Kerja terlalu banyak duduk? Kembali ke zaman batu mungkin bisa membantu

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, Zaria Gorvett
- Peranan, BBC Capital
Bagi sebagian orang, solusi mengatasi kurang gerak akibat terlalu banyak duduk di kantor mungkin tampak primitif.
Mereka berjalan atau berlari bermil-mil setiap hari- seringkali dengan telanjang kaki. Mereka mengonsumsi banyak sayur-sayuran, buah, daging dan ikan - secara mentah.
Mereka juga tidur di lantai dan menggunakan cawat yang terbuat dari kulit beruang— nah di bagian itu saya mengada-ada.
Cara hidup orang-orang ini merujuk pada aktivitas nenek moyang kita pada zaman batu, tepatnya periode Palaeolitik yang dimulai sekitar 2,6 juta tahun yang lalu dan berakhir sekitar 10.000 sebelum Masehi.
Pada saat itu orang-orang bekerja di sebuah kelompok suku kecil yang dikenal sebagai "bands", dan menjalani gaya hidup aktif di luar ruangan.
Hanya dengan perkakas batu dan kayu sederhana, mereka menaklukkan setiap benua kecuali Antartika. Mereka berburu hewan-hewan yang aneh, mulai dari kuda nil mungil sampai kukang raksasa, dan mengumpulkan apa yang mereka temukan. Mirip seperti film Early Man, namun tanpa sepakbola.
Antusiasme untuk meniru orang-orang zaman paleo dimulai dengan diet paleo, mengganti makanan yang diproses dan kaya karbohidrat dengan menu protein tinggi, kaya serat. Saat ini praktik zaman batu juga menyelinap ke dalam kantor-kantor.
Saat ini, aktivitas kembali ke Zaman Batu meluas ke semua kebiasaan yang menimbulkan ketidaknyamanan. Penganut paham ini berlari dengan kaki telanjang, tidur di tanah yang dingin dan keras, tidak makan berhari-hari pada waktu tertentu, buang air di toilet dengan posisi jongkok, serta mendonorkan darah secara rutin untuk menstimulasi luka.
Tampaknya pekerjaan dengan durasi yang panjang, tingkat stres yang tinggi, kantor yang terbuka, dan duduk di meja sepanjang hari tidak baik untuk kesehatan. Dan semua hal itu dapat berdampak buruk untuk produktivitas.

Sumber gambar, Getty Images
Nah, konsep paleo bisa diterapkan di kantor, yang dapat membuat tempat kerja Anda lebih efisien. Karyawan tidak dianjurkan menumbuhkan janggut atau menggelar rapat di dalam gua.
Alih-alih, konsep paleo melibatkan perubahan-perubahan kecil yang membuat waktu yang kita habiskan saat bekerja lebih klop dengan biologi manusia. Sebagai contoh, melakukan rapat sambil berjalan, membuat meja yang memungkinkan karyawan bekerja sambil berdiri, dan mengambil rehat secara rutin untuk meredakan stres.
Para penganjur konsep paleo berpendapat bahwa selagi teknologi dan budaya berkembang dengan kecepatan yang mencegangkan, tubuh kita tidak mengikutinya. Mereka mengatakan bahwa manusia zaman sekarang pada dasarnya merupakan pemburu-peramu yang terlantar di sebuah dunia bisnis global yang besar dan memerlukan waktu kerja panjang.
Ini merupakan gagasan kontroversial, namun bagaimanapun pandangan Anda, apapun yang dapat membuat kehidupan kantor lebih mudah untuk dijalani sulit untuk diperdebatkan.
"Ada tiga aspek di dalamnya - pertama merupakan organisasi kantor dan bagaimana pengelolaannya. Selanjutnya adalah menciptakan sebuah lingkungan yang, setidaknya, mendekati lingkungan manusia pemburu peramu. Terakhir adalah membuat karyawan tidak terlalu banyak duduk," kata Gustav Milne, yang baru-baru ini menulis sebuah buku mengenai bagaimana meningkatkan gaya hidup dengan memahami masa lalu kita dengan lebih baik.
