Kaum muda keturunan Arab yang gelisah
- Penulis, Heyder Affan
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia
Lima anak muda warga Indonesia keturunan Arab membicarakan identitas yang melekat pada dirinya. Mereka adalah komedian, aktivis, pekerja sosial, presenter televisi serta penyair.

Sumber gambar, sakdiyah maruf
'Keturunan Arab di Indonesia sangat beruntung, karena tidak ditindas negara'
(Sakdiyah Ma'ruf, 33 tahun, komedian, peraih Vaclav Havel international prize for creative dissent 2015)
Saya terjun ke stand-up comedy bukan disengaja. Artinya ini bukan bagian dari cita-cita atau mimpi saya. Saya juga tidak pernah berpikir akan menjadi komedian. Saya juga tidak pernah berpikir bahwa seorang komedian akan lahir dari komunitas keturunan arab, apalagi perempuan, dan berjilbab.
Tetapi, saya meyakini, kebanyakan kaum Arab peranakan itu memiliki DNA sebagai komedian. Jadi, kehadiran saya sebagai komedian tidak terlepas dari sejarah saya.
Dalam komunitas Arab, ketika mereka -terutama kaum pria- berkumpul santai, mereka bisa berkelakar berjam-jam. Mereka adalah humoris yang berbakat, walaupun materi kelakarnya terkadang sangat arogan dan terkesan ingin menunjukkan superioritas mereka.

Sumber gambar, sakdiyah maruf
Itulah sebabnya saya sering bertanya-tanya: kenapa orang-orang Arab di Timur tengah suka marah, perang, padahal mereka memiliki selera humor yang tinggi, suka bercanda.
Sebagai komedian, masalah isu perempuan menjadi materi saat saya berada di panggung ketika saya berkomedi, diantaranya soal tubuh perempuan, termasuk soal hijab.
Fundamentalisme
Saya juga mengeksplorasi tema-tema lainnya, termasuk soal kearaban saya, tentang kebangkitan gerakan fundamentalisme, serta di sisi lain perihal liberalisme.
Tema ini, yang menjadi bahan di panggung komedi, lebih merupakan aspirasi. Saya sudah melakukan sebagian dan bercita-cita ingin melakukan lebih banyak lagi.

Sumber gambar, sakdiyah maruf
Saya yakin akan banyak negosiasi yang harus saya lakukan dengan diri saya dan identitas saya. Setiap saya manggung, mama selalu telepon: jangan ngomong Islam, jangan ngomong A atau B. Kamu bukan secara khusus dididik belajar agama, jangan bicarakan itu, kata mama saya.
Saya kita saya perlu banyak bahan, masih perlu sering bertemu banyak orang yang bisa diajak ngomong terbuka apa yang terjadi di dalam hidup kita.
Hal ini penting, karena pada tahun 2015, tetangga saya (yang keturunan Arab) di Pekalongan dipaksa berhenti sekolah dan dipaksa menikah secara dini. Ini situasi yang umum dan dianggap bisa diterima oleh komunitas kami.
Juga masalah pendidikan, dan tekanan serta kekerasan -dalam berbagai bentuk- yang masih terjadi di komunitas Arab. Dan tidak ada yang mau membicarakan masalah ini dalam komunitas kami.

Sumber gambar, sakdiyahmaruf
Misalnya, masih ada upaya penghalangan perbedaan pendapat, penghilangan privacy, atau menghalangi anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Ini masuk kategori kekerasan.
Kegamangan
Terlepas dari soal itu, yang saya rasakan saat ini ada semacam kegamangan dari komunitas keturunan Arab di Indonesia. Setelah sekian generasi ternyata kita masih gamang dengan identitas kita sebagai Arab indonesia.
Kita sudah lama hidup sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Artinya, kita sebagai minoritas, kita beruntung berada di tempat yang tidak ditindas oleh negara.
Berbeda dengan komunitas Cina yang secara terang oleh negara diambil hak warga negaranya -misalnya, tidak bisa mempraktekkan agamanya dan harus pindah agama segala. Masih ada penanda bagi mereka. Sementara kita tidak mengalaminya.
Kita sama sekali tidak merasakan secara politis didiskiminasi oleh negara. Bahkan posisi menteri sudah diberikan kepada keturunan Arab. Dan keturunan Arab cukup dianggap dan diperhitungkan untuk kemajuan bangsa dan negara.

