Wajah peranakan Arab di Indonesia: Rizieq Shihab, politik identitas, dan pertanyaan tentang stereotip

Sumber gambar, BBC Indonesia
- Penulis, Heyder Affan
- Peranan, BBC Indonesia
Untuk pertama kalinya di Indonesia, dinamika warga keturunan Arab di Indonesia dibahas secara ilmiah dalam seminar internasional. Ada kritikan tajam terhadap sejumlah tokohnya yang dianggap tidak mampu menjaga warisan leluhurnya.
Walaupun jumlahnya sedikit dan tidak mewakili kepentingan orang-orang peranakan Arab secara umum, beberapa tokoh keagamaan keturunan Arab juga diingatkan agar kembali berdakwah dengan cara-cara yang tidak memecah belah kehidupan umat beragama.
Ada seruan pula agar kehadiran orang-orang keturunan Arab dalam panggung politik kontemporer Indonesia tidak melahirkan eksklusifitas, tetapi justru memperkuat persatuan Indonesia yang bercirikan multikulturalisme.
Diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Lembaga riset Hadhramaut centre, pusat studi dan penelitian Menara, serta Kementerian Agama, seminar bertema Dinamika Hadhrami di Indonesia ini menghadirkan sejumlah intelektual dan peneliti -dalam dan luar negeri- yang pernah melakukan studi tentang dinamika orang-orang keturunan Arab di Indonesia.

Sumber gambar, BBC Indonesia
Orang-orang Hadhrami, sebutan untuk penduduk Hadramaut, Yaman, merupakan mayoritas orang-orang peranakan Arab di Indonesia yang diyakini mulai berdatangan ke Nusantara sejak abad 13.
Walaupun konferensi internasional ini membahas sejarah, budaya, sosial serta peran keagamaannya, sorotan tajam lebih mengarah kepada tantangan dan harapan kehadiran orang-orang Hadhrami dalam politik kontemporer Indonesia.
Kebangkitan politik identitas berbasis etnis dan gerakan populisme global, yang menurut sejumlah pembicara tergambar dalam kasus Pilkada Jakarta, juga dianggap tantangan bagian sebagian elit orang-orang keturunan Arab ketika dihadapkan persoalan keutuhan dan persatuan bangsa.
Menteri Agama: Belajarlah dari ulama keturunan Arab pendahulu
Dalam pidato pembukaan seminar, Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin mengharapkan para keturunan Arab yang menjadi pendakwah supaya mampu "menjaga, memelihara, dan merawat" apa yang telah diwariskan para leluhurnya.

Sumber gambar, BBC Indonesia
Dahulu, lanjutnya, para ulama Indonesia keturunan Arab, yang memiliki garis keturunan Nabi Muhammad, tidak pernah mengajarkan "ideologi kebencian" atau "berpolitik praktis".
"Dari para habaib inilah lahir guru dan mubalik di berbagai daerah di Indonesia," kata Lukman.
"Metoda sufistik para habaib seperti inilah yang mengedepankan akhlak yang mulia sejak zaman dahulu yang kemudian diikuti oleh para Wali Songo dan dai pendahulu lainnya yang berhasil mengislamkan nusantara," kata Menteri Agama.
Dalam teks pidatonya, Lukman Hakim tidak menyebut siapa tokoh agama keturunan Arab saat ini yang diharapkannya dapat meneladani sepak terjang para ulama peranakan Arab terdahulu.

Sumber gambar, Getty Images
Tetapi menurut Muhammad Adlin Sila, Kepala Balai litbang Kementerian Agama, pidato Menteri Agama itu merupakan "kritik" terhadap salah-seorang figur warga Indonesia keturunan Arab yang pernyataan-pernyataannya "membahayakan keutuhan" Indonesia.
Ditanya apa yang dapat dilakukan Kementerian Agama untuk menghentikan kehadiran pendakwah di kalangan keturunan Arab seperti itu, Adlin mengatakan pihaknya berencana akan "berdialog", misalnya, dengan organisasi yang menghimpun keturunan Arab dari golongan Alawiyin, yaitu Rabithah Alawiyah.
"Ini suatu sinyal pemerintah, kalau ada beberapa oknum yang 'keluar' dari ajaran atau pemahaman kita, majelis itu bisa menjadi teman partner (mitra) pemerintah untuk menegur agar sesuai semangat keindonesian," jelas Adlin.
Sosok Rizieq Shihab
Terungkap dalam seminar itu, kendati jumlah mereka relatif kecil, peranan orang-orang peranakan Arab ini dianggap "penting" karena mereka tersebar di berbagai organisasi keagamaan, ormas, serta partai politik dengan latar pemahaman agama dan ideologi yang tidak tunggal.

