Cara menolak pekerjaan tambahan ketika Anda belum berkeluarga

Pekerja kantoran perempuan

Sumber gambar, Getty Images

    • Penulis, Maddy Savage
    • Peranan, BBC Capital

Meski bekerja dengan waktu yang fleksibel kini populer, namun banyak karyawan lajang yang merasa bahwa mereka harus membantu menyelesaikan tugas kolega mereka yang sudah berkeluarga. Pelatih karier menyarankan mereka untuk menolaknya.

Janice Chaka menghabiskan waktu makan siangnya untuk mengatur kelas memasak dadakan untuk seorang teman dekat yang datang dari luar kota.

Setelah terjebak dalam kemacetan dalam perjalanan pulang dari lokasi acara, dia tiba di kantornya, terlambat lima menit setelah waktu makan siangnya berakhir.

"Saya ditanyai macam-macam dan saya harus tinggal lebih lama dan menyelesaikan pekerjaan tambahan," katanya.

"Tapi saya tahu, kalau saya terlambat karena membawa anak saya ke dokter, maka ini tidak akan jadi masalah, malah saya sepertinya bisa mengambil izin setengah hari."

Kisah ini terjadi 10 tahun lalu, saat Chaka bekerja di bagian sumber daya manusia di Guadalajara, Meksiko.

Namun pengalaman ini, menurutnya, menunjukkan pola yang menurutnya umum terjadi dalam perjalanan kariernya di perusahaan Fortune 100 di AS dan Meksiko sepanjang usia 20an, baik sebagai karyawati lajang maupun saat berada dalam hubungan tanpa anak.

Kolega dengan anak-anak juga mendapat prioritas ketika mereka memilih tanggal cuti yang mereka inginkan, katanya, sementara sesama karyawan yang lajang atau tanpa anak harus kesulitan mendapat waktu cuti untuk merawat kerabat yang lebih tua atau lebih sering diminta melakukan perjalanan ke luar kota.

COO Facebook Sheryl Sandberg.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, "Pastikan karyawan lajang mengetahui bahwa mereka juga punya hak untuk kehidupan yang penuh," kata COO Facebook Sheryl Sandberg.

"Asumsinya, Anda bisa langsung meninggalkan semuanya seperti tidak ada beban lain," kata Chaka.

"Sebenarnya, sebagai orang lajang, kehidupan menjadi semakin mahal, Anda harus melakukan semuanya sendiri dan Anda tidak punya orang lain untuk berbagi beban keuangan jika sesuatu tidak berjalan dengan baik."

Meski sulit untuk memastikan data konkret untuk membuktikan seberapa besar sebenarnya 'hukuman' tidak langsung terhadap para pekerja lajang di tempat kerja mereka, sebuah penelitian di Inggris terhadap 25.000 pekerja mendapati bahwa dua pertiga perempuan tanpa anak berusia 28 sampai 40 tahun merasa bahwa mereka diharapkan untuk bekerja lebih lama.

Dan semakin banyak pekerja, akademisi dan analis yang meneliti masalah tersebut.

Pekerja keras perusahaan

Dalam penelitian untuk bukunya, Going Solo, Eric Klinenberg, profesor sosiologi di New York University mewawancarai ratusan orang lajang di Eropa dan Amerika dan menemukan bahwa "ada persepsi luas bahwa orang lajang menjadi pekerja andalan di kantor mereka."

"Saya bertemu banyak pekerja yang mengeluhkan bahwa manajer mereka melihat mereka selalu bisa untuk tugas larut malam dan akhir pekan, karena mereka tidak punya anak atau pasangan," katanya.

"Dalam beberapa hal, saya bertemu perempuan yang mengatakan bahwa permintaan mereka untuk naik gaji ditolak, karena manajer mereka yakin para perempuan ini tidak membutuhkan uang tambahan seperti halnya kolega mereka yang memiliki anak," kata si penulis.

