Ratusan foto wajah warga Iran yang tewas ungkap 'respons brutal' terhadap demonstran antipemerintah

Ratusan foto yang mengungkap wajah para korban tewas selama tindakan keras oleh aparat Iran ke aksi protes antipemerintah telah bocor ke BBC Verify.
    • Penulis, Merlyn Thomas
    • Peranan, correspondent, BBC Verify
    • Penulis, Shayan Sardarizadeh
    • Peranan, senior journalist, BBC Verify
    • Penulis, Ghoncheh Habibiazad
    • Peranan, senior journalist
  • Waktu membaca: 5 menit

Peringatan! Artikel ini memuat konten kekerasan yang mungkin akan mengganggu Anda.

Ratusan foto yang didapatkan tim BBC Verify mengungkap wajah para demonstran yang tewas selama gelombang protes antipemerintah di Iran.

Foto-foto tersebut memperlihatkan wajah para pengunjuk rasa bersimbah darah, bengkak, dan memar. Dari foto-foto itu, BBC Verify menghitung setidaknya terdapat 326 demonstran yang tewas, 18 orang di antaranya adalah perempuan.

Berbagai foto yang dipajang di sebuah kamar jenazah di wilayah selatan Teheran itu menjadi salah satu dari sedikit cara bagi keluarga untuk dapat mengidentifikasi kerabat mereka yang tewas.

Banyak dari warga yang tewas itu mengalami luka yang sangat parah hingga sulit dikenali.

Sekitar 69 orang diberi label dalam bahasa Persia sebagai John atau Jane Doe, yang mengindikasikan bahwa identitas mereka tidak diketahui saat foto diambil.

Hanya 28 korban yang memiliki label dengan nama yang terlihat jelas dalam foto-foto tersebut.

Label pada lebih dari 100 korban yang mencantumkan tanggal kematian menunjukkan bahwa mereka tewas pada 9 Januari lalu, salah satu malam paling mematikan bagi demonstran di Teheran dalam beberapa pekan terakhir.

Pada malam itu, jalan-jalan kota di Iran terbakar selama bentrokan dengan pasukan keamanan. Kala itu para pengunjuk rasa meneriakkan slogan-slogan yang menentang pemerintahan di bawah rezim Ayatollah Ali Khamenei.

Aksi protes di jalanan Teheran, Iran, pada 9 Januari lalu.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Aksi protes di jalanan Teheran, Iran, pada 9 Januari lalu.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

BBC Verify menelusuri meluasnya aksi protes di seluruh Iran, sejak meletus pada akhir Desember lalu.

Namun, pemadaman internet yang diberlakukan oleh pihak berwenang Iran membuat upaya pendokumentasian—tentang skala kekerasan pemerintah ke kelompok oposisi—menjadi sangat sulit.

Ayatollah Ali Khamenei telah mengakui secara terbuka bahwa beberapa ribu orang tewas, namun ia menyalahkan Amerika Serikat, Israel, dan pihak-pihak yang disebutnya sebagai "penghasut".

Meski pemadaman internet telah memasuki pekan ketiga, sejumlah kecil orang dapat mengirimkan informasi keluar Iran.

Mungkin Anda tertarik:

Ratusan foto close-up para korban tewas yang diambil dari Pusat Medis Forensik Kahrizak.

Kami menganalisis 392 foto korban dan mengidentifikasi 326 orang—beberapa di antaranya diambil dari sudut yang berbeda.

Sejumlah sumber mengklaim bahwa jumlah korban tewas di kamar jenazah tersebut mencapai ribuan orang.

Seorang narasumber, yang identitasnya dirahasiakan demi keamanan, mengatakan bahwa mereka tidak siap menyaksikan tingkat kehancuran yang ditemukan di dalam kompleks kamar jenazah tersebut.

Narasumber itu berkata, dirinya melihat korban dengan rentang usia mulai dari 12 atau 13 tahun hingga lansia berusia 60 dan 70 tahun. "Itu benar-benar terlalu berat," ujarnya.

