Macet panjang di Pelabuhan Gilimanuk, satu pemudik meninggal – 'Mudik tahun ini lebih parah'

Sumber gambar, ANTARA FOTO
- Penulis, Quinawaty Pasaribu
- Peranan, Jurnalis BBC News Indonesia
- Waktu membaca: 10 menit
Pakar transportasi menilai "antrean parah" yang berlangsung di Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali, sejak Minggu (15/03) menunjukkan Kementerian Perhubungan telah "lalai" menjalankan manajemen penyeberangan laut.
Peneliti Senior dari Inisiatif Strategis Transportasi (INSTRAN), Deddy Herlambang, mengatakan Kemenhub semestinya sudah mengantisipasi lonjakan arus mudik Idulfitri yang waktunya berdekatan dengan Hari Raya Nyepi.
"Kami sudah peringatkan jauh-jauh hari, Nyepi sama Lebaran waktunya mepet," ucapnya geram.
Pada Rabu (18/03) kemacetan dan penumpukan kendaraan roda dua dan roda empat di Pelabuhan Gilimanuk menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, masih terjadi. Antrean kendaraan mengular hingga Pura Tirta Segara Rupek atau delapan kilometer menuju Pelabuhan Gilimanuk.
Terbaru, seorang ibu rumah tangga asal Kebumen, Jawa Tengah dilaporkan meninggal dunia setelah pingsan saat mengantre berjam-jam di dalam bus untuk keluar dari Bali.
Sebelumnya, sebanyak 17 pemudik juga tumbang akibat kelelahan dan paparan cuaca panas saat mengantre masuk kapal.
Satu pemudik meninggal dunia
Seorang ibu rumah tangga asal Kebumen, Jawa Tengah, berinisial RP, dilaporkan meninggal dunia usai tak sadarkan diri ketika mengantre berjam-jam di dalam bus yang hendak keluar dari Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali.
Peristiwa tersebut bermula saat korban menumpang bus Tami Jaya bernomor polisi AB 1991 AS jurusan Denpasar-Jawa Tengah.
Korban berusia 39 tahun ini disebut melaporkan perjalanan seorang diri tanpa didampingi keluarga dari Denpasar pada Selasa (17/03) sekitar pukul 17.00 WITA.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Budi Candra Setya
Kemudian, pada Rabu (18/03) sekira pukul 06.45 WITA, korban dilaporkan pingsan di dalam bus yang sedang berada di Kawasan Simpang Manuver, tepatnya di pintu masuk Gilimanuk.
Kondektur bus lalu segera meminta bantuan kepada petugas kesehatan di lokasi.
Korban disebut sempat mendapatkan tindakan medis darurat berupa Resusitasi Jantung Paru (RJP) di Kantor Kesehatan Karantina. Namun, setelah dilarikan ke Puskesmas II Melaya, nyawanya tak tertolong.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Budi Candra Setya
Dokter jaga di Unit Gawat Darurat (UGD) Puskesmas II Gilimanuk, Melaya, dr. Suriyono, mengatakan korban telah meninggal setibanya di fasilitas Kesehatan. Berdasarkan pemeriksaan luar tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.
"Pada saat tiba pasien sudah meninggal. Kalau mungkin dikaitkan dengan kondisi sekarang ini, perjalanan jauh, situasi mengantre lama, kemungkinan ada kaitannya dengan kelelahan fisik," jelas dr. Suriyono.
Baca juga:
Saat ini, jenazah korban masih dititipkan di Puskesmas Gilimanuk. Rencananya jenazah akan langsung dipulangkan ke rumah duka di Kebumen, Jawa Tengah, menggunakan mobil jenazah RSU Negara.
Terpisah, Kapolres Jembrana, Kadek Citra Dewi Suparwati, membenarkan adanya penumpang bus yang meninggal kala mengantre masuk Pelabuhan Gilimanuk.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Budi Candra Setya
"Benar kami mendapat laporan adanya penumpang perempuan yang diketahui meninggal dunia di dalam bus. Saat ini kami masih melakukan penyelidikan," ujar Citra Dewi Suparwati seperti dilansir Detik.com.
