Sirkumfleks: perang mengenai tanda diakritik bahasa Prancis

Sumber gambar, iStock
Prancis terkejut. Pada tanggal 4 Februari, masyarakat Prancis diberi tahu bahwa reformasi ejaan – yang sudah disepakati pada tahun 1990 tetapi tidak pernah diberlakukan – akan diajarkan di sekolah-sekolah mulai bulan September nanti serta akan ditampilkan di semua buku pelajaran sekolah. Orang Prancis dikenal sangat peka, atau sentimental, jika sudah menyangkut bahasa mereka, tetapi ketika mereka menyadari bahwa tanda diakritik sirkumfleks berisiko menghilang dari 2.000 kata Prancis (atau 3% dari kosakata bahasa Prancis), orang Prancis menjadi murka.
Tiba-tiba saja jejaring sosial dibanjiri dengan tagar #Circonflexe (sirkumfleks) dan #JeSuisCirconflexe (Saya Sirkumfleks), untuk mengikuti gaya #JeSuisCharlie, yang menjadi pertanda perlawanan setelah adanya serangan teroris terhadap mingguan satiris Charlie Hebdo pada tahun 2015. Warga Prancis secara harfiah mengartikan reformasi ejaan ini sebagai sebuah bentuk penyerangan terhadap bahasa mereka, yang mereka sebut sebagai serangan serius terhadap kebebasan berbicara. Digunakan oleh negara sebagai alat pemersatu, bahasa Prancis merupakan alat penting bagi lahirnya bangsa Prancis modern. Ini merupakan salah satu bahan paling kuat mengenai identitas Prancis dan salah satu hal yang selalu membuat orang Prancis merasa berapi-api.
Apakah tanda diakritik sirkumfleks itu? Tanda ini diindikasikan dengan tanda ^, yang ditempatkan di atas huruf hidup atau huruf vokal (a, i, u, e, o) untuk menunjukkan bahwa huruf hidup atau suku kata itu harus dilafalkan dengan cara tertentu. Dalam bahasa Prancis, huruf hidup yang memiliki tanda seperti itu memiliki kualitas suara yang dalam dan panjang. Tanda diakritik sirkumfleks memberikan musik tertentu pada sebuah kata; sejumlah orang malah berpendapat tanda ini memberi puisi pada kata-kata. Yang lebih praktis lagi, penggunaan tanda sirkumfleks ini dapat mengubah arti sebuah kata. Sebagai contoh: ‘mûr’ artinya ‘matang’, sementara ‘mur’ berarti 'dinding’; ‘jeûne’ berarti puasa sementara ‘jeune’ berarti muda.
Reformasi ejaan yang diajukan pada tahun 1990 oleh Dewan Tinggi Bahasa Prancis, dan disaring oleh Académie Française (lembaga untuk mengurusi bahasa Prancis) ini sebenarnya tidak pernah ditujukan untuk menghilangkan tanda sirkumfleks atau menjadikannya sebagai hal yang wajib. Usulan ini tadinya diajukan “untuk memperbaiki sejumlah keganjilan” serta untuk membakukan dan menyederhanakan sejumlah keanehan dalam bahasa Prancis. Sebagai contoh, diusulkan untuk menghapus tanda sirkumfleks dari atas huruf ‘i’ dan ‘u’ karena tanda diakritik itu tidak mengubah pelafalan ataupun makna kata, misalnya dalam ‘paraître’ (muncul) atau ‘coût’ (harga/biaya). Usulan itu juga merekomendasikan untuk menyatukan kata-kata benda majemuk dan membuang tanda hubung seperti dalam ‘porte-monnaie’, sehingga menjadi ‘portemonnaie’ (dompet). ‘Kata benda majemuk tanpa tanda hubung? Kelihatannya jelek dan malas’: itu merupakan reaksi universal di jejaring sosial.
Orang Prancis sudah merasakan kepedihan di hati memikirkan bahwa tanda diakritik sirkumfleks dan tanda hubung akan menghilang, tetapi kepedihan itu menjadi cucuran darah ketika mereka mendengar usulan untuk membuang huruf ‘i' dalam ‘oignon’ (bawang bombai). Menteri Pendidikan Najat Vallaut-Belkacem yang kontroversial, diserang dan dituduh di jejaring sosial dengan menyebutnya ingin membuat bodoh bahasa Prancis. Ia membalas balik dengan menjawab bahwa reformasi itu bukan datang dari kementeriannya tetapi langsung dari Académie Française sendiri.