Di tengah kekacauan di dalam kamar jenazah, anggota keluarga dan kerabat berkumpul di depan sebuah layar, menurut sejumlah kesaksian.

Mereka mencoba mengidentifikasi orang-orang yang mereka sayangi saat ratusan foto jenazah ditayangkan secara bergantian di layar itu.

Keterangan video, Kerumunan demonstran anti-pemerintah di Teheran, Iran.

Para narasumber itu berkata, tayangan salindia (slideshow) foto jenazah berlangsung selama berjam-jam. Banyak foto menunjukkan korban dengan luka sangat parah hingga tidak dapat diidentifikasi.

Wajah seorang pria tampak sangat bengkak hingga matanya nyaris tidak terlihat.

Seorang pria lainnya terlihat tengah menggunakan tabung pernapasan di mulutnya, mengindikasikan bahwa ia meninggal setelah sempat menerima perawatan medis.

Beberapa korban mengalami luka yang begitu hebat sehingga pihak keluarga meminta agar dapat melihat foto itu berulang kali dan memperbesar bagian wajah demi memastikan identitas mereka.

Di sisi lain, beberapa orang langsung mengenali kerabat mereka dan terlihat jatuh lemas ke lantai sambil berteriak histeris.

Lalu, banyak foto lain juga memperlihatkan kantong jenazah yang terbuka dengan lembaran kertas diletakkan di dekat wajah korban. Kertas itu bertuliskan nama, nomor identitas, atau tanggal kematian.

Dalam beberapa kasus, kata mereka, satu-satunya pengenal hanyalah sebuah kartu bank yang diletakkan di atas kantong jenazah—barang terakhir yang dimiliki korban.

BBC Verify secara terpisah telah mengonfirmasi kebenaran video dari kamar jenazah sama, yang menunjukkan kekerasan terhadap para demonstran.

Salah satu video memperlihatkan jenazah yang tampak seperti anak kecil, sementara video lainnya menunjukkan seorang pria dengan luka tembak yang jelas di tengah kepalanya.

Kedua video itu terlalu mengerikan untuk ditayangkan.

Beberapa warga Iran telah mengunggah nama-nama korban yang tewas di tangan pasukan keamanan saat mereka terhubung ke internet melalui Starlink atau menggunakan jaringan dari negara tetangga, meskipun kesempatan tersebut sangat jarang terjadi.

Kami telah memeriksa nama-nama korban yang teridentifikasi di kamar jenazah itu dengan unggahan di media sosial yang melaporkan kematian warga, dan menemukan lima kecocokan.

Namun, kami tidak mengungkap nama-nama tersebut karena kami tidak dapat menghubungi keluarga korban.

Peta Teheran dengan titik biru di area tempat video terverifikasi menunjukkan protes terjadi pada 8 Januari dan titik merah di area tempat video terverifikasi menunjukkan protes mulai 9 Januari.

BBC Verify telah melacak penyebaran protes antipemerintah di 71 kota besar dan kecil di seluruh Iran, sejak pertama kali meletus pada 28 Desember, melalui verifikasi video.

Meski demikian, jumlah wilayah yang sebenarnya menjadi lokasi demonstrasi kemungkinan besar jauh lebih tinggi.

Beberapa gambar yang berhasil diunggah warga melalui Starlink memperlihatkan mobil-mobil yang hangus terbakar di jalanan.

Sementara itu, sejumlah video yang telah diverifikasi merekam rentetan tembakan yang dilepaskan di sekitar Teheran selama aksi protes berlangsung.

Pemadaman internet yang dilakukan otoritas setempat telah mempersulit upaya pendokumentasian jumlah korban tewas secara menyeluruh.

Namun, lembaga Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat merilis estimasi terkini yang menyebutkan bahwa jumlah korban tewas telah melampaui 4.000 jiwa.