Virus corona: 'Saya takut mimpi menjadi seorang ibu sekarang sirna'

Sian Brindlow dan suaminya, Nick.

Sumber gambar, Sian Brindlow

    • Penulis, Amelia Butterly
    • Peranan, BBC 100 Women

Harapan para perempuan yang bermimpi untuk menjadi seorang ibu berpotensi pupus karena banyak klinik kesuburan atau fertilitas di seluruh dunia yang menghentikan kegiatannya.

"Saya ingin bayi dari suami saya. Kami telah memimpikan bayi ini selama 12 tahun," kata Sian Brindlow dari Sussex Barat, Inggris.

"Saya takut semua mimpi itu hilang."

Sian adalah satu dari banyak perempuan di dunia yang akan menjalani prosedur kesuburan untuk mendapatkan anak. Ia hanya diberi tahu oleh pihak klinik bahwa pembatasan-pembatasan virus corona menyebabkan perawatan kesuburannya ditangguhkan tanpa batas waktu.

Sian berusia 40 tahun. Ia dan suaminya baru saja memulai siklus ketiga fertilisasi in-vitro atau in-vitro fertilization (IVF) saat berita tentang penangguhan itu terdengar ke telinga mereka.

Dua siklus IVF sebelumnya tidak berhasil.

Prosedur yang Sian telah lewati mempengaruhi kesehatan mental dirinya dan suami, ditambah lagi dampak virus corona juga sangat merugikan hidup mereka.

"Kami tidak tahu apa yang akan terjadi," katanya. "Ini benar-benar sulit."

Sian Brindlow dan suaminya Nick.

Sumber gambar, Sian Brindlow

Keterangan gambar, Sian and suaminya Nick berselfie merayakan tahun baru 2020 dan berharap Tahap kedua IVF akan berhasil.

Klinik-klinik fertilitas di banyak negara telah menghentikan layanan mereka dan hingga kini tidak ada informasi yang jelas kapan mereka akan buka kembali.

"Kami mengerti sekarang adalah waktu yang sulit bagi pasien karena klinik kesuburan dihentikan sejak 15 April 2020," kata Otoritas Fertilisasi & Embriologi Manusia (HEFA), di Inggris, dalam sebuah pernyataan.

Di Amerika Serikat, Masyarakat Amerika untuk Pengobatan Reproduksi (ASRM), juga telah menegaskan kembali atas rekomendasi penundaan siklus pengobatan baru untuk pasien yang ingin hamil.

Federasi Masyarakat Obstetri dan Ginekologi India (FOGSI) mengatakan bahwa "perawatan baru untuk prosedur kesuburan dan kondisi serupa harus ditunda".

Keterlambatan dan kesuksesan

Sian memahami alasan mengapa prosedur IVF ketiganya harus ditunda, tapi ia juga tetap merasa kecewa karena mimpinya memiliki buah hati menjadi tidak jelas, khususnya beberapa minggu lalu.

Sebelum pandemi, Sian berharap pembekuan beberapa embrio dapat dilakukan guna memberikan jaminan dan kepastian saat ia berada dalam daftar tunggu operasi. Sekarang? Semuanya menjadi tidak jelas.

"Dulu saya berfikir mereka bisa mengumpulkan telur, dan membekukan telur, dan semua akan baik-baik saja. Sehingga kami tidak perlu terlalu khawatir tentang usia [ku]," kata dia.

Sekarang, harapan itu pun sirna. Sian hanya berharap jika ia bisa segera melanjutkan proses IVF ketiganya dalam waktu yang tidak terlalu lama.

"Saya siap menunggu, jika itu [pengobatan] akan berlanjut kembali,' kata Sian, walaupun ia menyadari mimpi itu sulit untuk menjadi kenyataan.

Seorang ahli embriologi sedang bekerja di Pusat Pengobatan Reproduksi di Virginia.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Lebih dari lima juta bayi lahir dengan bantuan reproduksi medis selama 40 tahun terakhir.