Citra memastikan meski ada kejadian tersebut, pengamanan arus mudik dalam Operasi Ketupat Agung 2026 tetap berjalan ketat. Pihaknya juga mengimbau para pemudik untuk tidak memaksakan diri.
"Kami mengimbau para pemudik untuk selalu memastikan kondisi kesehatan fisik yang prima sebelum perjalanan jauh. Segera lapor ke pos pengamanan terdekat jika merasa kurang sehat di perjalanan," tambahnya.
'Ini mudik terparah'
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Kemacetan dan penumpukan kendaraan roda dua maupun roda empat pada arus mudik di Pelabuhan Gilimanuk, Bali, menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, masih berlangsung hingga Rabu (18/03).
Pemantauan di lokasi, antrean kendaraan yang terjadi pada Minggu (15/03) mengular hingga 30-40 kilometer. Pada Rabu (18/03) antrean memanjang hingga Pura Tirta Segara Rupek atau delapan kilometer menuju Pelabuhan Gilimanuk.
Baca juga:
Salah satu pemudik dari Denpasar yang hendak menuju Banyuwangi, Made Eko Juna, bercerita berangkat dari Desa Melaya pada Senin sore pukul 17.30 WITA dan tertahan kemacetan di perjalanan sejak pukul 23.00 WITA.
Pria yang mudik bersama keluarganya ini akhirnya bisa masuk area Terminal Kargo pelabuhan pukul 01.30 WITA atau dini hari. Sesampainya di kawasan tersebut, dia masih terjebak antrean panjang masuk penyeberangan hingga keesokan harinya, Selasa, pukul 12.00 WITA.
Itu artinya, waktu yang habis nyaris dua hari.
"Kalau menurut saya, paling parah tahun ini. Pengaturan lalu lintas (parah), truk-truk juga memengaruhi antrean," cetusnya.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Budi Candra Setya
Pemudik lainnya, Wiwid, juga terjebak kemacetan di Pelabuhan Gilimanuk. Ia berangkat sejak Senin malam pukul 22.00 WITA dari Kota Denpasar. Namun, ia baru berhasil menginjak pelabuhan keesokan harinya, Selasa, jam 13.00 WITA.
"Saya dari Denpasar mau ke Lumajang, Jawa Timur. Mudik tahun ini sepertinya lebih parah dari tahun sebelumnya," tutur perempuan yang mudik bersama tiga anggota keluarganya.
Pada Selasa (17/03), volume kendaraan meningkat yang mengakibatkan kemacetan panjang hingga 20 kilometer dengan ekor antrean menyentuh wilayah Desa Candikusuma, Kecamatan Melaya.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Budi Candra Setya
Antrean menuju pelabuhan diklaim disebabkan lonjakan mobilitas.
PT ASDP Indonesia Ferry, dalam keterangan resminya, mengakui antrean kendaraan menuju Pelabuhan Gilimanuk meningkat signifikan dalam beberapa hari terakhir.
Hal itu, klaim PT ASDP Indonesia Ferry, disebabkan lonjakan mobilitas masyarakat menjelang penutupan sementara layanan penyeberangan Gilimanuk-Ketapang dan sebaliknya pada Hari Raya Nyepi yang jatuh pada 18-20 Maret 2026.
Tingginya pergerakan kendaraan dalam waktu bersamaan tersebut memberikan tekanan besar terhadap kapasitas layanan, sambungnya.
Berdasarkan data Posko Gilimanuk selama 24 jam terakhir atau pada 17 Maret 2026, sebanyak 25.105 unit kendaraan menyeberang dari Bali ke Jawa. Kenaikan signifikan terjadi pada kendaraan roda dua sebanyak 16.909 unit.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Budi Candra Setya
Total perjalanan kapal mencapai 243 kali penyeberangan, dengan jumlah penumpang 74.263 orang. Secara kumulatif, sejak H-10 sampai H-4, jumlah penumpang mencapai 383.398 orang dan jumlah kendaraan sebanyak 122.892 unit.