Sumber gambar, BBC Indonesia
Namun belakangan ketika politik identitas mengalami penguatan dan berisisan dengan gerakan populisme Islam, sepak terjang salah-seorang keturunan Arab, Rizieq Shihab, akhirnya menjadi sorotan utama setelah keterlibatannya yang mencolok selama Pilkada Jakarta, kata Azyumardi Azra, salah-seorang pembicara utama dalam seminar itu.
"Orang-orang Hadrami memiliki peranan yang penting di dalam kebangkitan politik identitas atau bahkan populisme Islam, terutama sejak akhir tahun lalu, ketika terjadi Pilkada Jakarta," kata Azyumardi, guru besar UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, kepada BBC Indonesia.
Pernyataan Azyumardi ini merujuk pada gelombang unjuk rasa yang melibatkan ratusan ribu orang selama Pilkada Jakarta yang menggunakan isu agama. "Salah-satu pimpinan utama kebangkitan populisme Islam itu 'kan Rizieq Shihab," katanya.

Sumber gambar, BBC Indonesia
Menurutnya, Rizieq memiliki pengaruh kuat pada sebagian masyarakat Islam, terutama kalangan bawah, karena diyakini memiliki garis keturunan dengan Nabi Muhammad. "Ini sangat mempengaruhi Muslim lokal, karena dianggap sebagai panutan," jelasnya.
Meskipun demikian, lanjutnya, tidak berarti sikap dan tindakan pimpinan Front Pembela Islam (FPI) ini mewakili aspirasi orang-orang keturunan Arab di Indonesia. Karena,"ada juga di antara mereka yang aktif di Nahdlatul Ulama (NU)," katanya.
Tidak ada 'ideologi tunggal' di peranakan Arab
Masyarakat keturunan Arab di Indonesia, seperti masyarakat pada umumnya, tidak berlabuh dalam satu aliran politik atau keagamaan yang tunggal.
"Saya rasa penting untuk menegaskan bahwa masyarakat Hadrami di Indonesia tidak homogen," kata ahli sosiologi dari National Unversity of Singapore, Syed Farid Alatas, kepada BBC Indonesia.

Sumber gambar, BBC Indonesia
Dalam seminar 'Dinamika keturunan orang-orang Hadramaut di Indonesia', Farid Alatas merupakan pembicara utama. Dia tampil bersama Azyumardi Azra, Huub de Jonge dari Universitas Radbound, Belanda, dan Martin Slama dari Akademi Sains, Austria.
Seperti masyarakat lainnya, mereka terdiri dari beberapa aliran. "Ada yang menganut tarekat Baalawi, seperti yang dianut oleh moyang mereka, ada juga yang terpengaruh oleh aliran-aliran lain dalam Islam, ataupun aliran seperti liberalisme atau sosialisme," jelasnya.

Sumber gambar, BBC Indonesia
Itulah sebabnya, ketika muncul sosok peranakan Arab yang sangat menonjol selama pilkada Jakarta yang diwarnai mobilisasi massa dengan menggunakan isu agama dan etnis, Farid menganggapnya itu tidak mewakili kepentingan orang-orang Arab secara keseluruhan.
"Itu bukan gambaran umum orang Arab di Indonesia," tegasnya. Artinya, apa yang menjadi pemikiran dan tindakan Rizieq Shihab tidak bisa dianggap mewakili aspirasi seluruh keturunan Arab di Indonesia.
'Keturunan Arab jangan eksklusif'
Dia menganalisa, apa yang terjadi saat Pilkada Jakarta lalu tidak terlepas apa yang disebut sebagai kemunculan gerakan populisme yang juga menjadi gejala umum di dunia.
Sebagai seorang keturunan Arab, Farid tidak setuju dengan penggunaan sentimen agama dan etnis seperti yang terjadi dalam Pilkada Jakarta lalu. Seperti diketahui, sasaran mobilisasi massa itu adalah Gubernur DKI Jakarta terdahulu, Basuki Tjahaja Purnama yang keturunan Tionghoa atau Cina.

Sumber gambar, BBC Indonesia
"Saya rasa itu merupakan suaru kemunduran, karena tradisi Hadhrami atau masyarakat keturunan Arab di Indonesia, tidak pernah mempolitisasi soal etnis," kata Farid.
Ke depan, dia mengharapkan agar para peranakan Arab untuk lebih mengangkat isu-isu lainnya yang dianggapnya lebih penting dibicarakan dan disikapi. "Seperti pengangguran dan korupsi, misalnya."
Tentang kemunculan politik identitas yang antara lain mencirikan etnisitas dan agama, Farid Alatas mengatakan itu merupakan gejala umum dan terjadi di mana-mana. "Itu menunjukkan semacam ketidakpuasan terhadap kehidupan modern."
Tetapi sejauhmana kemunculan politik identitas itu bisa diterima sehingga tidak terjebak pada isu sektarian? Tanya saya.
"Saya kira masalah identitas ini tidak semestinya menyebabkan masalah sektarianisme, karena masalah sektarianisme itu disebabkan oleh sikap eksklusifisme," jawab Farid.

