Salahkah mencari sisi humor seputar perang?

dadsarmy

Selain film Adam Sandler, hanya sedikit hal dalam hidup yang tidak lucu selain perang. Pembantaian massal dan pengrusakan meluas bukanlah bahan tertawaan, tetapi sepertinya kita tidak bisa berhenti menertawakannya.

Sementara film baru Dad's Army diputar di bioskop, jelaslah bahwa perang dapat menginvasi komedi layar perak ataupun TV. Dan ini sudah terjadi selama puluhan tahun. Dad's Army, yang terjadi pada Perang Dunia Kedua, adalah komedi situasi BBC yang diputar pada tahun 1968 sampai 1977, sementara M*A*S*H dibuat dengan Perang Korea sebagai latar belakang, diputar di CBS pada tahun 1972 sampai 1983.

Apakah gejala ini sama dengan selera rendah? Apakah kita perlu bergembira dengan pembantaian besar-besaran? Graham McCann penulis Dad’s Army: The Story of a Classic Television Show, memandang campuran perang dan humor menghibur. "Yang disampaikan oleh Dad's Army ke para penonton adalah meskipun terdapat aspek mengerikan dan membingungkan, perang juga memberikan perasaan kesinambungan dan keakraban. Sangatlah menenangkan ketika mengetahui orang yang memiliki kelemahan masih menjalankan kehidupan normal, bahkan selama Perang Dunia Kedua.

bluestone
Keterangan gambar, Bluestone 42 adalah program BBC 3 baru-baru ini yang mencari humor di antara para penjinak bom di Afghanistan.

Meskipun terjadi di kota pinggir pantai yang tenang dan melibatkan anggota Home Guard yang tidak berguna, bukan kombatan aktif, Dad's Army menetapkan ide yang berisiko pada tahun 1968. Ketika pertama kali diusulkan, pimpinan BBC khawatir horor Perang Dunia Kedua masih segar dalam ingatan banyak orang sehingga sulit untuk melihat sisi humornya. Tetapi penulisnya, David Croft dan Jimmy Perry, menegaskan, sebagai mantan tentara, mereka dapat membuat lelucon tentang perang tanpa mengejek. Lewat hal ini mereka menciptakan gambaran tentang Inggris yang pada saat bersamaan mengejek dan memuji.

"Orang Inggris jatuh cinta pada mitos amatiran yang tidak berusaha keras untuk melakukan sesuatu," kata Stephen Russell, penulis drama BBC baru-baru ini tentang pembuatan Dad’s Army, We’re Doomed!. “Kita menyukai pandangan orang Jerman yang sangat efisien dihambat sekelompok amatiran yang dipersenjatai raket tenis dan tongkat hockey. Sangat menarik, terutama karena kita mengetahui akhir perang."

Tentu saja, hasil ini yang membuat komedi Perang Dunia Kedua dapat diterima. Penonton bukan hanya mengetahui Sekutu sebagai pemenang perang, sebagian besar dari kita terlibat dalam perjuangan melawan penjahat paling jahat dalam sejarah. Seberapa bodohnya karakter, kita dapat menertawakan mereka karena mengetahui pada akhirnya mereka menang demi kebaikan. Karena itulah Perang Dunia Kedua penting bagi banyak komedi, mulai dari Operation Petticoat-nya Blake Edwards, Catch-22 buatan Mike Nichols dan 1941-nya Steven Spielberg.

Tragedi dan waktu?

Moralitas perang lain tidak sejelas ini, sehingga membuatnya sebagai subjek komedi menjadi lebih rumit. Contoh saja, ketika penulis Blackadder, Richard Curtis dan Ben Elton, memutuskan untuk menggunakan medan perang Perang Dunia Pertama sebagai tempat seri ke empat, produser komedi situasi John Llyod harus diyakinkan lebih dulu. "Saat Anda menggunakan Inggris zaman Ratu Eilzabeth I, seperti pada Blackadder II," kata Lloyd.

dadsarmy
Keterangan gambar, Dad's Army diputar dari tahun 1968 sampai 1977, menampilkan komedi kehidupan sehari-hari Perang Dunia Kedua, adaptasi film barunya dibintangi Bill Nighy dan Toby Jones.

"Anda sudah memperkirakan orang akan disiksa dengan menggunakan tongkat membara dan tidak seorang pun terganggu. Hal ini terlalu jauh dan asing sehingga tidak berpengaruh. Tetapi ketika Ben dan Richard mengatakan mereka akan menggunakan Perang Dunia Pertama, saya pikir, bagaimana hal ini bisa diterima? Paman Ben, ahli sejarah Sir Geoffrey Elton menulis surat yang menyatakan ini adalah ide yang sama sekali tidak bisa diterima. Dia mengatakan," Saya tidak percaya keponakan laki-laki saya sampai memikirkan hal ini." Tetapi begitu naskahnya masuk, saya dapat menerimanya. Saya pikir, mengapa tidak? Jika drama bisa melakukan ini, mengapa komedi tidak bisa?"

Paman Elton, kata Lloyd, kemudian mengirim surat kepadanya berisi ucapan terima kasih karena telah menampilkan Perang Dunia Pertama dengan peka.

