Kisah perempuan Muslim melepas jilbab - 'Impian saya adalah bisa mengenakan apapun yang saya inginkan’

Ribell

Sumber gambar, Ribell

Keterangan gambar, Ribell kini bekerja sebagai seniman tato di Turki dan meninggalkan kehidupan lamanya di Iran.
    • Penulis, Faranak Amidi
    • Peranan, Jurnalis isu perempuan, BBC World Service

Bagi sebagian perempuan Muslim, memilih berhenti mengenakan jilbab bisa jadi keputusan yang sulit dalam hidup mereka.

Mereka mungkin menghadapi reaksi buruk dari keluarga, atau dikucilkan oleh komunitas mereka. Di beberapa negara, aturan yang ketat memberi tekanan terhadap hal ini.

Parlemen Iran baru saja mensahkan udang-undang kontrroversial yang akan manambah masa hukuman penjara dan denda bagi perempuan dan anak perempuan yang melanggar aturan berpakaian yang ketat di negara itu.

Rancangan Undang-Undang ini menyusul demonstrasi yang meluas di Iran, dengan banyak perempuan turun ke jalan dan melepas jilbab mereka.

Mereka terpicu oleh kematian Mahsa Amini, yang meninggal dalam tahanan polisi moral Iran. Dia ditangkap karena diduga mengenakan jilbab terlalu longgar.

Bagi sekitar satu miliar populasi perempuan Muslim di seluruh dunia, mengenakan jilbab adalah pilihan mereka.

Namun, bagi mereka yang pada akhirnya melepas jilbab, dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengatasi tekanan dan membuat keputusan sulit itu.

Mahsa Amini
Keterangan gambar, Mahsa Amini meninggal dalam tahanan polisi moral Iran. Dia ditangkap karena diduga mengenakan jilbab terlalu longgar.

“Impian saya adalah memiliki satu hari dalam sepekan di mana hanya perempuan yang boleh turun ke jalan dan bisa mengenakan apa pun yang kami inginkan,” kata Ribell, bukan nama sebenarnya.

Dia berusia sembilan tahun ketika keluarganya, yang tinggal di luar ibu kota Iran, Teheran, memaksanya mengenakan jilbab jenis chador — sejenis jubah yang menutupi keseluruhan tubuh, umumnya dikenakan oleh perempuan Iran.

Itu adalah salah satu jilbab paling konservatif, yang menutupi kepala hingga kaki.

Baca juga:

Sejak usianya menginjak enam tahun, orang tuanya telah menyiapkannya untuk mengenakan jilbab.

“Mereka terus berkata pada saya bahwa saya harus mengenakan jilbab, bahwa itu kewajiban saya kepada Tuhan, dan jika saya menolak, saya akan dihukum selamanya setelah kematian saya — belum lagi, saya akan mempermalukan orang tua saya dan membuat mereka kesal,” katanya kepada BBC.

Ribell
Keterangan gambar, Ketika dia tinggal di Iran, dia harus mengenakan jilbab.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Ribell sekarang berusia 23 tahun dan telah meninggalkan Teheran untuk mencari suaka di Turki, tempat dia bekerja sebagai seniman tato.

Dia kemudian menuturkan bahwa ketika dirinya masih kanak-kanak, dia bermimpi bisa mengenakan celana pendek dan kaos.

Dia teringat dirinya pernah sangat ketakutan atas apa yang dikatakan orang tuanya padanya.

“Saya hidup dengan perasaan bersalah yang terus-menerus. Saya tidak tahu dari mana perasaan itu berasal, tapi rasa itu selalu ada,” ungkapnya.

Ribell selalu merasa iri dengan bocah perempuan lain, yang mengenakan jenis jilbab yang lebih moderat.

Baca juga:

Mengenakan hijab di tempat umum adalah hal kewajiban para perempuan di Iran, namun banyak perempuan memilih untuk tidak mengenakannya dalam pertemuan privat dan lingkungan keluarga mereka.

Adapun keluarga Ribell di Iran adalah keluarga yang sangat religius dan konservatif.

“Ibu saya kerap berkata pada saya untuk tidak memperlihatkan lengan dan kaki yang telanjang bahkan di depan saudara laki-laki saya yang masih remaja, karena hal ini dapat menyebabkan mereka berbuat dosa,” katanya.

Ribell

Sumber gambar, Ribell

Ketika Ribell berusia 17 tahun, orang tuanya mendaftarkannya ke sekolah Islam.

“Pilihannya hanya itu, atau saya harus menikah,” katanya.

Dia membenci sekolah tersebut, katanya, dan menganggap kurikulumnya berprasangka buruk terhadap perempuan. Sekolah itu telah menghancurkan keyakinannya pada jilbab.

Pada hari ketika dia memutuskan untuk berhenti sekolah, dia mengenakan mantel yang panjangnya tepat di atas lututnya dengan syal di bahunya, memamerkan potongan rambut barunya yang dia warnai dengan warna merah menyala.

Kepala sekolah di sekolah itu kemudian memanggil orang tuanya dan bilang pada mereka untuk melarang dirinya berjalan-jalan dengan penampilan seperti “pelacur”, kata Ribell.

Baca juga:

Neneknya kemudian menelpon ke rumah, dan berharap orang tuanya untuk “mematahkan kaki saya supaya saya tak bisa pergi dari rumah”.

Ribell menyebut ibunya bilang padanya bahwa dia berharap “Tuhan merenggut nyawa saya supaya keluarga kami tidak harus sengsara”.

Saat tekanan dari keluarga terus berlanjut, Ribell mencoba bunuh diri. Dia terbangun di rumah sakit dengan mendapati ayahnya berdiri di samping tempat tidur, berteriak padanya.

