Filep Karma meninggal dunia, pengamat: Penyelesaian konflik Papua secara damai 'tidak tercapai'

filep karma

Sumber gambar, YULIANA LANTIPO

Keterangan gambar, Filep Karma dianggap sosok yang penting dalam upaya penyelesaian konflik tanpa kekerasan di Papua.

Filep Karma dianggap sebagai salah satu sosok penting dalam upaya penyelesaian konflik di Papua tanpa kekerasan. Setelah ia meninggal dunia, seperti apa penyelesaian konflik di sana?

Filep Karma dikenal sebagai figur yang konsisten menyuarakan kemerdekaan Papua dan, menurut pengamat, kematiannya memiliki arti bahwa ideologinya juga “sudah berakhir”.

“Ketika tokoh ini sudah tidak ada, bisa dianggap bahwa selain ideologinya sudah tidak ada, penyelesaian dama [damai Papua juga] tidak tercapai.

“Sementara kondisinya masih sangat faktual kita melihat di Papua itu belum sepenuhnya bisa diatasi konfliknya, terutama yang bernuansa kekerasan,” kata pengamat Papua dari Jaringan Damai Papua Adriana Elisabeth kepada BBC News Indonesia, Selasa (01/11/2022).

Sementara, Juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat- Organisasi Papua Merdeka, Sebby Sambom, mengatakan Filep Karma adalah sosok yang mereka “akui dan hargai sebagai seorang tokoh” dan kematiannya “tidak akan mengurangi ataupun membatasi perjuangan mereka”.

Secara terpisah, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Theofransus Litaay mengatakan, meninggalnya Filep Karma “belum tentu akan mengubah dinamika” dalam penyelesaian konflik Papua.

Dia mengatakan proses-proses penyelesaian konflik yang sedang dilakukan pemerintah akan terus berjalan.

“Ada proses dialog yang dibangun melalui Komnas HAM, ada proses pembangunan yang berjalan, melalui pembangunan kesejahteraan. Ini akan terus berlanjut,” kata Theo.

Baca juga:

Apa arti kematian Filep Karma bagi gerakan pro-kemerdekaan Papua?

filep karma

Sumber gambar, YULIANA LANTIPO

Keterangan gambar, Kematian Filep Karma dinilai tidak akan menyurutkan keinginan orang Papua yang ingin memerdekakan diri.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Adriana Elisabeth mengatakan kematian seseorang sebenarnya wajar, tetapi dalam situasi konflik, “kematian Filep Karma bisa diinterpretasi berbeda”.

Dia juga menilai kepergian Filep Karma “tidak akan menurunkan keinginan sebagian orang-orang untuk memerdekakan diri”.

“Karena konflik masih berlanjut dan salah satunya karena stance (pendirian) orang-orang semacam Filep Karma yang menganggap bahwa penyelesaian terbaik untuk Papua adalah merdeka, itu tidak akan berhenti.

“Jadi, kematian Filep Karma ini bisa saja malah mendorong orang untuk semakin berani mengatakan bahwa ‘ya lebih baik merdeka’,” ujar Adriana.

Hal itu juga diakui Sebby Sambom. Meski mereka kehilangan tokoh perjuangan Papua Merdeka, kepergian Filep Karma tidak akan mengurangi ataupun membatasi perjuangan mereka.

“Justru kematian dia memberikan kita energi untuk berjuang terus karena kita sudah memiliki kebangkitan nasional melalui organisasi-organisasi peer,” ujar Sebby.

Apalagi dia mengatakan perjuangan mereka sudah cukup jauh karena sudah membangkitkan generasi-generasi yang telah diajarkan “untuk berjuang” dan kebangkitan itu “tidak akan bisa dipadamkan oleh apapun”.

Hal itu, yang kata Adriana, harus direspons secara objektif oleh semua pihak, termasuk pemerintah karena bagaimanapun “harus ada cara baik untuk menyelesaikan persoalan”.

Ketika ada orang-orang, seperti Filep Karma, yang masih terus menyuarakan hal yang sama, Adriana menilai masih ada “masalah yang perlu diselesaikan”.

Penyelesaian konflik seperti apa yang dibutuhkan Papua?

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan Adriana bersama beberapa peneliti lainnya selama bertahun-tahun, perdamaian adalah jalan yang paling baik untuk Papua, mengingat konfliknya sudah sangat panjang dan bahkan ketegangan dan kekerasan semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Proses mencapai titik damai itu harus dilakukan “melalui dialog”. Namun, Adriana mengatakan belum banyak pihak yang memiliki pemahaman yang sama tentang dialog damai dan pemerintah belum juga mengambil langkah itu.

