Ratusan pelajar dan santri di Jawa Tengah keracunan, 'kapok dan trauma' dengan MBG

Korban keracunan MBG di Grobogan

Sumber gambar, Nugroho Dwi Putranto

Keterangan gambar, Ambulans membawa sejumlah santri yang sakit setelah menyantap MBG di Grobogan, Jawa Tengah, pada 9 Januari 2026.
Waktu membaca: 8 menit

Ratusan santri Pondok Pesantren Miftahul Huda, Desa Ngroto, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, kembali beraktivitas satu pekan setelah mengalami keracunan seusai mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 9 Januari 2026 lalu.

Suara riuh serta senyum semringah mewarnai kegiatan makan siang di aula Ponpes Miftahul Huda, Desa Ngroto, yang digelar pukul 13.00 WIB, pada Jumat (16/01).

Di pondok pesanten tersebut, para santri memang mendapatkan kuota makan sehari tiga kali, yaitu pagi, siang dan malam.

Suasana itu berbeda 180 derajat, tepat satu pekan sebelumnya.

Pada 9 Januari lalu, ratusan santri di ponpes itu mengeluh sakit setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) saat jam makan siang.

Pengurus Yayasan Ponpes Miftahul Huda, Fuad Abdillah, menyampaikan, para santri berangsur kesakitan pada sore hingga malam.

"Baru dua bulan ini kami terima MBG dan dari SPPG [Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi] di Desa Kuwaron, Gubug," terang Fuad kepada wartawan Nugroho Dwi Putranto yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Sabtu (10/01) malam.

Menurut Fuad, semula ratusan santri yang mendadak sakit itu dirawat terlebih dulu di lingkungan ponpes.

Sebagian besar sudah pulih, namun puluhan anak tak kunjung membaik kondisi kesehatannya. Puncaknya, pada Sabtu (10/01) sore, para korban terpaksa dilarikan ke fasilitas kesehatan setempat.

"Lemas, pusing, perut mual, muntah, diare dan demam," kata Fuad.

Berdasarkan data Ponpes Miftahul Huda tercatat sebanyak 112 santri harus menjalani perawatan intensif di RSUD Ki Ageng Getas Pendowo Gubug, RSUD Dr. R. Soedjati Soemodiardjo Purwodadi, puskesmas dan lingkungan ponpes.

Selain santri, tujuh guru juga dilaporkan mengalami gejala diduga keracunan. Namun, belakangan, hanya dua guru yang akhirnya dirujuk ke faskes.

"Gejalanya keracunan makanan. Kalau MBG murid kami yang makan jumlahnya 1.260 orang," ujar Fuad.

Santri dirawat di Grobogan setelah menyantap MBG

Sumber gambar, Nugroho Dwi Putranto

Keterangan gambar, Sejumlah santriwati sakit dan dirawat di rumah sakit setelah menyantap MBG di Grobogan, Jawa Tengah, pada 9 Januari 2026 lalu.

Di ruang Instalasi Gawat Darurat RSUD Ki Ageng Getas Pendowo, Gubug, terbaring Inayah.

Pelajar SMK Miftahul Huda ini mengaku kepalanya pusing serta perutnya sakit setelah beberapa jam menyantap hidangan MBG berupa nasi kuning, abon, tempe orek, dan telur dadar.

"Sakit, lemas," tutur remaja tersebut.

Ketakutan serupa dituturkan, Fika, siswi SMP Miftahul Huda. Dia tak berdaya, terbaring di ranjang IGD rumah sakit yang sama.

"Pusing, mual, muntah," tuturnya.

Menu MBG

Sumber gambar, Dokumen Ponpes Miftahul Huda

Keterangan gambar, Menu MBG yang disajikan di Pondok Pesantren Miftahul Huda, pada 9 Januari 2026 lalu.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Tak hanya Ponpes Miftahul Huda, Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah mencatat 803 korban keracunan lainnya di wilayah Kecamatan Gubug.

Berdasarkan hasil pemeriksaan Balai Laboratorium Kesehatan dan Pengujian Alat Kesehatan, Dinkes Provinsi Jateng memastikan menu MBG yang didistribusikan SPGG Kuwaron 1, Gubug pada 9 Januari 2026 lalu terkontaminasi bakteri Escherichia coli.

Kondisi ini menyebabkan infeksi saluran pencernaan dengan gejala diare, kram perut, mual, muntah, dan demam, terutama berbahaya bagi anak-anak, lansia, serta orang dengan daya tahan tubuh lemah.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan, dr Djatmiko, menyampaikan, menu MBG yang terpapar bakteri Escherichia coli yakni nasi kuning, telur dadar, lalapan selada, lalapan timun dan tempe keripik.

