Film mahakarya Quentin Tarantino bukan Once Upon a Time in Hollywood

Adegan dari film Inglorious Basterds

Sumber gambar, Universal Pictures

    • Penulis, Caryn James
    • Peranan, BBC Culture

Peringatan: memuat sedikit spoiler untuk Once Upon a Time... in Hollywood

Wajah perempuan muda muncul di layar film, tampak seperti raksasa dengan gambar close-up dan hitam-putih, menyela film propaganda Nazi yang sedang diputar.

Di sebuah teater di Paris, tempat Hitler dan pejabat Nazi lainnya menghadiri pemutaran perdana film perang Jerman, wajah Shosanna Dreyfus (Melanie Laurent) yang pucat bagaikan hantu memberi tahu mereka: "Anda semua akan mati."

Perempuan itu telah menyalakan api yang akan membunuh mereka, tanpa menyadari bahwa rencananya tumpang tindih dengan operasi militer AS dan Inggris untuk meledakkan teater.

Rangkaian adegan yang menegangkan itu – mulai dari film di dalam film, hingga api yang disulut Shosanna, baku tembak berdarah antara para prajurit, dan pembunuhan Hitler – menyatukan benang-benang cerita dalam mahakarya Quentin Tarantino, Inglourious Basterds, yang dirilis 10 tahun lalu pada bulan ini.

Saat ini para kritikus dan penonton sedang fokus pada film terbaru Tarantino, Once Upon a Time... in Hollywood.

Dalam gambaran penuh warna dari bisnis pertunjukan pada tahun 1960-an, Leonardo DiCaprio dan Brad Pitt memerankan seorang aktor yang ketenarannya mulai memudar dan pemain penggantinya, serta versi revisi dari tragedi pembunuhan Manson. Film baru ini sangat menghibur dan pintar, meski agak panjang dan bertele-tele.

Namun satu dekade kemudian, Basterds masih terasa sebagai film terbaiknya, karena dengan percaya diri bergerak dari adegan pembuka yang bernuansa realisme klasik (jarang bagi Tarantino) ke adegan puncak yang murni fantasi (jauh lebih khas). Film ini tidak semengejutkan Reservoir Dogs, film pertamanya, atau seberpengaruh Pulp Fiction.

Tapi dengan latar peristiwa sejarah, dan kemampuannya untuk menjadi film perang sekaligus penghormatan untuk film perang, komedi dan drama, Basterds adalah karya Tarantino yang paling ambisius dan paling terealisasi dengan sempurna.

Melanie Laurent

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Aktris Melanie Laurent memerankan Shoshanna Dreyfus, seorang perempuan Yahudi yang melarikan diri dari tentara Jerman.

Basterds juga memulai pola baru yang berani dalam karier Tarantino: menulis ulang masa lalu.

Dalam Django Unchained (2012), berlatar dua tahun sebelum dimulainya Perang Sipil, seorang mantan budak meledakkan rumah pemilik budak dan menyelamatkan istrinya sendiri, merampas kebebasan alih-alih menunggu sejarah untuk menemukan dirinya, dan Once Upon a Time... In Hollywood juga menulis ulang cerita yang menjadi inspirasinya.

Kita mungkin tidak tahu kenapa Tarantino begitu terobsesi dengan versi alternatif dari era yang sudah lewat, tapi kita dapat melihat efeknya. Sejarah revisionisnya menghadirkan kembali para korban sebagai pahlawan, seringkali menghubungkan kepahlawanan itu dengan kekuatan film.

Sutradara zaman kita

Revisi-revisi yang fantastis ini berbicara pada zaman yang diramaikan dengan berita palsu dan polarisasi politik.

Bedanya, Tarantino tidak berusaha menipu penontonnya. Ia tahu bahwa film tidak mampu mengubah masa lalu, tapi dapat mengubah cara kita melihatnya. Ia mengkritik masa kini dengan menggambarkan suatu masyarakat yang lebih adil yang mungkin bisa terwujud.

Inglorious Basterds berfungsi sebagai fantasi – membunuh Hitler ada di daftar keinginan semua orang yang berangan-angan melakukan perjalanan waktu – tapi pencapaiannya sebagai sinema jauh lebih mempesona. Film ini memberi tanda sejak awal bahwa film ia adalah fiksi dan penghormatan bagi film-film tentang Perang Dunia Kedua.