Wakil Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry, Yossianis Marciano, mengklaim telah melakukan langkah-langkah taktis yang diklaim berdampak langsung di lapangan, seperti pengerahan kapal perbantuan KMP Prima Nusantara milik PT Jembatan Nusantara ke lintasan Ketapang-Gilimanuk.
Kapal itu aktif beroperasi untuk meningkatkan kapasitas angkut, sekaligus mempercepat proses bongkar muat kendaraan. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi percepatan layanan guna menekan waktu tunggu pengguna jasa secara bertahap.
"Seluruh sumber daya saat ini difokuskan untuk mempercepat stabilisasi layanan di lapangan. Pengerahan KMP Prima Nusantara merupakan langkah konkret untuk meningkatkan kapasitas layanan di lintasan tersibuk. Kami juga terus mengoptimalkan pola operasi kapal agar proses penyeberangan berjalan lebih cepat dan antrean dapat ditekan," ujar Yossianis.
'Mitigasi sangat kurang'
Peneliti Senior dari Inisiatif Strategis Transportasi (INSTRAN), Deddy Herlambang, mengklaim sudah mewanti-wanti Kementerian Perhubungan maupun pengelola pelabuhan di Indonesia untuk bersiap menghadapi lonjakan pemudik di Pulau Bali.
Pasalnya, puncak arus mudik Idulfitri berhimpitan dengan Hari Raya Nyepi.
Itu artinya, para perantau di Bali yang kebanyakan berasal dari Jawa Timur bakal pulang ke kampung halamannya sebelum pintu pelabuhan ditutup jelang Nyepi.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Budi Candra Setya
"Kami sudah diskusi juga sama mereka (pengelola pelabuhan dan Kemenhub), sudah kasih peringatan, hati-hari Nyepi sama Lebaran waktunya mepet," ujar Deddy Herlambang kepada BBC News Indonesia, Rabu (18/03).
Deddy menilai, mitigasi yang dirancang Kemenhub maupun pengelola pelabuhan sangat kurang. Sebab, klaimnya, kebanyakan kapal feri justru terkonsentrasi di tiga Pelabuhan Merak-Bakauheni. Yakni Ciwandan, BJJ Bojonegoro, dan Merak.
Berdasarkan pemantauannya, sejak hari pertama arus mudik jumlah kendaraan yang melewati Pelabuhan Merak terbilang sepi.
Dengan kondisi tersebut, Kemenhub semestinya mengerahkan sebagian kapal yang disebutnya menganggur itu ke Pelabuhan Gilimanuk. Apalagi mengingat kapasitas pelabuhan di Bali terbatas.
"Ini jelas kelalaian," sebutnya.
Untuk mengurai antrean, Deddy menyarankan agar pengelola pelabuhan Gilimanuk menambah kapal Roro yang tidak memerlukan dermaga untuk bersandar. Sehingga mempercepat proses pengakutan.
"Kapal-kapal kendaraan itu bisa menyeberang lewat pantai, jadi tidak perlu ke dermaga. Jadi transaksi langsung dari pemilik kapal, operator kapal, ke penyeberang."

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Budi Candra Setya
Adapun Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menilai persoalan mendasar antrean panjang di Pelabuhan Gilimanuk bukan sekadar lonjakan volume kendaraan, seperti yang diklaim PT ASDP Indonesia.
Masalah utamanya, kata dia, terletak pada system kedatangan ke pelabuhan yang belum tertata, serta penambahan armada kapal yang tak dibarengi dengan pembangunan dermaga.
Baik dari aspek jumlah, kualitas, maupun kapasitas.
"Selama infrastruktur dermaga tidak ditambah, ruas jalan menuju pelabuhan akan terus terbebani dan beralih fungsi menjadi area parkir kendaraan," bebernya.
Untuk mengurai benang kusut ini, menurutnya, diperlukan solusi terintegrasi. Yakni mencakup penambahan kapasitas dermaga agar seimbang dengan jumlah armada, perbaikan manajemen kedatangan kendaraan secara terjadwal, serta penerapan sistem tiket daring (online booking) bagi setiap kendaraan.