Selain itu, kata Djatmiko, laboratorium kesehatan Dinkes Grobogan juga menemukan air bersih yang digunakan SPPG Kuwaron 1 untuk keperluan memasak juga terkontaminasi bakteri Escherichia coli.

"Jadi bukan air minum yang dikonsumsi penerima manfaat, tetapi air bersih yang dibeli dari truk tangki yang digunakan untuk kebutuhan memasak SPPG yang terpapar bakteri E Coli," terang Djatmiko, Senin (19/01).

'Kapok, trauma makan MBG'

Kembali ke Ponpes Miftahul Huda, satu pekan setelah ratusan santri mengidap gejala diduga keracunan makanan.

Seluruh korban diketahui telah pulih dan dipulangkan dari fasilitas kesehatan.

Salah seorang santri bernama Hasan tidak dapat menyembunyikan perasaan senang saat ikut menyantap makan siang dari pihak ponpes dengan para santri lainnya. Sesekali ia mengumbar senyum menikmati menu makanan berupa nasi, soto, dan kerupuk.

Baca juga:

Hidangan santri itu disajikan di atas nampan (baki). Makanan dalam satu wadah datar itu dimakan oleh tiga hingga empat santri secara lesehan. Mereka pun duduk santai beralaskan lantai keramik.

Hasan mengaku gentar jika diminta kembali menyantap menu MBG.

"Saya kapok dan trauma makan MBG lagi. Harusnya steril dan dibenahi dapur MBGnya," kata Hasan kepada wartawan Nugroho Dwi Putranto yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Para santri Ponpes Miftahul Huda saat jam makan siang.

Sumber gambar, Nugroho Dwi Putranto

Keterangan gambar, Para santri Ponpes Miftahul Huda saat jam makan siang.

Remaja putra itu tak habis pikir, menu MBG yang ia makan satu pekan lalu menyebabkan dirinya jatuh sakit.

"Habis makan sorenya saya sakit perut dan berak terus. Saya dirawat hingga dua hari di UKS Ponpes. Mual, muntah, diare dan pusing," tutur Hasan.

Baca juga:

Kekhawatiran serupa juga diutarakan Rahmat, siswa SMK Miftahul Huda, Ngroto. Santri yang turut menjadi korban keracunan MBG itu mengungkapkan dirinya belum begitu bernyali jika harus mengonsumsi MBG kembali.

"Trauma. Saya mual, muntah, diare dan dirawat di UKS Ponpes," kata Rahmat.

Santri-santri lainnya juga mengungkapkan keresahan mereka dengan menu MBG.

"Enak menu ponpes. Khawatir dan takut dengan MBG," kata sejumlah santri Ponpes Miftahul Huda secara serempak.

Imbauan agar SPPG berbenah

Kepala Ponpes Miftahul Huda, Ngroto, Luthfi Al Hakim, mengimbau agar pihak SPPG berbenah setelah kasus keracunan yang mengakibatkan ratusan santrinya jatuh sakit.

"Sebetulnya kita tidak keberatan dengan MBG apalagi tujuannya menambah gizi santri. Cuma dengan kejadian kemarin pihak SPPG harus melakukan evaluasi internal agar kejadian serupa tidak terulang. Harus benar-benar bergizi dan bersih," tegas Luthfi.

Baca juga:

Selain ada jatah MBG yang baru didistribusikan dua bulan, Ponpes Miftahul Huda sudah memberikan makanan secara swadaya kepada 1.500 santri.

"Dari ponpes, makanan yang kami berikan ini masuk dalam biaya SPP. Pengelolaan makanan kami serahkan tim dapur yang koordinasi dengan masyarakat. Memastikan bahan segar dan tidak menjadi masalah," kata Luthfi.

Kepala Ponpes Miftahul Huda, Luthfi Al Hakim.

Sumber gambar, Nugroho Dwi Putranto

Keterangan gambar, Kepala Ponpes Miftahul Huda, Luthfi Al Hakim.

Luthfi memastikan makanan yang disajikan pihaknya terjaga dengan menerjumkan tim dapur.

"Kami punya tim dapur yang menangani 1.500 santri dan sangat berpengalaman. Alhamdulillah yang selama ini disajikan berjalan baik dan sehat-sehat semua. MBG adalah menu tambahan sebagai variasi menu lain," kata Luthfi.

