Abaikan berbagai reaksi, Film Batman v Superman merupakan epik bintang empat

Sumber gambar, WARNER BROS
Film tentang pahlawan super legendaris terbaru yang terlihat saling berhadapan. Tetapi siapa yang menjadi pemenang? Nicholas Barber menuliskannya.
Seperti judulnya, Batman v Superman: Dawn of Justice, pertarungan antara detektif swasta bermasker yang memiliki senjata mesin yang dipasang di mobilnya dan seorang alien bersayap merah yang bisa terbang dan dapat menyorotkan laser dari matanya.
Terdengar seperti seharusnya ada dalam film kartun anak-anak, dan mungkin pernah ada, empat atau lima dekade lalu. Tetapi tidak lagi. Film superhero yang laris ini lebih sungguh-sungguh daripada yang sebelumnya, dan tidak ada yang lebih dari epic berdurasi dua setengah jam karya Zack Snyder. Karya itu tidak lebih suram jika itu merupakan sebuah film dokumenter empat bagian tentang penyakit pes.
Sebuah sekuel film Snyder, Man of Steel, itu dimulai dengan pertempuran puncak antara Superman (Henry Cavill) dan lawannya dari Planet Krypton. Putaran konflik ini tampak dari tingkat jalanan, di mana penduduk Metropolis yang sial dipaksa untuk berlari dan berlari ketakutan ketika puing-puing gedung-gedung pencakar langit menimpa mereka.
Dari perspektif mereka, yang secara langsung membangkitkan potongan gambar serangan gedung World Trade Center, Superman tidak tampak sebagai penyelamat kemanusiaan, tetapi sebuah senjata pemusnah massal yang hidup, pertanyaan itu yang muncul sepanjang film.
Apakah dia benar-benar merupakan pasukan pembela kebenaran dan keadilan? Apakah dia bertanggung jawab terhadap ribuan kerusakan dan kerusakan properti senilai milliaran dollar yang disebabkan karena perkelahian yang dahsyat? Bisakah dia suatu hari berubah melawan ras manusia? Dan jika benar, dapatkah seseorang menghentikannya? Jika potongan film itu untuk dipercaya, isu yang sama mendukung film Marvel Captain America: Civil War, tetapi tidak mungkin CA:CW menampilkan malapetaka dan kesuraman yang lebih banyak dari BvS:DoJ.
Salah satu karya David S Goyer, juga menuliskan kedua film Man of Steel dan trilogi Batman, Batman v Superman (selanjutnya disingkat BvS) yang ditulis Christopher Nolan menggabungkan secara penuh, jalinan plot yang beraneka dari film Batman dan zona pertempuran yang penuh asap oleh Snyder. Ada diskusi tentang filosofi dan teologi, atau membangun warisan dan kehilangan orangtua. Diiringi musik yang keras karya Hans Zimmer dan Junkie XL. Dan ada lukisan berwarna yang berjajar disepanjang jalan dari hitam sampai abu-abu yang kumal.
Mengingat bahwa petarung dengan kekuatan super melawan kriminal yang tidak berwujud, dan tidak ada kebutuhan yang mendesak untuk khawatir terhadap dampak terhadap peradaban seperti yang kita ketahui, itu akan baik sekali jika seseorang dapat membuat sebuah film pahlawan super yang bertujuan untuk mengetarkan hati para penonton muda dibandingkan menyuguhkan mereka mimpi buruk.
Tetapi jika Anda mau menerima sebuah kekejaman dan dan uji coba yang murung dari “manusia-super”, sebagaimana mereka dijuluki dalam film itu, maka tak dapat disangkal Snyder merupakan pria yang tepat pekerjaan itu.
Batman terakhir?

