Kondisi darurat di Tunisia usai ledakan

Aparat dikerahkan setelah ledakan menghantam bus yang mengangkut staf pengawal presiden.

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Aparat dikerahkan setelah ledakan menghantam bus yang mengangkut staf pengawal presiden.

Presiden Tunisia, Beji Caid Essebsi, mengumumkan keadaan darurat selama 30 hari dan memberlakukan jam malam di ibu kota setelah sebuah ledakan menghantam sebuah bus yang membawa para pengawal presiden sehingga menewaskan sedikitnya 12 orang, kata para pejabat.

<link type="page"><caption> Ledakan itu terjadi di sebuah halte bus</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/11/151124_dunia_tunisia" platform="highweb"/></link> tempat pasukan pengawal presiden mengantar dan menjemput sejumlah stafnya, di dekat bekas markas partai pimpinan presiden terguling, Zine El Abidine Ben Ali.

Sejumlah ruas jalan di kota itu terhalang karena hujan lebat dan banjir ketika ledakan menghantam.

Penyebab pasti ledakan itu masih belum jelas tetapi salah satu sumber mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa seorang pengebom mungkin telah meledakkan bom di dalam kendaraan.

Belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab di balik serangan itu.

Namun, Tunisia belakangan ini menjadi sasaran serangan kelompok milisi ISIS, termasuk <link type="page"><caption> serangan oleh seorang pria bersenjata di resor pantai Sousse</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/06/150629_dunia_tunisia_penembakan" platform="highweb"/></link> pada bulan Juni, yang menewaskan 38 orang.

Negara di Afrika Utara ini diperkirakan merupakan 'pengekspor' terbesar jihadis dengan perkiraan pihak berwenang sekitar 3.000 warganya bergabung dengan kelompok militan Islam di Irak dan Suriah.