Kisah remaja Palestina yang ditembak tentara Israel dan dibiarkan kehabisan darah hingga meninggal – 'Petugas medis dihalangi untuk menolong'

- Penulis, Joel Gunter
- Peranan, Reporting from the occupied West Bank
- Waktu membaca: 7 menit
Cerita ini mengandung detail dan video yang mungkin mengganggu bagi sebagian pembaca.
Pada November 2025, remaja berusia 14 tahun bernama Jad Jadallah ditembak dari jarak dekat oleh tentara Israel di sekitar kawasan kamp pengungsi di Tepi Barat.
Jad dibiarkan tergeletak tak berdaya dan para tentara tersebut mengelilinginya dengan membentuk barikade sehingga menghalangi dua ambulans Palestina yang hendak menyelamatkannya.
Dari rekaman video dan para saksi mata, sebanyak 14 orang tentara terlihat berdiri santai di sekitar Jad yang terus mengeluarkan darah akibat luka tembaknya.
Mereka berada di situ setidaknya selama 45 menit, tapi tak ada upaya sedikit pun untuk memberikan pertolongan medis pada Jad.
Padahal, semua tentara Israel telah menerima pelatihan dalam penanganan trauma.
Bahkan setiap unit tempurnya memiliki petugas medis yang terlatih khusus.
Akan tetapi, mereka tampak mengabaikan Jad yang berulang kali meminta bantuan.
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Terkait hal ini, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) berkata kepada BBC bahwa tentara telah memberikan "perawatan medis awal", tapi juru bicara menolak memberikan rincian tentang bentuk perawatan yang dimaksud dan waktu pemberian perawatan.
IDF justru melayangkan tuduhan bahwa Jad melemparkan batu.
Sesuai aturan pertempuran yang dianut IDF, pelemparan batu ini merupakan salah satu hal yang memungkinkan tentara menggunakan kekuatan mematikan.
Namun, rekaman insiden yang tersedia menunjukkan tentara IDF meletakkan benda di samping Jad setelah dia ditembak.
Lalu, tentara itu memfoto benda itu. Keluarga Jad dan kelompok hak asasi manusia terkemuka menilai hal ini seperti upaya untuk memfitnah Jad.
Jad pun meninggal dunia dan jasadnya tidak dikembalikan pada keluarga karena para tentara itu memasukkan Jad ke bagian belakang kendaraan miiter Israel.
Hingga kini, tak diketahui jelas bagian mana dari tubuh Jad yang tertembak dan berapa kali ditembak karena militer Israel menolak menjawab pertanyaan apapun terkait luka yang dialami Jad.

Ditembak dari jarak dekat
Jad lahir dan dibesarkan di al-Far'a, sebuah kamp pengungsi di Tepi Barat yang menjadi rumah bagi sekitar 10.000 warga Palestina.
Bersama dengan kamp-kamp serupa di wilayah yang diduduki, kamp ini sering menjadi sasaran serangan militer Israel, yang menurut Israel diperlukan untuk melawan kelompok bersenjata yang beroperasi di sana.
Kematian Jad ini menambah deret panjang anak dan remaja yang menjadi korban kekerasan tentara Israel.
Menurut PBB, 55 anak tewas akibat serangan pasukan Israel di Tepi Barat tahun lalu. Kemudian, sebanyak 227 anak tewas sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Dua hal yang menonjol dalam kasus ini. Pertama adalah Jad terbaring di tanah tanpa perawatan selama berjam-jam, dengan banyak tentara di sekitarnya, hingga ia meninggal.
Kedua adalah munculnya berbagai rekaman video insiden tersebut, yang telah diverifikasi oleh BBC.
Momen tepat penembakan terekam oleh kamera CCTV di kamp tersebut.
Rekaman tersebut menunjukkan tiga anak laki-laki berdiri di sudut gang.
Pertama, mereka melirik ke kanan, yang menurut saksi mata, ke arah kendaraan militer Israel yang baru saja meninggalkan kamp menuju pintu keluar.
Kepada BBC, salah satu dari dua teman Jad yang sempat bersama di lokasi mengungkapkan mereka keluar usai postingan di sebuah grup pesan yang mengumumkan unit-unit Israel sedang meninggalkan tempat tersebut.
Sementara itu, para pemuda mengintip dari balik sudut untuk memeriksa.
Tanpa disadari oleh Jad dan teman-temannya, sekelompok empat tentara Israel telah menunggu di belakang dan berdiri hanya beberapa meter di sebelah kiri mereka, bersembunyi di balik dinding.
Teman-teman Jad melihat tentara-tentara itu terlebih dahulu dan berlari menjauh ke gang. Jad entah tidak melihat mereka atau melihatnya terlalu terlambat.
Rekaman CCTV menunjukkan tentara yang memimpin masuk ke dalam frame mengangkat senjatanya berjarak kurang dari tiga meter dari Jad, lalu menembaknya.
Jad melakukan gerakan yang menunjukkan tertembak. Di kamp, lubang peluru dapat ditemukan pada dinding di tepat lokasi tersebut.
Jad, kemungkinan sudah terluka, ia pun berlari ke atas gang, dan tentara Israel tampak berbalik, mengarahkan senjatanya ke arah Jad.
Rekaman CCTV menunjukkan debu terangkat di gang di depan, menunjukkan bahwa tentara IDF terus menembak ke arah Jad dari belakang saat dia berlari menjauh.