Sumber gambar, sakdiyah maruf
Kita justru merasa superior, dan masyarakat lain sepertinya meneguhkan superioritas itu. Itu kadang-kadang saya gemas. Siapa yang bilang kita yang paling memahami agama?
Di sisil lain, di masa post-reformasi, Indonesia juga mengalami situasi geopolitik yang menjadi sangat cair. Semua pihak sepertinya ingin meneguhkan identitasnya, termausk komunitas Arab Indonesia.
Isu trans-nasional
Belum lagi pengaruh isu gerakan trans-nasional yang juga masuk ke Indonesia, dan membuat komunitas Arab seperti terhubung lebih mudah -ketimbang masyarakat lain- dengan orang-orang di Timur tengah. Ini terjadi karena situasi geopolitik yang mencair.

Dan di tengah cairnya identitas kebangsaan, dan tidak adanya upaya sistematis oleh negara untuk secara kontinyu untuk meneguhkan identitas kebangsaan itu, semua orang melihat dirinya dari perspektif baru.
Bagi komunitas Arab Indonesia, saya, dan Anda, tiba-tiba pada pasca reformasi ini, kita seperti punya opsi lain. Sebagian orang-orang Arab Indonesia ini kemudian mencari rujukan baru. Di sinilah isu trans-nasional menemukan tempatnya.
Tetapi saya kira, warga komunitas Arab yang punya sikap seperti itu cuma sempalan, tidak mayoritas.
Di masa post-reformasi, kita menghadapi minoritas yang suaranya keras, termasuk kelompok radikal dan fundamentalis. Namun di sisi lain, kelompok intelektual yang moderat termasuk minoritas, dan di tengah-tengahnya itulah klas menengah ignorance.

Sumber gambar, annas alamudi
'Tidak penting identitas kearaban saya'
(Annas Alamudi, kelahiran 1977, mantan aktivis 1998, kini bekerja di London)
Saya tidak bisa menutupi fakta bahwa saya adalah warga Indonesia keturunan Arab. Tapi identitas kearaban ini tidak penting jika dibanding soal kemanusiaan.
Sebagai manusia, kita mesti harus saling menolong, utamanya menolong orang yang membutuhkan. Ini jauh lebih penting ketimbang apakah saya orang Arab, Cina, Batak, atau Jawa.
Hasil didikan orang tua saya juga menekankan bahwa kita sebagai manusia harus menolong orang-orang lemah, yang tidak mampu bersuara, orang-orang kesusahan, tanpa melihat identitasnya.
Saat kuliah dulu, saya terlatih dalam pandangan kekirian. Pilihan saya ini tentu agak berbeda dengan pandangan sebagian keturunan Arab yang mengambil jalan berbeda.

Sumber gambar, annas alamudi
Di sinilah, saya akhirnya berada sampai pada satu titik: persoalan identitas kearaban saya menjadi tidak penting.
Pada periode demontrasi 1998, saya memiliki beberapa teman keturunan Arab, dan kami memiliki pemahaman yang sama bahwa masalah kearaban tidak penting. Lebih penting adalah masalah kemanusiaan.
Karenanya, saya tidak merasa superior dengan latar belakang kearaban saya. Saya juga tidak merasa superior dengan latar keislaman saya.
Tapi bagaimanapun, saya bangga menjadi orang Indonesia. Saya selalu mengajak anak saya berbahasa Indonesia, walaupun istri saya -orang Skotlandia- mengajaknya berbahasa Inggris. Saya ingin anakku memahami bahasa leluhurnya.
Namun demikian, masalah identitas keindonesiaan itu tidak sepenting ketika saya mendidiknya untuk berbuat baik kepada sesama, harus saling menolong.
Perihal pernikahan beda agama yang saya jalani, saya menjelaskan kepada keluarga besar ibuku bahwa di dalam Islam diperbolehkan pria menikahi perempuan sesama ahli Kitab.
Dari keluarga besar ayahku, ada beberapa diantaranya yang mempersoalkan. Tapi saya selalu menjelaskan: saya menikahi orangnya, saya mencintainya, menyayanginya. Soal warna kulit tidak penting. Dia mempercayai Tuhan yang mana, saya menganggapnya tidak penting.
Istri saya orang baik dan saya cocok. Itu jauh lebih penting.

