Apakah American Psycho meramal masa depan?

Karakter Patrick Bateman adalah bankir investasi dalam novel kontroversial American Psycho.

Sumber gambar, American Psycho

Keterangan gambar, Karakter Patrick Bateman adalah bankir investasi dalam novel kontroversial American Psycho.

Jika Anda ingin melihat pertunjukan Broadway tentang seseorang yang menyewa pekerja seks agar dia bisa membunuh mereka dengan gergaji mesin, maka Anda beruntung. Sebuah drama musikal dari novel American Psycho karya Bret Easton Ellis digelar di New York sejak Maret lalu.

Ini bukan ide yang gila untuk sebuah tontonan menghibur, karakter utama di Sweeney Todd dan The Phantom of the Opera toh adalah pembunuh berantai. Tapi saat novel Ellis diterbitkan pada 1991, tak ada yang bakal percaya bahwa sebuah buku yang kontroversial karena kekejamannya akan suatu hari bisa meraih piala Tony.

American Psycho adalah kritik sosial yang kuat tentang konsumsi berlebihan pada era 1980an dan merupakah sebuah komedi gelap lewat kisah orang pertama seorang bankir investasi dengan gaya hidup yang dekaden, dari mulai malam-malam di restoran termahal Manhattan setelah sebelumnya mengkonsumsi kokain pembunuhan yang digambarkan secara detil.

Ada kalangan yang membencinya, dan bahkan penggemarnya pun akan sepakat bahwa karakter anti-hero Patrick Bateman adalah salah satu ciptaan paling memuakkan dalam sejarah sastra.

Jadi apa artinya ketika kini kita siap ikut menyanyi bersama kemerosotan moral Bateman? Apakah dalam 25 tahun kita semakin dekat dengan cara berpikir Bateman? Atau apakah kisah yang disampaikan lewat novel Ellis menjadi semakin lemah dalam setiap kali penceritaan ulang? Jawabannya ada di antaranya.

  • <link type="page"><caption> Yang saya dapatkan ketika hidup sebagai David Bowie </caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/02/160214_vert_cul_bowie.shtml" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Tokoh Sherlock Holmes mengubah dunia penggemar</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/02/160206_vert_cul_sherlock_fans.shtml" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Kisah di balik sampul album rock terbaik: Persahabatan abadi</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/01/160111_vert_cul_smith_mapplethorpe.shtml" platform="highweb"/></link>

Melihat kembali, sangat menyentuh untuk mengingat bahwa pada awal 1990an, sesuatu yang dianggap selera tinggi seperti sebuah novel – daripada video game, album rap atau cuitan yang tidak dipikirkan sebelumnya – bisa menyebabkan kemarahan luas, tapi American Psycho menjadi berita utama.

Buku tersebut diselesaikan oleh Ellis saat dia berusia 26 tahun (sama seperti Bateman), dan oleh penulis feminis Gloria Steinem dan Kate Millett, buku tersebut dikecam sebagai pornografi atas kebencian terhadap perempuan.

The New York Times mengkritik buku itu sebagai "dungu dan sadis". The National Organization of Women mengkampanyekan untuk memboikotnya. Dan penerbitnya, Simon & Schuster, sangat terganggu sampai-sampai mereka membatalkan kesepakatan dengan Ellis. "Kami salah menilai untuk menaruh nama kami pada buku dengan selera yang patut dipertanyakan," kata direktur perusahaan penerbitan tersebut, Richard E Snyder – karena, jika ada satu hal yang harus dicapai oleh sastra, adalah itu harus memenuhi selera yang baik.

American Psycho kemudian diterbitkan oleh Vintage Books, tapi arus penolakan tidak mereda. Banyak toko yang menolak untuk menjualnya, dan di Australia dan Selandia Baru, buku tersebut tak bisa dijual pada mereka yang berusia di bawah 18 tahun.

Bahkan, buku pun sampai harus dibungkus plastik untuk memastikan agar anak di bawah umur tak bisa melihat isinya.