Sumber gambar, Getty
Sungguh, BvS terasa seperti puncak tertinggi dari segala yang dia coba dalam film sebelumnya, dari gaya kekerasan brutal dari 300 sekuel impian fantastik Sucker Punch ke subversi pasukan pahlawan super yang ada dalam Watchmen (kutu buku, yang memiliki mata elang yang disebutkan dalam sebuah coretan grafiti)
Batman v Superman terlalu berlebihan dan bising bagi Anda yang terlalu peduli dengan apa yang terjadi, tetapi itu membuat Anda mengagumi energi Snyder dalam membuat genre ini menjadi bombastis, apokaliptik ekstrem. Apakah Anda menganggap pahlawan super dengan sangat serius atau tidak, tapi tak ada keraguan sang sutradara menganggapnya serius.
Tiga orang khususnya yang terganggu dengan alien di tengah-tengah mereka. Salah satunya adalah seorang senator yang berkemauan keras (Holly Hunter) yang bersikukuh bahwa segala seuatu harus tunduk pada kehendak rakyat, hingga dan termasuk mahluk luar angkasa yang memiliki kekuatan tak terbatas.
Salah satu musuh bebuyutan Superman, Lex Luthor (Jesse Eisenberg), yang bukan lagi pengusaha yang diperankan oleh Gene Hackman, dengan rambut panjang, bergaya seperti hipster yang mengalami masalah gangguan mental. Ini merupakan penemuan kembali yang luar biasa: Luthor ini merupakan persilangan antara aktor Eisenberg sebagai Mark Zuckerberg dalam film The Social Network dan Joker dalam The Dark Knight yang diperankan Heath Ledger.
Karakter ketiga ini yang punya kekuatan di atas Superman, ya, Batman (Ben Affleck). Salah satu inovasi yang menyenangkan dalam film ini adalah kediaman Batman di Gotham (direkam di Detroit) sekarang berdekatan dengan kota Superman yang lebih elegan yaitu Metropolis, jadi saling pukul antara dua pahlawan super ini tidak dapat dihindarkan yang tampak sebagai persaingan dua orang warga, sebagai sesuatu yang lain. Affleck tidak setengahnya dari aktor Christian Bale, tetapi pengulangan terhadap karakternya mengalahkan versi layar lebar yang sebelumnya.
Pada akhirnya adalah aksi yang sadis, fasis, setengah gila yang dinanti oleh para penggila komik. Ketika dia menggunakan kostum, dia tampak berperawakan besar dengan petarung yang tidak memiliki keraguan untuk melempar pejahat melalui dinding rumah kosong, atau memukul mereka dengan besi: selintas, Anda dapat percaya bahwa pejahat mungkin benar-benar akan takut terhadapnya, dibandingkan menertawakan baju karet dan suara seraknya.
Dan ketika dia melepaskan maskernya, dia layak juga dilihat sebagai Bruce Wayne. Bale berperan sebagai karakter itu sebagai seorang sosialita yang lembut dan pemain tim yang rasional. Wayne yang dimainkan Affleck berwajah masam, letih dan memilki pelipis berwarna abu-abu, dengan kegemaran terhadap miniman keras serta memata-matai aktivitas industri.
Singkatnya, Snyder dan timnya telah membawa karakter Batman mereka dari halaman novel Frank Miller, The Dark Knight Returns, dan sebagai hasilnya mereka mendapatkan segala sesuatunya dengan tepat, dari kelakar Wayne dengan kepala pelayannya, Alfred (Jeremy Irons), dengan Batmobile yang ramping dan kokoh, dengan bagian cerita dan mati rasa, kekacauan yang dihasilkan komputer. Jika Snyder sama sekali mengedit Superman, dan Eisenberg berperan sebagai Joker, dia akan membuat film Batman yang terakhir.
Sepertinya Superman berlebihan. Snyder dan sinematografer tetapnya, Larry Fong, menciptakan gambar yang menakjubkan, poster dengan gambar yang bagus di sekeliling dia, tetapi sangat mudah untuk mengetahui mengapa Batman mendapatkan tempat di atas dalam judul. Sebagai Clark Kent, dia mendapatkan adegan romantik bersama dengan si pemberani Lois Lane (Amy Adams) – memastikan bahwa makhluk dari planet Krypton dapat berpasangan dengan manusia - tetapi sebaliknya dia tidak berbuat banyak, kecuali mengerutkan kening dan kemudian menghilang ke langit. Lebih banyak dialognya berisi ledakan sonik.

Sumber gambar, DC Entertainment
Dan kemudian ada Wonder Woman (Gal Gadot), yang diperkenalkan di sini sebelum dia memiliki film sendiri pada tahun depan. Banyak keluhan yang disampaikan melalui internet ketika seorang perempuan ramping yang tidak dikenal mendapatkan perang seorang kesatria perempuan ikonik Amazonian, dan debutnya dalam BvS tidak akan membuatnya meyakinkan para pengkritiknya.
Gadot mungkin memiliki kecantikan dengan kulit zaitun untuk peran itu, tetapi dia hampir tidak memiliki karishma atau perawakan yang tinggi untuk mendukung karakter itu, apalagi kepemimpinan.
Tidak semuanya adalah kesalahannya. Masalahnya adalah Superman dan Wonder Woman digambarkan secara membosankan memiliki kekuatan dan berbudi luhur, bukan sebagai orang tetapi alien dan sebagai dewa.
Batman merupakan salah satu dari trio dengan dorongan dan kelemahan sebagai mannusia. Saya tidak akan mengungkapkan siapa juara dalam pertikaian antar karakter ini, tetapi ketika tiba untuk mempertahankan perhatian para penonton, Batman akan menang KO.
Anda bisa membaca <link type="page"><caption> Ignore the backlash- Batman v Superman is a four-star epic</caption><url href="http://www.bbc.com/culture/story/20160323-is-batman-v-superman-a-winner" platform="highweb"/></link>