Sumber gambar, hukumonline
'Saya keturunan Arab, saya dukung Ahok'
(Tsamara Amany Alatas, mahasiswa Universitas Paramadina, usia 19 tahun, relawan pendukung Basuki Tjahja Purnama alias Ahoksebagai Gubernur DKI mendatang)
Terlepas saya keturunan Arab, saya adalah warga negara Indonesia, begitu juga dengan Pak Ahok, terlepas dari latar belakangnya yang keturunan Tionghoa, saya mendukung Pak Ahok karena dia memiliki integritas, bersih, berani, dan memiliki program-program yang membantu kesejahteraan warga Jakarta,.
Saya rasa sudah tidak perlu dimasalahkan lagi latar belakang etnisnya, agamanya, sukunya, atau parasnya.
Karena kita semua warga negara Indonedsia, dan dasar negara kita adalah Pancasila. Kita sudah melupakan soal suku, agama, etnis, golongan.
Yang tersisa adalah bahwa kita adalah sama-sama warga negara Indonesia.
Tentu saja, di kalangan komunitas Arab, sepertinya ada perasaan syok: Kenapa keturunan Arab mau memilih seorang etnis Tionghoa.
Di sini kita harus memiliki keterbukaan pikiran. Kita, sebagai anak muda, harus berani meninggalkan fanatisme buta atas golongan.
Ini tidak berarti saya meninggalkan kecintaan saya sebagai keturunan Arab. Tapi, tetap saja, harus diingat bahwa kita lahir di bumi Indonesia. Kedudukan kita sama dengan etnis lainnya.

Sumber gambar, tsamara amany alatas
Jadi tidak penting lagi membicarakan lagi apakah saya beretnis Arab, Tionghoa, India.
Tentang adanya imej yang mengaitkan komunitas keturunan Arab dengan gerakan kekerasan atas nama agama, saya kira itu stereo type. Kasus seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia.
Jika pun ada, itu oknum yang mengatasnamakan orang-orang Arab. Saya yakin, mayoritas keturunan arab di Indonesia menolak adanya terorisme seperti ISIS atau al-Qaidah.
Kebanyakan dari mereka (sebagian) sejalan dengan NU, karena mazhabnya sama. Jadi menurut saya itu adalah orang-orang tertentu yang memperburuk citra orang Arab sehingga digeneralisasi seolah-olah seluruh Arab sama.
Padahal, sejujurnya, setiap etnis, golongan, selalu ada oknum yang tidak bertanggungjawab.
Memang di kalangan Arab, ada yang mengatakan, perempuan dilarang keluar rumah. Tapi sekarang zaman sudah berubah. Islam itu agama dinamis.
Saya adalah orang Arab yang terbuka, bisa pergi kemana saja, dan di sisi lain saya tidak meninggalkan keluarga.
Soal pernikahan sesama golongan, sah saja, tetapi ini tidak berarti kemudian anti terhadap golongan lain.

Sumber gambar, net
'Identitas keturunan Arab itu dimunculkan orang lain'
(Shafira Bawazir, 30 tahun, presenter di stasiun televisi Net)
Saya memang dari keluarga keturunan Arab, tapi kami adalah warga negara Indonesia. Identitas keturunan Arab itu hanya ada dalam darah dan adat istiadat dalam keluarga semata.
Semenjak saya kecil hingga sekarang, orang tua saya tidak pernah membatasi aktivitas saya karena latar identitas tersebut.
Jelas, saya menerima fakta identitas itu. Tidak pernah terlintas di dalam benak saya untuk mempertanyakannya. Lagi pula identitas itu tidak menjadi masalah buat saya.