Disampaikan Luthfi, pihaknya sudah berupaya menyampaikan permintaan secara khusus kepada Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S Deyang, supaya pengelolaan dapur MBG (SPPG) diserahkan kepada Ponpes Miftahul Huda.

Pengoperasian dapur MBG yang dikelola oleh satuan pendidikan dinilainya lebih efektif dan memperlancar keberlangsungan program MBG.

"Kami berharap ada kesempatan yang diberikan dari pihak BGN agar kami bisa membuat dapur sendiri. Kami bisa mengawasi langsung proses dan distribusi makanan," tutur Luthfi.

BGN siap bertanggung jawab

Sementara itu Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan siap bertanggung jawab atas kasus dugaan keracunan MBG dari SPPG Kuwaron 1.

BGN akan menanggung seluruh biaya pengobatan korban, terutama yang tidak ditanggung BPJS Kesehatan.

"BGN menyampaikan mohon maaf kepada seluruh pihak yang terdampak. Kami bertanggung jawab penuh, termasuk pembiayaan pengobatan bagi para penerima manfaat yang mengalami keracunan MBG," kata Koordinator Regional SPPI Jawa Tengah, Reza Mahendra, 11 Januari 2026.

Menyikapi insiden ini, kata Reza, BGN telah mengeluarkan surat penghentian sementara operasional SPPG Kuwaron 1.

SPPG Kuwaron 1 telah dipasang garis polisi. Selama momen ini, pihaknya akan melakukan investigasi.

"Operasional SPPG kami hentikan sementara untuk dilakukan evaluasi dan pemeriksaan mendalam. Harapannya, kejadian seperti ini tidak terulang kembali," tegas Reza.

Merujuk pemeriksaan sementara, Reza menemukan ada hal yang harus dibenahi di SPPG Kuwaron 1.

Di antaranya terkait Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang dinilai belum memenuhi standar.

"IPAL harus tertutup. Air limbah tidak boleh dibuang sembarangan. Ini penting agar tidak ada pihak yang dirugikan, termasuk lingkungan sekitar," jelas Reza.

Selain IPAL, BGN juga menyorot kelengkapan dapur SPPG Kuwaron.

Di dalam area dapur, BGN juga mencatat masih ada beberapa fasilitas yang seharusnya ditempatkan di luar ruangan dan tidak sesuai peruntukannya. Seluruh temuan tersebut akan menjadi bahan evaluasi menyeluruh sebelum SPPG kembali diizinkan beroperasi.

"Tadi tempat pencucian belum ada sign-nya. Jadi memang harus dipenuhi. Sign untuk melakukan pencucian harus jelas," sambung Reza.

Reza pun berharap kejadian serupa tidak terulang kembali.

"Ke depan, ketika SPPG kembali beroperasi, semuanya sudah dalam kondisi diperbaiki. Ini menjadi pembelajaran penting agar kejadian serupa tidak terulang," pungkas Reza.

Baca juga:

Sekda Pemerintah Kabupaten Grobogan, Anang Armunanto, memastikan, pelayanan medis untuk para korban dugaan keracunan MBG ini dilakukan dengan maksimal.

"Kita pastikan siswa/santri terdampak, mendapatkan pertolongan cepat dan tertangani scra medis dengan baik," kata Anang.

Pemkab Grobogan, tegas Anang, tidak akan segan-segan merekomendasikan penutupan SPPG Kuwaron 1 dan lainnya yang diketahui melakukan pelanggaran.

Menurut Anang, dalam waktu dekat ini Pemkab Grobogan akan mengundang seluruh SPPG untuk dievaluasi.

"Terhadap SPPG, di luar kewenangan BGN yang telah memberhentikan operasional, kita juga memberikan perhatian keras ke pengelola, agar memenuhi semua standar SPPG, bahkan meminta BGN agar tidak mengizinkan kembali, jika belum dipenuhi standarnya. Hal yang sama diharapkan terhadap SPPG yang lain," tegas Anang.

Menyoal keracunan massal akibat MBG ini, Pemkab Grobogan mengimbau masyarakat untuk menyikapinya dengan bijak. Sebab, pihaknya akan terus menggencarkan pengawasan ke setiap SPPG yang beroperasi.

"Mohon juga kepada semua pihak untuk bisa ikut memantau, jika diketahui ada hal yang tidak baik, agar memberitahu kami," pungkas Anang.

Wartawan Nugroho Dwi Putranto di Jawa Tengah berkontribusi dalam artikel ini.