Akankah toko buku ini jadi favorit Anda?

Sumber gambar, Iwan Baan
Sebuah toko buku baru di London menerapkan 'zona detoks digital': melarang konsumen menggunakan telepon seluler dan tablet di dalam toko.
Pencinta buku yang mudah teralihkan perhatiannya mungkin akan menyukai pendekatan ekstrem dari sebuah toko buku baru di London. Dengan berani, Libreria mengklaim tokonya sebagai 'zona detoks digital', dengan melarang konsumen menggunakan HP dan tablet di dalam toko.
Aksi melarang ini adalah bagian dari upaya toko untuk membuat pengunjung terbenam dalam kenikmatan mendalam dari membaca dan buku dengan bentuk fisik, begitu pula menghidupkan kembali seni percakapan, debat dan pembahasan, mengembangkan keramah-tamahan dan ketidak-terdugaan.
Suaka dunia analog
Pengunjung toko boleh mengambil foto, tapi jika mereka terlihat mengirimkan teks, merambah internet, atau mengunggah status dan berkomunikasi dengan siapapun di luar toko, mereka, dengan sopan, diminta berhenti.
"Aturannya tidak diterapkan dengan ketat, tapi kami ingin menciptakan tempat yang aman dari kelebihan beban digital," kata Paddy Butler dari Libreria pada BBC Culture.
"Jika Anda setiap hari bekerja menggunakan komputer, maka berada di ruang yang penuh dengan buku tradisional memungkinkan Anda untuk kabur sejenak, melihat-lihat, berbicara tentang buku, dan membahas ide-ide. Kita semua butuh istirahat dari distraksi digital dan keriuhan – tak baik untuk terus-menerus terhubung setiap waktu."
Jadi bagaimana reaksi konsumen terhadap larangan menggunakan HP sejauh ini? Menurut Butler, tanggapannya positif. "Kebanyakan dari mereka bilang, 'Terima kasih'."
- <link type="page"><caption> Sepuluh toko buku tercantik di dunia</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2015/09/150917_vert_cul_tokobuku_cantik.shtml" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> 100 novel terbaik Inggris</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2015/12/151208_vert_cul_100bukuinggris.shtml" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Apakah penulis-penulis Inggris terbaik adalah perempuan?</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/01/160107_vert_cul_penulis_perempuan.shtml" platform="highweb"/></link>
Tom Hodgkinson, salah satu pendiri Idler Academy, yang bekerjasama dalam berbagai acara dengan Libreria, "menyambut baik" larangan tersebut.
"Dengan melakukan itu, Libreria menghadirkan sebuah tempat berlindung dan beristirahat, di mana buku fisik dan kedalaman pemikiran dihargai lebih daripada Snapchat dan teknologi," katanya pada BBC Culture.
"Mereka bahkan punya pemutar piringan hitam gaya lama yang merupakan sentuhan bagus. Dan The Idler sangat mendukung penyediaan waktu untuk berpikir dan bersenang-senang sepanjang hari, jadi kami sangat menanti bisa mengadakan acara di toko yang orang bisa berkumpul dan berlama-lama dalam keramah-tamahan dengan membahas ide-ide bersama."
Banjir digital
Keramahan, tampaknya, adalah kata kuncinya. Dalam sebuah acara terbaru di Libreria, tamu-tamu diajak untuk 'minum dan membaui' karya fiksi abad 20. Sementara bagian-bagian dari karya Raymond Chandler dan Patrick Hamilton dibacakan dan dibahas, minuman yang digambarkan dalam teks kemudian dicicipi dan bau yang muncul dalam teks juga diedarkan di antara mereka yang hadir.
Jadi mungkinkah orang semakin sadar akan efek negatif dari terus-terusan terhubung secara digital? Pendiri Libreria (yang juga mendirikan tempat kerja bersama, Second Home) mengatakan kita sudah mencapai 'titik jenuh budaya', dan pencinta buku melawan terhadap 'banjir digital'.
Tampaknya, toko di East London ini tak sendiri dalam mengutamakan pertukaran ide komunal dalam bentuk nyata.
Di London, Review Bookshop di Peckham, Ink@84 di Highbury dan LRB Bookshop adalah beberapa dari toko-toko buku yang melakukan pendekatan serupa. Dan secara global, ada industri yang hidup dan ramai dari bincang sastra, diskusi filsafat dan acara-acara pembacaan cerita terbuka – dari Moth di New York, sampai School of Life yang kini mendunia.

Sumber gambar, Iwan Baan
Dan tampaknya laporan akan matinya buku cetak terlalu dilebih-lebihkan. Ada tanda-tanda bahwa pengguna buku elektronik kembali ke buku cetak, atau mulai menggunakan baik buku cetak dan buku elektronik, dan berganti-ganti antara keduanya.
Tubrukan kreatif
Menurut Asosiasi Penerbitan Amerika, penjualan buku elektronik turun 10 persen antara Januari dan Mei pada 2015 – angka yang diperoleh dari 1.200 penerbit.
Tentu saja, ketika mencari buku, ketidak-terdugaan saat menemukan sebuah buku di toko membedakannya dengan pengalaman daring yang merupakan hasil algoritma. Kebetulan atau "tubrukan kreatif" seperti kata Paddy Butler, bisa menghasilkan hubungan yang menarik - melihat di luar subjek atau genre yang biasa kita minati bisa menghasilkan pilihan yang menarik.
Di Libreria, mereka melakukan selangkah lebih jauh. Buku-buku dikelompokkan untuk mencerminkan tema yang lepas – ‘keluarga’ atau ‘lautan dan udara’ – dan bukan kategori yang biasa disusun berdasarkan genre. "Baru-baru ini ada pelanggan yang datang dan mengatakan dia hanya membaca buku fiksi kontemporer," kata Butler.
"Akhirnya dia membeli beberapa novel klasik abad 19, karena keterhubungan yang dibangun oleh penataan toko dan percakapannya dengan kami di toko." Dan dalam upaya untuk mendorong lebih banyak inspirasi, toko buku ini juga mengundang kurator tamu untuk memilih – termasuk penulis Jeanette Winterson dan Edwin Frank, editor dari seri New York Review of Books.
Nirwana mazhab lampau
Semuanya terasa retro – dan sangat cocok bagi kawasan di London yang terkenal akan jejak sejarahnya, yang secara tradisional menjadi tempat pertemuan pertama antara berbagai budaya berbeda, dan perdebatan intelektual yang hangat terjadi di warung-warung kopi pertama Inggris.
Melengkapi pemutar piringan hitam lama, Libreria juga memiliki mesin cetak kuno di ruang bawah tanahnya – jelaslah ini merupakan suatu pernyataan lantang tentang pemihakan pada dunia analog. Tetap saja, Libreria tak bisa sepenuhnya dikatakan sebagai nirwana mazhab lampau.
Toko buku ini mungkin merupakan semacam suaka bagi orientasi inderawi, dunia nyata, dan bebauan serta cicipan, tempat berlindung dari bombardemen dunia digital modern, tapi kalau dikatakan anti-mesin garis keras, tidak juga.
Nyatanya toko ini dikelola – setidaknya sebagian – dengan menggunakan teknologi yang disesuaikan khusus untuk kepentingan mereka. Toh ini tetap abad 21.
<italic><bold>Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca di <link type="page"><caption> Could this be your new favourite bookshop?</caption><url href="http://www.bbc.com/culture/story/20160324-could-this-be-your-new-favourite-bookshop" platform="highweb"/></link> di laman <link type="page"><caption> BBC Culture</caption><url href="http://www.bbc.com/culture" platform="highweb"/></link></bold></italic>.