Musik temanya, The Green Leaves of Summer, berasal dari film Alamo (1960). Musiknya tidak mengingatkan pada sejarah tapi sejarah film perang, dan Anda tidak perlu mengenali melodi itu untuk merasakan betapa efektifnya ia dalam menciptakan nuansa retro.

Dalam sentuhan kuno lainnya, film ini dibagi menjadi beberapa judul bab, dengan bab pertama, "Once upon a time... in Nazi occupied France." Judul Once Upon a Time... In Hollywood jelas merupakan penghormatan untuk film epik Sergio Leone Once Upon a Time in the West dan Once Upon a Time in America. Bedanya, Tarantino menggunakan masa lalu untuk menyoroti kualitas dongeng dari ceritanya.

Namun, dalam pergantian nada yang brilian, penanda fiksi di Basterds itu mendahului salah satu adegan paling realistis dan menegangkan yang pernah diciptakan Tarantino, ketika satu keluarga petani Prancis dikunjungi oleh seorang perwira Nazi yang curiga si petani menyembunyikan orang Yahudi.

Si perwira Nazi, Hans Landa, suka bertingkah dramatis, yang memungkinkan Christoph Waltz untuk memerankannya sebagai karakter yang unik.

Tapi adegan ketika Landa duduk di meja dapur dan dengan tenang menginterogasi si petani memberi nuansa realisme yang kencang dari film-film Perang Dunia Dua arahan Steven Spielberg.

Cristoph Waltz

Sumber gambar, AFP

Tarantino menciptakan ketegangan yang luar biasa ketika kedua pria itu berbicara dan kamera bergerak ke bawah, menyoroti celah di lantai rumah, tempat kita melihat sebuah keluarga bersembunyi, gemetar ketakutan di bawah kaki Landa. Ketika si petani menyerah, tentara Nazi memberondong lantai dengan peluru. Hanya Shosanna yang lolos.

Ada banyak kritik yang sah tentang perlakuan Tarantino terhadap wanita, yang berkisar dari kebrutalan (Kill Bill) hingga pengabaian (Reservoir Dogs) hingga menggunakannya sebagai sampingan (Pulp Fiction).

Tapi Shosanna tidak diragukan lagi adalah pahlawan dalam Inglourious Basterds, cukup pintar untuk menyusun rencana untuk menghancurkan Nazi, cukup berani untuk melakukan misi bunuh diri.

Di sepanjang film, Tarantino dengan cermat menyeimbangkan naturalisme dan karikatur. Sekelompok tentara Yahudi-Amerika, yang dikenal sebagai Basterds, menyusup ke Prancis yang diduduki tentara Nazi. Mereka dipimpin Letnan Aldo Raine (Brad Pitt).

Sementara Laurent memerankan pejuang Perlawanannya yang heroik dengan sangat realistis sehingga kita bisa melihat ketakutan di balik keberaniannya, Basterds dengan sengaja melampaui batas, menakuti Nazi dan mengukir swastika di dahi mereka.

Pitt mengunyah aksen Selatannya saat ia mengumumkan bahwa ia menginginkan "seratus kulit kepala Nat-zi". Raine terasa seperti karakter dalam film-film perang lama, tapi aktingnya terasa nyata.

Dan para Basterds punya selera humor yang gelap. Ketika merekrut seorang bekas tentara Jerman yang telah berbalik melawan pimpinannya sendiri, Raine mengatakan, "Kami penggemar berat Anda dalam hal membunuh Nazi."

Sinema sebagai penyelamat

Tapi tidak seperti kebanyakan film perang, Basterds bergerak menuju akhir di mana sinema dapat menyelamatkan dunia. Semua karya Tarantino sarat dengan kecintaan pada film, tetapi tidak pernah fasih di dalam film ini.

Shosanna telah melarikan diri ke Paris, tempat ia mengelola sebuah bioskop. Shosanna menyusun rencananya yang mematikan setelah ia hampir dipaksa untuk menayangkan film propaganda, Nation's Pride, tentang seorang penembak jitu Nazi, Frederick Zoller (Daniel Bruhl).

