Aceh minta percepatan pembangunan hunian tetap bagi penyintas banjir – 'Kenapa di desa kami belum dibangun, tapi di desa lain sudah?'

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Pemerintah Aceh meminta pemerintah pusat mempercepat pembangunan hunian tetap (huntap) bagi para penyintas banjir-longsor di wilayah itu. Mereka juga meminta agar pembangunan hunian sementara (huntara) dialihkan ke huntap. Bagaimana nasib penyintas di Aceh Utara dan Aceh Tengah yang bertahan di pengungsian?
Memasuki tiga bulan setelah banjir dan longsor, sebagian besar penyintas di Aceh belum mendapat huntap atau huntara.
Mereka masih bertahan di lokasi pengungsian dalam kondisi tidak layak.
Di Aceh Utara dan Aceh Tengah, para penyintas mengharap agar segera dapat dipindahkan ke hunian sementara,
"Kenapa di desa lain sudah ada, di desa kami belum [dibangun huntara]," kata Salomah Inen Ali, 48 tahun, penyintas di Aceh Tengah.
Penyintas lain di Aceh Tengah, Inen Safar, juga sangat berharap dapat bantuan rumah sementara.
"Kalau dibuatkan [rumah] saya bisa pulang," ujar Inen Safar, 55 tahun.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Tuntutan serupa juga disuarakan seorang penyintas di Aceh Utara, Maulida, 32 tahun.
"Kami enak tidur di rumah ada kipas angin, sekarang kenapa enggak ada," ujar Maulida menirukan rengekan anak laki-lakinya. Dia sangat berharap mendapat hunian sementara.
Mengapa Aceh minta Jakarta mempercepat pembangunan huntap?
Wakil Gubernur Aceh, Fadhullah, Senin (23/02), mengatakan kebutuhan huntap di Aceh "masih sangat besar dan belum sebanding dengan rencana pembangunan yang tersedia".
Fadhlullah kemudian meminta pemerintah pusat menetapkan percepatan pembangunan huntap sebagai prioritas nasional dalam penanganan pascabencana banjir-longsor di Aceh.
"Gap [kesenjangan] antara kebutuhan dan rencana pembangunan masih sangat besar. Karena itu kami meminta dukungan penuh pemerintah pusat agar percepatan pembangunan huntap di Aceh menjadi prioritas nasional," kata Fadhlullah.
Dia menyampaikan hal itu saat bertemu Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Mendagri, dan Mensos di Kantor Kemenko PMK, Senin, (23/02) di Jakarta.

Sumber gambar, AFP via Getty Images
Dari data kebutuhan huntap, total rumah rusak dan hilang di Aceh mencapai 246.484 unit.
Dari jumlah itu, kategori rusak berat dan hilang mencapai 97.936 unit.
Adapun rencana pembangunan huntap hingga 18 Februari 2026 baru mencapai 9.246 unit atau sekitar 9,4% dari total kebutuhan.
Di sisi lain, usulan Renaksi Kementerian PUPR/PKP untuk pembangunan huntap di Aceh sebanyak 21.590 unit atau sekitar 22% dari kebutuhan.
Wagub Aceh juga meminta supaya pembangunan huntap tidak dilakukan secara bertahap, tetapi secara paralel.
Dia berharap proses penyediaan lahan, penyusunan detail engineering design (DED), hingga pembangunan fisik dilakukan secara simultan.

