Bagaimana status program nuklir Iran, dan ancaman apa yang mungkin ditimbulkan?

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, Luis Barrucho
- Peranan, BBC World Service
- Waktu membaca: 8 menit
Setelah Amerika Serikat dan Israel memulai "operasi tempur besar besaran" di Iran, pertanyaan timbul tentang situasi program nuklir negara tersebut.
Serangan yang dimulai Sabtu siang (28/02) waktu Iran, sebenarnya sudah terbaca.
Jauh sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Iran mengklaim mengetahui "niat" Amerika Serikat dan Israel untuk melancarkan serangan. Meski demikian, pemerintah Iran tetap memilih melanjutkan proses negosiasi.
Pernyataan itu juga mengakui bahwa serangan terjadi "ketika Iran dan Amerika Serikat sedang berada di tengah proses diplomatik".
Presiden Trump mengancam pada 19 Februari lalu bahwa "hal-hal buruk" akan terjadi jika "kesepakatan yang berarti" tidak tercapai.
Dia kemudian menegaskan kembali posisinya: "Mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir, itu sangat sederhana... tidak akan ada perdamaian di Timur Tengah jika mereka memiliki senjata nuklir."
Putaran ketiga pembicaraan nuklir secara tidak langsung antara Iran dan AS digelar tiga hari lalu, pada 26 Februari, di Jenewa, Swiss—tanpa menghasilkan terobosan.
Iran dan AS sebelumnya juga telah mengadakan lima putaran perundingan pada Mei 2025, namun tidak membuahkan kemajuan.
Putaran keenam yang dijadwalkan berlangsung pada Juni 2025 dibatalkan setelah Israel melancarkan serangan mendadak terhadap target target Iran, yang kemudian memicu konflik 12 hari. Saat itu, AS menggempur tiga lokasi nuklir utama Iran.
Iran membantah telah berupaya membangun bom nuklir, tetapi banyak negara, serta Badan Energi Atom Internasional (IAEA), tidak meyakini hal itu.
Bagaimana status program nuklir Iran saat ini?
Keadaan program nuklir Iran tidak sepenuhnya jelas setelah serangan atas situs-situs nuklir utama mereka dalam perang 12 hari antara Israel dan Iran, Juni lalu.
AS telah menyerang tiga situs nuklir: kompleks penelitian nuklir terbesar Iran di Isfahan serta fasilitas di Natanz dan Fordo.
Situs-situs itu diyakini digunakan Iran memperkaya uranium sehingga dapat digunakan sebagai bahan bakar nuklir.

Setelah serangan tersebut, Trump mengatakan fasilitas tersebut telah "diratakan."
Sepekan kemudian, Direktur IAEA, Rafael Grossi mengatakan serangan tersebut telah menyebabkan kerusakan serius, kendatipun "tidak total."
Ini memperlihatkan, beberapa pengayaan nuklir dapat dimulai kembali dalam sekian bulan kemudian.
IAEA memperkirakan, ketika Israel melancarkan serangan udara pada 13 Juni 2025, Iran memiliki persediaan 440kg uranium yang diperkaya hingga kemurnian 60%, mendekati 90% yang dibutuhkan untuk penggunaan senjata.
Grossi mengatakan kepada Associated Press pada Oktober 2025, jika jumlah ini diperkaya lebih lanjut, itu akan cukup untuk 10 bom nuklir.
Pada November 2025, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi mengatakan kepada mingguan Inggris The Economist, pengayaan uranium "sekarang sudah dihentikan."
Bulan lalu, dia mengatakan kepada Fox News: "Ya, mereka menghancurkan fasilitas, mesin-mesin... tetapi teknologi tidak dapat dibom, dan tekad juga tidak dapat dibom."
Grossi mengatakan kepada Reuters, pada Januari IAEA telah memeriksa 13 situs nuklir di Iran yang tidak dibom, tetapi tidak untuk tiga situs utama yang dibom.
Dia mengatakan sudah tujuh bulan sejak IAEA terakhir kali memeriksa persediaan uranium yang diperkaya tinggi, milik Iran.
Ketidakpastian tetap ada mengenai pertanyaan-pertanyaan kunci, khususnya lokasi dan status cadangan, dan kondisi fasilitas pengayaan.
Bagaimana kita sampai di titik ini?
Pemerintah Iran bersikeras, aktivitas nuklirnya semata-mata untuk tujuan sipil.
Negara tersebut menandatangani Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), yang mengizinkan teknologi nuklir untuk tujuan sipil, seperti kedokteran, pertanian, dan energi, tetapi melarang pengembangan senjata nuklir.
Namun, investigasi IAEA menemukan, Iran melakukan "berbagai aktivitas yang relevan dengan pengembangan alat peledak nuklir" dari akhir 1980-an hingga 2003.

