Iran gunakan bom tandan yang tembus pertahanan Israel – 'Saya mulai sedikit kehilangan harapan'

bangunan yang terkena hantaman rudal Iran di Tel Aviv, Israel, pada 1 Maret 2026.

Sumber gambar, EPA via Shutterstock

Keterangan gambar, Petugas layanan darurat memeriksa kerusakan di lokasi sebuah bangunan yang terkena hantaman rudal Iran di Tel Aviv, Israel, pada 1 Maret 2026.
    • Penulis, Lucy Williamson
    • Peranan, Koresponden BBC di Timur Tengah
    • Melaporkan dari, Ramat Gan, Israel
  • Waktu membaca: 6 menit

Malam sudah larut ketika sebuah bom tandan yang dilesatkan Iran menembus langit-langit apartemen pasangan lanjut usia di Israel. Bom itu meledak di ruang tamu kecil mereka, menewaskan keduanya.

Jejak lintasan bom masih terlihat jelas di antara puing puing berdebu. Sebuah lubang besar di langit-langit unit apartemen mereka yang berada di lantai teratas menandai titik saat bom itu menghantam.

Lubang-lubang serpihan di dinding belakang menunjukkan dahsyatnya ledakan yang menghancurkan bagian depan apartemen.

Di dalam, sebuah alat bantu jalan tergeletak di lantai, tertutup debu dan reruntuhan.

gedung yang rusak akibat gempuran rudal balistik Iran di Tel Aviv, Israel, pada 15 Maret 2026.

Sumber gambar, EPA via Shutterstock

Keterangan gambar, Seorang pria Yahudi Ultra-Ortodoks melihat ke arah gedung yang rusak akibat gempuran rudal balistik Iran di Tel Aviv, Israel, pada 15 Maret 2026.

"Kami mendengar tiga kali suara pencegatan [rudal] yang keras, tapi pada yang keempat, kami tahu itu rumah kami," kata Sigal Amir, tetangga korban yang sedang berlindung saat ledakan terjadi.

"Ledakannya sangat dahsyat dan saya merasakan sakit di telinga akibat hantaman," ujarnya.

"Tetangga kami tinggal lima meter dari sini—pintu mereka terlepas dan seluruh rumah dipenuhi debu seperti salju."

Ia menambahkan, pasangan lansia itu tidak berada di ruang perlindungan ketika bom jatuh karena salah satu dari mereka memiliki keterbatasan gerak.

kawasan Ramat Aviv, Tel Aviv, Israel, pada 18 Maret 2026.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Gempuran rudal Iran menghantam kawasan Ramat Aviv, Tel Aviv, Israel, pada 18 Maret 2026.
lantai teratas sebuah bangunan di kawasan Ramat Aviv, Tel Aviv, Israel, pada 19 Maret 2026.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Sebuah rudal balistik Iran menghantam lantai teratas sebuah bangunan di kawasan Ramat Aviv, Tel Aviv, Israel, pada 18 Maret 2026.

Israel mengklaim sebagian besar serangan Iran dapat dicegat sistem pertahanan udara.

Namun bom tandan menyebar di area luas dan jauh lebih sulit ditangkal, bahkan ketika rudal pembawanya ditembak jatuh.

Seiring berjalannya perang, Iran semakin sering menggunakan jenis amunisi ini.

"Di sini Anda bisa melihat titik masuk roket yang terbang jauh dari Iran dalam sebuah rudal besar, lalu terpecah menjadi puluhan bagian," kata juru bicara militer Israel, Letkol Nadav Shoshani, saat meninjau lokasi.

"Ada puluhan titik hantaman seperti ini di Israel tengah."

Meski rudal yang membawa bom tandan berhasil dicegat, menurutnya, setiap rudal mengangkut 20 hingga 80 submunisi yang "sangat sulit dihentikan".

Ketika kami berada di lokasi, sebuah alarm kembali meraung, memperingatkan adanya rudal baru. Sigal, sang tetangga, segera memanggil kami masuk ke ruang aman miliknya.

Sejauh ini, 14 orang tewas di Israel akibat serangan Iran—sembilan orang di antara mereka tewas sekaligus dalam satu serangan di Bet Shemesh pada hari-hari awal perang.

Secara keseluruhan, lembaga Human Rights Activists News Agency (Hrana) yang berbasis di AS melaporkan pada Selasa (17/03) bahwa sedikitnya 1.354 warga sipil dan 1.138 personel militer tewas sejak perang dimulai.

Operasi militer AS–Israel terhadap Iran telah menghancurkan instalasi militer, fasilitas minyak, dan infrastruktur lain di seluruh negeri.

Di sisi lain, gempuran Iran ke Israel tidak berhenti. Sirene di Israel terus berbunyi siang dan malam—memaksa warga masuk ke tempat perlindungan.

Penggunaan bom tandan oleh Iran mulai membuat sebagian warga Israel yang telah lelah perang bertanya-tanya kapan dan bagaimana konflik ini akan berakhir.

"Sejujurnya, dalam beberapa hari terakhir saya mulai sedikit kehilangan harapan," kata Sigal saat kami berlindung di ruang aman.

"Saya merasa ini tidak ada ujungnya, tidak ada arahnya, kami tak bisa melihat cahaya di ujung terowongan. Kami harus bertahan, tapi saya tidak yakin berapa lama lagi, atau ke mana semua ini akan membawa kami."

Bnei Brak, Israel, 3 Maret 2026.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Serangan Iran menghancurkan sejumlah mobil di Bnei Brak, Israel, 3 Maret 2026.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyebut perang ini sebagai puncak dari perjuangan panjang melawan musuh-musuh Israel di kawasan.

Ia kerap menonjolkan superioritas militer Israel, dengan mengatakan bahwa konflik saat ini telah mengubah Timur Tengah, menjadikan Israel kekuatan regional dan—dalam beberapa aspek—kekuatan global.

Namun perang ini bersifat asimetris. Iran menekan titik titik sensitif Amerika Serikat melalui harga minyak, korban jiwa, serta kerentanan sekutu-sekutu Washington di Teluk,.

Garis waktu Israel dalam konflik ini diperkirakan lebih panjang dibandingkan keinginan Washington.

Kota Shoham, Israel, 14 Maret 2026.

Sumber gambar, EPA via Shutterstock

Keterangan gambar, Serangan Iran mengenai kawasan permukiman di Kota Shoham, Israel, 14 Maret 2026.

Israel juga berperang di front kedua melawan kelompok Hizbullah—proksi Iran yang memiliki persenjataan kuat di Libanon.

Ratusan ribu warga Libanon telah mengungsi, dan 912 orang tewas dalam operasi Israel, menurut kementerian kesehatan Lebanon.

Pekan ini, pasukan darat Israel memperluas operasi di Libanon selatan, setelah memerintahkan evakuasi di wilayah yang sangat luas.

Namun AS dilaporkan mulai menjajaki kesepakatan dengan pemerintah Libanon untuk meredakan ketegangan.

Netanyahu memandang situasi ini sebagai peluang emas untuk menghancurkan jaringan regional Iran, dengan bertempur "bahu membahu" bersama AS.

Ia berjanji perang ini akan membawa perubahan yang bertahan lama.

Namun tekanan terhadap AS terus meningkat, dan setiap serangan rudal yang mematikan di wilayah Israel membuat Netanyahu semakin sulit mengklaim kemenangan.