Ketika Zoller mengatakan kepada Shosanna betapa terkejutnya ia melihat nama sutradara di atap bioskop, ia menghardik: "Saya orang Prancis. Kami menghormati sutradara di negeri kami."

Diane Kruger

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Diane Kruger memerankan aktris Jerman Bridget von Hammersmark.

Tampaknya dekat dengan hati sang sutradara bahwa rencana Shosanna adalah menyulut tumpukan film nitrat 35 mm yang sangat mudah terbakar. Sulih suara oleh Samuel L Jackson bahkan menjelaskan betapa mudah terbakarnya film lama itu, dengan layanan publik bohong-bohongan memvisualisasikannya.

Film juga menjadi penyelamat di Once Upon a Time... In Hollywood. Karakter Pitt memanfaatkan keahliannya sebagai seorang stuntman, dan DiCaprio menggunakan penyembur api dari salah satu film aksinya untuk menggagalkan keluarga Manson. Anda tidak pernah tahu kapan pengetahuan film akan berguna.

Sepotong set mencabik saraf

Dan Anda tidak pernah tahu kapan itu tidak akan cukup. Di Basterds, Michael Fassbender memerankan Lt Archie Hickox, seorang kritikus film Inggris yang berprofesi sebagai prajurit.

Dia bergabung dengan rencana untuk meledakkan teater, yang diberi nama sandi Operation Kino (atau Film), dan berakhir di tengah-tengah satu lagi adegan paling menegangkan dari Inglourious Basterds.

Menyamar sebagai perwira Nazi, Hickox pergi menemui seorang aktris Jerman dengan nama luar biasa, Bridget von Hammersmark (Diane Kruger), yang bekerja sebagai agen rahasia untuk Sekutu. Mereka bertemu di bar yang penuh dengan Nazi asli, dan saat mereka minum dan bermain kartu, ketegangan muncul bersama dengan kecurigaan seorang perwira Jerman terhadap aksen Hickox.

Terlepas dari wawasannya tentang sinema Jerman, ia tanpa sengaja menunjukkan identitasnya dengan meminta minuman dengan isyarat yang tidak akan digunakan orang Jerman, sentuhan kecil yang mengarah pada adegan kilat dan pertumpahan darah tanpa ampun yang khas Tarantino.

Pada saat Basterds tiba di teater untuk melaksanakan Operasi Kino, film telah bergerak jauh dari kenyataan. Ketika Landa merogoh sakunya, mengeluarkan sepatu yang Bridget yang hilang saat baku tembak dan meletakkannya di kakinya, Tarantino bahkan membalikkan dongeng. Momen Cinderella ini menegaskan kepalsuan Bridget dan menyegel kematiannya.

Baku tembak di teater adalah adegan paling dramatis, memuaskan, sekaligus brutal yang pernah dibuat Tarantino. Gambar raksasa Shosanna terbakar, banyak Nazi terbunuh, dan salah satu Basterds menembak Hitler berulang kali, sehingga tidak diragukan lagi bahwa ia sudah mati.

Kita percaya pada adegan yang menegangkan di rumah pertanian pada awal film, tetapi bahkan di zaman berita palsu tidak ada yang bisa berpikir Operasi Kino benar-benar terjadi.

Inglourious Basterds tidak meminta kita untuk menyangkal kenyataan. Ia menggunakan film untuk memperluas imajinasi kita dan untuk melihat, betapapun singkatnya, apa yang dapat dilakukan kepahlawanan. Seperti karya revisionis Tarantino lainnya, film ini mengajak kita untuk berpikir.

Bahkan setelah membunuh Hitler, pekerjaan Tarantino belum selesai. Pada akhir film, Raine kembali mengukir swastika, kali ini di dahi Landa. Ia telah semakin mahir saat itu, melihat hasil karyanya dan mengatakan kepada salah seorang anak buahnya, "Kamu tahu, Utivich? Ini mungkin mahakarya saya."

Mungkinkah sang sutradara sedang mengomentari pekerjaannya sendiri? Yah, tidak ada yang pernah menyebut Tarantino rendah hati.

--

Anda bisa membaca versi bahasa Inggris artikel ini, Why Inglourious Basterds is Quentin Tarantino's masterpiece, di BBC Culture.