kayu dan terseret arus deras banjir bandang susulan.

Pidie Jaya, Aceh, banjir, Idul Fitri

Sumber gambar, Firdaus Yusuf

Keterangan gambar, Lindawati dan suaminya, Yusrizal, mengontrak rumah panggung bantuan tipe 36 yang memiliki satu kamar di Desa Nangrhoe Barat, Kecamatan Ulim, Pidie Jaya, Aceh, sejak 16 Desember 2025.

"Ketika rumah kami sudah miring, kami merangkak dari loteng rumah ke atap rumah ibu saya," ujar Lindawati, Kamis, 19 Maret 2026.

"Selama dua hari tiga malam kami terperangkap di loteng rumah tanpa ada makanan dan air."

Baca juga:

Lebih dari satu pekan setelah banjir, rumah dan pekarangan seluas 7 x 12 meter itu menjadi badan sungai—alur sungai baru.

Kini, yang tersisa dari rumah yang berukuran 7 x 10 meter dan memiliki dua kamar di Desa Mancang, Kecamatan Meurah Dua, Pidie Jaya, itu, hanyalah pondasi dan lantai.

Barang-barang di dalam rumah itu, seperti dua sepeda motor, 10 karung padi seberat 400 kilogram, uang tunai senilai Rp 1 juta, serta dokumen kependudukan, juga lenyap tak berbekas.

"Padi itu belum sempat kami giling menjadi beras untuk kami makan," kata Lindawati.

Pidie Jaya, Aceh, banjir, Idul Fitri

Sumber gambar, Firdaus Yusuf

Keterangan gambar, Lindawati, 37 tahun; suaminya, Yusrizal, 44 tahun, dan dua anak mereka—putri Aqila (9 tahun) dan Raizatul Nafiza (3,5 tahun)— berbuka puasa pada Kamis, 19 Maret 2026.

Sebelum banjir bandang menerjang Pidie Jaya, Lindawati sehari-hari bekerja sebagai buruh tani.

Ia menerima upah sebagai buruh tanam, penyiang gulma, dan pengangkut padi setiap musim tanam dan musim panen.

"Padi-padi yang telah hanyut itu adalah upah kerja saya di sawah orang," sebut Linda.

Warga menyeberangi Sungai Peusangan menggunakan kereta gantung kabel baja di Ulee Jalan, Peusangan Selatan, Bireuen, Aceh, Kamis (19/03).

Sumber gambar, ANTARA FOTO

Keterangan gambar, Warga menyeberangi Sungai Peusangan menggunakan kereta gantung kabel baja di Ulee Jalan, Peusangan Selatan, Bireuen, Aceh, Kamis (19/03). Kereta gantung dipakai untuk menyeberangi sungai pascaputusnya jembatan permanen akibat banjir bandang akhir November 2025.

Namun, kini ia juga tak bisa lagi melakoni pekerjaan sebagai buruh tani karena ratusan hektare sawah di Desa Beuringen, Dayah Kruet, Pante Beureune, Buangan, dan Lueng Bimba, Kecamatan Meurah Dua, Pidie Jaya, masih tertimbun lumpur banjir bandang.

Banjir bandang juga telah melenyapkan peralatan kerjanya sebagai pengrajin emping melinjo.

"Palu besi, alas kayu, dan wajan untuk membuat emping melinjo telah hilang," tuturnya.

Sekarang, satu-satunya pekerjaan yang masih ia lakoni adalah menjadi buruh mencuci pakaian.

banjir sumatra, aceh, meuredu, idul fitri

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Irwansyah Putra

Keterangan gambar, Penyintas bencana banjir dan tanah longsor membaca Al Quran di hunian sementara di Meureudu, Pidie Jaya, Aceh, Rabu (18/03).

Sempat mengungsi di rumah mertuanya di Desa Nangrhoe Barat, Kecamatan Ulim, yang terletak sekitar 4.5 kilometer di sebelah timur Desa Mancang selama satu bulan, Lindawati dan suaminya, Yusrizal, mengontrak rumah bantuan tipe 36 yang memiliki satu kamar di gampong yang sama pada 16 Desember 2025.

"Saya harus merogoh kocek Rp2 juta satu tahun," ujar Yusrizal kepada wartawan Firdaus Yusuf yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Kamis (19/03).

Sehari-hari Yusrizal bekerja sebagai buruh tani dan buruh angkut barang. Penghasilannya Rp70.000 hingga Rp100.000 per hari.

Keadaan keluarga ini jungkir balik pada Idulfitri tahun ini.

Lindawati hanya membuat keripik pisang dan kue bawang untuk lebaran.

Pada Idulfitri tahun lalu, ia biasanya menyiapkan lebih lima jenis kue.

Aceh, Gayo Lues, banjir, idul fitri

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Keterangan gambar, Warga penyintas bencana membawa hasil belanjaan untuk kebutuhan lebaran di Desa Agusen, Blangkejeren, Gayo Lues, Aceh, Rabu (18/03).

Kamis, 19 Maret 2026 malam, keluarga ini berbuka puasa di ruang tamu rumah yang atapnya bocor di tengah guyuran hujan deras.

Tumpukan baju tersebar di beberapa sudut ruang tamu rumah itu. "Kami tak punya lagi lemari," ujar Lindawati.

Malam itu, anak mereka yang pertama, Muhammad Fariz, 12 tahun, tidak berada di rumah itu. Ia, yang baru saja dikhitan pada siang di hari yang sama, menginap di rumah neneknya di Desa Mancang.

Meski tak lagi memiliki rumah, keluarga ini belum kebagian hunian sementara (huntara).

"Kami sudah didata, dan saya pun sudah menandatangani dokumen sebagai penghuni huntara. Mungkin nanti kami akan menyusul tingggal di huntara tahap selanjutnya," kata Yusrizal.

aceh, aceh tengah, penyintas banjir, idul fitri

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Keterangan gambar, Warga penyintas bencana membeli perlengkapan rumah tangga untuk kebutuhan Lebaran saat bazar lebaran di Desa Agusen, Blangkejeren, Gayo Lues, Aceh, Rabu (18/03).

Pada awal Maret 2026, melalui Kementerian Sosial, Lindawati dan Yusrizal mendapatkan bantuan uang tunai senilai Rp8 juta.

Uang Rp8 juta tersebut merupakan Rp5 juta bantuan stimulan sosial-ekonomi dan Rp3 juta bantuan isi huntara.

"Uang tersebut sudah kami gunakan untuk membeli sepeda motor Honda Beat," kata Yusrizal.

Selain itu, mereka juga mendapatkan bantuan jaminan hidup atau jadup Rp15 ribu per orang per hari untuk tiga bulan.

"Rp 1.350.000 per jiwa. Kami ada lima jiwa dalam satu KK."

Lindawati dan Yusrizal berharap pemerintah dapat segera membangun kembali rumahnya yang telah lenyap di Desa Mancang.

"Mata pencaharian kami di Mancang," tandas Yusrizal.

Wartawan Iwan Bahagia di Aceh Tengah dan wartawan Firdaus Yusuf di Pidie, Aceh, melakukan reportase dan menuliskannya.