Delapan cerita terbaik tentang aksi bocah-bocah melawan kejahatan

Sumber gambar, Warner Bros Entertainment Inc
Ada banyak kisah mengenai sekelompok bocah yang menggagalkan aksi-aksi kriminal. BBC Culture melihat sejarah anak-anak pemberani dalam kisah fiksi.
The Goonies
Anda boleh jadi merupakan salah satu di antara mereka ketika kanak-kanak. Anda berani, berpikir cepat, tidak kenal takut. Anda juga mungkin mencontoh tindakan berani mereka, seolah-olah Anda memerankan mereka.
Setelah segerombolan bocah di Inggris menggagalkan aksi kriminal dengan membentuk sebuah anak panah manusia untuk memberi petunjuk pada helikopter polisi, kami merayakan cerita anak-anak terbaik tentang perlawanan terhadap kejahatan di buku-buku dan film-film.
Salah satu dari contoh modern terbaik pemilihan aktor-aktor remaja dari tahun 1980an meliputi Martha Plimpton, Corey Feldman dan Sean Astin.
Film ini memperlihatkan kemampuan mereka menyelesaikan berbagai tantangan. Aksi mereka yang nyentrik juga membuat kita merasa bahwa kita juga dapat menemukan kapal si Willy mata satu dan mengecoh keluarga Fratelli.
Adapun alur cerita tentang dua bersaudara yang mengikuti peta harta karun demi menyelamatkan rumah mereka dari penyitaan masih bergaung sampai hari ini.
Favorit kami? Tentu saja karakter Chunk yang mampu mengatasi rasa malunya dan menjadi pahlawan dengan berteman dengan Sloth.

Sumber gambar, The Advertising ArchivesAlamy Stock Photo
Lima Sekawan
Hanya berbekal bir jahe dan roti isi ham – dan kecerdasan hasil didikan sekolah asrama di pedesaan – empat orang anak dan seekor anjing karya Enid Blyton berkeliaran di pedesaan Inggris dan melawan gerombolan biang kerok dalam serial yang ternyata berkembang menjadi 21 novel.
Bergantung sepenuhnya pada jalan-jalan rahasia dan terowongan-terowongan ala penyelundup, kelompok ini tidak akan mendapat kesulitan membentuk panah manusia (dan anjing), dengan bantuan dari tokoh-tokoh tambahan seperti Alf si bocah nelayan dan Jo si gadis sirkus.
Tidak mudah untuk memilih salah satu tokoh heroik yang memerangi kejahatan. Tetapi dengan dikritiknya Julian, si tokoh tertua, yang dikritik penulis JK Rowling sebagai karakter yang “terjebak pra pubertas permanen” dan Anne, si tokoh termuda, yang gegabah menjaga persembunyian mereka tetap rapi, satu karakter akhirnya tampil paling di depan.
Sering keliru dianggap sebagai laki-laki sehingga dipanggil 'Master' bukannya 'Miss', George melawan anggapan mengenai gender dan menginspirasi anak-anak perempuan dari berbagai generasi.

Sumber gambar, Credit Zuma Press IncAlamy Stock Photo
Nancy Drew
Sosok perempuan anti kejahatan yang aksi-aksinya menginspirasi para hakim Mahkamah Agung AS – dan Hillary Clinton.
Awalnya berani dan blak-blakan (meskipun aksi lancangnya dihapus pada seri buku terakhir), Nancy Drew yang berusia 16 tahun meraih popularitas sosok detektif remaja paling abadi.
Pertama kali diterbitkan pada 1930, cerita-cerita seri misteri yang penulis aslinya tidak diketahui ini terus berlangsung hingga 2003. Ketika dirilis kembali, karakter utamanya mengendarai kendaraan listrik dan menenteng telepon pintar.
Lebih dari 85 tahun terakhir, sosok Drew telah berubah sekaligus merefleksikan pergeseran budaya – dengan sepak terjangnya yang penuh kritikan.
Dalam bukunya The Girl Sleuth, penulis cerita misteri Bobboe Ann Mason berpendapat bahwa Drew dapat menjadi sosok 'sempurna' karena dia “bebas, berkulit putih dan berusia 16 tahun”; dia mendeskripsikan karakter “sebagai orang suci dan mampu menguasai diri sendiri seperti Miss America yang tengah tur. Dia sedingin tokoh Mata Hari dan semanis Betty Crocker.” Namun daya tarik Drew tetap hidup.
Menurut kritikus Carole Kismaric dan Marvin Heiferman: “Nilai-nilai konvensional menyebut kaum perempuan itu pasif, penuh rasa hormat dan emosional, tetapi dengan energi dari seorang perempuan yang meledak seperti meriam, Nancy melawan konvensi itu dan bertindak sebagai sosok impian kaum perempuan tentang kekuasaan”.

