Mengapa percakapan video melalui Zoom menguras energi

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, Manyu Jiang
- Peranan, BBC Worklife
Percakapan video memungkinkan kita untuk tetap bekerja dan terhubung dengan sejawat. Namun apa yang membuat aktivitas ini melelahkan? Dan bagaimana cara mengurangi kepenatan rapat melalui aplikasi Zoom?
Gambar pada layar Anda tidak bergerak. Ada gema yang terdengar aneh. Puluhan kepala menatap Anda.
Ada sederet pekerjaan yang menumpuk, pertemuan empat mata, dan ketika Anda menyelesaikan jam kerja, Anda bercengkrama dengan kawan serta keluarga.
Sejak pandemi Covid-19, kita menggunakan telepon video lebih sering dari pada sebelumnya. Banyak orang lelah dengan aktivitas melalui medium ini.
Namun apa yang sebenarnya membuat kita lelah? BBC Worklife bertanya kepada Gianpiero Petriglieri, seorang asisten profesor di Insead yang mengkaji proses belajar dan pengembangan diri di tempat kerja.
Kami juga berbincang dengan Marissa Shuffler, asisten profesor di Clemson University yang mempelajari efektivitas kerja tim dan lingkungan kerja yang sehat.

Sumber gambar, Getty Images
Apakah percakapan video membutuhkan lebih banyak energi? Apa perbedaannya dengan komunikasi tatap muka?
Petreiglieri berkata, berada dalam percakapan video memerlukan fokus yang lebih tajam ketimbang percakapan tatap muka.
Percakapan video mengharuskan kita bekerja lebih keras memproses isyarat non-verbal seperti ekspresi wajah, gaya, dan nada bicara, serta bahasa tubuh. Memberi perhatian kepada sejumlah hal tadi menguras banyak energi.
"Pikiran kita terpusat saat tubuh kita tidak siap. Situasi tidak harmonis itu, yang menyebabkan perasaan campur aduk, sungguh melelahkan. Anda tidak bisa menikmati perbincangan secara natural," kata Petriglieri.
Diam dalah persoalan lain yang disebut Petriglieri. "Diam menciptakan ritme natural dalam percakapan langsung. Namun dalam percakapan video, Anda mengkhawatirkan teknologi," tuturnya.
Diam juga membuat lawan bicara tidak nyaman. Dalam kajian tahun 2014 oleh sejumlah peneliti asal Jerman, keterlambatan jaringan telepon atau sistem konferensi membentuk pandangan negatif terhadap orang tertentu.
Bahkan jeda 1,2 detik membuat orang memandang lawan bicaranya dalam percakapan video tidak ramah atau tidak fokus.
Faktor lainnya, kata Shuffler, saat kita secara fisik terlihat melalui kamera, kita menjadi sangat sadar bahwa kita tengah diawasi.
"Saat Anda dalam konferensi video, Anda tahu setiap orang melihat Anda. Anda berada di panggung, jadi muncul tekanan sosial dan perasaan bahwa Anda perlu terlihat prima."
"Harus tampil di hadapan orang lain itu menegangkan dan penuh tekanan," ujar Shuffler.
Sulit pula bagi sebagian besar orang untuk tidak melihat wajah mereka sendiri saat muka mereka tampil di layar. Termasuk untuk tidak menyadari 100% bagaimana kita berperilaku di depan kamera.
Bagaimana situasi terkini mempengaruhi keletihan ini?
Jika percakapan video dilakukan saat kita memiliki sejumlah tekanan lain, keletihan menggunakan Zoom tidak berdiri sendiri. Kondisi terkini, entah karantina wilayah, isolasi mandiri, atau bekerja dari rumah, juga berpengaruh.