Sumber gambar, AFP via Getty Images
Fadhlullah juga menekankan pentingnya sinkronisasi dan penetapan satu data huntap berbasis JITUPASNA, BNBA, serta verifikasi lapangan, menyusul terbitnya SK Kemendagri Nomor 300.2.8-168/2026.
Menurutnya data final ini harus menjadi dasar resmi penganggaran agar tidak terjadi tumpang tindih maupun kekurangan alokasi.
Mengapa Jakarta diminta mengalihkan dari huntara ke huntap?
Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah juga mengusulkan kemungkinan pengalihan dukungan pembangunan huntara ke huntap bagi penyintas banjir-longsor di Aceh.
Fadhlullah mengutarakan itu saat menemui Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, dan Wakil Kepala II BP BUMN Tedi Bharata, di Jakarta, Selasa (24/02).
Dia menjelaskan hunian tetap akan memberikan kepastian tempat tinggal yang lebih layak bagi para penyintas.
Di sisi lain, lanjutnya, hunian tetap dapat mendukung proses pemulihan sosial dan ekonomi.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Untuk itulah, Pemerintah Aceh telah menyiapkan lokasi untuk pembangunan huntap sehingga program dapat segera dipercepat apabila dukungan dialihkan.
Menanggapi usulan itu, Dony Oskaria mengatakan persetujuannya secara prinsip. Ia menyebut pihaknya akan segera melakukan perhitungan serta kalkulasi kebutuhan pembiayaan untuk pembangunan huntap di Aceh.
Proses tersebut diperlukan untuk memastikan kesiapan dukungan anggaran dan skema pelaksanaan yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
'Kenapa di desa kami belum dibangun, tapi di desa lain sudah?'
Waktu menunjukkan sekitar pukul 04.00 WIB pagi, Salomah Inen Ali, 48 tahun, tengah mempersiapkan menu sahur pertama Ramadan.
Inen Ali menyiapkan sahur bagi empat anak dan seorang menantu.
Ia merebus kentang dan wortel dengan sedikit daun sop ditambah beberapa cabai rawit.
Ada pula sisa-sisa kari daging lembu yang dimasak kemarin. Daging ini adalah bantuan presiden untuk meugang bagi para penyintas.
Tak lupa segelas kopi robusta dengan dua sendok gula putih, yang nanti akan dituangkan air panas setelah makan.
Inen Ali adalah ibu dari lima anak yang menjadi korban bencana banjir dan longsor pada November 2025 lalu.

Sumber gambar, Iwan Bahagia
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Rumahnya di Kampung Jamur Konyel, Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, hanyut.
Sampai awal Ramadan, Inen Ali dan keluarganya mengungsi di kompleks Pesantren Mi'yarul Ulum Al Aziziyah, Kampung Kuala II, Kecamatan Bintang. Mereka belum mendapatkan huntara.
Keluarga itu menempati satu bilik di pesantren tersebut.
"Sudah lebih dari tiga bulan kami di sini, suami beserta anak empat, menantu dua dengan cucu dua orang," kata Inen Ali, saat ditemui menyediakan santap sahur perdana, Kamis (19/02).
Pilihan itu juga dianggap tepat, karena anak gadisnya yang bungsu tengah mengenyam pendidikan di pondok pesantren tersebut.
Dia lalu membandingkan suasana ramadan saat ini dan tahun lalu.
"Kalau tahun lalu kita punya rumah, nyaman. Ini dalam pengungsian apa adanya lah, disyukuri saja apa adanya bersama keluarga," ujarnya kepada wartawan Iwan Bahagia yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.
"Ya harus semangatlah, disemangat-semangatilah."
Sebelum banjir dan longsor melululantakkan kampungnya, Inen memiliki kebun cabai. Dari hasil jualan cabai itulah, Inen dan keluarga dapat bertahan hidup.
Tapi semuanya kini hancur. Mereka praktis kehilangan penghasilan.
Sehingga, "kami kesulitan ekonomi, entah kayak mana nanti." Suara Inen terdengar parau
Ramadan kali ini memang tidak mudah bagi Inen Ali dan keluarga.

Sumber gambar, Iwan Bahagia
Di lokasi pengungsian, misalnya, mereka tidak mudah untuk mendapatkan air bersih.
Inen dan pengungsi lainnya sangat bertumpu pada air payau yang dialirkan melalui pipa plastik.
Mereka menampungnya dalam ember untuk kemudian dimasak.
Belum lagi mereka harus tidur dalam satu bilik tanpa sekat.
"Di sini harus diatur semuanya, ada yang di sana [bilik sebelah] keluarga, ada yang di sini," ungkapnya.
Ketika dihadapkan kenyataan seperti itu , Inen Ali lantas bertanya-tanya: Mengapa sebagian penyintas di desa atau daerah lain sudah tinggal di hunian sementara, sementara mereka belum mendapatkannya.
"Saya harapkan dengan segera ada rumah sendiri atau hunian sementara. Kenapa di desa lain sudah ada, di desa kami belum [dibangun huntara]," katanya.
'Kalau dibuatkan rumah, saya bisa pulang'
Darmi Inen Safar, 55 tahun, masih ketakutan setiap mendengar suara-suara gaduh.
Dia bakal disergap kecemasan setiap mendengar bebunyian yang memekakkan telinganya.
Saat hujan deras, misalnya, Inen Safar merasa was-was dan bisa berkeringat dingin.
Situasi seperti ini terus menghantuinya tiga bulan setelah longsor dan banjir yang menghancurkan rumahnya.
"Saya tidak bisa mendengar suara keras, makanya tetangga saya di sebelah sempat pindah, karena saya tidak bisa dengan suara keras," kata Inen Safar.
Ibu empat anak ini dulu tinggal di Kampung Jamur Konyel, Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh.

