Haruskah situs kuno Palmyra dibangun kembali?

Sumber gambar, Joseph Eid Getty
Tentara Suriah, didukung serangan udara Rusia, telah mengusir kelompok milisi ISIS dari Kota Palmyra pada akhir Maret lalu, sekaligus mengakhiri pendudukan selama 10 bulan di salah satu situs arkeologi paling penting di Suriah – dan bagi umat manusia.
Saat ini, setelah pendudukan yang brutal, yang mengorbankan sedikitnya 300 nyawa, dunia menghitung yang tersisa.
Salah seorang yang kembali mendatangi situs reruntuhan kota kuno itu adalah Joseph Eid, fotografer kantor berita Agence France-Presse (AFP).
Pada 2014 lalu, dia mengunjungi situs Warisan Budaya Unesco itu dan meninggalkannya dengan perasaan takut.
"Ketika saya tiba dua tahun lalu, saya berusaha sebaik mungkin untuk mendokumentasikan hal-hal sekecil apapun; ada semacam pikiran yang menghantui saya bahwa mungkin saja nanti dunia tidak akan pernah bisa melihat peninggalan-peninggalan ini lagi.”
Belum genap setahun, ketakutannya mengenai kota kuno Palmyra terbukti.
"Foto-foto hasil bidikan saya kini menjelma seperti harta berharga bagi saya, karena dunia menjadi tahu seperti apa Palmyra sebelum dihancurkan."

Sumber gambar, Joseph Eid Getty
Eid mengaku "menderita" saat mengikuti pemberitaan Palmyra selama diduduki kelompok ISIS.
Karenanya, ketika tentara Suriah mulai mendekati kota itu, dia segera mengurus visa dan segera mencetak foto-foto Palmyra yang dia abadikan pada 2014.
Dia tiba di Palmyra pada 31 Maret dan, dengan membawa segepok foto-foto berusia dua tahun, mulai memotret foto-foto baru, untuk "membandingkan situasi kota sebelum dan sesudah ISIS menguasainya".
Idenya adalah untuk membandingkan foto-foto lama dengan apa yang masih tersisa. Mengingat Palmyra pernah jadi salah satu reruntuhan kuno yang paling utuh di dunia, perbandingannya memilukan hati.
Salah-satu bidikannya memperlihatkan tangan Eid tengah memegang foto tahun 2014 yaitu berupa reruntuhan kuil berusia 2.000 tahun, Baalshamin.
Dia kemudian berdiri di tempat yang sama. Bedanya, kini sebagian besar reruntuhan kuil bersejarah itu tinggal puing-puing.
Foto lainnya, dia menempatkan foto asli kuil Bel di depan situs yang sama. Mirip yang dialami kuil Baalshamin, kuil Bel ini hanya menyisakan dua kusen pintu dan sebuah balok.
Eid juga mendatangi situs penting Palmyra lainnya, yaitu Arc du Triomphe, yang lengkungan khasnya telah hancur, serta memotretnya.
Dia juga mendatangi museum dan menemukan ukiran batu yang dulunya masih tergantung di salah-satu dinding museum, kini telah raib.

Sumber gambar, Joseph Eid Getty
Walaupun mengalami kehancuran, sejumlah pihak optimistis bahwa harta karun Palmyra dapat direstorasi atau diperbaiki seperti semula.
Saat ini, sebagian besar negara - termasuk Inggris, Amerika Serikat, dan Australia - melarang warganya melakukan perjalanan ke Suriah karena kekerasan yang masih berlangsung di wilayah itu.
Tapi ada harapan bahwa suatu hari nanti, pengunjung akan kembali menyaksikan keajaiban Palmyra.
Direktur balai arkeologi Suriah memperkirakan bahwa sekitar 80% dari situs reruntuhan kota kuno Palmyra tetap utuh, termasuk amfiteater peninggalan Romawi, sepotong kuno jalan berikut reruntuhan tiang-tiang di kanan-kirinya (Decumanus Maximus road) serta sebuah benteng di atas bukit.
Para ahli mengatakan bahwa dengan bantuan teknologi, banyak situs kuno Palmyra yang mengalami kerusakan dapat direkonstruksi.
Namun Eid berpikir bahwa pemerintah Suriah harus mempertimbangkan secara seksama tentang ide perbaikan situs-situs yang rusak.
"Di satu sisi, perbaikan terhadap reruntuhan Palmyra yang tersisa merupakan sesuatu yang penting. Tapi di sisi lain, luka-luka Palmyra mestinya menjadi saksi terhadap apa yang terjadi pada kota kuno dalam perjalanan sejarahnya."

Sumber gambar, Joseph Eid Getty

Sumber gambar, Joseph Eid Getty

Sumber gambar, Joseph Eid Getty

Sumber gambar, Joseph Eid Getty

Sumber gambar, joseph eid getty

Sumber gambar, Joseph Eid Getty









