Mengapa demonstrasi di Iran saat ini berbeda dari aksi protes sebelumnya?

Aksi demonstrasi di Iran.

Sumber gambar, MAHSA / Middle East Images / AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Aksi demonstrasi di Iran.
Waktu membaca: 6 menit

Rangkaian demonstrasi anti-pemerintah di Iran telah mencapai tahap yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah 47 tahun Republik Islam tersebut, menurut sejumlah pakar dan saksi mata.

Saat sebagian masyarakat turun ke jalan di berbagai kota di Iran, Presiden AS Donald Trump mengancam bakal "menyerang dengan sangat keras ke titik terlemah" jika pihak otoritas Iran menindak para demonstran. Trump menambahkan, AS "siap membantu".

Pihak berwenang Iran bersumpah bakal menyerang sekutu dan kepentingan AS di kawasan tersebut.

Lantas, apa yang membedakan rangkaian demonstrasi ini—dan respons pemerintah Iran terhadap unjuk rasa tersebut—dengan berbagai aksi protes sebelumnya di negara itu?

Jangkauan yang meluas

Foto gabungan dari tiga demonstrasi berbeda di tiga lokasi geografis di Iran, menunjukkan kerumunan besar yang berbaris.
Keterangan gambar, Para ahli mengatakan protes yang terjadi saat ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam skala dan jangkauannya.

Sejumlah pakar meyakini skala dan penyebaran demonstrasi tahun ini belum pernah terjadi sebelumnya.

Peneliti sosiologi, Eli Khorsandfar, menuturkan gelombang demonstrasi memang telah berlangsung di kota-kota besar Iran. Namun, aksi protes juga merembet ke kota-kota kecil, yang namanya mungkin belum pernah didengar banyak orang.

Peta Iran

Iran pernah mengalami hal serupa sebelumnya.

Gerakan Hijau pada 2009 mendorong kelas menengah angkat suara untuk memprotes dugaan kecurangan pemilu. Meskipun skalanya besar, aksi tersebut hanya berpusat di kota-kota besar.

Demonstrasi besar lainnya pada 2017 dan 2019 terbatas pada daerah-daerah miskin.

Seseorang membawa plakat bertuliskan Mahsa_Amini berwarna merah dengan gambar Amini. Plakat tersebut dikelilingi oleh pria dan wanita yang mengenakan kaos bergambar dirinya dan membawa bendera untuk memperingati satu tahun kematiannya.

Sumber gambar, Ameer Alhalbi/Getty Images

Keterangan gambar, Protes menyebar di Iran dan di seluruh dunia setelah kematian Mahsa Amini pada tahun 2022.

Perempuan berusia 22 tahun itu ditangkap polisi moral Iran karena cara dia mengenakan jilbab.

Aksi protes dengan cepat meningkat setelah kematian Amini, namun mencapai puncaknya setelah enam hari, menurut berbagai laporan.

Sebaliknya, demonstrasi saat ini tampak lebih besar, lebih luas, dan terlihat lebih konsisten sejak pertama kali dimulai pada 28 Desember 2025.

Matilah Diktator!

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Seperti aksi protes pada 2022, rangkaian demonstrasi saat ini berakar pada keluhan spesifik yang segera berubah menjadi seruan perubahan sistemik yang mendalam.

"Gerakan tahun 2022 dimulai dengan isu perempuan. Tetapi keluhan lain juga tercermin di dalamnya… Protes pada Desember 2025 diawali dengan isu-isu yang tampaknya bersifat ekonomi dan, dalam waktu yang sangat singkat, membawa pesan bersama," kata Khorsandfar.

Pada akhir Desember 2025, para pedagang pasar melakukan pemogokan di jantung ibu kota Teheran, sebagai tanggapan atas fluktuasi tajam nilai tukar mata uang rial Iran terhadap dolar AS.

Aksi protes rupanya menyebar ke wilayah-wilayah termiskin di barat negara itu.

Seperti pada 2022, provinsi Ilam dan Lorestan termasuk di antara pusat demo.

Baca juga:

Menjelang akhir Desember 2025, pawai yang melibatkan ribuan orang terjadi ketika ratusan warga Iran—bahkan kelas menengah—menghadapi krisis ekonomi yang parah dan kenaikan harga-harga yang cepat.

Sejak itu, orang-orang yang berpawai di jalanan meneriakkan "Matilah diktator!"

Mereka menuntut penggulingan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan rezim yang dipimpinnya.

Reza Pahlavi

Demonstrasi pada 2022 tampaknya tanpa pemimpin. Karena itu, aksi tersebut segera mereda.

Demo saat ini memiliki tokoh-tokoh—beberapa di antaranya seperti Reza Pahlavi, putra dari Shah Iran yang digulingkan pada 1979—yang mencoba membentuk atau memimpin demonstrasi dari jauh.