Nomor magis Dunbar
Ambil contoh besaran perusahaan. Dalam dunia korporat seringkali diasumsikan bahwa semakin besar perusahaan maka semakin baik. Namun ini mungkin tak selalu demikian. Secara keseluruhan tim yang besar mungkin lebih banyak menuntaskan tugas, tapi individu-individu di dalam kelompok besar sebenarnya bekerja lebih buruk.
Banyak teori yang menjelaskan mengapa itu bisa terjadi, mulai dari gagasan bahwa lebih mudah menemukan dukungan tepat dalam sebuah kelompok yang lebih kecil, hingga kecenderungan untuk menyepakati semua yang rekan Anda katakan jika Anda memiliki terlalu banyak orang dalam satu tim.
CEO Amazon Jeff Bezos menyebutnya sebagai "aturan dua pizza", yaitu jika sebuah tim tidak cukup diberi makan dengan dua pizza, maka tim itu terlalu besar.
Namun satu alasan seputar memaksimalkan kinerja individu pada pekerjaan berakar pada biologi manusia. Faktanya, merawat pertemanan dapat menguras mental dan ada batasan jumlah orang yang dapat kita jaga dalam waktu tertentu: sekitar 150 orang.
Ini juga disebut "teman biasa", jenis orang-orang yang kita pantau di media sosial dan mungkin diundang dalam sebuah pesta besar. Aturan ini terbukti berlaku pada lintas budaya dan era; dari desa Mesopotamia kuno ke komunitas nomaden !Kung San di Botswana.

Sumber gambar, Getty Images)
Nyatanya, pada masa sekarang, kita dipaksa masuk ke dalam kelompok sosial besar secara rutin. Kantor pusat baru Apple di California akan menampung 12.000 karyawan, sementara kantor Google yang baru di London akan cukup menampung 7.000 orang. Mungkin ada kelemahannya.
Masalahnya adalah, jumlah orang-orang yang kita bisa ketahui - dikenal sebagai nomor Dunbar - tertanam dalam biologi kita. Jumlah itu dibatasi oleh ukuran otak kita, dan pertama kali muncul sekitar 250.000 tahun yang lalu, ketika kita hidup dalam kelompok suku. Bahkan pada hari ini, 150 merupakan ukuran rata-rata kesatuan militer dan lingkaran akademis.
Menurut Robin Dunbar, seorang psikolog pada Universitas Oxford yang ikut menulis studi yang menciptakan gagasan ini, batas sosial kita masih relevan dalam dunia perusahaan saat ini.
"Jika Anda ingin menjalankan organisasi Anda sebagai egaliter, institusi demokratik, inilah batasannya," kata dia. "Artinya Anda tidak membutuhkan sebuah hirarki karena setiap orang bekerja dengan dasar hubungan personal dan kewajiban personal."
Berdasarkan prinsip ini, di masa depan, membatasi jumlah karyawan di kantor sampai 150 orang dapat menciptakan tempat kerja yang lebih bahagia dan produktif.
Jika setiap orang telah bertemu dan memiliki hubungan personal, mungkin akan lebih mudah bekerja sama dengan rekan dan bos Anda yang tidak mengintimidasi atau agresif. Telah ada bukti anekdot dalam kasus ini.
Tahun lalu, perusahaan Gore-Tex, yang membuat kain tahan air dan menyerap air, muncul di majalah Fortune dalam daftar '100 Perusahaan Terbaik untuk Bekerja' sebanyak 20 kali.
Perusahaan tersebut bangga karena tidak memiliki hierarki yang kaku; alih-alih pendekatan "terbuka" terhadap manajemen, yang menperlakukan karyawannya lebih seperti sebuah struktur bakat yang terjalin.
Bagaimana mencapai keselarasan ini? Seperti yang dijelaskan dalam bukunya The Tipping Point (Titik Kritis), Malcolm Gladwell menjelaskan bahwa perusahaan itu menganut apa yang disebut "150 aturan".

