Apa yang terjadi jika Iran menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur minyak global?

Kapal supertanker dekat Selat Hormuz

Sumber gambar, Chip Hires via Getty Images

Keterangan gambar, Sekitar seperlima dari minyak mentah dunia dibawa melalui Selat Hormuz.
    • Penulis, Gavin Butler
    • Peranan, BBC News
    • Melaporkan dari, Singapore
    • Penulis, BBC Persian
    • Penulis, Toby Mann
  • Waktu membaca: 6 menit

Iran mengancam akan "membakar" kapal-kapal yang mencoba melewati Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak tersibuk di dunia. Pemblokiran selat ini berpotensi melambungkan harga barang dan jasa di seluruh dunia karena kenaikan harga minyak berdampak pada ekonomi global.

Ketidakpastian dan gangguan terhadap perdagangan internasional ini terjadi akibat serangan AS dan Israel terhadap Iran.

China, India, dan Jepang yang merupakan importir utama minyak mentah yang melalui jalur tersebut akan sangat terdampak dengan penutupan selat ini.

Selama ini, sekitar 20% dari pasokan minyak dan gas global melewati jalur pelayaran sempit di Teluk Persia tersebut.

Namun pascaserangan AS-Israel beberapa hari lalu, Jenderal Sardar Jabbari dari Iran menyatakan Teheran "tidak akan membiarkan setetes minyak pun meninggalkan wilayah tersebut".

Apa dan di mana lokasi Selat Hormuz?

Citra satelit Selat Hormuz

Sumber gambar, Stocktrek / Getty Images

Keterangan gambar, Citra satelit Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan salah satu rute pelayaran terpenting di dunia dan titik krusial untuk transit minyak.

Lokainya berada di utara Iran dan di selatan Oman serta Uni Emirat Arab (UEA).

Jalur ini semacam sebuah koridor sempit di perairan yang lebarnya hanya sekitar 50 kilometer di pintu masuk. Pada titik tersempitnya, selat ini bahkan hanya selebar 33 km. Lajur sempit ini menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab.

Peta Selat Hormuz
Keterangan gambar, Peta Selat Hormuz.

Meski ukurannya sempit, selat tersebut cukup untuk dilalui kapal tanker minyak mentah terbesar di dunia, baik yang merupakan produsen minyak dan gas utama di Timur Tengah maupun para pelanggannya.

Pada 2025, sekitar 20 juta barel minyak melewati Selat Hormuz setiap hari. Menurut perkiraan dari Badan Informasi Energi AS (EIA), jumlah itu setara dengan perdagangan energi senilai hampir US$600 miliar atau setara Rp10,1 triliun per tahun.

Minyak tersebut tidak hanya berasal dari Iran, tapi juga dari negara-negara Teluk lainnya seperti Irak, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.

Peta satelit Selat Hormuz

Sumber gambar, Gallo Images via Getty Images

Keterangan gambar, Iran berada di bagian atas citra satelit Selat Hormuz. Pulau Qeshm Island dan Uni Emirat Arab berada di bagian selatan.

Apa dampak penutupan selat tersebut?

Para analis telah memperingatkan jika penutupan selat terus dilakukan Iran, harga minyak serta pengirimannya akan kian melonjak.

"Secara de facto, selat tersebut tertutup karena tidak ada yang berani melintasinya," ujar analis utama di Global Risk Management, Arne Lohmann Rasmussen kepada CBS News, mitra BBC di AS.

"Kapal bisa diserang, lalu kapal tidak bisa mendapatkan asuransi atau harganya sangat mahal. Jadi, kapal-kapal harus menunggu hingga situasi keamanan membaik. Jika pasokan minyak dan gas dari selat terputus, hal itu akan memiliki dampak signifikan bagi pasar," tambahnya.

"Meskipun tidak ada blokade fisik, ancaman dari Iran, ditambah serangan drone dan rudal, membuat kapal tanker tidak melewati selat tersebut."

Tiap bulan, sekitar 3.000 kapal melintasi selat tersebut.

Per Senin (02/03), harga minyak mentah Brent yang menjadi acuan global sempat mencapai US$82 atau setara Rp1,38 juta per barel. Lonjakan ini terpantik juga usai tiga kapal diserang di dekat Selat Hormuz pada akhir pekan lalu.

Akibatnya, sekitar 150 kapal tanker tertahan, menurut kantor berita Reuters.

Menurut data dari London Stock Exchange Group, biaya menyewa kapal tanker raksasa untuk mengangkut minyak dari Timur Tengah ke China saat ini naik hampir dua kali lipat dari harga pekan lalu dan menjadi rekor tertinggi, yakni lebih dari US$400.000 atau setara Rp6,74 miliar.

Penutupan jalur pelayaran vital ini juga akan merugikan negara-negara Teluk, seperti Arab Saudi, yang perekonomiannya sangat bergantung pada ekspor energi.

