Trump ancam blokade pelabuhan Iran demi buka Selat Hormuz, mengapa ancaman itu sangat berisiko?

A woman waves Iran's national flag in front of a giant billboard

Sumber gambar, Anadolu via Getty Images

Keterangan gambar, Seorang perempuan mengibarkan bendera nasional Iran di depan papan reklame raksasa bertuliskan 'Selat Hormuz tetap ditutup' di Lapangan Revolusi, Teheran. Minggu (12/04).
    • Penulis, Anthony Zurcher
    • Peranan, North America correspondent
  • Waktu membaca: 8 menit

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengatakan pemberlakuan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran akan dimulai pada Senin (13/04) pada pukul 10.00 ET atau pukul 21.00 WIB. Militer AS menambahkan bahwa kapal-kapal akan diizinkan melintasi Selat Hormuz.

Langkah ini diambil setelah para perunding dari kedua pihak gagal mencapai kesepakatan di Islamabad untuk mengakhiri perang.

"Tidak seorang pun yang membayar pungutan ilegal akan mendapat jalur aman di laut lepas," tulis Trump di Truth Social.

Dia juga menyatakan bahwa AS akan terus membersihkan ranjau di Selat Hormuz guna menjamin keamanan pelayaran kapal-kapal sekutu.

Militer AS, tambahnya, berada dalam posisi "siap tempur" dan siap melanjutkan serangan terhadap Iran pada "waktu yang tepat".

Apa yang dikatakan Trump tentang blokade pelabuhan Iran?

Dalam unggahan di Truth Social pada Minggu (12/04), Trump mengatakan bahwa AS akan mulai "MEMBLOKADE setiap dan semua kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz".

"Saya juga telah menginstruksikan Angkatan Laut kami untuk mencari dan mencegat setiap kapal di perairan internasional yang telah membayar pungutan kepada Iran. Tidak seorang pun yang membayar pungutan ilegal akan memiliki jalur aman di laut lepas," kata Trump.

Ia menambahkan bahwa AS juga akan mulai menghancurkan ranjau yang menurutnya telah diletakkan Iran di selat tersebut.

"Setiap orang Iran yang menembaki kami, atau kapal-kapal damai, akan DILEDakkan KE NERAKA!" lanjutnya.

Trump mengatakan bahwa "pada suatu titik" kesepakatan tentang jalur lintas bebas akan tercapai, tetapi "Iran tidak mengizinkan hal itu terjadi hanya dengan mengatakan, 'Mungkin ada ranjau di suatu tempat di luar sana,' yang tidak diketahui siapa pun selain mereka".

Ia menambahkan dalam unggahan lain bahwa "Iran berjanji membuka Selat Hormuz, dan mereka dengan sadar gagal melakukannya".

"Seperti yang mereka janjikan, mereka sebaiknya mulai proses MEMBUKA JALAN AIR INTERNASIONAL INI DAN CEPAT!" katanya.

Bagaimana blokade akan berlangsung?

Buku pedoman Komandan Angkatan Laut AS tentang hukum operasi Angkatan Laut yang dirilis pada 2022 mendefinisikan blokade sebagai "operasi perang untuk mencegah kapal dan/atau pesawat dari semua negara, musuh maupun netral, untuk masuk atau keluar dari pelabuhan, lapangan terbang, atau wilayah pesisir tertentu yang menjadi milik, diduduki oleh, atau berada di bawah kendali negara musuh".

Trump awalnya mengatakan Angkatan Laut AS akan memulai proses memblokade selat, "berlaku segera".

Kemudian pada Minggu (12/04), ia mengatakan kepada Fox News bahwa blokade itu "akan memerlukan sedikit waktu, tetapi akan efektif cukup segera", dan menggambarkannya sebagai kebijakan "semua atau tidak sama sekali".

Selat Hormuz, Iran, AS, Trump

Sumber gambar, Shady Alassar/Anadolu via Getty Images

Keterangan gambar, Pemandangan kapal-kapal yang menuju Selat Hormuz setelah gencatan senjata sementara selama dua pekan yang dicapai AS dan Iran dengan syarat selat tersebut dibuka kembali, terlihat di Oman, Rabu, 8 April 2026.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Dalam sebuah unggahan di X, Komando Pusat AS (Centcom) mengatakan pasukannya akan mulai menerapkan blokade pada Senin (13/04) pukul 10.00 EDT (21.00 WIB).