Sumber gambar, AF archiveAlamy Stock Photo
Emil and the Detectives
Novel buatan tahun 1929 – kebanyakan latarnya berlangsung di Berlin – adalah satu-satunya karya penulis Jerman, Erich Kästner, yang lolos dari sensor Nazi.
Tetapi, sebaliknya, Nazi kemudian menerbitkan novel saingan yang bercerita tentang seorang martir dari organisasi Hitler Youth.
Namun cerita Emil ini bukan sekedar buku 'aman' ihwal seorang bocah laki-laki yang menggagalkan upaya pencurian uang miliknya oleh seorang pria dewasa.
Ketika kali pertama terbit, novel Kästner ini dianggap sebagai upaya terobosan. “Ini mungkin merupakan buku cerita detektif anak-anak pertama,” ungkap penulis buku anak-anak Michael Rosen.
“Novel ini merupakan salah satu buku anak-anak pertama yang memberikan gambaran keseluruhan tentang seorang anak dalam sebuah keluarga orangtua tunggal yang miskin... dan tampaknya menyetujui semua tindakan anak-anak untuk bekerja bersama untuk memperoleh barang-barang kebutuhan tanpa bimbingan orang dewasa.”
Sosok Emil sendiri bukanlah tipe pahlawan yang tanpa cacat: setelah menggambar hidung sebuah patung, dia melihat dirinya sebagai penjahat dan harus mengejar musuhnya tanpa bantuan polisi.
Seperti pendapat Rosen, “Dalam cerita detektif, detektif adalah seorang dewasa nan piawai yang akan membuat dunia aman untuk kita, para makhluk dunia fana.
Apakah kemudian menjadi kontradiksi jika anak-anak, yang secara simbolis masih polos, dapat menjadi cerdas seperti layaknya orang dewasa?
Dengan cara inilah, inti dari buku karya Kästner: anak-anak yang sebenarnya, dengan kuku-kukunya (mereka mungkin tertidur saat berbicara di telepon, berbohong pada orang tua mereka, cepat merasa sombong), melakukan kegiatan yang membutuhkan keahlian ini.”

Sumber gambar, Twentieth Century Fox Film Corporation
Home Alone
Sebelum menjadi anggota band The Pizza Underground, dia memukau berbagai panggung musik dengan aksi solonya bermain alat musik tiupnya kazoo; sebelum dia terlihat berjalan-jalan di seputar New York dengan rambut yang sangat panjang, Macaulay Culkin adalah Kevin McAllister yang berusia delapan tahun.
Ketika secara tidak sengaja tertinggal oleh keluarganya saat Natal, bocah laki-laki dari Chicago ini harus bertahan hidup dengan akalnya, mempertahankan rumahnya dari sepasang perampok yang disebut 'The Wet Bandits'.
Akhirnya dia memasang beberapa jebakan – menyebabkan kritikus Owen Gleiberman mengomentari film itu sebagai “festival penyiksaan sadis terhadap orang dewasa”.
“Kita diharapkan akan tertawa dan bertepuk tangan bersama Kevin ketika kepala si penjahat terbakar karena semprotan api dan berjalan di atas pecahan kaca dengan kaki telanjang.”
Menurut The Guardian, Home Alone adalah “sebuah bagian pra remaja dalam Falling Down”, yang di dalamnya “sebuah dagelan kasar menjadi lahan latihan bagi orang sadis” - namun film ini sering berada dalam daftar film-film Natal terbaik.
Meskipun akhirnya menjadi “aksi kejahatan aneh dalam film keluarga” dan “perayaan aneh yang moralitasnya dipertanyakan”, kata Benjamin Lee, film ini menyebar sesuai kenyataan musimnya. “Kegilaan lanjutan dari Kevin tampaknya selalu cocok dengan peristiwa perayaan.”