Bella DePaulo, seorang profesor psikologi di University of California, Santa Barbara, menjajaki fenomena tersebut di buku-buku dan penelitiannya dan mengenalkan istilah "singlism" untuk menyebut stigmatisasi, stereotip negatif dan diskriminasi terhadap karyawan lajang.

Pandangan ini, diyakininya, tersebar luas di tempat kerja dan di masyarakat.

Dia mengatakan bahwa banyak atasan yang tidak menyadari bahwa bagi para karyawan lajang, mereka bukannya orang-orang kesepian atau terisolir, justru mereka lebih aktif di komunitas dan memiliki ikatan kuat dengan teman-teman yang "rasanya seperti keluarga, meski bukan keluarga dalam pandangan tradisional".

Jonas Almeling

Sumber gambar, Jonas Almeling

Keterangan gambar, Bagi Jonas Almeling, seorang mantan entrepreneur yang menjabat Kepala Bidang Inovasi untuk badan ekspor dan perdagangan Swedia, bersimpati adalah upaya yang harus dilakukannya.

Jadi apa yang harus dilakukan oleh pekerja lajang ketika mereka merasa ditunjuk karena pilihan atau situasi hidup mereka, tapi tidak ingin membahayakan karier dan reputasi?

"Jangan mengeluh dan marah-marah akan situasi itu," adalah nasihat pertama dari mentor bisnis asal Inggris David Carter.

Menurutnya, "jawabannya ada di kerumunan."

Kolega yang lajang harus mempertimbangkan untuk pergi ke klub bersama, katanya, untuk menemukan dan mengajukan perubahan atas praktik-praktik perusahaan yang mungkin menguntungkan organisasi itu secara luas, tapi di waktu yang sama menunjukkan kemampuan mereka menyelesaikan masalah.

Dan ini jauh lebih mudah dilakukan, karena semakin banyak orang yang memutuskan untuk menikah semakin tua atau malah tidak sama sekali.

Penelitian Pew Report pada 2014 memperkirakan bahwa satu dari empat orang dewasa muda di AS belum akan menikah sampai usia 50, sementara jenis rumah tangga paling umum di Uni Eropa adalah rumah tangga orang lajang, menurut badan statistik Uni Eropa, Eurostat.

Salah satu cara yang dianjurkan oleh Carter adalah sistem poin dalam sharing economy, menggunakan pencatatan digital atau fisik, seperti kancing, yang memungkinkan karyawan untuk saling bertukar tugas atau jam kerja, dan membantu kolega lainnya.

Dengan memastikan tidak ada orang yang kelebihan atau kekurangan lima poin, maka tidak ada yang merasa lebih diuntungkan atau dirugikan.

"Ini bukan soal bagaimana seseorang akan menggunakan waktu liburnya — apakah itu bungee jumping, belanja untuk kado Natal, kencan atau menonton acara sekolah anak Anda — ini soal memastikan semua orang bekerja 40 jam seminggu di waktu yang mereka pilih," katanya.

Carter, yang mengizinkan karyawannya untuk bekerja "di manapun dan kapanpun mereka mau sepanjang pekerjaannya selesai", mengakui bahwa sistem poin yang disarankannya ini akan lebih sulit diterapkan di perusahaan besar.

Meski begitu, dia berkeras bahwa perusahaan yang gagal untuk mencari cara meningkatkan fleksibilitas bagi semua pekerjanya akan kehilangan orang-orang dengan kinerja bagus.

Bella DePaulo

Sumber gambar, belladepaulo.com

Keterangan gambar, Bella DePaulo mengenalkan istilah 'singlism' untuk menggambarkan stigmatisasi dan diskriminasi terhadap karyawan lajang yang diyakininya banyak terjadi.

"Ada alasannya dinosaurus punah. Kecuali Anda beradaptasi dan mulai menjadi fleksibel — yang merupakan bagian dari pola pikir millennial — dalam hal perekrutan dan mempertahankan karyawan yang baik, maka Anda akan menjadi seperti dinosaurus," katanya.

