Apakah kata penutup di email menunjukkan jati diri siapa kita?

emial

Sumber gambar, Getty Images

    • Penulis, Sally Heaven
    • Peranan, BBC Capital

Ketika surat tradisional masih menjadi satu-satunya medium untuk kita berkorespondensi, maka cara kita menutup surat amatlah jelas.

Jika memulai surat dengan menulis "Yang terhormat Bapak/Ibu", kita akan mengakhirinya dengan penutup semacam, "salam hormat".

Seandainya kita menulis untuk orang yang spesifik, misalnya Pak Bambang, kita biasanya mengakhiri surat dengan "salam" saja. Hanya ketika menyurat pada keluarga terdekat kita menggunakan kata "sayang" atau "cinta".

Namun, kemunculan email telah mengubah etika orang dalam surat-menyurat. Aturannya tidak lagi jelas, bahkan tidak ada. Orang bisa menutup email dangan "Da da..." atau "Sip dah".

"Email adalah salah satu medium yang kita gunakan dalam berbisnis, berhubungan dengan keluarga, pacar, hampir segalanya," kata penulis buku Michael Rosen. Ketika kita menutup email, kita tentu berupaya memberikan "kesan yang tepat".

Dia menambahkan, yang terpenting adalah bagaimana kita ingin terlihat di mata penerima email. "Pintar, ramah, atau terkesan sangat sibuk".

cheers
Keterangan gambar, Misalnya kata "Cheers" biasa digunakan untuk menutup email di Inggris. Tetapi di tempat lain, orang hanya memahaminya sebagai kata jelang bersulang.

Beberapa pebisnis sukses bahkan dikenal kasar dalam membalas email. Bahkan sama sekali tidak menulis kalimat penutup.

"Aneh juga sekarang cara kita membalas email bisa memperlihatkan status kita. Semakin timnggi posisi kita, semakin bebas pula kita membalas email dengan seenaknya, bahkan kasar," kata penulis Emma Gannon, mengenang salah satu bosnya yang membalas email hanya dengan satu kata "ok", "nggak".

Meskipun menjawab email dengan pendek-pendek bisa mewakili status, cara membalas email seperti ini juga bisa memperlihatkan sikap arogan si pengirim. Dan kita juga kerap berhubungan dengan bos yang kerap menulis dengan nada resmi berkesan memerintah, "apa kerjaanmu sudah selesai?" atau "kabari saya perkembangannya".

Namun, pengguna email paling banyak mengesankan diri mereka sedang sibuk, sehingga menggunakan penutup berupa singkatan. Misalnya "terima kasih" diubah menjadi "trims" atau "mks".

Ada juga yang menutup email dengan upaya minimum, menggunakan nama mereka, atau inisial nama depan. Tidak sedikit pula yang tidak menggunakan penutup email sama sekali. Mungkin ini dilakukan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Selain itu ada pula yang sengaja terkesan bersahabat, menutup email dengan "kecup sayang", atau "peluk sayang", yang jelas terlarang di dunia bisnis.

email
Keterangan gambar, Anda sepertinya harus mempertimbangkan dua kali sebelum menutup email dengan menggunakan huruf "X" yang berarti "cium", karena banyak yang menilainya tidak sopan.

Dan cara menutup email yang dianggap sopan di satu negara, bisa dianggap aneh di negara lain. Di Inggris, orang kerap menutup email dengan kata "cheers". Namun, itu juga berarti "mari bersulang" di banyak tempat.

Bagi Rosen, cara orang menulis dan menutup email sekarang ini berada di posisi antara mengetik di handphone dan surat tradisional.

"Yang terpenting adalah email tidak sama dengan surat tradisional. Saya selalu menanamkan di pikiran bahwa cara menulis di email itu berada di antara seperti menulis pesan di HP dan menulis surat biasa. Nyaris formal, tapi tidak terlalu formal. Namun, tidak pula begitu tidak formal dengan menggunakan kata "Otw" atau "Sip"," ungkap Rosen.

Dan dengan segala transisi dan perubahan itu, maka cara kita menutup email akan selalu terus berkembang.

line

Anda bisa membaca versi asli dari artikel ini dalam Bahasa Inggris berjudul Are people misinterpreting your email sign-off? di BBC Capital.