Dalam rekaman tersebut, Jad ambruk.
Adapun rekaman dari saksi mata, yang direkam secara diam-diam oleh seorang penghuni kamp, menangkap peristiwa dari arah yang berlawanan dengan CCTV. Rekaman ini menangkap beberapa momen terakhir dalam kehidupan Jad.
Rekaman tersebut menunjukkan remaja tersebut berusaha berulang kali menarik perhatian tentara dengan mengibaskan tangannya dan melemparkan topinya ke arah mereka.
Namun, yentara tampaknya mengabaikan upayanya dan menendang topi tersebut kembali.
Setelah mendapat kabar tentang penembakan, ibu Jad mencoba mencapai putranya dengan berjalan kaki, tapi dihalangi oleh tentara Israel.
Seorang warga lain melakukan panggilan darurat, dan ambulans segera dikirim, tiba di lokasi delapan menit kemudian, menurut catatan panggilan yang disediakan oleh Palang Merah Palestina kepada BBC.
Paramedis utama, Hassan Fouqha, mengatakan timnya dihentikan oleh tentara Israel dengan senjata terarah dan dicegah untuk mencapai Jad, yang hanya berjarak sekitar seratus yard dari mereka, dalam pandangan mereka.

Fouqha dan tim ambulansnya terpaksa menonton dengan tak berdaya saat Jad terbaring berlumuran darah akibat lukanya.
Petugas medis tersebut mengatakan mereka menonton selama setidaknya 35 menit, tanpa bisa berbuat apa-apa.
Fouqha memanggil ambulans kedua untuk datang dari arah yang berbeda, tapi ambulans tersebut juga dihentikan oleh tentara.
"Kami mencoba maju beberapa kali, mencoba memberi isyarat kepada mereka untuk membiarkan kami mencapai anak itu, tapi kami benar-benar diblokir," kata Fouqha.
"Kami bisa saja mencapai dia dan memberikan pertolongan medis, tapi kami dicegah. Kami tidak tahu apa tujuan mereka melakukan ini, tapi inilah yang terjadi."
IDF berkata pada BBC bahwa mereka telah memberikan "perawatan medis awal" kepada Jad setelah memastikannya tidak mengenakan perangkat peledak tersembunyi.
Rekaman insiden tersebut, serta rekaman CCTV close-up terpisah yang menunjukkan Jad meninggalkan rumah sebelumnya, menunjukkan bahwa dia hanya mengenakan kaos dan celana jeans.
Ketika ditanya untuk menjelaskan luka apa yang dialami Jad dan perawatan medis apa yang diberikan, IDF menolak untuk menjawab.
Dituduh melempar batu
IDF menuding Jad merupakan seorang "teroris" yang "berusaha menyerang pasukan" dengan melempar batu.
Namun, keluarga Jad menuduh para tentara berusaha menjebak putranya.
Apalagi video yang muncul menunjukkan salah satu tentara masuk ke lokasi dari luar frame, meletakkan benda berat di samping Jad, lalu mengambil foto benda tersebut di sampingnya.
"Mereka meletakkan batu di sampingnya agar bisa memfitnahnya dan membuat seolah-olah dia yang melempar batu ke arah mereka," kata ibu Jad, Safa.
"Kamu bisa melihatnya di video," katanya. "Siapa pun yang menonton video itu akan melihatnya."
Kelompok hak asasi manusia mengatakan bahwa tentara Israel di Tepi Barat beroperasi dengan kebijakan "tembak bebas" yang permisif.
Mereka sering menembak orang yang tidak menimbulkan ancaman langsung terhadap nyawa mereka, termasuk anak-anak yang melempar batu ke arah mereka.
Shai Parnes, dari kelompok hak asasi manusia Israel B'Tselem, mengatakan kepada BBC bahwa rekaman video Jad tampaknya menunjukkan seorang tentara menempatkan batu di sampingnya untuk membenarkan penembakan.
"Sulit untuk menentukan dengan pasti apa yang kita lihat – apakah itu batu dan apakah mereka mencoba menuduhnya dengan itu," kata Parnes.
"Tapi saya pikir siapa pun yang menontonnya dengan pikiran terbuka kemungkinan besar akan sampai pada kesimpulan itu."
Tindakan semacam itu akan "sangat buruk", tambah Parnes.
"Tapi kami telah menemukan kasus lain ketika pasukan Israel, dengan cara tertentu, mencoba untuk memfitnah seorang warga Palestina. Ini bukan kali pertama kami melihat hal itu terekam kamera."
Saat ditanya secara spesifik mengenai tuduhan ada tentara yang meletakkan batu di samping Jad, IDF mengabaikan pertanyaan tersebut.

Banyak detail mengenai kematian Jad yang belum jelas, seperti berapa kali tembakan yang mengenai Jad dan waktu pasti Jad dinyatakan meninggal.
Hal ini karena IDF menolak mengembalikan jenazahnya dan menjawab pertanyaan rinci mengenai insiden tersebut.
Israel kerap menolak mengembalikan jenazah orang-orang yang tewas akibat tindakan IDF.
Otoritas Israel dilaporkan saat ini menahan jenazah 776 warga Palestina atau warga negara lain yang dituduh atau dicurigai melakukan serangan.
Ketika ditanya oleh BBC, IDF menolak menjelaskan mengapa mereka menahan jenazah Jad.
Ibu Jad, Safa, berkata pasukan tersebut entah mencoba menyembunyikan sesuatu, atau sekadar melakukan bentuk kekejaman yang disengaja.
"Mungkin hanya untuk memancing emosi kami, untuk melelahkan kami, untuk membunuh kesabaran kami," katanya.
"Tapi kami sabar, dan kami punya harapan, dan kami akan terus menunggu. Hari ini, besok, atau setelah seratus tahun, kami akan mendapatkannya kembali. Insya Allah, kami akan mendapatkannya kembali."
Alaa Badarna berkontribusi dalam laporan ini. Foto-foto oleh Joel Gunter.






