Sumber gambar, Getty Images
IAEA menyatakan, informasi tersebut menunjukkan, program ini, yang dikenal sebagai Proyek Amad, dihentikan pada saat itu. Namun, pada 2009, badan intelijen Barat mengidentifikasi fasilitas Fordo.
Pada 2015, IAEA menyatakan dalam sebuah laporan bahwa mereka tidak memiliki "indikasi yang kredibel tentang aktivitas di Iran yang relevan dengan pengembangan alat peledak nuklir setelah 2009."
Juga pada 2015, Iran menandatangani perjanjian dengan enam negara kekuatan dunia dan menerima batasan ketat pada aktivitas nuklirnya sebagai imbalan atas pencabutan sanksi.
Perjanjian tersebut membatasi pengayaan hingga 3,67%, yang sesuai untuk produksi tenaga nuklir, dan menghentikan pengayaan di Fordo di bawah pengawasan yang lebih ketat.
Namun pada 2018, Presiden Trump menarik diri dari perjanjian tersebut, dengan alasan perjanjian itu tidak menghalangi jalan Iran menuju bom nuklir, dan memberlakukan kembali sanksi.

Sumber gambar, Getty Images
Iran merespons dengan melanggar batasan perjanjian: mereka memperkaya uranium hingga 60%, mengerahkan sentrifugal canggih, dan melanjutkan pengayaan di Fordow.
Pada 12 Juni 2025, Dewan Gubernur IAEA secara resmi menyatakan Iran melanggar kewajiban non-proliferasi untuk pertama kalinya dalam dua dekade. Keesokan harinya, Israel memulai serangan udara.
Apakah Iran sedang mengerjakan fasilitas nuklirnya sekarang?
Citra satelit memperlihatkan bahwa pekerjaan telah dilakukan di lokasi Natanz dan Isfahan dalam beberapa bulan terakhir.
Di Isfahan, semua pintu masuk ke kompleks terowongan sekarang tampak tertutup tanah, dan atap baru telah dibangun, menurut citra satelit yang ditinjau oleh Institute for Science and International Security (ISIS), sebuah lembaga riset yang berbasis di AS.
Foto-foto tersebut menunjukkan, atap baru juga telah dibangun di lokasi Natanz.
Citra satelit terbaru, yang pertama kali dianalisis oleh ISIS, juga menunjukkan Iran sedang memperkuat kompleks bawah tanah, Gunung Kolang Gaz La.
Dikenal pula sebagai Gunung Puncak, lokasi tersebut belum diserang oleh Israel atau Amerika Serikat dan terletak sekitar 2km di selatan fasilitas nuklir Natanz.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan Iran untuk mengembangkan senjata nuklir?
Memproduksi uranium yang diperkaya untuk senjata nuklir tidak sama dengan membangun senjata nuklir yang dapat digunakan. Ini membutuhkan langkah-langkah teknis tambahan.
Penilaian Badan Intelijen Pertahanan AS (DIA) pada Mei tahun lalu, sebelum serangan Israel dan AS, menyimpulkan Iran dapat memproduksi uranium tingkat senjata yang cukup untuk perangkat nuklir pertama dalam "kemungkinan kurang dari seminggu".
Namun, ada penilaian bervariasi mengenai apakah Iran telah berupaya menciptakan kemampuan untuk mempersenjatai uranium yang diperkaya.