Dua kapak tanker minyak melintasi Selat Hormuz

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Dua kapak tanker minyak melintasi Selat Hormuz.

Dibandingkan dengan negara lain, Iran mengekspor sekitar 1,7 juta barel per hari, menurut Badan Energi Internasional (IEA).

Pada tahun fiskal yang berakhir pada Maret 2025, Iran membukukan pendapatan minyak tertinggi dalam satu dekade terakhir merujuk perkiraan Bank Sentral Iran.

Pendapatan tersebut sebesar US$67 miliar atau setara Rp1,13 triliun dari ekspor minyak

Pemblokiran selat ini juga akan berdampak berat bagi Asia.

Pada 2022, sekitar 82% minyak mentah dan kondensat berupa cairan hidrokarbon berdensitas rendah yang biasanya terdapat bersama gas alam keluar dari Selat Hormuz ditujukan untuk negara-negara Asia, menurut perkiraan EIA.

China diperkirakan membeli sekitar 90% minyak yang diekspor Iran ke pasar global.

Sebab, China menggunakan minyak tersebut untuk memproduksi barang yang kemudian diekspor ke negara lain.

Dengan demikian, harga minyak yang lebih tinggi berdampak pada kenaikan harga produk barang bagi konsumen China di seluruh dunia.

Bagaimana cara Iran memblokir Selat Hormuz?

Pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) di Selat Hormuz.

Sumber gambar, NurPhoto via Getty Images

Keterangan gambar, Pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) menggunakan perahu-perahu cepat untuk memblokade Selat Hormuz.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Aturan PBB memungkinkan negara-negara untuk mengendalikan perairan teritorial hingga 12 mil laut dari garis pantai mereka.

Di titik tersempitnya, Selat Hormuz dan jalur pelayarannya sepenuhnya berada di dalam perairan teritorial Iran dan Oman.

Sebenarnya, belum jelas bagaimana tepatnya Iran berencana untuk menutup selat tersebut.

Namun menurut para ahli, salah satu cara paling efektif untuk memblokade jalur tersebut adalah dengan menanam ranjau menggunakan kapal serang cepat dan kapal selam.

Angkatan Laut reguler Iran dan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) berpotensi melancarkan serangan terhadap kapal perang asing dan kapal komersial.

Namun, kapal militer besar mungkin menjadi sasaran mudah serangan udara AS. Apalagi Presiden AS, Donald Trump telah menyatakan salah satu tujuannya adalah menghancurkan Angkatan Laut Iran.

Kapal cepat Iran sering dilengkapi dengan rudal anti-kapal, dan negara tersebut juga mengoperasikan berbagai kapal permukaan, kapal semi-selam, dan kapal selam.

Sebuah perahu patroli berlayar di perairan lepas pantai dengan seorang pria mengenakan jaket oranye cerah di atasnya sambil memegang senapan mesin.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Sekitar 20% dari pasokan minyak dan gas global melewati Selat Hormuz.

AS sebelumnya telah menggunakan kekuatan militernya untuk memulihkan aliran lalu lintas maritim di selat tersebut.

Pada akhir dekade 1980-an, selama Perang Iran-Irak yang berlangsung delapan tahun, serangan terhadap fasilitas minyak meningkat menjadi "perang tanker". Saat itu, kedua negara menyerang kapal-kapal yang netral untuk menekan ekonomi lawan.

Kapal tanker Kuwait yang mengangkut minyak Irak menjadi sasaran utama. Akhirnya, kapal perang AS mulai mengawal mereka melalui Teluk Persia, yang menjadi salah satu operasi perang laut permukaan terbesar sejak Perang Dunia Kedua, menurut Institut Angkatan Laut AS.

Apakah rute alternatif dapat mengatasi blokade?

Ancaman penutupan Selat Hormuz yang terus-menerus telah mendorong negara-negara pengekspor minyak di kawasan Teluk untuk mengembangkan rute ekspor alternatif selama bertahun-tahun.

Arab Saudi mengoperasikan pipa minyak sepanjang 1.200 km yang mampu mengangkut hingga 5 juta barel minyak mentah per hari, menurut Badan Informasi Energi (EIA).

Di masa lalu, Arab Saudi juga pernah sementara waktu mengalihkan fungsi pipa gas alam untuk mengangkut minyak mentah.

Uni Emirat Arab juga telah menghubungkan ladang minyak di daratan dengan pelabuhan Fujairah di Teluk Oman melalui pipa dengan kapasitas harian minimal 1,5 juta barel.

Minyak dapat dialihkan melalui infrastruktur alternatif untuk menghindari Selat Hormuz, namun kantor berita Reuters melaporkan hal itu akan menyebabkan penurunan pasokan sebesar 8-10 juta barel per hari.