Irvine Welsh, penulis Trainspotting, tahun lalu mengatakan bahwa "resensi buruk yang diterima oleh novel tersebut kini terdengar seperti suara anak-anak yang ketakutan", dan benar, bahwa sebagian besar dari pembenci buku itu salah membaca maksudnya.

Seorang feminis menyebut American Psycho sebagai "novel panduan untuk menyiksa dan memutilasi perempuan", namun kekerasan yang dilakukan (baik terhadap pria maupun perempuan) baru ada pada sepertiga novel, dan saat ada adegan itu, ada ambiguitas apakah peristiwa tersebut benar terjadi atau hanya ada dalam imajinasi Bateman yang liar.

Namun tetap saja, protes yang berlangsung adalah bukti betapa hidupnya sebuah novel. Dan pada akhirnya, penolakan ini adalah publisitas yang berharga. American Psycho menjadi begitu terkenal – atau memiliki reputasi buruk – sehingga film Hollywood pun tak terhindarkan. Tapi bagaimana sebuah film mempertontonkan hobi kejam Bateman tanpa menjadikannya menyeramkan?

Hanya dalam imajinasi?

Muncullah Mary Harron yang menyutradarai film I Shot Andy Warhol pada 1996. Harron dan rekan penulis skenarionya, Guinevere Turner, tahu bahwa untuk mengubah prosa Ellis yang memuakkan menjadi sesuatu yang bisa dilihat penonton tanpa harus muntah karena kekejamannya, mereka harus menegaskan bahwa American Psycho adalah sebuah komedi, dan Bateman-lah yang menjadi bahan tertawaan.

Dalam film tahun 2000 tersebut, jelas bahwa Bateman bukanlah 'penguasa segalanya' seperti halnya Gordon Gekko di Wall Street. Bateman, menurut Harron, adalah "monster yang menyedihkan, absurd, dan konyol".

Saat dia berusaha memesan meja di sebuah restoran eksklusif, pelayan utamanya malah menertawakan. Di antara koleganya, Bateman tak memiliki apartemen yang terbaik atau bahkan kartu nama yang terkeren. Pekerjaannya hanya duduk-duduk di kantor menonton permainan kuis di televisi dan mengerjakan teka-teki silang, dan dia mendapat pekerjaan itu dari koneksi bisnisnya.

Penulis Bret Easton Ellis menyelesaikan American Psycho saat berumur 26 tahun.

Sumber gambar, Corbis

Keterangan gambar, Penulis Bret Easton Ellis menyelesaikan American Psycho saat berumur 26 tahun.

Secara umum, Harron dan Turner tak punya waktu untuk maskulinitas dan hedonisme yang dirayakan Oliver Stone di Wall Street dan Martin Scorsese di The Wolf of Wall Street. Dan tak seperti The Silence of the Lambs, film ini tidak jatuh pada perangkap bahwa dengan menjadi pembunuh maniak berarti Anda adalah genius yang kharismatis. Bateman, seperti kata Turner, adalah "seorang yang konyol".

Interpretasi ini diterima oleh aktor utama film, Christian Bale. Bale sepertinya mencontoh penampilan Steve Martin di The Jerk. Dia mungkin terlihat seperti dewa Yunani, tapi dia tak pernah membuat kita lupa bahwa Bateman adalah seorang konyol yang pencemas yang percaya bahwa menjadi penggemar Phil Collins adalah sebuah puncak selera.

Dan secara kebetulan, perpindahan karakter Bale dari si cerewet yang sok tahu menjadi jagal dengan kegilaan membuat pemilihan Bale sebagai Batman menjadi sayang: dia jauh lebih cocok menjadi Joker.

Secerdas apapun adaptasi American Psycho karya Harron dan Turner, tak ada keraguan bahwa mereka menumpulkan ketajaman satir karya Ellis. Selain lebih ringan temanya daripada di buku, film juga menjadi kurang eksplisit dalam hal seks dan kekerasan. Dan drama musikalnya pun menjadi semakin tak eksplisit.