Sumber gambar, The Adventures of Tintin The Secret of the UnicornPR
Tintin
Kartunis Belgia, Hergé melukiskan tokohnya dari sumber yang tidak biasa: pramuka.
Diciptakan pada 1929, karakter itu mengikuti perwujudan tokoh sebelumnya yang disebut Totor, seorang pimpinan patroli pramuka (Scout Patrol Leader ) yang melakukan perjalanan keliling dunia untuk meluruskan yang salah.
Hergé sendiri kemudian menjelaskan Tintin sebagai “adik laki-laki dari Totor.... menjaga semangat seorang Pramuka”.
Kemudian, sosok ini adalah seorang pejuang melawan kejahatan dengan semangat mengabdi dan sekotak korek api yang siap digunakan.
Scouting Magazine mendeskripsikannya sebagai “Pramuka tingkat dasar”: “Melalui kecepatan pikirannya, tindakan kepahlawanannya dan keberuntungan, pemuda wartawan yang berani ini selalu dapat memecahkan misteri dan menyelamatkan teman-temannya.”
Dan pakar Tintin, Michael Farr menghubungkan kedalaman akal si tokoh ini dengan masa kecil penciptanya: “Saat muda, Pramuka merupakan kesibukan utama Hergé; bahkan merupakan gairahnya. Kode, prinsip dan antusiasmenya merupakan milik Hergé dan ditempelkan pada Tintin, sebagai pramuka dan sebagai reporter.”
Tintin juga membawa tema yang tampaknya mempersatukan anak-anak pejuang melawan kejahatan, dari piknik-piknik Blyton sampai The Goonies; terowongan rahasia di bawah tanah.
Nicholas Lezard mencatat “Seringkali Tintin mendapati dirinya terjebak dalam celah batu yang ketat atau es di mana dia hampir selalu menemukan cara menyelamatkan diri: Hal ini digambarkan dalam The Black Island, Prisoners of the Sun, Flight 714, Explorers on the Moon dan Tintin in Tibet; Crab with the Golden Claws, The Blue Lotus, Cigars of the Pharaoh, dan Destination Moon semuanya mempunyai jalan rahasia.”

Sumber gambar, Everett CollectionRexShutterstock
The Red Hand Gang
The Red Hand Gang yang pertama kali ditayangkan pada 1977, adalah kisah Lima Sekawan versi kota.
Kali ini, ada lima orang remaja pemecah kejahatan dan seekor anjing: bukannya menghabiskan limun di atas tikar piknik, kelompok anak-anak jalanan ini berkumpul di sebuah tempat yang mereka dirikan di atas sebidang tanah kosong, menandai daerah teritorial mereka dengan meninggalkan cap tangan berwarna merah untuk menunjukkan di mana mereka berada.
Ada 12 episode yang menggambarkan pencurian perhiasan, perampokan museum dan seekor simpanse bernama Maxwell yang dapat memahami bahasa isyarat.
Cerita ini dibatalkan hanya dua bulan setelah peluncurannya, meskipun menjadi terkenal di Inggris dan si anjing Boomer memiliki serial acaranya sendiri yang berlangsung selama dua musim.
Semua tokoh-tokoh berkontribusi sama sebagai detektif – tetapi Doc (foto kiri) mengklaim mahkota kami untuk mengatasi kegugupannya, sebagaimana dia menjaga uang milik kelompok (sebuah tas berisi recehan).

Sumber gambar, AF archiveAlamy Stock Photo
Bugsy Malone
Pilihan kami yang paling ambigu secara moral, sangat jauh dari moralitas ala pramuka.
Sosok Jodie Foster, yang berusia 13 tahun (foto tengah), baru menyelesaikan film Taxi Driver, memerankan sosok penyanyi yang tahan uji dan sekaligus perempuan simpanan tokoh preman Tallulah dalam film musikal gangster Alan Parker pada 1976.
Diambil gambarnya di New York selama era 1920-an dan 1930-an dan hanya memperlihatkan aktor-aktor anak-anak, film ini menggabungkan mafia dan tempat-tempat minum, dengan pamer senjata serta kue pai kustard.
Sementara promotor tinju Bugsy (Scott Baio, foto di kanan) bukan benar-benar pejuang melawan kejahatan, dia setia dan membantu bos klub malam Fat Sam (John Cassisi, foto di kiri) melawan saingannya Dandy Dan.
Dia dapat beraksi melawan hukum, tetapi dia memiliki hati yang lapang dan selalu bersemangat.
“Ketika itu saya berusia 13 tahun dan bosan pada bisnis hiburan, bosan pada semua audisi. Jadi ketika saya pergi dan melakukan audisi untuk Alan, saya membuang semua skrip padanya dan berjalan keluar,” Baio mengingat kemudian.
“Mereka sudah mendapatkan pemeran Bugsy, kata mereka, tetapi mereka menyukai kelakuan saya.”
Semangat itu menjalar ke film. Sebagaimana yang diingat Parker, “Versi bedak-bedak dari Cinderella diambil di Pinewood di waktu yang sama kita berada di sana. Pembuatnya memprotes secara terus menerus bahwa gerombolan kecil kita berlari-larian di koridor, meneror para pemeran Cinderella dengan crinoline mereka dan rambut palsu yang bertaburan bedak.”