Selain itu, tambahnya, penyediaan zona penyangga (buffer zone) yang memadai sebelum kendaraan memasuki area utama pelabuhan, agar antrean kendaraan tidak meluber dan memacetkan jalan.
Jika dibandingkan dengan Jawa-Bali, sebutnya, lintasan Jawa-Sumatra yang memiliki tiga pelabuhan, memiliki fleksibilitas tinggi berkat banyaknya pilihan pelabuhan operasional.
Sebaliknya, penyeberangan Jawa-Bali tampak lebih berisiko lantaran hanya mengandalkan poros tunggal Ketapang-Gilimanuk.
"Tanpa adanya pelabuhan alternatif yang sepadan, setiap lonjakan pemudik di jalur ini hampir dipastikan akan memicu antrean panjang yang sulit terurai."
Pemerintah minta maaf
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi, menyampaikan permohonan maaf atas kemacetan parah yang terjadi di jalur menuju Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali, yang mencapai sekitar 31 kilometer.
Ia menyebut, kepadatan tersebut dipicu lonjakan arus kendaraan yang tinggi di penyeberangan Ketapang-Gilimanuk. Meski begitu, dipastikan petugas terus berupaya mengurai antrean di lapangan.
"Memang ada beberapa kejadian yang apa namanya kami mohon maaf, ada penumpukan oleh karena traffic yang cukup luar biasa di penyeberangan Ketapang dan Gilimanuk itu," kata Prasetyo dalam keterangan persnya, Jakarta, Selasa (17/3/2026).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Budi Candra Setya
"Tapi sepenuhnya kita melakukan terus monitoring dan petugas-petugas di lapangan bekerja keras untuk mencari solusi supaya bisa bisa mengurangi kemacetan-kemacetan dan antrean-antrean," ujarnya.
Menurut dia, pemerintah berupaya memastikan arus mudik Lebaran dapat berjalan lancar, termasuk dengan melibatkan berbagai instansi terkait.
Prasetyo juga mengapresiasi masyarakat yang memanfaatkan kebijakan work from anywhere (WFA) untuk mudik lebih awal. Ia menilai langkah ini dapat membantu mengurangi kepadatan lalu lintas.
Selain itu, ia berterima kasih kepada aparat dan instansi yang terlibat dalam pengamanan dan pengaturan arus mudik, mulai dari kepolisian hingga Kementerian Perhubungan serta BUMN terkait.
Ia menyebut, Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan kementerian/lembaga, termasuk TNI, untuk mengerahkan sarana transportasi guna mendukung kelancaran mudik.
"Termasuk (menyiapkan) kapal-kapal laut kita untuk membantu kelancaran arus mudik," katanya.
Sebelumnya, Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, mengatakan pemerintah bersama Korlantas Polri dan PT ASDP terus mengoptimalkan penanganan di lapangan melalui pengoperasian kapal berkapasitas besar, penambahan armada menjadi 35 unit, optimalisasi buffer zone, serta penerapan sistem tiba-bongkar-berangkat guna mempercepat layanan.
Selain itu, kepatuhan terhadap pembatasan operasional angkutan barang, khususnya truk sumbu tiga ke atas, turut menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran arus kendaraan menuju pelabuhan.
Dalam peninjauan pada Selasa (17/02) kemarin, Kapolda Bali Daniel Adityajaya memberikan arahan strategisnya kepada Kapolres Jembrana dan jajarannya untuk mengambil langkah taktis, dengan menciptakan kantong-kantong parkir alternatif yang dapat menampung antrean kendaraan penyeberangan guna memecah penumpukan kendaraan yang selama ini mengandalkan Terminal Kargo Gilimanuk.
"Selain rekayasa kantong parkir tambahan, prioritas penyeberangan juga harus diberikan kepada pengendara roda dua, kendaraan pribadi, dan kendaraan logistik agar distribusi pasokan kebutuhan pokok tetap lancar," imbuh Daniel.
Wartawan Christine Nababan di Bali berkontribusi untuk laporan ini.



