Sumber gambar, Getty Images
Ceritanya, pada masa-masa awal berdirinya perusahaan, salah satu pendirinya, Bill Gore, menyadari bahwa ketika sebuah pabrik mencapai 150 karyawan, pabrik itu menjadi kurang efesien dan produktif.
Sejak saat itu, dia membatasi seluruh karyawan pabriknya pada jumlah tersebut. Alih-alih memperlebar gedung pabrik, dia membangun gedung baru di dekatnya sehingga menciptakan sebuah komunitas staf yang mau bekerja keras dan membantu satu sama lain.
Dunbar menjelaskan bahwa begitu organisasi berkembang melampaui 200 orang, komunikasi benar-benar rusak.
Perusahaan mulai membutuhkan struktur manajemen dari atas ke bawah karena komunikasi tatap muka terhenti dan dampak silo (sistem di mana komunikasi dan kerja sama tidak dapat berkembang) dapat terjadi, contohnya, ketika bagian lain dalam sebuah perusahaan berhenti bekerja dalam proyek yang sama, namun tidak seorangpun menyadarinya. Akibatnya pekerjaan diduplikasi dan menyia-nyiakan sumber daya.
Ini yang disadari oleh Patty McCord, mantan kepala perekrutan di Netflix dan penulis Powerful: Building a Culture of Freedom and Responsibility (membangun sebuah budaya kebebasan dan bertanggung jawab).
"Seringkali ketika saya bekerja dengan perusahaan rintisan, saya mengatakan bahwa Anda harus mengubah cara Anda berkomunikasi ketika Anda tidak lagi melakukannya dengan berdiri di atas kursi. Dan jumlahnya 150 orang jika Anda memiliki ruangan yang besar sekali," kata dia.
Alasannya sebagian karena praktis - "Untuk berbicara dengan orang, Anda harus pergi ke negara lain, gedung lain, lantai lain," kata McCord - namun ada faktor yang lain.
Dalam organisasi yang lebih kecil, yang memungkinkan setiap orang memiliki hubungan personal, orang akan lebih mungkin suka membantu dan kecil kemungkinan mengabaikan kewajiban mereka.
Mereka juga cenderung memiliki sebuah pemahaman yang lebih baik mengenai bisnis tersebut, karena mereka mungkin memiliki ikatan dengan rekannya di sejumlah departemen di luar tim mereka.
Jika gerakan paleo adalah tentang membentuk gaya hidup dan lingkungan yang pas untuk biologi kita, mengikuti nomor Dunbar di kantor mungkin merupakan sebuah tempat yang tepat untuk memulai.
Masuk akal bahwa organisasi yang berdasarkan pada hubungan personal akan lebih efisien, sementara menjelajahi politik kantor dan berkolaborasi akan lebih mudah jika Anda setidaknya mengetahui nama dan tugas setiap orang.
"Semakin orang memahami (semua) urusan, semakin mereka memahami konsumen yang mereka layani, kemudian mereka dapat lebih selaras dan membuat keputusan independen yang lebih baik," jelas McCord.
Namun ada cara lain untuk menyelaraskan masa depan pekerjaan kita dengan masa lalu paleo kita. Salah satumnya adalah untuk membawa beberapa sifat ke dalam kantor.

Sumber gambar, Getty Images
Diperkirakan nenek moyang kita menghabiskan lebih banyak hari mereka di luar ruangan. Sebaliknya, rata-rata orang Amerika menghabiskan 47 jam setiap pekan terkurung di kantor.
Baru-baru ini para peneliti di London School of Economics memperkirakan bahwa trauma psikologis dari rutinitas harian ini membebankan ekonomi AS sebesar US$250 milliar per tahun. Pada 2013 lalu, sebuah proyek yang didanai Uni Eropa memperkirakan bahwa pekerjaan yang terkait dengan depresi di Eropa menghabiskan €617 miliar per tahun.
Sebuah studi pada 2014 menemukan bahwa para pegawai bakal 15% lebih produktif ketika kantor mereka modis, minimalis, dan dipenuhi dengan tanaman di dalam ruangan.