Sumber gambar, Panitia seminar orang-orang Hadhrami di Indonesia
Menurutnya, arti eksklusifisme adalah "ingin mengatakan bahwa saya paling benar dan aliran lain menyeleweng atau sesat".
Farid Alatas pun menyatakan dirinya menolak sikap eksklusif. Dan menurutnya, sikap seperti itu sudah ditunjukkan oleh orang-orang keturunan Arab pendahulu dari tarekat Alawiyin yang disebutnya tidak pernah mendiskriminasikan penganut aliran lainnya.
"Jadi memperkukuh identitas tidak semestinya mengakibatkan sikap eksklusifisme," ujar Farid
"Yang menjadi masalah adalah asabiah (fanatik), asabiah yang begitu kuat sehingga menolak golongan, aliran atau akidah yang lain. Ini yang menjadi masalah," tegasnya.
Seminar tentang keturunan Arab: Apa pentingnya?
Dalam jumpa pers, Ketua panitia seminar sekaligus peneliti LIPI, Ahmad Najib Burhani mengatakan, pihaknya menggelar konferensi ini justru untuk memberikan pemahaman mendalam (understanding deeply) tentang komunitas keturunan Arab di Indonesia agar "tidak disalahpami".
Najib mengatakan pemahaman seperti itu dibutuhkan ketika merebak apa yang disebutnya sebagai anggapan supervisial tentang komunitas tersebut yang menyebar di media sosial, terutama terkait persoalan politik yang muncul belakangan.

Sumber gambar, ARSIP KELUARGA AM ALKAFF
Dalam seminar itu, materi yang dibicarakan dan dibahas juga untuk mengungkap fakta lain yang telah dilakukan orang-orang keturunan Arab dalam bidang lainnya.
"Seperti apa mereka telah membangun, berkontribusi kepada bangsa, dan juga sejauhmana mereka telah meleburkan diri dengan bangsa yang multikultural ini," kata Najib.
Titik tekan lain yang menjadi fokus seminar itu adalah pertemuan atau perjumpaan (incounter) budaya mereka dengan budaya lainnya yang ada di Indonesia.
"Perjumpaan seperti ini akan menghilangkan namanya prejudice, menghilangkan stereotype tentang Arab itu seperti apa," tegasnya.

Sumber gambar, AFP
Dia kemudian menekankan studi ilmiah tentang etnis Arab ini juga untuk mempertegas bahwa Indonesia itu adalah multi kultur, identitas, etnis, maupun agama. "Semuanya justru memperkuat kebhinekaan kita," katanya.
'Penyerbukan antar budaya'
Najib mengakui fakta kebhinekaan itu bisa mengancam persatuan, tetapi menurutnya seminar itu justru ditujukan untuk memperkuat persatuan dengan memahami keragaman tersebut.
Dalam keterangannya, seminar itu diharapkan pula dapat mengisi minimnya kajian tentang orang-orang keturunan Arab di Indonesia. "Semoga akan memantik studi-studi lebih lanjut yang lebih komprehensif," katanya.
Sementara, pimpinan Pusat studi dan penelitian Menara, yang juga menjadi penyelenggara seminar ini, Nabiel Hayaze' mengatakan, seminar itu merupakan bagian dari upaya "penyerbukan antar budaya".

Sumber gambar, BBC Indonesia
"Semangat untuk mempelajari bangsa, atau suku lainnya yang ada di Indonesia, adalah bagian dari penyerbukan antarbudaya dan bagian dari pembentukan bangsa Indonesia," kata Nabiel di hadapan wartawan.
Dia juga menekankan, seminar internasional ini diharapkan dapat menciptakan keseimbangan dan pemahaman yang lebih utuh tentang orang-orang keturunan Arab, sehingga dapat "mengcounter berita-berita di media massa yang tidak bisa mewakili apa yang sedang terjadi," katanya.
Dalam seminar yang berlangsung dua hari itu, dibahas berbagai tema, diantaranya peran keagamaan dan pengaruh orang-orang keturunan Arab di Indonesia, politik kontemporer dan nasionalisme mereka, hingga identitas budaya (musik, bahasa, makanan dan sastra).
Lainnya, konferensi itu juga menelisik tentang identitas sosial mereka (pernikahan dan sistem kekeluargaan), hingga kontribusinya di bidang perekonomian, bisnis, pendidikan dan penerbitan di Indonesia.









