Warga Iran merayakan Tahun Baru Persia di tengah perang – 'Saya tidak ingin ini jadi Nowruz terakhir kami'

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, Ghoncheh Habibiazad
- Peranan, BBC Persian
- Waktu membaca: 4 menit
Semua nama narasumber telah diubah atas alasan keamanan.
Menjelang perayaan Tahun Baru Persia, Nowruz, masyarakat Iran biasanya sibuk berbenah.
"Kami biasanya repot bersiap-siap… membersihkan rumah, membeli pakaian baru, manisan, dan camilan," ujar Mina, perempuan berusia 50-an tahun dari Damavand, sebelah timur laut Teheran.
Namun tahun ini berbeda, tuturnya sambil berurai air mata.
"Tahun ini? Setiap hari terasa begitu panjang. Rasanya seperti lupa waktu," ucap Mina.

Sumber gambar, AFP via Getty Images
Nowruz—yang berarti "hari baru"—adalah festival tradisional yang menandai titik ekuinoks musim semi, kelahiran kembali alam, dan awal tahun baru di Iran serta sejumlah negara lain. Perayaan ini sudah berusia lebih dari 3.000 tahun, salah satu festival tertua di dunia.
Tahun ini, Nowruz jatuh pada 20 Maret. Hari berikutnya menandai dimulainya tahun baru Iran.
Namun Nowruz tahun ini akan menjadi Nowruz pertama dalam suasana perang bagi banyak warga Iran.
Baca juga:
Sejak 28 Februari lalu, Iran digempur serangan udara Amerika Serikat dan Israel.
Kelompok HAM berbasis di AS, Human Rights Activists in Iran, melaporkan bahwa 3.114 orang tewas di Iran, termasuk 1.354 warga sipil. Dari jumlah itu, setidaknya 207 di antaranya adalah anak-anak.
Teheran membalas dengan meluncurkan serangan terhadap Israel serta negara-negara sekutu AS di Teluk.
Putra Mina, Amir—yang juga pindah dari Teheran ke Damavand bersama keluarganya—mengatakan Nowruz kali ini terasa sangat berbeda.
"Orang-orang kehilangan pekerjaan karena perang. Kekhawatiran terbesar saya adalah infrastruktur negara kita," ujarnya.
"Dengan kondisi seperti ini, mungkin tidak banyak yang tersisa dari Iran. Saya tidak ingin ini menjadi Nowruz terakhir kami."

Sumber gambar, Amid FARAHI / AFP via Getty Images
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Bagi warga Iran, Nowruz mencerminkan sejarah, karakter nasional, dan tradisi mereka.
Komunitas Persia, Parsi, Kurdi, Armenia, Azerbaijan, Tajik, Kazakh, Uzbek, dan berbagai budaya lain juga merayakan festival ini dengan adat masing-masing.
Terakhir kali warga Iran merayakan Nowruz dalam suasana perang adalah pada 1980-an, saat mereka berperang selama delapan tahun dengan Irak.
Perayaan ini sarat tradisi, termasuk membersihkan rumah secara menyeluruh sebelum hari H—sebuah ritual untuk "menyapu" kesialan tahun lalu dan menyambut awal yang baru.
"Ketika tahun baru tiba, saya tidak tahu apakah suara pengumuman libur di TV akan bercampur dengan suara rudal dan drone… tapi saya sangat berharap tidak," kata Mina.
Baca juga:
Selama libur Nowruz yang berlangsung dua minggu, keluarga besar biasanya saling berkunjung.
Namun sebagian orang enggan kembali ke Teheran, yang mengalami serangan paling berat.
"Kunjungan tahun ini sangat terbatas. Kami sendiri mengungsi—meninggalkan Teheran dan mencari tempat yang sedikit lebih aman," ujar Mina.
"Saya berharap semuanya bisa terhapus dari ingatan, seolah-olah kami baru bangun dari mimpi buruk."

Pasar, pusat perbelanjaan, dan jalan-jalan di seluruh Iran biasanya dipadati warga pada hari-hari terakhir menjelang Nowruz. Namun tahun ini, suasananya jauh berbeda.
"Dulu jauh lebih mudah menemukan semua kebutuhan untuk Nowruz. Sekarang, ke mana pun pergi, selalu ada rasa cemas—apakah kita akan terkena serangan udara atau tidak," ujar Parmis, perempuan berusia 20-an tahun yang tinggal di Teheran.
Meski begitu, Parmis tetap keluar rumah untuk merapikan kuku pada 17 Maret. Salon-salon biasanya ramai pada periode ini, ketika orang bersiap tampil terbaik untuk merayakan Nowruz.
"Saya merasa sebagian orang tetap melanjutkan hidup seperti biasa, termasuk saya. Saya sedang berada di salon ketika terdengar ledakan keras, dan tak seorang pun bereaksi," katanya.

Sumber gambar, EPA
Perempuan lain, Maryam, mengatakan sebagian warga tetap berkeras mempersiapkan perayaan dan menata meja Haft Sin, pusat tradisi Nowruz.
"Ada orang-orang yang membeli perlengkapan Haft Sin. Saya melihat bunga dan beberapa pedagang kaki lima. Tapi tidak, suasananya tidak seperti tahun-tahun sebelumnya," ujarnya.
"Namun, ini tradisi yang hanya datang sekali setahun, dan kita harus tetap merayakannya. Saya membeli beberapa barang dan sebagian sudah ada di rumah. Besok saya berencana menata Haft Sin."
Namun, ada pula warga yang justru mendukung perang terus berlanjut.
"Apa gunanya Nowruz? Selama Republik Islam tetap berkuasa, kita harus hidup dalam kesulitan tanpa akhir. Nowruz selalu datang dan pergi. Kali ini, Republik Islam yang harus pergi," kata Ramtin, pria 30-an tahun di Teheran.
Kian, juga dari Teheran, mengatakan ibunya bahkan "rela rumah runtuh menimpa kepalanya jika itu berarti para ulama akan hilang dari kekuasaan".
"Saya merasakan hal yang sama. Sekalipun semuanya hancur berantakan, saya tetap berpikir Republik Islam harus lengser. Kami tidak peduli soal Nowruz, kami bahkan tidak menyiapkan Haft Sin di rumah."
Nowruz menandai saat ketika dinginnya musim dingin mulai surut, memberi jalan bagi datangnya musim semi yang penuh harapan. Orang-orang biasanya mengajukan permohonan—untuk kesehatan, kebahagiaan, dan awal baru bagi diri sendiri serta keluarga.
Shirin, perempuan berusia 20-an tahun dari Teheran, mengatakan perang yang bertepatan dengan Nowruz "membuat saya merasa lebih buruk."
"Beberapa toko memang buka, tapi aroma Nowruz tidak terasa di udara."



























