Negara mana yang diuntungkan dari perang di Timur Tengah – dan negara mana yang paling terdampak?

Presiden Rusia, Vladimir Putin dan Presiden China, Xi Jinping.
    • Penulis, Marina Daras
    • Peranan, BBC World Service
    • Penulis, Stephen Hawkes
    • Peranan, BBC World Service
  • Waktu membaca: 7 menit

Perang AS–Israel melawan Iran membawa dampak dramatis bagi kawasan Timur Tengah maupun dunia.

Sejumlah negara di dunia kini bersiap menghadapi konsekuensi ekonomi yang berat mengingat pasar energi global dan rantai pasok dilanda kekacauan.

Lonjakan harga minyak serta gangguan terhadap lalu lintas maritim di Teluk—terutama di dalam dan sekitar Selat Hormuz—meningkatkan biaya bagi konsumen dan pelaku usaha.

Namun, sebagian negara justru dapat menemukan peluang strategis baru di tengah kekisruhan.

Negara mana yang paling berpotensi merugi—atau justru meraih keuntungan—di tengah gejolak ini?

Rusia

Vladimir Putin bertemu Ayatollah Ali Khamenei

Sumber gambar, Anadolu via Getty Images

Keterangan gambar, Ketika Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei wafat, Moskow menerima pukulan diplomatik terbaru lantaran Bashar al-Assad tumbang di Suriah serta Nicolás Maduro ditangkap oleh AS di Venezuela.

Iran merupakan sekutu utama dan mitra militer penting bagi Rusia.

Ketika Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei wafat, Moskow menerima pukulan diplomatik terbaru lantaran Bashar al-Assad tumbang di Suriah serta Nicolás Maduro ditangkap oleh AS di Venezuela.

Meski begitu, konflik di Timur Tengah berpotensi memberi keuntungan bagi Rusia dalam perang di Ukraina, karena sumber daya militer Amerika Serikat teralihkan untuk menyerang Iran.

"Berkurangnya rudal Patriot dan pencegatnya menguntungkan Rusia karena membatasi apa yang bisa diperoleh Ukraina," kata Nicole Grajewski, profesor di Pusat Studi Internasional Institut Ilmu Politik Paris, kepada BBC News Russian.

Namun meningkatnya kebutuhan Iran akan drone Shahed dinilai para analis tidak akan berdampak besar pada kemampuan militer Moskow di Ukraina.

"Rusia bergantung pada Iran untuk kerja sama pertahanan dalam periode tertentu pada awal perang di Ukraina, ketika Iran memasok drone Shahed dan, yang lebih penting, teknologi produksi serta lisensinya pada 2022–2023," ujar Hanna Notte, Direktur Eurasia di Center for Nonproliferation Studies, AS, kepada BBC News.

"Kini kita berada pada tahap perang di mana Rusia tidak lagi memerlukan Iran untuk melanjutkan perangnya di Ukraina. Rusia dapat memproduksi drone Shahed sendiri."

Drone Shahed-136 buatan Iran

Sementara itu, penutupan Selat Hormuz oleh Iran—yang telah menghambat pengiriman minyak dan gas serta memicu lonjakan harga bahan bakar—dapat memberikan sedikit keringanan finansial bagi Rusia, yang selama ini berada di bawah tekanan besar akibat perang di Ukraina.

Anggaran federal Rusia bergantung pada ekspor minyak dengan harga US$59 per barel—tetapi kini harga minyak mentah melonjak tajam, sempat mendekati US$120 per barel. Ketika produsen minyak utama di Teluk memangkas produksi, Rusia berpotensi mengekspor lebih banyak ke pasar pasar penting seperti China dan India.

"India sebelumnya didorong untuk mengurangi pembelian minyak Rusia—tetapi kini negara itu baru saja mendapat semacam pengecualian dari AS untuk kembali membeli minyak Rusia, setidaknya untuk satu bulan ke depan," kata David Fyfe, kepala ekonom di Argus, perusahaan intelijen pasar energi dan komoditas global.

"Dan sudah ada pembicaraan mengenai kemungkinan pelonggaran sebagian sanksi terhadap minyak Rusia untuk mengurangi dampak dari situasi ini."

China

China sejauh ini belum merasakan dampak dramatis dari perang AS-Israel terhadap Iran—namun tetap akan terkena tekanan.

Hanya sekitar 12% minyak mentah yang diimpor China berasal dari Iran, menurut Center on Global Energy Policy.

Selain itu, China telah menimbun cadangan minyak yang cukup untuk beberapa bulan dan dapat dengan mudah beralih ke Rusia jika memerlukan pasokan tambahan.

Namun sektor industri Tiongkok yang berorientasi ekspor juga akan terdampak, ujar Fyfe.

Ekspor, yang menyumbang sekitar 20% dari produk domestik bruto (PDB) negara itu—nilai total barang dan jasa yang dihasilkan—telah menjadi pendorong utama ekonomi China, yang tengah dilanda tekanan akibat kemerosotan harga properti dan lemahnya belanja domestik.

Peta Selat Hormuz
Keterangan gambar, Peta Selat Hormuz.