Académie Française merespons balik dengan mengatakan mereka hanya menyetujui aspek-aspek tertentu dalam proposal yang diajukan Dewan Tinggi Bahasa Prancis itu, yang merupakan sebuah badan independen. Mereka mengingatkan masyarakat Prancis bahwa mereka selalu memihak bahasa, menentang semua penyederhanaan ejaan yang dilakukan hanya demi menyederhanakan saja, dan bahwa penggunaan bahasa tidak bisa hanya semata-mata diatur oleh dekrit ataupun undang-undang. Jika kita boleh meminjam istilah sepak bola, maka bisa dikatakan babak saling serang ini berakhir seri.
Kenyataannya, kamus-kamus Prancis sudah memuat ejaan baru maupun ejaan lama, dan para guru disarankan untuk menerima ejaan baru maupun ejaan lama. Sehingga banyak orang bertanya, “Lalu mengapa mesti diganti? Ini hanya akan memusingkan guru dan terlebih lagi untuk para murid,” kata kritikus sastra Prancis terkenal Bernard Pivot menyayangkan. “Dan kekacauan lebih lanjut akan muncul karena murid-murid diajari begini di sekolah, tetapi ketika membaca novel, berbeda lagi.” Siapa yang akan mereka lebih percayai: buku pelajaran sekolah mereka atau Balzac?

Sumber gambar, Twitter
Kontroversi yang sangat khas Prancis ini terdengar sampai ke mana-mana, dan kelihatannya cocok dengan pengalaman negara tetangga. Media Jerman, misalnya, tampak terpesona dengan sirkumfleks Prancis. Mungkin karena ini mengingatkan mereka pada usaha reformasi ejaan mereka sendiri yang gagal pada tahun 1996. Usulan reformasi Rechtschreibreform itu ditentang oleh sebagian besar guru, penulis dan surat kabar seperti surat kabar bergengsi Frankfurter Allgemeine Zeitung. Reformasi ini pada mulanya ditujukan untuk mensistematisasi hubungan antara suara dan huruf serta menyederhanakan ejaan bertanda hubung. Pertempuran terjadi, komite internasional para pakar bahasa Jerman dibentuk, para pegiat bahkan membawa masalah ini ke pengadilan! Pada tahun 2004, versi reformasi yang sudah dibersihkan diberlakukan dan ejaan baru serta ejaan lama dinyatakan keduanya dapat diterima.
Semangat dan gejolak mengenai bahasa mungkin juga makin meningkat karena makin menyusupnya kehadiran dan penggunaan istilah berbahasa Inggris dalam bahasa-bahasa Eropa. Masyarakat Italia, misalnya, selalu sangat bebas dalam menggunakan kata-kata berbahasa Inggris, dan kelihatannya tidak peduli bahwa bahasa mereka perlahan-lahan menjadi miskin. Namun, kini mereka merasa bahwa mungkin mereka sudah melangkah terlalu jauh. Perdana Menteri Italia, Matteo Renzi yang berusia 40 tahun, menggunakan kata berbahasa Inggris untuk semua reformasi yang diusulkannya, dan hampir semua topik keuangan yang dibahasnya di parlemen‘: Jobs Act’ (undang-undang pekerjaan), ‘Stepchild Adoption’ (adopsi anak tiri), ‘Bail In’ (jaminan) dan ‘Spending Review’ (kajian pengeluaran) adalah beberapa di antaranya. Hal ini mulai menyentuh saraf kesal orang-orang Italia.
Pada bulan Februari, harian Italia yang berhaluan tengah kiri La Repubblica menerbitkan artikel dua halaman dengan judul utama “In altre parole” (dalam kata lain). Artikel ini menyarankan bahwa penggunaan kata-kata bahasa Inggris harus dihentikan sebelum menjadi kebiasaan, dan sebaiknya tidak dipakai oleh para politikus dan legislator dalam naskah-naskah resmi, terutama ketika ada padanannya dalam bahasa Italia. Artikel ini menambahkan hal seperti ini hanya akan mendorong masyarakat yang lebih luas untuk menggunakan kata-kata berbahasa Inggris itu, dan akan menjadi tidak mungkin untuk memberantasnya. Kampanye dan petisi dengan tagar #DilloInItaliano (Katakan dalam bahasa Italia) berhasil mengumpulkan 70.000 tanda tangan hanya dalam beberapa jam saja.
Namun, ada satu masa di awal Abad 17 ketika bahasa Italia dianggap sebagai pengaruh buruk. Ketika Kardinal Richelieu mendirikan Académie Française di tahun 1635, tujuan utamanya adalah melawan Italianisasi dalam bahasa Prancis.









