Kenapa Middlemarch menjadi novel Inggris terbaik?

Saya bisa menyebut beberapa alasan. Dan saya akan mulai dengan satu karakter yang membuat saya merasa bahwa buku yang sudah panjang ini masih kurang panjang: Mrs Cadwallader yang bermulut tajam, istri dari Pendeta di wilayah Tipton dan Freshitt. Namanya mengesankan keagungan tapi juga kedengaran lucu; begitupun dengan kesombongannya yang tidak dibuat-buat; dan penilaiannya terhadap karakter lain di buku ini yang sering meleset.
Saya menghargai setiap kata yang dia sampaikan, dan kadang saya tak bisa memaafkan George Eliot karena dia tidak menulis 100 halaman tambahan dari sudut pandang Nyonya Cadwallader. Tapi kemudian, saya ingin lebih banyak lagi porsi bagi karakter minor di buku ini, dari pengacara Konservatif yang sinis, Frank Hawley, pelelang yang sombong dan berlebihan, Borthrup Trumbull, atau pembantu perempuan yang setia, Tantripp.
Lalu ada juga deskripsi kental tentang kehidupan pedesaan di Middlemarch – kota kecil itu, desa-desa yang mengelilinginya – dan narasinya yang terdiri dari banyak alur; plot yang paling rumit dari abad yang mengkhususkan diri terhadap elemen ini.
George Eliot menulis bahwa siapapun yang mengamati “pertemuan diam-diam takdir manusia” akan melihat “efek lambat persiapan yang terjadi” saat tindakan satu orang akan berdampak pada orang lain. Dan efek persiapan itulah yang menjadi inti novel, sehingga mengikat empat cerita yang berbeda menjadi satu buku. Pada awalnya kisah-kisah ini tak bersentuhan, namun perlahan-lahan, masih-masing cerita mulai menyatu, dan semakin sulit untuk mengikuti kisah siapa yang diceritakan. Pada akhirnya, secarik kertas akan mengikat keduanya, baik subjek maupun format, tak terpisahkan.
Memang, banyak novel hebat lain yang melakukan hal yang sama. Tapi novel ini punya kelebihan, yaitu George Eliot, yang suaranya sebagai narator sangat dikenang seperti halnya karakter lain dalam sastra Inggris. Caranya menggunakan kata ganti subjek menarik pembaca ke dalam narasi, memberi kata-kata bijak, dan sering memberi indikasi bahwa reaksi pertama kita cukup dangkal. Jika Anda benar-benar membaca novel ini, Anda akan belajar tentang diri sendiri; jika Anda mendengarkan dia, jika Anda membiarkan kalimat-kalimatnya menembus Anda, maka Anda akan mengetahui sesuatu tentang diri Anda sendiri yang Anda tidak atau mungkin tak mau ketahui. Setiap halaman adalah sebuah pelajaran untuk jujur pada diri sendiri.
Kekuatan karakter
Middlemarch sedikitnya punya tiga karakter utama, pertama adalah tokoh perempuan, Dorothea Brooke; lainnya adalah dokter muda, Tertius Lydgate, dan suami pertama Dorothea, Edward Casaubon yang kaku. Mereka merasuk ke dalam pikiran pembaca seperti halnya Jane Eyre atau Jay Gatsby, dan pada masa di mana banyak novel masih berputar soal pernikahan, George Eliot justru menggunakan novel untuk menganalisis pernikahan.
Protagonisnya menikah cepat di bagian awal novel – dan kemudian Eliot menunjukkan pada kita bagaimana kehidupan pernikahan itu mulai terurai. Pembaca kemudian membandingkan satu pernikahan, satu orang, dengan pernikahan lain, dan orang lain, dan kita belajar satu hal yang meresahkan: orang yang tidak baik, seperti bankir Nicholas Bulstrode, bisa menjadi suami yang baik.
Perbandingan terpenting di sini adalah antara Dorothea dan istri Lydgate yang cantik dan berambut pirang, Rosamond. Mereka hanya bertemu tiga kali, tapi novel ini berkisar tentang mereka, dan puncaknya adalah kemurahan hati luar biasa dari Dorothea terhadap perempuan yang menjadi rivalnya. Namun pengorbanan ini butuh imajinasinya.

Beberapa ratus halaman sebelumnya, George Eliot mengawali bab seperti ini: “Suatu pagi beberapa minggu setelah kedatangannya di Lowick, Dorothea – tapi kenapa selalu Dorothea? Apakah sudut pandangnya hanya satu-satunya yang mungkin..?” Mungkin itu cukup mudah dikatakan oleh seorang novelis, tapi buat pembaca tidak semudah itu, apalagi ketika kita bergelut dengan berbagai kesulitan hidup. Dorothea harus belajar untuk menanyakan hal yang sama pada dirinya sendiri, seperti yang dilakukan George Eliot pada dirinya sendiri.
“Apakah dia sendirian dalam adegan itu? Apakah itu satu-satunya peristiwa pentingnya?” Dia harus belajar – dan kita harus belajar bersama Dorothea – bagaimana mempertimbangkan keberadaan orang lain, yang juga “sama-sama menjadikan dirinya sebagai pusat segalanya”. Inilah salah satu pelajaran terpenting dari Middlemarch, dan bukan hanya disampaikan lewat plot, tapi juga dengan membawa kita ke pikiran banyak karakter berbeda, dengan menunjukkan kontur dan kehidupan internal mereka. Kritikus menyebutnya ‘diskursus bebas tidak langsung’, dan bagi kebanyakan penulis, ini adalah soal teknis sastra. Tapi bagi George Eliot ini adalah sebuah keharusan etis.
‘Ilusi yang menyanjung’
Beberapa dari paragraf terbaik di Middlemarch menawarkan semacam petunjuk pengguna, buku itu seperti memberitahu pembaca cara membacanya. Yang paling menonjol adalah metafora pier-glass atau cermin di antara dua jendela di bagian awal bab 27. Di situ, Eliot menunjukkan bahwa dunia kita tak memiliki aturan intrinsik. “Ilusi yang menyanjung” pun harus dibuat; tergantung dari sudut pandangnya – cahaya yang ditempelkan pada cermin – dan pemahaman orang akan dunia tentu tak melihat keseluruhannya. Maka tak mungkin untuk menangkap peristiwa seperti sebenarnya terjadi; dan mimpi akan sastra realis, yang menjadi dasar novel ini, tetaplah tidak terwujud. George Eliot adalah pewaris gaya modernis. Dia adalah novelis Era Victoria yang paling skeptis, yang selalu curiga terhadap medium yang dia garap.

Sumber gambar,
“Rumah yang serius di tanah yang serius,/Di mana semua keinginan kita bertemu,/Diakui, dan dipakai menjadi takdir.” Begitu Philip Larkin menulis di Church-Going, dan sering dikatakan bahwa novel terbaik kita adalah katedral dunia modern. Novel adalah format di mana era sekuler berusaha untuk merinci dan mengumpulkan semua keinginan hidup manusia; dan saya bisa melihat Nyonya Cadwallader terukir di bagian tengah gereja. Tak ada rumah yang lebih agung dari Middlemarch, dan formatnya yang menggabungkan struktur solid yang masif dengan keraguan radikal tentang struktur itu sendiri. Ini adalah menara gereja yang terbuka, bingkainya begitu penuh dengan lubang dan bolongan sehingga lebih seperti tisu di tengah angin. Namun bangunan ini tetap berdiri.