Gangguan lalu lintas maritim di dalam dan sekitar Selat Hormuz memang bukan masalah besar bagi China. Aakses menuju Atlantik yang sangat krusial bagi produk produk China yang dikirim ke negara negara Barat.

Selat Bab el Mandeb—yang menghubungkan Asia, Eropa, dan Afrika—juga mengalami serangan oleh kelompok Houthi yang berbasis di Yaman, milisi bersenjata yang didukung Iran.

"Besar kemungkinan lalu lintas di Laut Merah kembali terdampak parah, dengan kapal kapal kargo jarak jauh dari Asia yang ingin masuk ke kawasan Atlantik terpaksa dialihkan melalui Afrika selatan dan Tanjung Harapan," kata Fyfe kepada BBC News.

"Biayanya sangat besar," ujar Neil Quilliam, pakar Timur Tengah dari Chatham House, lembaga kajian berbasis di London. "Rute itu menambah waktu pelayaran 10 hingga 14 hari. Dan tergantung jenis barangnya, biaya tambahan bagi kapal rata rata mencapai sekitar US$2 juta."

Meski demikian, perang terhadap Iran bisa membuka peluang diplomatik bagi China, saat negara itu berupaya menampilkan diri sebagai "penyeimbang yang bertanggung jawab" terhadap Amerika Serikat, kata Philip Shetler Jones dari Royal United Services Institute (RUSI) di UK, kepada BBC News.

Presiden China, Xi Jinping, kemungkinan akan terus memproyeksikan dirinya sebagai pemimpin global yang stabil dan dapat diprediksi, berbanding terbalik dengan Presiden AS Donald Trump.

Konflik ini juga bisa menjadi kesempatan bagi Beijing untuk "mencari petunjuk" tentang bagaimana Trump mungkin bereaksi terhadap titik titik panas lainnya—termasuk Taiwan, pulau berpemerintahan sendiri yang diklaim Tiongkok sebagai wilayahnya.

Negara-negara berkembang

Negara negara Asia Tenggara, yang sangat bergantung pada minyak dan gas dari Timur Tengah, diperkirakan akan terdampak berat oleh perang AS-Israel vs Iran.

Beberapa di antaranya bahkan telah mengambil langkah penghematan drastis untuk meredam dampak ekonomi sedini mungkin.

Di Vietnam, harga solar sudah naik 60% sejak perang dimulai. Pemerintah Vietnam telah meminta seluruh warga untuk bekerja dari rumah bila memungkinkan.

Di Filipina, yang mengimpor sekitar 95% minyak mentahnya dari Timur Tengah, meminta para pegawai sektor publik bekerja empat hari seminggu, kecuali mereka yang bertugas di layanan darurat.

Pembatasan serupa diterapkan di Pakistan, dengan pengecualian sektor perbankan. Di mana pun memungkinkan, perintah bekerja dari rumah diberlakukan dan kegiatan belajar-mengajar di universitas dipindahkan ke platform daring.

Dalam pidato yang disiarkan televisi, Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyatakan bahwa penghematan dan pengaturan ketat atas cadangan bahan bakar negara sangat penting dilakukan.

Di Bangladesh, pemerintah setempat menghadapi gelombang pembelian panik. Antrean panjang terjadi di stasiun pengisian bahan bakar, sehingga pemerintah menerapkan sistem rasionalisasi, yaitu 10 liter per hari untuk mobil dan hanya dua liter untuk sepeda motor.

Antrean SPBU di Karachi, Pakistan, 6 Maret 2026.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Antrean panjang di SPBU mulai terlihat di berbagai negara. Hal ini terlihat di Karachi, Pakistan, pada 6 Maret 2026.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Namun dampak perang ini dapat meluas jauh melampaui kelangkaan energi.

Petani di seluruh dunia bergantung pada pupuk untuk menyuplai nutrisi penting bagi tanah agar tanaman dapat tumbuh dan lebih tahan terhadap cuaca ekstrem. Gangguan pada pasokan pupuk dapat memicu krisis pangan global.

"Sekitar 30% urea dunia—bahan baku utama pupuk—melewati Selat Hormuz. Urea berasal dari petrokimia, yang diproduksi melalui proses penyulingan minyak mentah. Jadi, jika 30% pasokan urea hilang dari pasar global, dampaknya terhadap keamanan pangan dunia akan sangat besar," kata Quilliam kepada BBC News.

Setelah fasilitasnya diserang, QatarEnergy — salah satu eksportir gas terbesar dunia sekaligus produsen urea untuk pupuk — terpaksa menyatakan force majeure, langkah darurat yang memungkinkan perusahaan menangguhkan produksi dan pengiriman sementara.

"Dalam enam hingga sembilan bulan ke depan, kita bisa saja melihat dampaknya pada keamanan pangan dan inflasi," ujar Quilliam.

"Dampaknya mungkin belum terasa sekarang — tetapi ketika tanaman mengalami kesulitan tumbuh, atau ketika petani kesulitan mendapatkan pupuk, kita akan melihat konsekuensi jangka panjangnya."

Reportase tambahan oleh BBC News Hindi dan Elizaveta Fokht, BBC News Russian