Perang-perang yang terjadi baru-baru ini lebih sulit dijadikan komedi, sebagian karena, berbeda dengan Perang Dunia Pertama dan Kedua, peristiwa ini terjadi di tempat yang jauh dari para penonton Barat. "Alasan lain mengapa perang kontemporer tidak bisa dijadikan komedi," kata McCann," karena tidak adanya wajib militer. Kita bisa memahami karakter komedi Perang Dunia Kedua karena kita semua dapat dikenakan wajib militer. Masa kini para tentara secara sadar memilih untuk menjadi militer, dan setiap komedi situasi tentang mereka akan ditonton oleh orang-orang yang secara sadar memutuskan untuk tidak menjadi tentara. Lebih sulit bagi karakternya untuk mendapatkan dukungan kita".

ddas army

Sumber gambar, 20th Century Fox

Keterangan gambar, Lebih 105 juta orang menonton edisi penutup komedi situasi Amerika M*A*S*H, penonton terbesar bagi program bernaskah dalam sejarah AS.

Tetapi bukannya tidak masuk akal. Bluestone 42, sebuah drama komedi yang banyak dipuji, baru saja menyelesaikan seri ketiga di BBC3 Inggris. Film ini dibuat dengan perang Afghanistan sebagai latar belakang. Bagi penulisnya, Richard Hurst dan James Cary, tugas yang diberikan pada tentara yang membuat para penonton menyukainya.

"Semua hal ini mengkristal bagi kita,"kata Hurst," kami mendapatkan ide mereka bekerja sebagai penjinak bom, karena itu berarti mereka melakukan hal yang baik. Jika mereka anggota infantri, dan mereka diperintahkan, "Kamu harus keluar dan membunuh sejumlah orang," maka ini akan sulit diterima penonton. Tetapi jika mereka menghadapi bom dan tidak seorangpun menjadi korban, maka ini dipandang sebagai suatu hal yang baik. Dan jika bom meledak, jelas ini bukan hal yang baik. Ini suatu hal yang sangat sederhana sehingga tidak perlu dijelaskan setiap minggu."

Bluestone 42 mirip dengan tradisi M*A*S*H, penonton sempat meragukan komedi situasi Perang Korea atau Perang Vietnam, tetapi pemerannya adalah dokter dan perawat yang menyelamatkan nyawa orang setiap jam. Kita mengetahui mereka adalah orang baik.

Humornya horor

Tetapi, kemungkinan membuat penonton merasa terasing terkait dengan komedi perang tetap menimbulkan pertanyaan: Mengapa membuat hal ini? Bukankah ini sama saja dengan berjalan di antara ranjau, berusaha mendapatkan sisi humor dari topik yang tidak nyaman? Bukankah lebih baik menempatkan karakter yang sama di sebuah kantor atau toko?

Mungkin saja, kata John Lloyd. Tetapi perang sebagai latar belakang memberikan kedalaman dan intensitas bagi komedi manapun, bahkan yang seringan Dad's Army. "Yang memberikan kekuatan komedi pada Dad's Army," katanya," adalah kapan pun negara dapat diduduki Jerman. Karakternya melakukan hal-hal yang tidak jelas, tetapi sebenarnya ini adalah masalah hidup dan mati."

blackadder
Keterangan gambar, Seri ke empat Blackadder berlatar belakang Perang Dunia Pertama, sehingga produser John Lloyd perlu diyakinkan bahwa konflik memiliki sisi humor.

James Cary, salah satu penulis Bluestone 42 menyetujuinya. "Dalam sebuah komedi situasi, atau drama apapun, Anda berusaha mencapai yang terbaik. Dan apa yang dapat mengalahkan kejadian di mana 'Jika Anda melakukan kesalahan, maka Anda akan meninggal'? Atau yang lebih buruk lagi, 'Jika Anda melakukan kesalahan, orang lain akan meninggal karena Anda'? Anda menginginkan keputusan dan aksi karakter film menjadi sangat penting, dan perang memberikan hal itu. Di lain pihak, perang juga memberikan karakter lebih banyak waktu untuk duduk-duduk, ngobrol dan menghibur diri karena mereka jauh dari rumah. Bagi penulis komedi situasi, ini adalah keadaan yang terbaik."

Dalam banyak hal, komedi perang adalah bentuk akhir formula komedi situasi Inggris, kata McCann. "(Penulis komedi) Frank Muir mengatakan semua komedi situasi adalah tentang hubungan orang-orang yang terjebak. Dia mengatakan, "Anda harus menghentikan mereka.' Dan dalam perang, orang terjebak. Mereka tidak bisa pergi hanya karena tidak menyukai orang lain."

Meskipun mereka terjebak, banyak veteran perang yang menyukai komedi perang karena membantu mereka mengatasi peristiwa yang dialami. Hampir semua adegan Bluestone 42, kata Vary dan Hurst, berasal dari anekdot yang mereka dengar dari para tentara.

"Ketika kaki seorang karakter terkena ledakan pada seri ketiga," kata Hurst," timnya memberikan sekantong jeli berbentuk bayi, tetapi mereka menggigit satu kaki dari setiap jeli itu. Anda tidak akan melakukan hal itu kepada orang nontentara karena terlalu kejam. Tetapi itulah cerita yang disampaikan seorang tentara kepada kami, dan dia menganggap kejadian itu sangat lucu."