Sumber gambar, Iwan Bahagia
Semenjak longsor menimbun desanya, Inen Safar tak pernah menengok reruntuhan rumahnya.
Dia merasa tidak tenang jika mengingat lagi petaka itu. Gemuruh longsoran tanah masih mengendap di ingatannya.
"Saya takut, itu kenapa saya tidak mau kembali ke sana [ke reruntuhan rumahnya]," ucapnya kepada wartawan Iwan Bahagia yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Kamis (19/02).
"Jadi [saya] tidak bisa kembali, tanah dari bukit masih sering turun [longsor]."
Inen Safar kini mengungsi di salah-satu bilik Pondok Pesantren Mi'yarul Ulum Al Aziziyah di Kampung Kuala II, Kecamatan Bintang, Aceh Tengah.
Pesantren ini menyediakan ruangan-ruangan kosong bagi penyintas. Dahulu bilik-bilik itu ditempati para santri yang kini diliburkan sementara.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Arnas Padda
Sebelum bencana, Inen Safar bekerja sebagai pengutip kopi atau cabai di kebun orang.
"Biasa saya ongkosen [mengutip biji kopi atau daun teh di kebun orang]. Sekarang tidak ada apa pun, karena orang (pemilik kebun teh atau kopi] tidak punya [kebun karena rusak diterjang banjir atau longsor] apa pun," ungkapnya.
Artinya, dia tidak lagi memiliki penghasilan ekonomi.
Orang tua tunggal ini kini mengandalkan bantuan orang atau pihak lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dan saat buka puasa di awal Ramadan, Inen Safar—ditemani anak sulungnya, Safaruddin (24)—memasak mie dan membuat susu hangat.
Mie dan susu kental manis itu adalah bahan makanan yang dia terima dari para donatur.

Sumber gambar, Iwan Bahagia
Dia bersyukur bantuan bahan makanan masih mengalir, walaupun dia mengaku lebih membutuhkan bantuan berupa uang.
"Inginnya, yang saya minta adalah uang belanja," katanya, dengan tutur kata yang nyaris tidak terdengar.
Ketika dihimpit kenyataan terpaksa tinggal di pengungsian dan masa depan yang belum jelas, Inen Safar tak kuasa menahan lelehan air mata.
Namun sebisa mungkin dia menahannya.
"Kalau tidak [mengungsi] di pesantren saya berteriak nangis," ujarnya.
Dia mengharap ada bantuan berupa uang. Dengan memegang uang, dia lebih leluasa untuk membiayai kebutuhan hidup sehari-hari.
Dan tentu saja, seperti yang disuarakan para penyintas yang tinggal di pengungsian, Inen Safar sangat berharap dapat bantuan rumah sementara.
"Kalau dibuatkan [rumah] saya bisa pulang," katanya.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Arnas Padda
Kampung Jamur Konyel, tempat Inen Ali dan Inen Safar tinggal, berjarak sekitar satu jam perjalanan dengan naik kendaraan bermotor dari Takengon, Ibu kota Aceh Tengah.
Adapun lokasi pengungsian mereka terletak di seberang danau Laut Tawar dari pusat kota Takengon. Jaraknya sekitar 20 menit dengan kendaraan bermotor.
Dari Daftar Kampung Rencana Huntara Kabupaten Aceh Tengah, calon penerima huntara bagi penyintas di Kampung Jamur Konyel berjumlah 23 Kepala Keluarga.
Seorang pejabat terkait di Takengon mengatakan huntara tahap kedua "masih akan dibangun".
Belum jelas kapan huntara itu mulai dapat dihuni.
Ini artinya Inen Ali dan Inen Safar, serta barangkali pengungsi lainnya, masih akan tinggal di lokasi pengungsian.
'Kalau hujan, air masuk ke tenda, kalau panas sangat panas'
"Sangatlah berbeda puasa [saat] ini, sangat tidak enak," tutur Maulida, 32 tahun, penyintas banjir di Desa Blang Reulieng, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, Aceh.
"Rumah tidak ada lagi, saya hidup di dalam tenda," tambahnya sambil berlinang air mata.
Dari dalam tenda berwarna oranye, Maulida bercerita bahwa sangat tidak nyaman tinggal di sana.
Apabila hujan, air akan masuk ke dalam dari berbagai sisi.
Dan, jika cuaca panas, Maulida dan anaknya tidak mampu berada di dalamnya.
"Tenda seperti kertas," ungkapnya kepada wartawan Hidayatullah di Aceh yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Kamis (19/02).