Resensi dari Variety tentang produksi di London yang kemudian akan tampil di Broadway menulis tentang "penolakan hampir menyeluruh untuk menggambarkan kekejaman yang mendefinisikan karya tersebut", keputusan yang "menghilangkan pertunjukan dari kegelapan dan, sebagian besarnya, dari rasa seram".

Orang-orang yang saat itu memprotes novel Ellis kini mendapat kemenangan: bagian-bagian yang dulu membuat mereka marah 25 tahun lalu, kini sudah terhapuskan.

Menatap ke kedalaman

Tetapi jika pembuat film dan pertunjukan tersebut sudah membawa American Psycho ke kalangan mainstream, publik sudah bergerak lebih cepat menuju American Psycho.

Satu hal, pembunuhan kejam seperti yang dilakukan Bateman bukan lagi keunikan dalam budaya pop. Dibandingkan dengan Game of Thrones, serial televisi Hannibal, dan berbagai film penyiksaan pasca-Saw, sebuah film yang jauh lebih grafis dari adaptasi novel Ellis bisa dengan mudah dibuat kini.

Tapi bukan hanya toleransi kita terhadap darah dan kekejaman sudah meningkat. Dengan berbagai cara, Bateman akan cocok berada di abad 21 senyaman dia mengenakan setelan linen dari Canali Milano, kemeja katun dari Ike Behar, dasi sutera dari Bill Blass dan sepatu bertalinya dari Brooks Brothers.

Pertunjukan musikal American Psycho di Broadway yang dibintangi oleh aktor Matt Smith.

Sumber gambar, Corbis

Keterangan gambar, Pertunjukan musikal American Psycho di Broadway yang dibintangi oleh aktor Matt Smith.

Saat pertama terbit, novel tersebut dilihat sebagai kecaman atas era materialistis yang sudah lewat: Harron kemudian menggambarkan film tersebut sebagai "karya periode tertentu" yang melihat kembali pada kerakusan kapitalisme korporat pada 1980an dari jarak yang jauh. Tapi kini jelas bahwa American Psycho terasa kontemporer.

Pengetahuan Bateman yang luas akan merk-merk mewah tak lagi terdengar berlebihan: saat dia berbincang tentang label desainer sambil minum cocktail dengan tiga temannya, buku itu bisa menjadi versi laki-laki dari episode Sex and the City.

Sama halnya dengan berbagai variasi perawatan kulitnya – “pembersih gel yang bekerja dengan air, lalu scrub tubuh madu-almond, dan di wajah scrub bentuk gel yang meluruhkan" – kini bisa ditemukan di hampir semua majalah selebritas.

Dan makanan berlebihan yang dipesan Bateman di restoran – “ravioli dengan ikan shad roe dan saus apel sebagai pembuka dan daging panggang dengan keju kambing chèvre serta saus dari kaldu puyuh untuk makanan utama” – tak jauh berbeda dengan menu yang disajikan oleh kontestan pada MasterChef.

Bukan hanya para bankir investasi yang menyerupai kreasi Ellis, tapi kita semua.

Namun contoh paling mengganggu dari bagaimana masyarakat mulai menerima perilaku Bateman adalah bagaimana dalam novel, dia tak bisa berhenti bicara tentang idolanya, Donald Trump. "Obsesi ini harus dihentikan," kata pacarnya setelah untuk kesepuluh kali Bateman membahas pesta-pesta Trump, istri Trump, dan restoran pizza favorit Trump.

Di belantara Manhattan, American Psycho pasti akan senang melihat apa yang dilakukan "Donny" sekarang.

<italic><bold>Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca di <link type="page"><caption> Did American Psycho predict the future?</caption><url href="http://www.bbc.com/culture/story/20160317-why-american-psycho-has-never-been-more-relevant" platform="highweb"/></link> di laman <link type="page"><caption> BBC Culture</caption><url href="http://www.bbc.com/culture" platform="highweb"/></link></bold></italic>.