Para ahli mengatakan penghentian perawatan fertilitas akan berkontribusi pada pelambatan penyebaran virus corona dan para petugas medis dapat dikerahkan untuk membantu para pasien yang terinfeksi Covid-19.

Dokter Marco Gaudoin, ahli kesuburan, mengatakan bahwa akan ada "dampak" bagi para perempuan yang menunggu perawatan fertilitas karena kesuksesan sangat tergantung pada usia dan waktu.

"Secara statistik dari usia 34 dan seterusnya, untuk setiap bulan yang terlewati, maka peluang Anda [hamil] turun sekitar 0,3%. Jadi setelah enam bulan itu sekitar 2% peluang turun," katanya kepada BBC.

"Jika Anda memulai pada level peluang 14% untuk berhasil, enam bulan kemudian level Anda turun menjadi 12%.

"Itu adalah penurunan angka yang besar secara proporsional dan berdampak besar pada peluang keberhasilan pasien."

'Saya memimpikan benjolan'

Walaupun Katy Brunton berusia 32 tahun, ia tetap khawatir dampak dari penghentian layanan fertilitas akan berpengaruh pada kemampuannya untuk memiliki anak kandung.

Ia dan suaminya terus berjuang mendapatkan bayi selama hampir tiga tahun terakhir.

Katy didiagnosis memiliki jumlah cadangan telur yang menurun atau sedikit untuk usianya dan masalah ini adalah sebab dari banyak pasangan membutuhkan bantuan medis untuk mendapatkan keturunan.

"Orang-orang itu sangat cepat membicarakan usia Anda dalam kesuburan," katanya.

"Saya masih muda di dunia kesuburan ini, tapi saya tidak punya banyak telur yang tersisa dan memikirkan waktu yang terus berjalan itu sangat menakutkan."

Seorang ibu dan anaknya sedang bermain di Wuhan.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Mendengar keluarga yang menghabiskan waktu dengan anak saat 'lockdown' sangat menyakitkan.

Katy mengungkapkan telah membuat janji dengan klinik untuk memulai siklus perawatan baru dengan menggunakan emrbio beku tepatnya beberapa hari sebelum kebijakan pembatasan pertama kali diberlakukan.

"Saya benar-benar berharap kami bisa mendapatkan perawatan. Saya selalu bermimpi suatu hari akan mengalami benjolan [di perut]," katanya.

Katy mengatakan sedih ketika mendengar opini-opini keluarga muda yang mengeluh karena harus mengurus anak saat masa 'lockdown'.

"Ada banyak orang yang berbicara tentang betapa buruknya keadaan di rumah mereka bersama anak-anak saat ini," katanya.

"Saya akan melakukan apa saja untuk bisa terjebak bersama anak saya yang sedang berteriak-teriak, saya menginginkan itu."

'Anda tidak bisa memilikinya'

Seorang bidan bernama Eleanor Crabb yang berusia 35 tahun telah mencoba mendapatkan bayi dengan suaminya selama lebih dari empat tahun.

Setelah beberapa upaya gagal, mereka menggunakan telur donor dan berharap dapat melakukan transfer embrio bulan ini, tetapi rencana itu telah dibatalkan dan embrio tetap beku.

Pembelahan sel terhadap dua embrio manusia yang dibuahi selama 24 jam pertama.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Ini adalah embrio manusia yang dibuahi pada jam-jam pertama perkembangan setelah IVF.

Eleanor mencintai pekerjaannya menjadi bidan, tetapi merawat perempuan hamil di saat ia juga mau hamil adalah perjuangan emosi yang sulit.

"Bayangkan Anda bekerja di pabrik kue, dan semua yang Anda inginkan adalah memakan kue itu tetapi Anda tidak diizinkan memakan itu untuk selamanya."

Eleanor mengungkapkan ia bekerja keras menjaga perasaannya agar berdampak pada pekerjannya. Di tambah lagi, virus corona telah membuat pekerjaannya semakin sulit.

