Perempuan penulis buku tentang rasa duka karena suami meninggal justru adalah pembunuh suaminya

Sumber gambar, Reuters
- Penulis, Max Matza
- Waktu membaca: 4 menit
Seorang ibu yang menulis sebuah buku cerita anak mengenai cara menghadapi duka setelah kematian mendadak suaminya dinyatakan bersalah atas pembunuhan sang suami.
Panel juri memutuskan bahwa Kouri Richins, asal Negara Bagian Utah, Amerika Serikat, membunuh suaminya pada Maret 2022 dengan meracuninya menggunakan minuman yang dicampur fentanyl. Para juri berunding sekitar tiga jam sebelum mencapai putusan pada Senin (16/03).
Dalam persidangan, terungkap bahwa Kouri, 35 tahun, menumpuk utang hingga jutaan dolar, mengambil sejumlah polis asuransi jiwa atas nama suaminya, dan menjalin hubungan perselingkuhan dengan pria lain.
Jaksa menghadirkan lebih dari 40 saksi, termasuk seorang perempuan yang mengaku menjual obat-obatan yang digunakan untuk membunuh suami Kouri, yaitu Eric Richins.
Tim pengacara Kouri memilih untuk tidak menghadirkan saksi, tanpa meminta Kouri bersaksi membela dirinya sendiri.
Kouri juga dinyatakan bersalah karena secara curang mengajukan klaim manfaat asuransi setelah suaminya meninggal dunia di rumah mereka.
Jaksa mengatakan selama persidangan bahwa Kouri secara keliru meyakini akan mewarisi harta suaminya senilai lebih dari US$4 juta (sekitar Rp67,8 miliar) setelah sang suami meninggal.
Jaksa juga mengatakan bahwa Kouri tengah merencanakan masa depan dengan pria lain.
Pejabat terkait menyebutkan bahwa Kouri pernah meracuni roti lapis yang kemudian disantap suaminya dalam insiden sebelumnya. Pada peristiwa itu, sang suami hampir meninggal.
Kouri lantas meningkatkan dosis sampai akhirnya suaminya meninggal.

Sumber gambar, Facebook/Kouri Richins
Selain divonis bersalah karena menyebabkan suaminya meninggal, Kouri dinyatakan bersalah atas percobaan pembunuhan dalam insiden pertama.
Kouri mengaku tidak bersalah atas semua dakwaan. Tuduhan paling serius, yakni pembunuhan berencana, memuat ancaman hukuman penjara selama 25 tahun hingga seumur hidup.
"Dia ingin meninggalkan Eric Richins, tapi tidak ingin meninggalkan uangnya," kata jaksa Summit County, Brad Bloodworth.
Bagaimana kronologinya?
Kouri Richins ditangkap pada Maret 2023—dua bulan setelah ia menerbitkan buku bergambar berjudul Are You With Me?, yang menurutnya dibuat untuk membantu orang orang, termasuk ketiga anaknya, menghadapi duka setelah kehilangan orang tercinta.
"Kami menulis buku ini dan kami sangat berharap buku ini bisa memberi sedikit penghiburan, bukan hanya untuk keluarga kami, tetapi juga keluarga lain yang mengalami hal serupa," katanya kepada stasiun radio KPCW dalam sebuah wawancara sebelum dia ditangkap.
Kouri mendedikasikan buku tersebut untuk suaminya seraya menyebutnya sebagai "suami yang luar biasa dan ayah yang hebat."
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Antara Desember 2021 dan Februari 2022, Kouri Richins mengirim pesan teks kepada seseorang yang sebelumnya pernah ditangkap atas tuduhan narkoba untuk meminta obat pereda nyeri, menurut dokumen pengadilan.
Kouri menerima pil hydrocodone, demikian isi dokumen tersebut. Namun, kemudian dia meminta sesuatu yang lebih kuat—"yang dipakai Michael Jackson", katanya.
Secara spesifik, Kouri meminta fentanyl.
Tiga hari setelah ia diduga memperoleh obat obatan itu, ia dan suaminya makan malam untuk merayakan Valentine. Setelah itu sang suami jatuh sakit.
"Eric meyakini bahwa ia telah diracuni," demikian tertulis dalam dokumen pengadilan.
"Eric mengatakan kepada seorang teman bahwa ia mengira istrinya mencoba meracuninya."
Dua minggu kemudian, menurut dokumen pengadilan, Kouri kembali mendapatkan fentanyl tambahan.
Jaksa mengatakan bahwa pada 4 Maret 2022, Richins menelepon polisi pada tengah malam dan mengatakan bahwa ia menemukan suaminya tak bernyawa.
Kouri mengatakan kepada pihak berwenang bahwa ia telah membuatkan suaminya minuman vodka ketika keduanya sudah di tempat tidur. Setelah itu, Kouri mengaku pergi tidur bersama salah satu anaknya yang mengalami mimpi buruk.
Ketika kembali ke kamar, ia mengaku menemukan suaminya sudah "dingin saat disentuh".
Petugas medis kemudian menyimpulkan bahwa Eric Richins meninggal akibat overdosis fentanyl.
Dalam tubuhnya ditemukan kandungan fentanyl lima kali lipat dari dosis mematikan.



