"Blokade akan ditegakkan secara tidak memihak terhadap kapal dari semua negara yang masuk atau keluar dari pelabuhan dan wilayah pesisir Iran, termasuk semua pelabuhan Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman," katanya.

Centcom menambahkan bahwa pasukan AS tidak akan menghambat kebebasan kapal yang transit ke dan dari pelabuhan non-Iran, dan bahwa informasi tambahan akan diberikan kepada pelaut komersial melalui pemberitahuan resmi sebelum blokade dimulai.

Trump mengatakan bahwa negara-negara lain akan terlibat dalam pemblokadean selat tersebut, tetapi tidak menyebutkan negara mana.

Baca juga:

BBC memahami bahwa UK tidak akan terlibat dalam blokade tersebut.

Trump juga mengatakan kepada Fox News bahwa NATO telah menawarkan bantuan untuk "membersihkan" selat itu, seraya menambahkan bahwa selat tersebut akan kembali bebas digunakan "dalam waktu yang tidak terlalu lama".

Trump mengatakan AS akan mengerahkan kapal penyapu ranjau, dan bahwa UK— anggota NATO—juga akan melakukannya.

"Saya memahami UK dan beberapa negara lain mengirimkan kapal penyapu ranjau," katanya.

Perdana Menteri Keir Starmer sebelumnya mengatakan sistem perburuan ranjau militer UK sudah berada di kawasan tersebut.

Seorang juru bicara Pemerintah UK mengatakan: "Kami terus mendukung kebebasan navigasi dan pembukaan Selat Hormuz, yang sangat mendesak untuk mendukung ekonomi global dan biaya hidup di dalam negeri."

Juru bicara tersebut mengatakan Selat Hormuz "tidak boleh dikenai pungutan".

"Kami sedang bekerja secara mendesak dengan Prancis dan mitra-mitra lain untuk membentuk koalisi luas guna melindungi kebebasan navigasi."

Tiga pakar hukum di AS mengatakan kepada BBC bahwa blokade tersebut dapat melanggar hukum maritim. Salah satu di antaranya juga mempertanyakan apakah blokade, yang ditegakkan secara militer, akan melanggar perjanjian gencatan senjata yang berlaku saat ini.

Apa dampaknya?

Dalam jangka pendek, ancaman Trump untuk memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran hanya akan mempengaruhi sejumlah kecil kapal yang masih berlayar di jalur air itu, kata pakar pelayaran Lars Jensen kepada BBC.

"Jika ini benar-benar dilakukan oleh Amerika, ini akan menghentikan arus kapal yang sangat kecil. Dalam gambaran yang lebih besar, ini tidak benar-benar mengubah apa pun," katanya.

Jensen, kepala eksekutif Vespucci Maritime, mengatakan ancaman Trump untuk mencegah jalur aman bagi kapal mana pun yang membayar pungutan kepada Iran juga akan berdampak kecil, karena perusahaan yang melakukannya sudah akan menghadapi sanksi karena membayar kepada rezim tersebut.

"Pertama-tama, hanya ada sangat sedikit kapal yang melintas. Dari jumlah itu, lebih sedikit lagi yang membayar, dan yang membayar sudah akan dikenai sanksi Amerika," katanya.

Sebagian besar perusahaan pelayaran akan terus menunggu dan melihat apakah ada kesepakatan damai sementara dan apakah kesepakatan tersebut akan bertahan, kata Jensen, dan jika itu terjadi, peningkatan pelayaran secara bertahap mungkin akan dimulai kembali.

Mengapa blokade pelabuhan Iran berisiko?

"Saya tidak memahami bagaimana ancaman itu akan mendorong Iran untuk membukanya [Selat Hormuz] kembali," kata Senator Mark Warner dari Virginia, politikus Partai Demokrat di Komite Intelijen Senat, kepada CNN pada Minggu.

Dalam program Face the Nation di CBS, anggota Kongres dari Partai Republik, Mike Turner dari Ohio—yang hingga tahun lalu menjabat sebagai ketua Komite Intelijen DPR—mengatakan bahwa blokade tersebut merupakan cara untuk memaksakan penyelesaian atas situasi di Selat Hormuz.

"Presiden, dengan mengatakan bahwa kami tidak akan begitu saja membiarkan mereka menentukan siapa yang boleh melintas, jelas sedang memanggil seluruh sekutu dan semua pihak untuk duduk di meja perundingan," ujarnya. "Masalah ini perlu ditangani."