Hal itu mungkin menjelaskan mengapa demonstrasi kali ini bertahan lebih lama.

Dalam protes saat ini, seruan agar Pahlavi kembali ke Iran terdengar lebih sering daripada sebelumnya.

Sebuah gambar Reza Pahlavi mengenakan setelan jas dengan rambut beruban sedang menyampaikan pendapat dengan satu tangan terangkat.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Tokoh-tokoh terkemuka di pengasingan seperti Reza Pahlavi tampaknya memengaruhi protes tersebut, tetapi para analis mengatakan bahwa ini tidak serta merta berarti dukungan agar dia tetap berkuasa.

Pahlavi menyatakan dirinya sebagai Shah Iran ketika berada di pengasingan di AS.

Seruannya agar orang-orang berteriak di jalanan telah disebarluaskan oleh banyak orang. Kaum muda di media sosial di Iran juga secara tidak langsung saling mendorong untuk bergabung dalam demonstrasi.

Skala protes baru-baru ini di kota-kota seperti Teheran membuktikan efektivitas seruan Pahlavi.

Para analis mengatakan bahwa imbas dari kehadiran tokoh oposisi terkenal tampaknya telah memperkuat keyakinan sebagian demonstran bahwa ada alternatif yang masuk akal jika pemerintah saat ini jatuh.

Yang lain berpendapat dukungan apa pun untuk Pahlavi tidak selalu merupakan keinginan untuk kembalinya monarki.

Sebaliknya, itu adalah ekspresi keputusasaan untuk alternatif apa pun selain pemerintahan ulama, terutama karena tidak adanya tokoh oposisi sekuler yang terlihat di dalam negeri.

Ancaman Trump untuk campur tangan

Gambar Donald Trump mengenakan jas dan kemeja berkerah terbuka, dikelilingi mikrofon, gambar diambil dari bawah.

Sumber gambar, Chip Somodevilla/Getty Images

Keterangan gambar, Presiden AS Donald Trump mengancam Iran yang telah kehilangan sejumlah sekutu penting.

Faktor lain yang membedakan protes tahun 2025, bahkan dari protes tahun 2022, adalah Amerika Serikat.

Demonstrasi tahun ini, tidak seperti aksi protes sebelumnya, yang kelihatan mendapatkan dukungan dari Gedung Putih.

Trump sebelumnya mengancam akan menyerang posisi pemerintah, sebagai bentuk dukungan terhadap demonstran—sesuatu yang belum pernah terjadi.

Selama gerakan protes tahun 2009 terkait dugaan kecurangan dalam pemilihan presiden, para demonstran meneriakkan, "Obama, Obama, bersama mereka atau bersama kami!"

Mantan Presiden AS, Barack Obama, yang menjabat pada 2009, kemudian menyatakan penyesalannya karena tidak mendukung demonstran di jalanan secara lebih nyata pada waktu itu.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengatakan demonstrasi tersebut dimanipulasi oleh "musuh-musuh Iran". Tapi, masalahnya adalah negaranya punya lebih banyak musuh ketimbang teman dalam beberapa tahun terakhir.

Pemerintah Iran telah kehilangan sekutu-sekutu penting: Bashar al-Assad telah digulingkan sebagai presiden Suriah dan Hizbullah di Lebanon juga sudah melemah secara signifikan akibat aksi militer Israel.

Para wanita berkerudung hitam memegang gambar Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Sumber gambar, Morteza Nikoubazl/NurPhoto via Getty Images

Keterangan gambar, Meskipun masih mendapat dukungan di negara itu, seperti yang terlihat dalam demonstrasi di sini pada Desember 2025, protes saat ini berpusat pada penggulingan rezim yang dipimpin oleh Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Warisan perang

Tidak seperti demonstrasi pada 2022, protes tahun ini terbentuk tidak lama setelah perang 12 hari dengan Israel, dan kemudian serangan AS dan Israel terhadap Iran.

Jurnalis Abbas Abdi percaya insiden-insiden itu bisa menciptakan peluang bagi otoritas Iran untuk membangun semacam solidaritas dan kohesi di antara masyarakat, tetapi pemerintah gagal memanfaatkannya.

Beberapa pakar juga berpendapat pukulan berat terhadap militer dalam setahun terakhir telah menghancurkan aura dan prestise Korps Garda Revolusi Islam sebagai lembaga militer utama negara di mata rakyat Iran.

Terinspirasi dari semangat demonstrasi tahun 2022, Khorsandfar melihat pergeseran aksi yang berkelanjutan dalam aksi protes saat ini: dalam wawancara dengan perempuan yang turun ke jalan tiga tahun lalu, banyak yang mengatakan kepadanya bahwa pencapaian terbesar mereka adalah menghilangkan rasa takut mereka terhadap negara yang represif.

Laporan dan analisis oleh BBC News Persian, BBC Global Journalism dan Neda Sanij, jurnalis Timur Tengah.