Sumber gambar, Hidayatullah
Setiap malam anaknya yang berusia tiga tahun menangis dan bertanya mengapa tidak pulang ke rumah.
"Kami enak tidur di rumah ada kipas angin, sekarang kenapa enggak ada," ujar Maulida menirukan rengekan anak laki-lakinya.
Maulida bercerita seraya memeluk anaknya tersebut.
Memang tidak mudah bagi Maulida tinggal di tenda pengungsian.
Dia bahkan harus menumpang masak di tenda milik orang tuanya, karena dia tidak lagi memiliki peralatan memasak.
Ketika di hadapkan masalah-masalah yang sering dia jumpai di lokasi pengungsian, Maulida sangat berharap segera mendapat bantuan rumah.

Sumber gambar, Hidayatullah
Di samping Maulida, ada sosok ayahnya. Namanya Munir Usman, 70 tahun.
Usman mengaku masih trauma. Dia bahkan sering terbangun di tengah malam ketika hujan atau angin kencang.
"Takut banjir kembali dan semua ini [tenda] terhempas jika ada angin" kata Munir Usman, orang tua dari Maulida.
Munir mengaku tidak tahu sampai kapan tinggal di bawah tenda.
Dia mendengar informasi bahwa pembangunan huntara tak kunjung selesai.
Karena itulah dia tidak terlalu berharap secepatnya dapat pindah ke huntara.
"Sampai lebaran kayaknya kami akan tinggal di tenda," ujarnya kepada wartawan Hidayatullah di Aceh yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.
Target 528 huntara selesai di Aceh Utara
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menargetkan 528 huntara di 44 blok di Kabupaten Aceh Utara selesai sebelum Lebaran 2026.
"Total huntara yang kami tangani di Aceh Utara sebanyak 44 blok. Dan itu kami targetkan sebelum lebaran selesai semua, sehingga masyarakat dapat segera masuk," kata Dody Hanggodo, di Aceh Utara, Selasa (22/02).
Pembangunan huntara di Langkahan, Aceh Utara, di atas lahan yang disediakan Pemerintah Aceh Utara.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan, dari total 44 blok huntara yang ditangani, sebagian di antaranya sudah selesai dan mulai dihuni warga, termasuk di Kecamatan Langkahan.
"Di sini ada 5 blok, jadi ada sekitar 60 kepala keluarga (KK). Di lokasi lainnya ada lagi sekitar 9 blok. Dengan total huntara yang kita tangani di Kabupaten Aceh Utara sebanyak 44 blok," kata Dody saat meninjau lokasi, Selasa (24/02).
Di Langkahan, 5 blok huntara dengan kapasitas sekitar 60 KK telah selesai dibangun di atas lahan yang disediakan Pemerintah Kabupaten Aceh Utara.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengaku prihatin setelah melihat pengungsi korban banjir di Desa Buket Linteung, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, Jumat (20/02).
Dia meminta kepastian dari Kementerian Pekerjaan Umum, Danantara dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mengerjakan pembangunan hunian sementara (Huntara).
"Saya akan koordinasikan dengan Menteri PU, Danantara. Siapa yang mengerjakan. Harus ada kepastian. Siapa yang mengerjakan, jangan lama-lama ini ditenda," kata Tito yang juga Ketua Satuan Tugas (Kasatgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera.
Liputan ini diproduksi secara kolaboratif oleh jurnalis BBC News Indonesia, Heyder Affan dan dua jurnalis di Aceh, Hidayatullah dan Iwan Bahagia



























