AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran – 'Operasi tempur besar-besaran' sedang terjadi

Kepulan asap setelah ledakan terjadi di Teheran, Iran, pada Sabtu (28/02).

Sumber gambar, Anadolu via Getty Images

Keterangan gambar, Kepulan asap setelah ledakan terjadi di Teheran, Iran, pada Sabtu (28/02).
Waktu membaca: 5 menit

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan AS telah melancarkan "operasi tempur besar-besaran" di Iran. Israel, menurut Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, menjalankan operasi tersebut bersama AS untuk "menyingkirkan rezim teroris di Iran".

Dalam pernyataan video sebelumnya, Trump mendesak warga Iran memanfaatkan serangan besar besaran terhadap Iran untuk menggulingkan kelompok ulama yang memerintah negara itu.

"Ketika kami selesai, ambil alihlah pemerintahan kalian. Itu akan menjadi milik kalian. Ini mungkin satu satunya kesempatan kalian dalam beberapa generasi," ujarnya.

Ia juga mengatakan kepada anggota pasukan keamanan Iran bahwa mereka akan diberi "imunitas" apabila meletakkan senjata. Jika tetap bertempur, lanjut Trump, mereka akan "menghadapi kematian yang pasti".

Hal senada diucapkan Netanyahu.

"Waktunya telah tiba bagi seluruh kelompok masyarakat Iran—bangsa Persia, Kurdi, Azeri, Baluchi, dan Ahwazi — untuk melepaskan diri dari belenggu tirani dan mewujudkan Iran yang bebas dan damai," kata Netanyahu.

Kepulan asap terlihat di Teheran, pada Sabtu (28/02).

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Kepulan asap terlihat di Teheran, pada Sabtu (28/02).

Kementerian Luar Negeri Iran dalam sebuah pernyataan menyebut bahwa Iran mengetahui "niat" Amerika Serikat dan Israel untuk melancarkan serangan. Meski demikian, pemerintah Iran tetap memilih untuk melanjutkan proses negosiasi.

Pernyataan itu juga mengakui bahwa serangan terjadi "ketika Iran dan Amerika Serikat sedang berada di tengah proses diplomatik".

Putaran ketiga pembicaraan nuklir tidak langsung antara Iran dan AS digelar dua hari lalu, pada 26 Februari, di Jenewa, Swiss—tanpa menghasilkan terobosan.

Iran dan AS sebelumnya juga telah mengadakan lima putaran perundingan pada Mei 2025, namun tidak membuahkan kemajuan.

Putaran keenam yang dijadwalkan berlangsung pada Juni 2025 dibatalkan setelah Israel melancarkan serangan mendadak terhadap target target Iran, yang kemudian memicu konflik 12 hari. Saat itu, AS menggempur tiga lokasi nuklir utama Iran.

Apa yang terjadi?

Sesaat setelah pukul 09:30 waktu Teheran (13.00 WIB), kantor berita Fars di Iran melaporkan bahwa ledakan terdengar di Kota Isfahan, Qom, Karaj, dan Kermanshah, serta di ibu kota Teheran.

peta iran
Asap membubung di kawasan Alun-Alun Hassan Abad, Teheran, Iran, pada Sabtu (28/02).
Keterangan gambar, Asap membubung di kawasan Alun-Alun Hassan Abad, Teheran, Iran, pada Sabtu (28/02).

Foto foto yang dilihat BBC menunjukkan asap membubung di kawasan Jomhouri Square dan Hassan Abad Square, Kota Teheran.

Hingga kini belum diketahui sejauh mana jumlah korban atau luka luka.

Kantor berita Tasnim menyatakan bahwa wilayah udara Iran telah ditutup sejak serangan terjadi.

Apa respons Iran?

Rangkaian gempuran itu tampaknya dibalas oleh Iran.

Militer Israel (IDF) mengatakan telah mengidentifikasi rudal yang diluncurkan Iran menuju wilayah Israel, dan menyebut pihaknya tengah bekerja untuk "mencegat dan menindak setiap ancaman jika diperlukan."

"Sirene berbunyi di sejumlah wilayah di seluruh negeri setelah terdeteksinya rudal yang diluncurkan dari Iran menuju Israel," sebut IDF.

Ledakan dilaporkan terdengar di Kota Haifa dan sejumlah lokasi lain di Israel, namun sejauh ini belum jelas apakah suara tersebut berasal dari hantaman rudal atau hasil pencegatan.

Situasi Jerusalem, pada Sabtu (28/02)

Sumber gambar, AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Seorang warga berlindung di Jerusalem, pada Sabtu (28/02) setelah sirene berbunyi. Pasukan Israel mendeteksi serangan balasan dari Iran.

Warga Israel juga telah diperingatkan untuk tidak berkumpul dan tidak pergi ke sekolah maupun tempat kerja kecuali jika benar‑benar penting. Otoritas menyatakan pedoman ini berlaku hingga Senin pukul 20.00.

Media Israel juga melaporkan bahwa wilayah udara negara itu ditutup untuk penerbangan sipil.

Di kawasan lain, kantor berita resmi Bahrain melaporkan bahwa pusat layanan Armada ke‑5 Angkatan Laut AS yang berbasis di Bahrain "mengalami serangan rudal".

Laporan ini muncul setelah Kementerian Dalam Negeri Bahrain menyatakan sirene darurat telah dibunyikan dan menyerukan warga untuk tetap tenang serta menuju tempat aman terdekat.

Apa yang dikatakan Trump?

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Donald Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat telah memulai "operasi tempur besar besaran" di Iran. Dia menuduh rezim Iran menjalankan "kampanye tanpa akhir berupa pertumpahan darah dan pembunuhan massal yang menargetkan Amerika Serikat".

Presiden AS itu merilis sebuah video di Truth Social, tak lama setelah ledakan dilaporkan terjadi di ibu kota Iran, Teheran.

• Trump mengatakan Iran "tidak boleh memiliki senjata nuklir" dan menjelaskan bahwa itulah alasan Operasi Midnight Hammer menghantam fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan.

• Dia mengklaim Iran menolak setiap peluang untuk menghentikan ambisi nuklirnya dan terus mengembangkan rudal jarak jauh yang dapat mengancam sekutu AS di Eropa, pasukan AS di luar negeri, dan "segera dapat menjangkau daratan Amerika".

• Trump mengatakan AS akan menghancurkan industri rudal Iran "sampai ke tanah" dan "membinasakan" angkatan laut negara itu.

• Dia menambahkan bahwa rezim Iran telah meneriakkan slogan "Kematian bagi Amerika" selama 47 tahun.

• "Nyawa para pahlawan Amerika yang gagah berani mungkin akan hilang, dan kita mungkin akan mengalami korban," ujarnya.

• "Waktu bagi kalian untuk meraih kebebasan telah tiba," kata Trump kepada rakyat Iran, sambil menyerukan mereka untuk "mengambil alih pemerintahan kalian"

Artikel ini akan diperbarui secara berkala.