Komik ternyata jauh lebih radikal daripada dugaan Anda

Superman vs Batman

Sumber gambar, Warner Bros

Keterangan gambar, Tokoh Wonder Woman baru akan muncul di layar lebar pertamakali tahun ini, sekalipun sudah ada di komik puluhan tahun.

Ketika edisi blu-ray Avengers: Age of Ultron sampai ke kotak surat saya, saya lihat sampulnya menampilkan Captain America, Thor, Iron Man dan the Hulk. Di bawah para superhero ini, ada gambar lebih kecil Hawkeye, Black Widow dan Nick Fury. Terbang di atas mereka, juga lebih kecil, tokoh The Vision.

Kalau saya memesan versi DVD, sampulnya hanya memperlihatkan empat superhero utama tadi. Para kritikus dengan cepat melihat bahwa para aktor yang beragam tadi telah dikurangi, hanya tinggal empat orang tokoh kulit laki-laki putih saja. Atau tiga laki-laki kulit putih dan seorang lagi kulit hijau –tergantung seberapa marah orang itu.

Black Widow sudah agak dipermalukan karena sepeda motornya diambil oleh Captain Amerika dalam versi boneka mainan, yang dijual sebagai cendera mata film.

Departemen cendera mata di perusahaan Marvel ini ketinggalan sekali dibandingkan dengan para pembuat filmnya. Padahal, film-film itu juga sama tertinggalnya jika dibandingkan dengan buku-buku komik yang jadi dasar film-film tersebut.

Saat tokoh Wonder Woman muncul di Batman v Superman: Dawn of Justice tahun depan, maka untuk pertamakalinya tokoh itu muncul di layar perak, sekalipun sudah selalu muncul dalam bentuk cetakan lebih dari 70 tahun.

Black Panther, tokoh superhero kulit hitam, muncul di komik tahun 1966 dan akhirnya baru akan mendapat filmnya sendiri tahun 2018, sesudah muncul dalam film Captain America: Civil War yang akan beredar tahun ini.

All Negro Comic

Sumber gambar, Digital Comic Museum Wikipedia

Keterangan gambar, Tahun 1947, komik sudah menampilkan tokoh pahlawan super kulit hitam, sementara film baru tahun 2016 ini.

Superhero 'ganti kulit'

Sekalipun Black Panther dianggap sebagai tokoh superhero pertama berkulit hitam di buku komik, ia sebenarnya sudah didahului oleh tokoh-tokoh dalam komik All-Negro Comics karya Orrin Evans, sebuah komik yang hanya diproduksi satu edisi pada tahun 1947.

Evans –seorang wartawan kulit hitam– sudah beberapa dekade lebih dulu ketika menyadari bahwa bukan hanya anak-anak kulit putih saja yang ingin melihat cerminan diri mereka sebagai superhero di buku komik.

“Ini baru!” seperti diumumkan oleh publikasi komik ini yang diletakkan di atas gambar Ace Harlem, seorang detektif partikelir New York yang memakai jas hujan panjangnya dengan kerah yang dinaikkan hingga hampir menyentuh ujung topinya yang rendah.

Mungkin layar perak punya persoalan untuk mengikuti komik karena penonton tidak sama toleransinya dengan pembaca komik.

Tokoh Nick Fury pernah digambarkan berkulit putih di televisi dan diperankan oleh David Hasselhoff. Namun ketika Bryan Hitch dan Mark Millar menulis ulang tokoh ini dalam buku seri komik The Ultimates di tahun 2002, ia menjadi berkulit hitam, botak, dengan penjelasan kepada seluruh anggota The Avengers bahwa mereka ingin tokoh ini diperankan oleh Samuel L Jackson.

Keinginan mereka jadi kenyataan (tak seperti tokoh Captain America, ketika mereka berharap dimainkan oleh Brad Pitt dan Iron Man, yang sebenarnya mereka anggap cocok diperani oleh Johnny Depp).

Idris Elba

Sumber gambar, Paramount

Keterangan gambar, Idris Elba sebagai dewa Skandinavia dipandang 'tak realistis' tapi tak menyebut frasa yang sama untuk dunia khayalan di film itu.

Namun ketika Michael B Jordan diumumkan akan memerankan Johnny Storm dalam adaptasi terbaru The Fantastic Four, banyak protes di internet dengan riuh rendah menyambut kemungkinan seorang superhero yang sebelumnya berkulit putih diperankan oleh aktor kulit hitam.

Idris Elba mengalami pelecehan serupa ketika bermain sebagai Heimdall dalam film Thor. "Itu tidak realistis," kata orang-orang, bahwa seorang tokoh dewa Skandinavia diperankan oleh aktor kulit hitam (sekalipun mereka tak mempersoalkan apakah jembatan antar dimensi yang menghubungkan antara Bumi dengan dunia akhirat Asgard adalah sesuati yang realistis atau tidak).

Kamala Khan, yang juga dikenal sebagai Ms Marvel, adalah seorang tokoh superhero remaja Muslim yang berkeliling di jalan-jalan di New Jersey.

Ia memberi dimensi yang sama sekali baru mengenai identitas ganda superhero: ia harus bernegosiasi antara menjadi seorang Muslim Amerika generasi pertama (ia anak seorang ayah imigran asal Pakistan) jauh sebelum memakai pakaian pahlawan super.

Hingga kini tak ada acara TV di Amerika yang berdasarkan tokoh Muslim, apalagi seorang perempuan Muslim, tapi tokoh dari komik Marvel ini melakukan hal yang tak ingin dilakukan orang lain.

