Epstein berusaha beli istana di Maroko sebelum ditangkap – Fakta apa saja yang telah diketahui?

Sumber gambar, Departemen Hukum AS
- Penulis, Emir Nader
- Penulis, Samuel Owers
- Peranan, BBC Eye Investigations
- Waktu membaca: 6 menit
Jeffrey Epstein, mendiang terpidana kekerasan seksual terhadap perempuan di bawah umur di Amerika Serikat, berusaha membeli sebuah istana bernilai jutaan dolar di Maroko, sehari sebelum penangkapannya pada 2019.
Merujuk dokumen yang dirilis Departemen Hukum AS, Januari lalu, Epstein hendak mengakuisisi Istana Bin Ennakhil sejak 2011. Namun perselisihannya dengan penjual istana itu terkait harga dan pengaturan pembelian terjadi berlarut-larut, selama bertahun-tahun.
Istana megah di kompleks mewah Palmeraie di Kota Marrakesh ini diakui publik sebagai mahakarya arsitektur. Bangunan yang didirikan oleh 1.300 pengrajin ini menampilkan berbagai ukiran dan mosaik yang indah.
Epstein meneken transfer uang senilai US$14,95 juta (sekitar Rp248 miliar) pada 5 Juli 2019 atau sehari sebelum penangkapannya.
Dia mengirim uang itu setelah membeli perusahaan offshore yang berada di luar yuridiksi Maroko, seharga €18 juta (Rp301 miliar). Perusahaan inilah yang memiliki Istana Bin Ennakhil.

Sumber gambar, Reuters

Menurut dokumen yang dirilis Departemen Hukum AS, transfer uang itu merupakan transaksi keuangan besar terakhir Epstein, sebelum dia ditangkap oleh otoritas AS atas tuduhan perdagangan seks.
Namun, selang tiga hari setelah penangkapannya, akuntan Epstein, Richard Kahn, membatalkan transfer uang tersebut. Konsekuensinya, pembelian Istana Bin Ennakhil tidak terjadi.
Maroko tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan AS. Sejumlah media massa di negara itu berspekulasi bahwa salah satu motivasi Epstein membeli istana itu adalah untuk berlindung di Maroko agar bisa menghindari penangkapan penegak hukum AS.
Namun seorang mantan rekan Epstein, yang memilih untuk berbicara secara anonim, mengklaim transaksi itu menunjukkan Epstein "tidak tahu sama sekali" otoritas AS berencana menangkapnya.
Rekan Epstein ini berkata, "masuk akal jika dia memikirkan tempat perlindungan potensial di mana dia masih bisa hidup seperti raja."
Bagaimanapun, berkas yang dirilis Departemen Hukum AS tidak berisi referensi apa pun tentang Epstein yang membahas Maroko sebagai kemungkinan tempat berlindung dari otoritas AS.

Sumber gambar, Departemen Hukum AS
Hubungan Epstein dengan Maroko setidaknya sudah terjadi sejak awal tahun 2000-an.
Virginia Giuffre, salah satu orang yang menudingnya melakukan kejahatan, mengklaim bahwa dia diterbangkan ke Kota Tangier di bagian barat daya Maroko oleh Epstein. Dia berkata diminta Epstein untuk memeriksa desain interior sejumlah properti mewah di kota itu.
Pada saat itu, kata Giuffre, Epstein ingin mendesain ulang sebagian rumahnya di pulau itu dengan gaya Maroko.
Pada tahun 2002, Epstein menghadiri pernikahan Raja Maroko, Mohammed dengan Maxwell, setelah diundang oleh mantan Presiden AS, Bill Clinton.
Berbagai relasi yang dijalin Epstein
Epstein dihukum di AS karena meminta hubungan seks dengan sejumlah anak di bawah umur pada 2008. Setelah dibebaskan dari tahanan rumah pada 2010, minatnya pada Maroko tampaknya makin meningkat.
Berkas yang dirilis Departemen Hukum AS tampaknya menunjukkan bahwa pada tahun yang sama, Epstein meminta mantan menteri kabinet Partai Buruh Kerajaan Bersatu (UK), Peter Mandelson, untuk mencarikan asisten yang dapat "menemukan rumah di Marrakesh".

