Panggilan dari kampung Arab Ampel Surabaya

Sekelompok orang keturunan Arab di Surabaya memperingati hari Sumpah pemuda keturunan Arab 1934 pada awal November 2015 lalu. Wartawan BBC, Heyder Affan, mendatangi acara itu sekaligus memotret berbagai sudut kampung Arab di kawasan Ampel, Surabaya utara.

Kampung Arab
Keterangan gambar, Dua poster berukuran cukup besar, Presiden Sukarno dan ulama asal Yaman, Umar bin Hafidz dipajang oleh penjualnya di sebuah lorong di dekat Masjid Ampel, Surabaya. Di kawasan ini, warga keturunan Arab (sebagian besar asal Yaman) telah tinggal ratusan tahun secara turun-temuran.
Kampung Arab
Keterangan gambar, "Paris", begitulah nama toko minyak wangi milik keluarganya. Letaknya di Jalan Sasak, salah-satu lokasi di kawasan Ampel, Surabaya, yang menjadi pusat bisnis warga keturunan Arab di kota itu. "Saya asli Sasak," kata Jafar Assegaf, pria berkopiah putih ini.
Kampung Arab
Keterangan gambar, "Wartawan dari mana?" Pria setengah baya ini bertanya kepada saya. Dia saya temui di depan sebuah toko kuno di Jalan Sasak, Surabaya. "Foto saya ya," katanya seraya memanggil anak muda berambut kribo ini. Saya mengiyakan. "Klik!"
Kampung Arab
Keterangan gambar, "Hotel Kemajoean ini salah-satu ikon Kampung Arab di kawasan Ampel," kata salah-seorang tokoh keturunan Arab di kawasan itu, Abdullah Battati. Saya mengakrabi bangunan hotel ini sejak saya sering diajak ibuku ke kampung kelahirannya ini.
Kampung Arab
Keterangan gambar, Di sebuah sore yang hangat, saya berjumpa tiga remaja keturunan Arab yang mengenakan kopiah putih dan bersarung --sebuah pemandangan lazim di kawasan Ampel, Surabaya. Sepertinya mereka hendak belajar agama di langgar atau musola terdekat.
Kampung Arab
Keterangan gambar, Di lorong yang menghubungkan Jalan Sasak ke masjid Ampel, para pedagang --sebagian keturunan Arab-- menjajakan jualannya. Nama lorong itu adalah Ampel Suci --dulu disebut "Gubah".
Kampung Arab
Keterangan gambar, "Anda tidak akan kelaparan di kampung Ampel," kata Abdurrahman, pengelola situs Jamaah Sasak. Sampai larut malam, ada saja pedagang kaki lima yang bertebaran di Jalan KH Mas Mansyur, jalan utama kawasan Ampel.
Kampung Arab
Keterangan gambar, Dua pemudi keturunan Arab ini, yang ikut meramaikan acara bazar kuliner memperingati Sumpah pemuda keturunan Arab (1934) di Jalan Sasak, tengah bercengkerama dengan teman-teman sebayanya.
Kampung Arab
Keterangan gambar, Menjual minyak wangi adalah salah-satu pekerjaan yang acap diidentikkan dengan warga keturunan Arab. Predikat ini mendekati kenyataan jika Anda berkunjung ke Jalan Sasak dan Panggung di kawasan Ampel, Surabaya.
Kampung Arab
Keterangan gambar, Seorang ibu setengah baya di antara barang dagangannya di lorong Ampel Suci di dekat masjid Ampel.
Kampung Arab
Keterangan gambar, Abdullah Battati, salah-seorang tokoh warga keturunan Arab di kawasan Ampel, Surabaya. Tampil sebagai ketua panitia peringatan Hari Sumpah pemuda keturunan Arab 1934, Abdullah menganggap penting acara ini. "Di sini kita teguhkan kembali sikap kebangsaan dan keindonesia warga keturunan Arab," kata Abdullah dalam pidato pembukaannya.
Kampung Arab
Keterangan gambar, "Indonesia adalah Tanah air kita, yang harus kita junjung tinggi!" Abdullah Battati, yang mengenakan pakaian tradisional masyarakat Arab Yaman, berpidato sekaligus membuka acara bazar memperingati Sumpah Pemuda keturunan Arab 1934.
Kampung Arab
Keterangan gambar, Jalan Ampel Maghfur, salah-satu lorong yang menghubungkan jalan utama ke masjid Ampel. Di lorong-lorong itulah, tinggal secara turun-temurun warga keturunan Arab.
Kampung Arab
Keterangan gambar, Nasi Kebuli adalah makanan khas Arab yang menjadi menu utama sejumlah restoran di kawasan Kampung Arab di Ampel, Surabaya.
Kampung Arab
Keterangan gambar, Setidaknya ada empat atau lima restoran di sepanjang Jalan KH Mas Mansyur yang menjajakan makanan ala Timur Tengah.