Tahun lalu, Facebook mengumumkan rencana pembangunan gedung baru di Menlo Park, California, yang memiliki taman di atap seluas tujuh lapangan sepak bola Amerika.
Taman Apple, kantor pusat Apple yang baru senilai US$5milliar, lebih luar biasa dengan menampung sekitar 9.000 pohon baru yang ditanam.
Namun perusahaan lain punya strategi yang berbeda.
"Salah satu yang menyenangkan adalah Anda mendapatkan sentuhan oksitosin ekstra saat Anda mengalami hari yang berat," jelas Phil Nottingham, seorang pakar strategis yang bekerja untuk perusahaan video hosting online Wistia, yang berkantor di Cambridge, Massachusetts.
Oksitosin yang dimaksud Nottingham adalah rekan kerjanya, Lenny, seekor labradoodle merah yang telah bersama dengan perusahaan sejak awal.
Baru-baru ini Lenny ditemani Waffles, seekor golden retriever, dan Tofu, seekor Shiba Inu. Mereka menghabiskan sebagian besar hari mereka dengan mengunyah sesuatu dan dengan keras menginterupsi pertemuan.
Namun perusahaan itu menyambut semua anjing-anjing tersebut, sejauh mereka tidak memperparah alergi dan buang air di lantai- aturan yang tidak perlu diperdebatkan.
Nottingham meyakini bahwa seluruh perusahaan mendapatkan manfaat dari kehadiran anjing-anjing itu di sana. Bahkan, ada bukti bahwa para karyawan di sana mendapatkan manfaat dalam hal kepuasan bekerja ketika mereka bisa memeluk Lenny dan kawan-kawan.

Sumber gambar, Getty Images)
Belum ada banyak penelitian mengenai dampak keberadaan hewan di tempat kerja, namun ada riset dengan dana rendah pada 2006.
Studi itu memperlihatkan pada mahasiswa gambar-gambar yang lucu di kantor yang berisi seekor kucing, anjing atau tidak ada binatang. Para mahasiswa itu kemudian ditanyai untuk menilai kepuasan dan suasana hati mereka jika itu merupakan kantor mereka.
Mereka yang yang melihat kantor berisi hewan mengaku akan lebih berbahagia dan lebih dapat bergaul, meski mereka juga melihat kantor tersebut kurang professional, kurang bersih dan kurang aman.
Secara terpisah, sebuah studi pada 2012 menemukan bahwa pekerja yang diizinkan untuk membawa anjing mereka ke kantor memulai hari dengan tingkat stres yang sama seperti orang lain- namun seiring waktu berjalan, stres mereka berkurang dibandingkan mereka yang tidak diizinkan membawa anjingnya.
Bangun, berdiri
Elemen terakhir dalam kantor yang menerapkan konsep Paleo adalah mendorong gerakan tdengan segala cara. Saat ini diketahui bahwa duduk terlalu banyak di kantor dapat melemahkan energi pekerja dan meningkatkan risiko kematian mereka.
Solusinya adalah menciptakan kantor "rendah lemak", yang mendorong aktivitas fisik dengan desain yang apik seperti tangga yang berada di tengah dan menyembunyikan lift.
Beberapa tahun lalu, meja yang membuat para karyawan bekerja sambil berdiri merupakan barang tidak konvensional di Silicon Valley. Namun saat ini benda tersebut tergolong arus utama.
Di Skandinavia, 90% pekerja kantor memiliki akses ke meja tersebut, sementara di Denmark, perusahaan harus menyediakannya menurut hukum yang berlaku. Rapat sambil berjalan juga sedang tren, yang digemari oleh pendiri Facebook Mark Zuckerberg dan CEO Twitter Jack Dorsey.
Mungkin butuh waktu 1.000 tahun untuk menciptakan konsep kantor yang terbuka, dengan dekorasi dan meja minimalis, namun dengan sedikit keberuntungan, kita akan segera kembali ke Zaman Batu. Hanya saja jangan menukar setelan Anda dengan cawat dulu.
Anda bisa membaca artikel aslinya dalam The stone age answer to your desk job atau artikel lain dalam BBC Capital.