Pekan lalu, sebelum Iran dan AS menyepakati gencatan senjata selama dua pekan serta perundingan langsung tatap muka, Donald Trump berada dalam posisi yang sulit.

Dia dapat terus meningkatkan serangan AS terhadap Iran, yang berpotensi menimbulkan kerusakan jangka panjang pada infrastruktur sipil negara tersebut, memperburuk krisis kemanusiaan, serta semakin mengguncang stabilitas ekonomi global.

Atau, dia bisa mundur dari perang yang sejak awal tidak populer di kalangan publik negara itu dan kini mulai menimbulkan frustrasi bahkan di antara sebagian pendukung Trump sendiri—mereka yang selama ini mempercayai janji Trump untuk menghindari konflik luar negeri berkepanjangan dan keterlibatan mendalam di Timur Tengah.

Sebuah jajak pendapat terbaru CBS menunjukkan bahwa mayoritas warga AS (59%) menilai perang ini berjalan agak buruk atau sangat buruk bagi AS.

Trump, AS, Selat Hormuz

Sumber gambar, Matt McClain/Getty Images

Keterangan gambar, Presiden Donald Trump tiba di Gedung Putih pada 12 April 2026 di Washington, DC. Dia kembali dari Florida tempat dia menghabiskan Sabtu malam.

Banyak pihak meyakini bahwa tujuan utama AS—seperti menjaga Selat Hormuz tetap terbuka, menjamin kebebasan yang lebih besar bagi rakyat Iran, serta mengakhiri secara permanen program nuklir Iran—masih belum tercapai.

Mayoritas dari kedua partai di AS menilai pencapaian tujuan-tujuan tersebut sebagai hal yang penting.

Hampir sepekan berlalu dan, meskipun AS mengklaim kemenangan, dilema yang dihadapi presiden pada dasarnya tidak berubah.

Dalam wawancara dengan Fox News pada Minggu pagi, Trump mengatakan Iran pada akhirnya akan memberikan kepada AS "segala sesuatu" yang diinginkannya.

Dia menambahkan bahwa meskipun harga minyak mungkin akan tetap sama atau bahkan lebih tinggi dalam beberapa bulan ke depan, dia meyakini perekonomian AS akan mampu bertahan.

Pernyataan itu, setidaknya, merupakan sebuah pertaruhan besar.

Pemilihan paruh waktu (midterm) pada November semakin dekat, Partai Republik pimpinan Presiden Trump berpotensi menanggung kerugian besar di kotak suara jika perhitungannya keliru.

Pada Sabtu (11/04) malam, saat wakil presidennya tengah berunding dengan para pejabat Iran di Pakistan, Trump justru melakukan perjalanan ke Miami, tempat dia menyaksikan para petarung profesional saling mengalahkan dalam pertandingan kandang UFC (ultimate fighting championship).

Menurut anggota rombongan pers yang hadir, pemandangan tersebut tergolong aneh dan janggal.

Pakistan, Iran, AS

Sumber gambar, Farooq NAEEM / AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Seorang anggota militer Pakistan berjalan melewati papan reklame perundingan perdamaian AS-Iran di Islamabad, 12 April 2026.

Presiden AS terlihat menyaksikan laga adu fisik yang brutal di arena yang berlumuran darah, berbincang dengan para selebritas, dan sesekali terlibat diskusi intens dengan Menteri Luar Negeri Marco Rubio serta para penasihat lainnya— semuanya berlangsung di hadapan ribuan penonton.

Pertarungan ultimate fighting di dalam arena, meskipun brutal, memiliki aturan yang jelas dan batas waktu, serta selalu berakhir dengan pemenang dan pihak yang kalah.

Ke­jelasan semacam itu mungkin tidak akan pernah hadir dalam perang Iran, yang kini memasuki bulan kedua dan gencatan senjata dua pekan tampak berada di ambang kehancuran.

Konflik ini telah berubah menjadi adu keteguhan—antara kemampuan Iran untuk bertahan menghadapi serangan berkelanjutan AS dan Israel, dan sejauh mana Presiden Trump bersedia menanggung beban ekonomi serta tekanan politik yang dihasilkan perang tersebut.

Pada akhirnya, semua pihak yang terlibat dalam pertarungan ini, bisa saja keluar dalam keadaan dirugikan.