Sumber gambar, Getty Images
Petriliegri yakin bahwa fakta kita merasa tertekan mengikuti percakapan video itu juga menjadi faktor pemberi pengaruh.
"Percakapan video menjadi pengingat kita terhadap orang-orang yang tidak kita jumpai untuk sementara waktu."
"Adalah sebuah penderitaan setiap Anda melihat seseorang secara online, seperti kolega. Itu mengingatkan Anda bahwa kita semestinya berada di tempat kerja bersama," tuturnya.
"Yang saya temukan adalah fenomena bahwa kita semua lelah. Tidak peduli apakah Anda introvert atau ekstrovert. Kita mengalami tekanan yang sama selama pandemi ini," kata Petriliegeri.
Lalu ada fakta bahwa aspek kehidupan kita yang dulu terpisah - pekerjaan, teman, keluarga - semuanya sekarang terjadi di ruang yang sama.
Teori kompleksitas-diri mengandaikan bahwa individu memiliki banyak aspek, dari peran sosial yang bergantung pada konteks, hubungan, kegiatan, dan tujuan. Kita merasa keragaman itu sehat, kata Petriglieri. Ketika aspek-aspek ini dikurangi, kita menjadi lebih rentan terhadap perasaan negatif.
"Sebagian besar peran sosial kita terjadi di tempat yang berbeda, tapi sekarang kontek peran itu telah runtuh," kata Petriglieri.
"Bayangkan jika Anda pergi ke bar, dan di bar yang sama Anda berbicara dengan profesor Anda, bertemu orang tua Anda atau berkencan dengan seseorang, bukankah ini aneh?"
"Itulah yang kitu lakukan saat ini. Kita terkurung di ruang kita sendiri, dalam krisis yang sangat memicu kecemasan, dan satu-satunya ruang kami untuk interaksi adalah jendela komputer," ujar Petriglieri.
Shuffler berkata, kurangnya jeda setelah kita menyelesaikan pekerjaan dan tugas domestik keluarga mungkin menjadi faktor lain dalam keletihan ini.
Sementara beberapa dari kita mungkin menaruh harapan yang lebih tinggi pada diri kita sendiri karena kekhawatiran pada urusan ekonomi, cuti dan kehilangan pekerjaan.
"Ada juga perasaan yang menebal bahwa 'Aku harus tampil maksimal dalam situasi ini'. Beberapa dari kita bekerja agak berlebihan untuk mengamankan pekerjaan kita."
Namun saat saya bercengkrama dengan teman-teman saya di Zoom, apakah itu tidak membuat saya lebih rileks?
Banyak dari kita akan bergabung dalam percakapan kelompok untuk pertama kalinya, baik itu pada momen makan malam Paskah secara virtual, menghadiri acara reuni universitas atau mengadakan pesta ulang tahun untuk seorang teman.
Jika acara itu diadakan dengan intensi bersenang-senang, mengapa ada kemungkinan kita juga merasa lelah?
Salah satu faktor yang menentukan, kata Shuffler, adalah apakah Anda bergabung karena keinginan sendiri atau karena merasa harus, seperti waktu istirahat virtual bersama rekan kerja.
Jika Anda melihatnya sebagai kewajiban, itu berarti lebih banyak waktu Anda 'aktif' daripada istirahat.
Obrolan yang tepat dengan teman akan terasa lebih sosial dan akan ada lebih sedikit 'rasa lelah menggunakan Zoom' dalam percakapan di mana Anda berkesempatan menjadi diri sendiri.
Percakapan video dalam kelompok besar dapat terasa sangat melelahkan, menurut Petriglieri. Banyak orang suka menonton televisi karena Anda dapat membiarkan pikiran Anda mengembara.
Namun, kata dia, berada dalam percakapan video besar sama seperti sedang menonton televisi dan televisi sedang menonton Anda.
Petriglieri berkata, obrolan dalam kelompok besar juga bisa terasa tidak personal karena kekuatan Anda sebagai individu berkurang. Dan terlepas dari citra diri, percakapan seperti itu mungkin tidak terasa seperti memanfaatkan waktu senggang dengan efektif.
"Tidak masalah apakah Anda menyebutnya waktu istirahat virtual, itu adalah pertemuan, karena sebagian besar kita terbiasa menggunakan alat ini untuk bekerja," ujar Petriglieri.

Sumber gambar, Getty Images
Jadi bagaimana kita bisa mengurangi kelelahan dalam percakapan video di Zoom?
Petriglieri dan Shuffler menyarankan membatasi panggilan video dan bergabung ke sesi yang benar-benar kita perlukan. Kita tidak mesti menyalakan kamera dan secara umum harus ada lebih banyak pemahaman bahwa kamera tidak selalu harus ada di sepanjang setiap pertemuan.
Membiarkan layar Anda miring ke samping, bukannya lurus ke depan, juga dapat membantu konsentrasi Anda, khususnya dalam pertemuan kelompok, kata Petriglieri. Itu membuat Anda merasa seperti berada di ruang sebelah, jadi mungkin tidak terlalu melelahkan.
Dalam beberapa kasus, ada baiknya mempertimbangkan apakah percakapan lewat aplikasi video benar-benar pilihan paling efisien.
Untuk urusan pekerjaan, Shuffler menyarankan saling berbagi berkas bersama dengan catatan yang jelas. Itu bisa menjadi pilihan yang lebih baik serta menghindari informasi yang berlebihan.
Shuffler juga menyarankan kita mengamil jeda selama pertemuan video untuk mengejar materi yang kita belum pahami.
"Luangkan waktu untuk benar-benar memeriksa kondisi orang lain," ujarnya.
"Itu adalah cara untuk menghubungkan kembali kita dengan dunia, dan untuk menjaga kepercayaan dan mengurangi kelelahan dan kepedulian."
Membuat jeda di antara pertemuan video juga dapat menyegarkan kita. Cobalah melakukan peregangan tubuh, minum atau sedikit berolahraga, kata dua ahli itu.
Batas dan transisi itu penting. Kita perlu membuat penyangga yang memungkinkan kita untuk mengesampingkan satu identitas dan lalu berpindah ke persona yang lain ketika kita bergerak antara urusan pekerjaan dan pribadi.
Dan mungkin, kata Petriglieri, jika Anda ingin tetap berkomunikasi dengan orang lain selama pandemi ini, gunakan cara lama.
"Tulis surat kepada seseorang, alih-alih menemui mereka di Zoom. Beri tahu mereka bahwa Anda benar-benar peduli pada mereka," ujarnya.
Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris di BBC Worklifedengan judul Why Zoom video chat are so exhausting.










