Manusia babi lambang dunia yang penuh kerakusan

Sumber gambar, Lennart Preiss Getty Images
Dunia jungkir balik dan memperdaya kita.
Inilah pesan subversif yang memancar dari salah satu gambar pertengahan Februari lalu: ketika seorang demonstran di Jerman mengacung tangan terkepal dengan wajah yang disamarkan menggunakan beberapa lapis cat wajah badut, tutup kepala berenda, dan hidung babi.
Efek sureal yang muncul dari foto ini adalah sebuah potret yang berasal dari setengah milenium lalu, dari imajinasi seorang pelukis eksentrik di Istana Habsburg, Wina.
Gambar yang muncul pertengahan Februari itu diambil dalam aksi unjuk rasa 1.500 orang bertopeng yang berkumpul di jalan memprotes para pemimpin dunia saat berlangsungnya Konferensi Keamanan Munich 2016.
Sekalipun pertemuan tahunan para diplomat dimaksudkan sebagai sarana membahas penyelesaian krisis geopolitik yang gawat (Suriah menjadi agenda utama tahun ini), mereka yang berkumpul Sabtu 13 Februari di jalanan Munich curiga bahwa motivasi sebenarnya dari para pemimpin dunia adalah memperluas konflik dunia ketimbang merencanakan perdamaian.
Untuk mempertegas pernyataannya, maka para pemimpin yang mereka tuduh sebagai pengobar perang itu disamarkan secara sinis sebagai merpati, sementara para demonstan menutupi diri dengan jubah provokatif dan menyembunyikan wajah aslinya di balik topeng bergambar karikatur dari para pemimpin yang mereka benci.
Adapun babi digunakan sebagai makian (baik secara verbal maupun visual) bagi para pejabat yang jorok dan rakus, yang hasrat dan keserakahannya tak pernah terpuaskan melalui korupsi yang mereka lakukan.
Dengan menampilkan samaran yang melecehkan (dan dengan sendirinya menutupi kepribadian aslinya) maka sang demonstran berhidung babi mempertegas tuduhannya bahwa ketertiban yang rasional memang sudah disingkirkan.
Pesan sang demonstran adalah: dunia seakan mundur dan pihak berwenang yang tidak pantas –yaitu badut dan babi – yang kini memegang kekuasaan.

Sumber gambar, Wikimedia Commons
Saya pernah melihat wajah itu sebelumnya. Separuh manusia, separuh babi.
Dan ini bukan pertamakalinya susunan wajah babi digunakan untuk mengarahkan perhatian kita kepada rapuhnya keseimbangan antara kemanusiaan di satu sisi dan kelembaman dari kematian di sisi lain.
Pada abad XVI di Istana Maximilian II di Wina, seorang pelukis asal kota Milan, Guiseppe Arcimboldo, dikagumi lantaran kemampuannya secara ajaib untuk mengarahkan sejumlah besar obyek-obyek mati –baik itu buah-buahan, sayur-sayuran, buku, dan peralatan– hingga bisa membentuk sesuatu yang mirip makhluk hidup.
Di antara sekian banyak hasil karya paling mengesankan dari seniman ini adalah susunan berjudul The Cook (1570), yang ketika ditempatkan di satu sisi seperti memperlihatkan piring yang berisi daging panggang (yang kemungkinan besar daging babi).
Ketika lukisan dibalik, maka mosaik yang tampak mati dan jorok itu secara ajaib seakan membentuk sebuah wajah tersembunyi: sebuah wajah yang berjiwa jahat, yang bukan sekadar kumpulan daging yang membusuk.
Sekalipun karya Arcimboldo mungkin tidak diarahkan untuk meledek tokoh dan motivasi dari orang yang memerintahkan pembuatan karya tersebut (yang merupakan sandaran hidupnya), ia tetap menganggap dunia tempat ia hidup sebenarnya membingungkan serta jungkir balik dan kekuatan yang memerintah dunia itu bersifat absurd dan carnivalesque.
Dan sikap ini pasti disetujui oleh demonstran yang fotonya ditampilkan di atas.
<italic>Anda bisa membaca tulisan ini dalam bahasa Inggris di <link type="page"><caption> The 16th century optical illusion</caption><url href="http://www.bbc.com/culture/story/20160217-the-16th-century-optical-illusion" platform="highweb"/></link> dan tulisan sejenis di <link type="page"><caption> BBC Culture</caption><url href="http://www.bbc.com/culture" platform="highweb"/></link></italic>.