"Saya tidak bisa mendapatkan transfer embrio saya, saya tidak tahu kapan itu akan terjadi," katanya.

"Dan kemudian saya harus pergi bekerja, merawat wanita hamil yang membutuhkan saya untuk peduli dan pengertian. Sementara saya mengenakan masker wajah, visor, celemek dan sarung tangan.

"Mereka hanya bisa melihat mata Anda, jadi sangat sulit merawat orang dengan cara itu."

'Rasa artinya gagal'

Penulis, Seetal Savla, berusia 38 tahun menulis blog tentang perjalanan kesuburannya. Ia berharap kisahnya akan membantu orang-orang yang tengah berjuang dalam situasi yang sama.

"Sulit untuk mendiskusikan perasaan gagal itu," katanya. "Anda berulang kali mencoba untuk hamil dan tidak ada yang terjadi.

"Itu membuat saya merasa gagal sebagai seorang perempuan, sebagai seorang istri, dan kemudian dalam peran yang diperluas yaitu sebagai menantu, seorang putri dan seorang cucu perempuan."

Seetal dan suaminya sedang dalam tahap siklus IVF keempat ketika klinik ditutup, dan mereka sekarang telah membekukan satu embrio.

Seperti yang lain, Seetal merasa hancur karena gagal memiliki anak, tetapi kegagalan demi kegagalan itu yang membuat ia menjadi lebih tangguh.

"Tapi itu bukan berarti tidak sulit, dan ada saat-saat Anda merasa putus asa," katanya.

Ketika pertama kali mendapat bantuan pengobatan kesuburannya, Seetal mengatakan dia merasa terhibur dengan membaca cerita dari komunitas TTC (Trying to Conceive / mencoba untuk memahami) di Instagram.

Sekarang dia mencoba memberikan kembali bantuan itu kepada orang lain, dengan cara membagikan kisahnya secara online.

"Bagi orang-orang yang melaluinya, mereka dapat menyampaikan melalui cerita, terutama bagi orang India, karena tidak banyak suara orang India yang berbicara tentang tekanan budaya dan harapan yang kita hadapi."

'Ibu biologis'

Sebagian besar orang-orang yang BBC 100 Women dengar telah melalui tes dan prosedur kesuburan selama bertahun-tahun.

Mereka menggambarkan bagaimana perawatan kesuburan telah mendominasi segalanya, dan mereka hidup dari satu pertemuan (rumah sakit) ke pertemuan berikutnya.

Pembatalan ini telah membuat mereka terguncang.

"Apa yang terjadi selama 12 bulan ke depan mungkin menentukan seluruh hidup saya," kata Siobhan, yang tidak ingin menggunakan nama lengkapnya.

"Hasilnya bisa menjadi perbedaan antara saya menjadi ibu biologis atau bukan."

Jamie Chui, 33 tahun, meletakkan tangannya di atas perutnya yang sedang hamil, saat 'lockdown' di Hong Kong.

Sumber gambar, Getty Images

Siobhan berusia 41 tahun dan mengalami beberapa keguguran di masa lalu.

Siobhan juga harus mengatasi berbagai masalah kesehatan untuk mendapatkan IVF di masa lalu dan baru-baru ini dokternya menemukan rejimen atau program kesehatan yang tepat untuk membantunya.

"Saya berada di posisi yang baik dua bulan lalu. Dan, apakah saya akan tetap berada di posisi yang baik dalam setahun ini? Saya tidak tahu," katanya.

Dia juga khawatir tentang bagaimana tahap-tahap perawatan yang terlewati akan ditangani saat klinik kembali dibuka.

"Siapa yang pergi duluan? Saya dan suamiku dijadwalkan untuk bulan April. Apakah urutannya akan sama?

"Itu tidak adil bagiku karena mungkin ada perempuan yang berada dalam posisi yang lebih buruk daripada saya, secara biologis, yang mungkin harus pergi dulu untuk mendapatkan pengobatan dan kesempatan optimal."

line
100 women BBC season logo