Seberapa pentingkah kemampuan mengeja?

Sumber gambar, NurPhoto
- Penulis, Lennox Morrison
- Peranan, BBC Capital
Zaman sekarang, bisnis amat mengandalkan keahlian mengetik cepat di layar ponsel. Tapi jangan sampai salah mengeja kata, jika tidak ingin dicap kurang cerdas dan tidak kredibel.
Eranya tukang ketik sudah lewat. Sehari-hari aktivitas bisnis sudah dituntaskan via ponsel dan dituntut pula kemampuan mengetik cepat di layar yang sempit. Teknologi yang bertambah ringkas dibarengi pula dengan tuntutan untuk segera merespon surel, sehingga beberapa kesalahan pengetikan tak terhindarkan. Belum lagi dengan adanya fitur koreksi otomatis, kata yang sudah diketik berubah menjadi kata tidak pantas. Lengkap sudah deritanya.
Situasi seperti ini sering terjadi, hampir semua orang pernah mengalami. Bahkan, situs web dan berbagai publikasi online pun tak lepas dari kesalahan tipografi.
Masih ingat kata 'covfefe' yang sempat dikicaukan oleh Presiden Trump di Twitter?

Sumber gambar, Getty Images/Martin Barraud
Kesalahan ejaan beberapa sifatnya tidak serius, bahkan ada yang jenaka. Tapi tidak sedikit juga yang punya efek sebaliknya.
Jangan pandang sepele tipografi, sebab ini akan mempengaruhi persepsi orang terhadap Anda. Begitu Anda salah mengeja sebuah kata, langsung Anda dicap kurang cerdas. Ejaan buruk juga biang kebingungan, sehingga membuat orang salah paham dan kurang jelas dengan maksud yang ingin Anda sampaikan. Ekstremnya lagi, gara-gara tipografi orang bisa menelan kerugian miliaran rupiah serta kehilangan peluang kerja.
Salah tipografi juga berpotensi merusak bisnis dan menghancurkan peluang Anda mendapat pasangan hidup.
Lantas, kalau tidak ada orang yang kebal dari tipografi, masih pentingkah menguasai ejaan yang baik? Apakah salah mengeja kata tergolong kesalahan yang wajar?
Fitur cek-ejaan: sumber masalah
Sebenarnya, adanya fitur pengecek ejaan berusaha menjawab persoalan yang dihadapi dengan tipografi. Sayangnya, fitur tersebut justru menambah persoalan baru, menurut pakar teknologi baru dalam penulisan dan pendiri Belt Publishing di Ohio, Amerika Serikat, Anne Trubek.
Dalam suatu perbandingan esai mahasiswa di Amerika Serikat yang dilakukan dalam periode panjang, didapati bahwa kasus salah ejaan adalah kesalahan yang paling sering terjadi. Sumbernya bukan karena para mahasiswa ini salah dalam pemakaian kata, ungkap Trubek. ''Adanya fitur cek ejaan yang mengoreksi kata yang sudah diketik menjadi kata lain yang belum tentu kita kehendaki, adalah persoalannya. Kalau selesai mengetik mereka tidak membaca ulang tulisan tersebut, kesalahan yang dilakukan komputer ini terlewat begitu saja.
Adanya teknologi Siri di perangkat Apple juga berkontribusi menambah tingkat apatisme orang akan ejaan yang benar. ''Sejak dulu teknologi berkembang, mulai dari pena bulu, pulpen, bolpoin, sampai papan ketik. Semua ini tujuannya mempercepat Anda menyampaikan sesuatu supaya lajunya juga sinkron dengan isi gagasan di kepala Anda,'' kata Trubek. ''Dari antara semuanya, Siri yang terbaik.''
Fitur koreksi otomatis juga diduga sebagai biang keladi munculnya kata "'peach' (buah persik) di Timur Tengah", bukan "'peace' (perdamaian) di Timur Tengah", di dalam pernyataan pers resmi Gedung Putih, baru-baru ini. Hal tersebut disampaikan Profesor Bahasa Inggris dan Literatur di Universitas Oxford, Simon Horobin. ''Akan ada banyak persoalan muncul saat Anda begitu yakin metode tersebut aman, dan Anda tidak sadar sesungguhnya metode itu gagal. Itu sebabnya, paling aman jika Anda belajar cara mengeja dengan benar,'' ungkapnya.
Di masa lalu, teks tertulis akan melewati proses penyalinan dan penyuntingan, serta koreksi. Ini untuk menghindari kesalahan ketik. Tapi sekarang proses yang dilewati konten online berbeda dan siklusnya lebih cepat, serta sering sekali terjadi kesalahan ketik, kata Horobin, penulis Does Spelling Matter? serta How English Became English.
''Anggapan orang, pesan jangka pendek sifatnya tidak kekal. Fana. Padahal bagian dari fungsi internet yang sesungguhnya yaitu, teks tertulis itu akan selalu ada sampai bertahun-tahun lamanya sehingga orang masih membacanya,'' dia memperingatkan.
Hati-hati, Anda dinilai
Survei yang digelar situs kencan Match.com, melibatkan 5.500 lajang Amerika pada 2016, mendapati bahwa ada 39% responden yang menilai calon pasangan mereka dari kemampuan memahami tata bahasa. Bahkan, faktor ini dinilai lebih penting dari senyuman, selera pakaian, dan kesehatan gigi calon pasangan.
Dan, riset lain mengatakan, sebagian orang sangat sensitif terhadap kesalahan tipografi. Saat melihat kesalahan semacam itu dalam situs web misalnya, mereka akan langsung meninggalkan situs tersebut, karena khawatir dan menduga ada unsur penipuan di situ.
Para pemilik perusahaan sadar betul bagaimana pencitraan mereka bergantung pada ketepatan dalam menulis kata dan tata bahasa yang benar, kata profesor bidang menulis di Universitas Queensland Australia, Roslyn Petelin. "Anda bisa kehilangan kredibilitas dalam sekejap saat Anda memakai ejaan yang salah, ini termasuk juga salah memakai tanda baca,'' kata dia.
Di pengadilan, ada juga beberapa kasus muncul akibat salah ejaan, kata dia. Baru-baru ini perusahaan Taylor & Sons di Inggris menuntut secara hukum lantaran merasa dirugikan hingga miliaran rupiah karena adanya kesalahan penulisan akibat kurang satu huruf saja.