Akhirnya dia memutuskan satu-satunya pilihan yang dia miliki adalah meninggalkan Iran dan pergi ke Turki dimana dia sekarang hidup secara terbuka tanpa hijab.

Dia tidak lagi berhubungan dengan keluarganya.

Ribell mungkin ekstrem, tetapi ini bukanlah pengalaman yang unik.

Mona Eltahawy
Keterangan gambar, Mona Eltahawy adalah penulis perempuan yang kerap menulis terkait otonomi perempuan atas tubuhnya

Meski memiliki keluarga yang tak seketat keluarga RIbell, masih sulit bagi Mona Eltahawy, aktivis feminis dan penulis keturunan Mesir – Amerika, untuk melepas jilbabnya.

Dia telah mengenakan jilbab selama sembilan tahun dan dia berkata, “Saya menghabiskan delapan tahun di antaranya untuk mencoba melepasnya.”

Salah satu alasan mengapa hal itu begitu sulit dia lakukan karena keluarganya sangat menentang dirinya melepas jilbab.

“Ketika pada akhirnya saya menemukan keberanian, saya meninggalkan rumah dengan jilbab yang hanya menutupi setengah kepala saya. Saya tak bisa melepasnya begitu saja,” tutur Mona sambil terkekeh.

Dia tak merasa nyaman pergi begitu saja tanpa mengenakan penutup kepala, setelah melakukannya sangat lama.

“Diperlukan waktu beberapa tahun bagi saya untuk bisa mengatakan pada orang-orang bahwa saya mengenakan jilbab, karena saya sangat malu, maka dari itu saya melepasnya,” tutur Mona.

Baca juga:

Mona, yang menulis buku tentang hak perempuan atas tubuh mereka, Headscarves and Hymens, telah memantau demonstrasi di Iran secara terus-menerus.

Mona Eltahawy
Keterangan gambar, Foto Mona ketika masih belia dengan mengenakan jilbab

Sejumlah perempuan yang turut dalam demonstrasi tampak melepas jilbab yang mereka kenakan, membakarnya dan mengayunkannya ke udara sambil berseru, “Perempuan. Hidup. Kebebasan.”

Mona berkata bahwa apa yang terjadi di Iran lebih dari sekedar panggilan untuk perubahan politik.

“Memang benar bahwa negara menindas laki-laki dan perempuan,” katanya, “tetapi jalanan, negara bagian, dan rumah tangga, semuanya menindas perempuan dan komunitas queer, dan perjuangan perempuan Iran melawan kewajiban mengenakan jilbab adalah perjuangan melawan ketiga hal tersebut.

Baca juga:

BBC telah berbicara dengan sejumlah perempuan di Iran yang berasal dari keluarga religius dan konservatif, yang mengatakan bahwa setelah demonstrasi baru-baru ini, keluarga mereka mendukung pilihn mereka untuk melepas jilbab.

Bella

Sumber gambar, Bella Hassan

Keterangan gambar, Bella adalah jurnalis BBC yang tinggal di London

Salah satu perempuan Muslim yang terinspirasi oleh demonstrasi di Iran adalah Bella Hassan, jurnalis yang bekerja untuk BBC World Service.

Dia lahir dan besar di Mogadishu, ibu kota Somalia, dan dia telah mengenakan jilbab sepanjang hidupnya.

Pada 2022 silam, pada saat demonstrasi di Iran mencapai puncaknya dan setelah tinggal di London selama satu tahun, dia memutuskan untuk melepas jilbabnya.

“Saya punya banyak teman yang berasal dari Iran dan mereka memberi tahu saya mengapa banyak perempuan bangkit dan membela hak mereka untuk hidup sesuai keinginan mereka dan itu benar-benar menginspirasi saya,” katanya.

"Saya berpikir; saya tidak lagi berada di Mogadishu, saya berada di London. Saya mempunyai kebebasan untuk melakukan apa pun yang saya inginkan."

Keluarganya di Mogadishu tidak senang dengan keputusannya untuk melepas jilbab namun menghormati pilihannya.

Baca juga:

Sebagai jurnalis BBC, Bella adalah sosok yang dikenal di Somalia.

Keputusannya menimbulkan reaksi balik dan dia bertanya-tanya apakah dia semestinya menunggu lebih lama sebelum akhirnya melepas jilbabnya.

Bella Hassan

Sumber gambar, Bella Hassan

Keterangan gambar, Bella memutuskan melepas jilbabnya pada 2022 silam

“Saya tidak lagi merasa diterima di komunitas saya sendiri dan saya tidak lagi merasa aman,” katanya.

"Setelah saya melepas hijab, saya mulai mendapat ancaman pembunuhan dan pemerkosaan dari para pria. Mereka mengkritik saya, mempermalukan saya - pria yang tidak saya kenal."

Dia menambahkan: "Tidak ada hukuman khusus bagi perempuan yang tidak mengenakan jilbab. Dikatakan dalam Al-Qur'an bahwa Tuhan akan menangani mereka tetapi pria Muslim di negara saya memutuskan untuk berurusan dengan saya, bukan dengan Tuhan."

Di Somalia, Bella mengatakan bahwa jilbab mempunyai akar yang sangat dalam dan banyak perempuan yang tidak ingin memakai jilbab tidak akan pernah bisa melepasnya.

“Saya berharap suatu hari nanti perempuan di negara saya akan memiliki keberanian dan kemauan untuk melakukan apa yang mereka inginkan daripada hanya mendengarkan apa yang diinginkan orang lain, terutama laki-laki.”