“Filep Karma terus menyampaikan bahwa damai bagi papua itu 'tidak dengan Indonesia', sementara di pihak pemerintah mengatakan 'tidak demikian'. Nah, itu yang tidak pernah selesai sampai saat ini,” ujar Adriana.

Peneliti itu menyarankan dialog yang harus dilakukan oleh pemerintah Indonesia dan masyarakat Papua, yang pro kemerdekaan, membahas tentang cara dan proses penyelesaian konflik, bukan dialog yang langsung berorientasi pada hasil akhir.

Theo Litaay mengatakan selama ini pemerintah sudah berupaya menggelar dialog melalui Komnas HAM, yang dipertanyakan oleh TPNPB-OPM karena orang yang diajak berdialog oleh Komnas HAM, dikatakan Sebby, bukan bagian dari mereka.

filep karma

Sumber gambar, CHANGE.ORG

Keterangan gambar, Filep Karma dan putrinya, Audryn Karma.

“Atas arahan Bapak Presiden [pemerintah] sedang berupaya membangun proses-proses pembicaraan dengan berbagai pihak. Jadi, sebenarnya kami juga membutuhkan kehadiran dari bapak Karma sendiri,” ujar Theo.

Namun, Theo menolak membahasnya lebih lanjut karena “masih dalam situasi duka”.

Selain upaya dialog, Theo juga mengatakan pemerintah juga terus melanjutkan pembangunan di tanah Papua, apalagi daerah-daerah otonomi baru belum lama ini sudah diresmikan.

Menurut Theo, saat ini Papua “berada dalam situasi yang aman dan damai”, meski di beberapa tempat “ada dinamika politik” yang menyebabkan gangguan keamanan. Tapi, itu diklaim Theo “sudah semakin berkurang”.

Seperti apa sosok Filep Karma?

Adriana Elisabeth, menilai Filep sebagai tokoh yang “berpendirian teguh” yang memiliki pandangan bahwa “Papua bisa lebih baik kalau tidak bersama Indonesia”.

Filep adalah tahanan politik yang dipenjara karena menaikkan bendera Bintang Kejora dan berbicara dalam pawai prokemerdekaan Papua pada 2004. Dia dibebaskan lebih awal setelah menjalani 11 tahun dari 15 tahun vonis penjara.

Pembebasan Filep Karma, pada 2015, merupakan bagian dari kebijakan pemberian grasi yang ditempuh Presiden Joko Widodo terhadap sejumlah tahanan politik di Papua.

Setelah dibebaskan, Filep Karma kembali menegaskan tekadnya untuk terus memperjuangkan kemerdekaan Papua secara damai.

Filep meninggal dunia

filep karma

Sumber gambar, Dok. Kapolda Papua

Keterangan gambar, Proses evakuasi jenazah Filep Karma dari tepi pantai, Selasa (01/11).

Filep Karma ditemukan meninggal dunia pada Selasa (01/11) pagi oleh warga di bibir pantai Base G, Jayapura, Papua. Penyebabnya kematiannya diduga akibat "tenggelam" saat "menyelam", berdasarkan keterangan keluarga.

Tahun lalu, Filep pernah dikabarkan hilang saat menyelam, tapi kemudian dia ditemukan terdampar di Pantai Skouw. Filep Karma diketahui memiliki kegemaran menyelam di malam hari.

Di lokasi tempat jenazahnya ditemukan, polisi mengaku menemukan alat untuk memburu ikan, sepeda motor, dan pelampung.

Kapolresta Jayapura Kota, AKBP Victor Dean Mackbon, mengatakan pihaknya tengah melakukan penyelidikan terkait penemuan jenazah Filep Karma di Pantai Base G, Jayapura.

"Kita sudah mengamankan TKP (tempat kejadian perkara), kemudian melakukan olah TKP," kata Victor Dean Mackbon, Selasa (01/11), seperti dilaporkan wartawan di Jayapura, Joice Rumkorem untuk BBC News Indonesia.

Meski Filep diduga meniggal dunia karena tenggelam, Amnesty International Indonesia mendesak jajaran lembaga penegak hukum dan hak asasi manusia, untuk menyelidiki sebab kematian Filep.

“Penyelidikan ini penting untuk menjawab ada tidaknya indikasi tindak pidana atau pelanggaran HAM di balik kematian almarhum, karena banyak aktivis yang vokal di Papua menjadi sasaran kekerasan.

Terlebih mengingat sepak terjang almarhum sebagai tokoh panutan dalam membela hak asasi orang asli Papua,” kata Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usmad Hamid, dalam keterangan pers.