Isu seksualitas

Black Panther

Sumber gambar, Marvel Comics

Keterangan gambar, Black Panther, nama pahlawan super ini serupa dengan gerakan politik kulit hitam di Amerika tahun 1960-an.

Jika buku komik berada di depan di antara media popular lainnya dalam menggambarkan ras, maka dalam soal seksualitas juga demikian halnya.

Tokoh Midnighter di komik terbitan DC Comics, menurut penulisnya Steve Orlando, adalah 'seorang laki-laki gay yang penuh percaya diri akan orientasi seksualnya'.

Dunia buku komik, sekali lagi, beberapa tahun cahaya lebih dulu ketimbang industri film, ketika seorang tokoh gay yang tak terikat hubungan apapun sering digambarkan tersiksa dan jarang dipotret sebagai orang yang bahagia.

Sekalipun penerbit buku komik seperti Marvel dan DC telah dicela oleh banyak penulis dan seniman karena hasrat besar mereka dalam mengeruk uang –misalnya pada tahun 2012, penulis Watchmen, Alan Moore menyebut seluruh industri komik sebagai 'sekelompok bandit yang etikanya tidak berubah sama sekali sepanjang 70 tahun'.

Penulis seperti Alan Moore dan Neil Gaiman telah menarik jenis pembaca yang berbeda: Moore melalui sikap kerasnya yang tak mau kompromi dan tak mau diam, sementara Gaiman melalui keluasan karyanya dan belakangan ini lewat aktivitasnya di media sosial.

Ini tentu bukan sesuatau yang kebetulan, bahwa simbol visual bagi protes anti kapitalis adalah topeng Guy Fawkes, yang meniru topeng yang dipakai oleh tokoh V dalam komik V for Vendetta karya Alan Moore yang menceritakan mengenai pembangkangan sipil tokohnya.

Buku komik punya kapasitas untuk jadi bisnis besar (divisi pembuatan film Marvel dimiliki oleh Disney dan berperan dalam membuat tiga di antara film terlaris sepanjang masa) tetapi mereka juga bisa menimbulkan dan membesarkan budaya tanding.

The Midnighter

Sumber gambar, DC Comics

Keterangan gambar, The Midnighter secara terbuka mengaku gay dan tetap menjadi pahlawan super.

Bukan sekedar tokoh jahat

Sulit untuk membayangkan cerita seperti Persepolis karya Marjane Satrapi bisa menjadi karya yang diterima begitu luas jika bentuknya adalah teks prosa dari penerbit tradisional.

Kebanyakan daya tarik buku itu berasal dari gambar-gambar yang unik dan sederhana. Sedikit orang yang menyangka bahwa cerita berbahasa Prancis tentang seorang gadis kecil Iran yang tumbuh sesaat sesudah Revolusi Islam di Iran bakal menjadi buku yang laris.

Namun itu tidak menghentikan Persepolis untuk disebut sebagai salah satu buku terbaik tahun 2010 oleh majalah Newsweek.

Buku berbahasa Prancis biasanya jarang diterjemahkan ke Bahasa Inggris, dan lebih jarang lagi diadaptasi menjadi film, yang kemudian meraih berbagai penghargaan.

Persepolis mendapat hadiah Jury Prize di Festival Film Cannes tahun 2007 namun gagal menang Academy Award untuk kategori film animasi terbaik karena kalah dari cerita tentang seekor tikus di Paris yang gemar memasak, Ratatouille).

Sekalipun begitu, bahkan dalam buku komik yang tergolong diterbitkan di arus utama sekalipun, para tokohnya berperang melawan musuh-musuh mereka yang menghadapi situasi sangat kompleks dan tidak semata-mata merupakan tokoh jahat belaka.

Batman punya para pengkritiknya sendiri yang menyebutnya bukan seorang pahlawan super melainkan seorang yang mengidap problem penyakit sosial, alias sociopath, dengan semangat membalas dendam yang membara serta kekayaan tanpa batas.

Namun para tokoh pahlawan super ini tak ragu untuk membahas salah satu masalah terbesar di Amerika: rasisme yang dilakukan secara terlembaga.

Edisi baru komik Batman (Batman #44: A Simple Case) dibuka dengan gambaran yang mencengangkan yang memeperlihatkan seorang anak kulit hitam tergeletak di tanah. Ia ditembak mati oleh seorang polisi kulit putih.

Dalam kata-kata penulis edisi ini, Scott Snyder, Batman menemukan bahwa metode yang sebelumnya efektif ternyata tak cukup lagi untuk memecahkan masalah yang dihadapi kota Gotham: "menemukan penjahat, menjadikannya contoh buruk, memasukkan ia ke penjara… Namun ia harus mengakui bahwa masalah yang dihadapi di kota ini hari ini lebih muram dan lebih rumit.”

Jadi -walau buku komik terus meninggalkan jejak di arena budaya pop- dia juga mencerminkan masyarakat tempat mereka berasal.

Moralitas komik-komik ini yang umumnya 'biner' atau berdasar dua hal –pahlawan lawan penjahat, baik lawan buruk – dengan mengabaikan nuansa kompleksitas sosial yang jauh lebih rumit.

Namun kebenaran di jantung hati banyak buku komik agaknya tetap utuh: terkadang kita perlu memakai topeng untuk memperlihatkan jati dirike seluruh dunia.