Sumber gambar, PA
Berbagai dokumen yang dirilis pemerintah AS pada Januari lalu itu merinci bagaimana Epstein melakukan kunjungan berkala ke Maroko sejak 2012.
Epstein juga diketahui tinggal di kawasan Palmeraie yang eksklusif, tempat tinggal komunitas ekspatriat kaya termasuk Jabor al Thani dari keluarga Kerajaan Qatar yang dia sebut sebagai "saudara Arabnya".
Bagaimanapun, siapapun yang disebut atau difoto dalam berkas Epstein tidak berarti terbukti melakukan sebuah kejahatan.
Bin Ennakhil dan 'Tuan Kiss'
Kekasih Epstein, Karyna Shuliak, tertulis sebagai figur yang mulai memimpin pencarian properti di Marrakesh. Dia melakukan banyak kunjungan dan negosiasi yang didokumentasikan dalam email atas namanya.
Marc Leon, yang bekerja untuk firma Kensington Luxury Properties, mengatakan kepada BBC bahwa fokus Epstein tertuju pada properti mereka, yaitu Istana Bin Ennakhil, sejak tahun 2011.
Pada saat itu, Epstein menganggap Istana Bin Ennakhil, yang dimiliki oleh pengusaha limbah asal Jerman, Gunter Kiss, terlalu mahal.
Epstein awalnya mengajukan penawaran sangat rendah. Alhasil, Kiss tersinggung dan menolak untuk berurusan dengan Epstein, menurut sumber yang dekat dengan Epstein kepada BBC.
Selanjutnya, Epstein menggunakan kekasihnya, Karyna Shuliak, serta jaringan di Maroko untuk melakukan inspeksi lebih lanjut terhadap Istana Bin Ennakhil.
Pada 2018, Epstein mengunjungi Istana Bin Ennakhil sebelum Shuliak mengajukan penawaran akhir atas properti tersebut, sambil berpura-pura bertindak atas nama Leon Black, seorang miliarder yang juga teman Epstein.
Pada akhirnya, menjadi jelas bahwa Epstein adalah calon pembeli sebenarnya.
Gunter Kiss setuju untuk melanjutkan negosiasi, menurut dokumen dan sumber yang dekat dengan Epstein.
Berbagai potret dari dalam istana di Maroko yang hendak dibeli Epstein:

Sumber gambar, Departemen Hukum AS

Sumber gambar, Departemen Hukum AS

Sumber gambar, Departemen Hukum AS

Sumber gambar, Departemen Hukum AS

Sumber gambar, Departemen Hukum AS

Sumber gambar, Departemen Hukum AS

Sumber gambar, Departemen Hukum AS

Sumber gambar, Departemen Hukum AS

Sumber gambar, Departemen Hukum AS
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Berkas-berkas tersebut menunjukkan bahwa, pada suatu tahap, Kensington Luxury Properties mengusulkan kepada Epstein sebuah "strategi penjualan dan pajak".
Mereka bersiasat untuk mendaftarkan properti itu kepada otoritas Maroko sebagai terjual seharga 10 juta euro (Rp198 miliar). Sisanya, transaksi sebesar 20 juta euro (Rp396 miliar)akan dicatat untuk saham perusahaan lepas pantai yang memiliki properti tersebut.
Pengaturan tersebut akan memungkinkan Epstein untuk mendaftarkan namanya pada akta kepemilikan Istana Bin Ennakhil, sambil mengurangi pajak yang akan dibayarkannya kepada pemerintah Maroko.
Namun Kensington Luxury Properties membantah kepada BBC bahwa ada upaya yang tidak etis atau ilegal untuk meminimalkan pajak.
"Transaksi ini tidak melanggar peraturan pajak apa pun," kata Leon kepada BBC.
"Epstein ingin membayar biaya pendaftaran di Maroko, meskipun dia tidak berkewajiban untuk melakukannya… agar dapat memiliki properti tersebut atas namanya sendiri."
Kensington Luxury Properties merupakan perwakilan dari rumah lelang terkenal Christie's yang berbasis di Inggris.
Pada akhirnya, Epstein memutuskan untuk membeli Istana Bin Ennakhil hanya dengan membayar saham perusahaan offshore.
Dia sedang dalam proses menentukan cara mendaftarkan istana itu di Maroko saat dia ditangkap pada 2019.




























