Polisi moral rahasia juga dikritik Presiden Rouhani

Sumber gambar, EPA
Presiden Iran, Hassan Rouhani, secara implisit mengkritik pembentukan 7.000 polisi rahasia untuk mengawasi perilaku warga di ibukota Teheran.
Salah satu tugas mereka adalah melaporkan perempuan-perempuan yang tidak mengenakan kerudung yang sesuai dengan aturan ketat untuk berpakaian di negara itu.
Ketika ditanya tentang polisi moral rahasia itu, Rouhani mengatakan tugas pertama pemerintah adalah menghormati martabat dan kepribadian manusia.
- <link type="page"><caption> Media Iran kecam polisi rahasia pengawas tingkah laku</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/04/160419_dunia_iran_polisi" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Iran bentuk satgas tangani wanita yang tak berkerudung</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/04/160418_majalah_iran_kerudung" platform="highweb"/></link>
"Allah memberikan martabat kepada semua umat manusia dan martabat mendahului agama," katanya seperti dikutip kantor berita ISNA, Rabu (20/04).

Sumber gambar, Reuters
Sebelumnya di media sosial dan media cetak muncul sejumlah kritik atas pembentukan polisi rahasia yang diumumkan kepala polisi Teheran pada Senin (18/04) awal pekan ini.
Beberapa koran moderat dan reformis mengganggap langkah itu sebagai penertiban moral yang dapat menimibulkan ketidakpercayaan.
Para polisi rahasia pria dan perempuan itu tidak memiliki wewenang untuk menangkap orang namun mereka hanya melaporkan pelanggaran itu lewat pesan telepon ke kantor polisi.
Selain mengamati cara berpakaian, para polisi juga akan memperhatikan warga yang memutar musik yang keras di dalam mobilnya.
Polisi Iran merupakan bagian dari Angkatan Bersenjata yang berada di bawa Pemimpin Agung Ayatollah Ali Khamenei namun pemerintah memiliki pendapat atas kebijakan polisi melalui Kementerian Dalam Negeri.