Sumber gambar, shafira umm
Saya menjalaninya saja. Dan bahkan saya menyadari saya keturunan Arab, justru ketika orang lain memunculkannya. Jadi itu muncul dari luar, bukan dari saya atau keluarga saya.
Saya tidak memasalahkan, ketika ada yang memanggil saya dengan 'Fira Arab'. Saya tidak pernah sama-sekali tersinggung. Ini sama saja ketika saya memanggil teman saya dengan sebutan 'Budi Jawa', misalnya. Maklumlah, saya dulu di sekolah negeri yang murid-muridnya dari berbagai etnis.
Ya, saya pernah mendengar Sumpah pemuda keturunan Arab pada 1934 yang isinya mereka bersumpah bahwa Indonesia adalah tanah airnya. Ayah saya, paman dan kakekku pernah menunjukkan kertas lusuh yang isinya perihal itu.
Saya lantas berpikir: di zaman itu, sudah ada kesadaran akan kebangsaan dan keindonesiaan. Mereka sadar betul bahwa Indonesia itu terdiri berbagai ras, suku, bahasa, dan mereka bersepakat membentuk bangsa ini. Luar biasa.

Sumber gambar, agus sarjono
'Saya terlambat menyadari kearaban saya'
(Agus Rahmat Sarjono, kelahiran 1962, penyair dan penulis)
Dahulu, nenek saya usul agar saya diberi nama Faisal, tetapi ayah bersikeras agar saya diberi nama Indonesia yaitu Agus Rahmat Sarjono.
Tapi itu ada latar belakangnya. Tempat kami tinggal di Margahayu, Bandung, dulu merupakan basis Partai Komunis Indonesia, PKI, sementara ayah saya -yang keturunan Arab dan memilik fam Baisya - dikenal anti komunis.
Bergerak di bidang bisnis, ayah saya dikategorikan sebagai 'setan desa' oleh mereka. Makanya, demi keamanan dan menghindari ancaman, tiga anak pertamanya menggunakan nama-nama Indonesia -agar tidak dikaitkan agama dan etnis.

Sumber gambar, agus sarjono
Dunia pendidikanlah yang membentuk identitas keindonesiaan saya. Sejak SD, yaitu di sebuah sekolah yang dikelola Angakatan Udara TNI, saya bergaul dengan anak Ambon, Jawa, Sunda, Bali, Cina dan etnis atau suku lainnya.
Di sini bahasa pengantarnya Bahasa Indonesia dan bukan Bahasa Sunda. Jadi saya sejak awal native speaker dengan Bahasa Indonesia. Di sini saya relatif tidak ada masalah dengan latar etnis saya -sampai bangku SMP.
Jadi ketika itu masalah identitas saya tidak begitu menganggu dan tidak begitu disadari. Lagipula, ayah saya juga tidak begitu menanamkan soal etnisitas sejak kecil.
Barulah ketika saya dewasa, bertemu keluarga dari paman. Mereka bertanya dengan menggunakan bahasa Arab. Saya kesulitan menjawab.

Sumber gambar, agus sarjono
Kok namamu Agus? Mengapa? Aneh sekali! Mereka kemudian tertawa. Begitulah pertanyaan-pertanyaan mereka. Di sini mulai terasa soal identitas kearaban saya.
Lama-kelamaan saya menyadari bahwa saya keturunan Arab, tetapi sudah terlambat.
Terkadang dari keluarga jauh mengatakan, saya jauh lebih Indonesia ketimbang mereka. Bahkan saya dianggap tidak punya etnis: Bukan Sunda, bukan Arab, bukan Jawa.
Ketika saya sudah dewasa dan berkecimpung di dunia menulis, saya kadang berpikir: Kalau nama saya Faisal Baisya, keren juga ya.
Rasanya agak asing nama itu, dan ini bagus buat penulis seperti saya. Lebih gampang menjadi brand begitu dibanding nama yang lazim, seperti Agus Rahmat Sarjono... Ha-ha-ha...