Sumber gambar, NurPhoto
Lemah dalam mengeja kata juga bisa jadi sandungan Anda mendapat pekerjaan impian. Banyak perusahaan di Australia sekarang mensyaratkan tes tertulis bagi pelamar kerja, kata Petelin. "Buat mereka yang baru lulus kuliah, mereka mungkin cakap dan menguasai berbagai keahlian komunikasi, tapi kalau mereka tidak bisa menulis secara koheren tetap saja tidak ada yang mau mempekerjakan mereka.''
Sebuah kelompok lobi bisnis bernama CBI menggelar survei terhadap bos-bos di Inggris, yang total karyawannya mencapai 1,2 juta orang. Dari survei tersebut diketahui bahwa 37% perusahaan tidak puas dengan standard literasi dan penggunaan Bahasa Inggris para lulusan universitas dan SMA.
''Keliru jika menanamkan ke generasi muda bahwa persoalan itu sepele. Sebab ini sesungguhnya keahlian dasar dan gerbang masuk untuk mengambil peran dan mengembangkan keahlian lain,'' ujar Pippa Morgan dari CBI.
Kemampuan mengeja dengan benar sekarang dibutuhkan, bahkan lebih dari sebelumnya, kata dia. "Jika layanan pelanggan suatu perusahaan hanya via Twitter, maka satu-satunya peluang interaksi perusahaan ke konsumen adalah lewat pesan-pesan teks tersebut. Itu sebabnya ejaan sama pentingnya dengan tampilan bersahabat saat menyambut konsumen di toko atau menjawab ramah telepon dari konsumen," kata Morgan.
Pengecualian
Ejaan yang keliru, singkatan untuk memperpendek kata dibolehkan untuk beberapa kondisi tertentu. ''Misalnya kami menggunakan istilah 'biz' saat berkicau di Twitter, kependekan dari kata business (bisnis),'' kata Morgan.
Dan untuk beberapa konteks, bahasa informal dibutuhkan. "Jika Anda mengirim email ke wakil pimpinan yang usianya 21 tahun dan bilang "Yang terhormat Tuan Jones" dan Anda menggunakan diksi yang kelewat formal, ini juga bisa jadi masalah," kata Trubek.

Sumber gambar, Liam Bailey
Orang-orang yang akan mempermasalahkannya, barangkali 'grammar Nazi' di medsos atau kalangan yang selalu ingin mengoreksi tata bahasa atau ejaan orang lain. Sedangkan, beberapa orang punya trik lain dengan menambahkan pada ujung pesannya: 'Dikirim cepat lewat iphone, maaf kalau ada salah ketik'.
Kesepakatan semacam ini di lingkungan online lahir dari perbincangan para penggunanya, namun apa saja aturan yang sebenarnya berlaku tidak yang tahu, kata Horobin. Dan, biasanya aturan soal ejaan, tata bahasa, dan tanda baca cenderung lebih di postingan Twitter atau Facebook yang sifatnya lebih informal. Sedangkan untuk email, lebih sulit, kata dia. ''Ada kalanya posisi email itu di tengah-tengah, antara formal dan tidak formal."
Kita sering juga menyesuaikan omongan yang kita sampaikan dengan tema kuliah yang diangkat, model wawancara kerja, atau misalnya sekadar percakapan antar teman. Nah, kita perlu juga penyesuaian serupa dalam penggunaan bahasa di dunia digital, kata Horobin.
Untuk sementara waktu, apa pendekatan paling baik untuk persoalan ejaan?
''Sebaiknya Anda menulis ejaan dengan benar sejak proses suatu gagasan ditulis. Sebab orang masih menilai orang lain dari baik tidaknya ejaan. Itu kenyataan, kejam memang,'' kata Horobin.
''Mending benar dan sedikit rewel serta kuno, ketimbang berusaha kelihatan santai tapi akhirnya Anda justru bikin kesal orang lain hanya karena kesalahan ejaan yang kecil, tapi mengubah anggapan orang lain terhadap diri Anda."
Anda bisa membaca versi Bahasa Inggris dari artikel ini diBBC Capital, judulnya The true importance of good spelling.