Ditunjuk

Chief operating officer Facebook, Sheryl Sandberg, membuat penilaian yang kurang lebih sama dan banyak dikutip, lewat bukunya Lean In, dan membagikan kisah tentang seorang perempuan lajang yang merasa bahwa pergi ke pesta harus dianggap sebagai alasan yang sama kuatnya untuk meninggalkan kantor tepat waktu seperti halnya menghadiri pertandingan olahraga anak, karena dia harus bertemu dengan orang baru untuk mulai berkeluarga dan memiliki anak sendiri.

"Pastikan bahwa karyawan lajang tahu bahwa mereka berhak untuk menjalani hidup yang lengkap," kata Sandberg pada para manajer.

Pemimpin bisnis lain mengatakan bahwa menawarkan jadwal kerja yang sama bagi semua karyawan dalam hal jadwal kerja mudah diucapkan, tapi sulit diterapkan.

"Ada perbedaan perspektif antara orang-orang yang sudah menjadi orangtua dan mereka yang bukan orangtua. Jika Anda tidak menjadi orangtua, Anda tidak bisa benar-benar melihat bagaimana hal itu mengubah kehidupan dan prioritas Anda," kata Jonas Almeling, seorang bekas entrepreneur yang menjadi Kepala Bidang Inovasi di badan ekspor dan perdagangan Swedia, yang juga ayah satu anak.

"Saya tentu tidak akan punya kelonggaran yang sama dengan orang yang bilang, 'oh maaf, saya akan pergi kayaking' dan dibandingkan dengan orang yang menjemput anak dari TK," katanya.

"Tapi di sisi lain, karyawan yang berkualitas adalah orang yang memiliki tingkat kualitas hidup yang tinggi, terlepas dari pilihan yang mereka ambil. Jadi mungkin memang dibutuhkan sudut pandang yang lebih luas."

Janice Chaka

Sumber gambar, Janice Chaka

Keterangan gambar, Janice Chaka kadang merasa dia diperlakukan tidak adil karena tak memiliki alasan yang tepat untuk berada di luar kantor.

Sepuluh tahun sejak insiden kelas memasak itu, Janice Chaka kini adalah seorang coach bisnis yang sukses, selain juga sebagai konsultan dan memiliki podcast sendiri.

Dia mengaku bahwa sebelumnya dia merasa bersalah untuk minta waktu libur ketika kolega lain ingin menghabiskan waktu dengan anak-anak mereka.

Dia juga kadang merasa harus melebih-lebihkan alasannya untuk meninggalkan kantor tepat waktu, untuk menghindari terlihat seperti orang yang tidak peduli dengan keluarga orang lain.

Namun, sejak berhenti dari dunia korporat dan bekerja untuk dirinya sendiri, dia menyarankan kliennya untuk menghindari cara pendekatan itu.

"Tak seharusnya Anda merasa terancam atau tidak enak karena ingin memiliki keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan, terlepas Anda punya anak atau tidak," katanya.

Sarannya, ketahuilah dalam-dalam akan bisnis yang Anda jalani, mencari tahu akan budaya kerja serta kebijakannya di awal.

Dan yang terpenting, saat Anda bekerja, dia menyarankan untuk tidak berteman dengan kolega di tempat kerja di media sosial sehingga mereka tidak diberi kesempatan untuk menilai aktivitas yang Anda anggap penting sampai harus meninggalkan kantor tepat waktu atau saat Anda harus mengambil hari libur.

"Carilah perusahaan yang tidak bertanya — atau tidak peduli — alasan Anda minta cuti. Anda masih tetap bisa mendapat promosi itu, bukan dengan bekerja lebih keras atau lebih lama, tapi dengan bekerja lebih cerdas."

Anda bisa membaca versi asli tulisan ini di How to say no at work when you don't have kids di laman BBC Capital