Sumber gambar, Maxar Technologies via Getty Images
Penilaian DIA juga mengatakan: "Iran hampir pasti tidak memproduksi senjata nuklir, tetapi telah melakukan aktivitas dalam beberapa tahun terakhir yang menempatkannya pada posisi yang lebih baik untuk memproduksinya, jika memilih untuk melakukannya."
Militer Israel mengatakan pada Juni 2025 bahwa mereka telah mengumpulkan intelijen yang menunjukkan bahwa upaya rezim Iran untuk memproduksi komponen senjata yang diadaptasi untuk bom nuklir telah membuat "kemajuan nyata".
"Iran telah mengembangkan beberapa kemampuan dalam desain hulu ledak hingga 2003, ketika tampaknya menghentikan program tersebut," kata Patricia Lewis, ahli pengendalian senjata independen.

Sumber gambar, Getty Images
Dia menambahkan bahwa "setelah runtuhnya perjanjian nuklir 2015 dan kegagalan berkelanjutan dalam pembicaraan menuju perjanjian baru, ada kemungkinan bahwa Iran... memutuskan untuk mulai lagi mengembangkan kemampuan hulu ledak."
Ketika ditanya pada 18 Februari apakah IAEA telah melihat tanda-tanda pengembangan senjata aktif, Grossi mengatakan kepada penyiar Prancis TF1: "Tidak."
Dia menambahkan bahwa dia melihat "kemauan" dari pihak Amerika dan Iran "untuk mencapai kesepakatan".
Seberapa pentingkah bagi Iran untuk memiliki senjata nuklir?
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Para pemimpin Barat telah lama menekankan keyakinan mereka bahwa Iran tidak boleh diizinkan untuk memiliki senjata nuklir.
Trump mengatakan pada Mei 2025 bahwa jika Iran berhasil memilikinya, "dunia akan hancur."
Dalam kampanye pemilihan 2024, dia mengatakan bahwa apabila Iran diizinkan memiliki senata nuklir itu berarti "dunia yang sama sekali berbeda... negosiasi yang sama sekali berbeda" dan Israel akan "lenyap."
Perdana Menteri (PM) UK, Keir Starmer mengatakan bahwa apabila Iran memiliki senjata nuklir merupakan "ancaman terbesar bagi stabilitas di kawasan ini."
HA Hellyer, ahli Timur Tengah di Royal United Services Institute, sebuah lembaga riset yang berbasis di UK, mengatakan bahwa kemungkinan Iran memiliki senata nuklir itu "akan meningkatkan ketegangan regional dan mempersulit manajemen krisis, khususnya bagi Israel dan Amerika Serikat."
Beberapa analis berpendapat bahwa perolehan senjata nuklir dapat memperkuat posisi Iran di kawasan tersebut, memperkuat hubungannya yang berkembang dengan China dan Rusia, dan berpotensi memicu perlombaan senjata dengan Arab Saudi.
Israel diketahui memiliki senjata nuklir, meskipun mereka tidak mengonfirmasi atau membantah hal ini.
Hellyer berpendapat bahwa ini artinya "hasil yang mungkin terjadi" apabila Iran memiliki senjata nuklir "adalah pencegahan timbal balik ketimbang eskalasi langsung."
Dia mengatakan bahwa sebagian besar aktor regional melihat "kekuatan Israel, bukan bom Iran hipotetis, sebagai kekhawatiran keamanan yang paling mendesak dan mengganggu."
Risiko utama dari Iran yang memiliki senjata nuklir adalah "kesalahan perhitungan selama periode konfrontasi," dia memperingatkan.



























